
"Kamu betah disini Tet?" tanya Arga yang berusaha mengalihkan pembicaraan dari dunia perterongan.
"Betah. Aku mah betah dimanapun, soalnya aku selalu menggunakan hati dalam bekerja." Jawab Butet.
"Aku pikir kamu nggak betah. Kalau nggak betah ikut abang kembali saja ke kota J," ujar Arga.
"Buat apa? aku cuma punya Najwa di dunia ini. Aku anak yatim piatu, sanak saudaraku juga sudah meninggal saat musibah tsunami di kota T. Aku tidak bisa jauh dari Najwa saat ini. Cuma dia yang bisa membantuku kalau terjadi sesuatu denganku," ucap Butet.
"Kasihan juga gadis ini. Aku pikir dia orangnya bahagia terus. Ternyata dibalik tawa dan senyumnya itu, tersimpan banyak luka tersembunyi. Bahkan dia takut hidup sendiri, batin Arga.
"Emang sampai kapan kamu akan bergantung pada Najwa?" tanya Arga.
"Sampai aku menemukan jodohku sendiri." Jawab Butet.
"Memang kamu mau jodoh yang seperti apa?" tanya Arga.
"Kenapa? abang punya teman jomblo juga?" tanya Butet.
"Banyak. Tapi aku pengen tahu dulu kamu mau yang seperti apa?" tanya Arga.
"Yang pasti terongnya harus On," sindir Butet sembari melirik sekilas kearah Arga.
"Dia ini menyidirku ya?" batin Arga.
"Terus yang pasti seiman. Nggak tebal-tebal amat nggak apa imannya. Asalkan dia bisa bimbing aku. Kalau masalah tampan dan punya duit, kalau ada itu mah bisa aku anggap sebagai bonus," sambung Butet.
"Kalau cuma itu mah, kenapa harus jauh-jauh Tet. Aku juga bisa jadi jodoh kamu," ujar Arga.
"Eh? ta-tapi kan poin pertama abang nggak memenuhi syarat," ujar Butet.
"Poin pertama? poin pertama yang mana?" tanya Arga.
"Pa-Pasal terong yang harus On. Meski kalem begini, aku juga mau yang satu itu bang." Jawab Butet.
"Astaga gadis ini. Gini bisa-bisanya dia mengklaim dirinya gadis kalem. Kalem darimananya?" batin Arga.
"Ya bagaimana caraku membuktikannya padamu, kita kan bukan muhrim Tet. Makanya biar tahu, sah menikah dulu," ujar Arga.
__ADS_1
"Kalau macet ditengah jalan kan nggak enak bang. Bisa nangis bombay akunya," ucap Butet.
"Dijamin nggak macet Tet. Lancar jaya pokoknya." Jawab Arga yang sedikit merasa tersinggung.
"Jadi abang ceritanya ngelamar dadakkan nih?" tanya Butet.
"Kamu mau?" tanya Arga.
"Bukan masalah mau atau tidak bang. Abang kan baru patah hati dari Najwa, jadinya aku ini cuma abang jadikan pelarian saja." Jawab Butet.
"Daripada kamu pacaran yang belum tentu dinikahin? mending langsung menikah saja. meski belum ada rasa cinta, tapi lama-lama akan tumbuh," ujar Arga.
"Terdengar aneh saja menurutku," ucap Butet.
"Jadi bagaimana maumu? kamu mau kita pacaran dulu?" tanya Arga.
"Beri aku alasan kenapa aku harus nerima abang. Maaf ya bang, sebenarnya aku juga takut dengan keluarga abang itu. Seram kali mamaknya abang itu. Aku takut disiksa saat jadi istri abang," ucap Butet.
"Kamu terus terang sekali Tet ngomongnya," ujar Arga.
"Ya maaf saja ya bang. Lagian kata orang lebih baik jujur meskipun pahit. Tapi beneran deh bang. Macam harimau aku tengok mamaknya abang. Apalagi iparmu yang namanya Srintil itu,"
"Ya siapalah itu. Moncongnya itu pentes kali aku dengar. Mak-Mak tukang kredit kalah garang dari dia," ucap Butet.
Arga mengulum senyumnya saat mendengar semua ucapan Butet. Terus terang dia jadi merasa terhibur.
"Bang. Bang, eh kok malah melamun kau jadinya. Kenapa pula kau senyum-senyum sendiri? apa pohon ini ada penunggunya? merinding aku tiba-tiba," ujar Butet sembari melihat keatas pohon.
"Butet. Kita nikah aja yuk?" tanya Arga.
"Eh? kok pertanyaan abang balik lagi bang? kalau abang balik nanya lagi, akunya jadi balik tanya soal terong tadi," ucap Butet yang langsung dijawab dengan tepukkan dahi oleh Arga.
"Kamu kok nggak percaya sekali Tet?" tanya Arga.
"Ya perlu dipertegas bang. Coba abang bayangkan sendiri. Saat aku tengah melambung keangkasa, tiba-tiba saja berhenti ditengah jalan. Kan nggak seru bang,"
"Ya sudah kita coba sekarang aja yuk Tet?" Arga mulai sedikit kesal.
__ADS_1
"Astajimmmm abang. Dosa bang, istigfar. Far...far...far," Arga yang kesal jadi tertawa mendengar ucapan Butet.
"Hah...terdengar tidak masuk akal ya Tet? ya meski aku akui aku belum bisa melupakan Najwa, tapi jalan satu-satunya memang harus melupakannya dengan cara mendapatkan penggantinya."
"Bagaimana kalau ternyata abang tetap tidak bisa melupakan dia? kenapa pula abang harus memilih aku?" tanya Butet.
"Mungkin terdengar klise jawabanku. Tapi aku percaya satu hal. Kamu bergaul dengan orang baik dan sholeha, otomatis perbuatan baik akan menular padamu."
"Begini saja bang. Kita buat perjanjian saja. Kalau selama 1 tahun pernikahan abang tidak mencintaiku, kita bercerai saja. Dan satu lagi, aku tidak mau abang sentuh, sebelum abang punya perasaan sama aku."
"Apa kamu benar-benar setuju ngambil resiko menikah denganku?" tanya Arga terkejut.
"Aku sudah menghadapi berbagai macam penderitaan hidup. Penderitaan terbesarku saat kehilangan kedua orang tuaku. Jadi kehilangan satu pria lagi tidak masalah bagiku. Lagipula aku tidak tahu takdirku ini mau seperti apa jadinya. Aku cuma berani mencari peruntungan saja." Jawab Butet.
"Dan satu lagi. Aku ini bukan Najwa ya bang? kalau keluargamu berani menghinaku, aku tidak segan-segan menampar atau menjambak orang itu. Tanpa terkecuali mamaknya abang," sambung Butet.
Arga memijat keningnya, dia tidak bisa membayangkan kalau Butet sampai cekcok dengan iparnya ataupun mamanya. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan siapapun, karena siapapun pasti tidak mau hidup dihina.
"Apa ada syarat lain?" tanya Arga.
"Selama satu tahun menikah, aku mau abang tinggal disini denganku." Jawab Butet.
"Kenapa?" tanya Arga.
"Semakin sering berintraksi dengan Najwa, abang akan terbiasa nantinya. Abang akan bisa menerima dia sebagai teman abang. Aku juga mau menilai keseriusan abang buat melupakan Najwa." Jawab Arga.
Arga tampak berpikir keras. Sungguh ini syarat terberat menurutnya. Tapi apa yang diucapkan oleh Butet, memang terdengar masuk akal.
"Deal." Jawab Arga.
"Baiklah kita mulai permainan peruntungan ini. Kira-Kira siapa diantara kita yang jatuh cinta lebih dulu? atau malah gagal keduanya? sepertinya seru," ujar Butet terkekeh.
"Gadis ini. Kenapa dia bisa sesantai itu menghadapi hidup ini? kenapa aku tidak bisa seperti dia?" batin Arga.
"Si abang mulai lagi ngelamun. Nanti abang kesurupan? eh bang, boleh aku tanya?"
"Tanya Apa?"
__ADS_1
"Waktu abang terapi di luar negeri, apa terong abang dipegang? diurut? atau diapakan? apa ukurannya jadi bertambah?"
Mata Arga jadi melotot saat mendengar pertanyaan Butet. Sementara Butet hanya bisa tersenyum kaku yang menyadari kalau pertanyaannya teralalu fulgar.