
Arga menyeret koper ditangannya. Karena hari ini dia bermaksud akan terbang ke negara Jerman untuk berobat bersama kedua orang tuanya. Arga tidak ingin membuang waktu terlalu lama. Dia ingin segera sembuh dan akan menemui Najwa kembali untuk dia nikahi secara resmi.
Kriekkkk
Arga membuka pintu apartemennya, dan sangat terkejut saat mendapati seorang wanita berhijab di depannya..
"Bu-Butet? ka-kamu kenapa kesini? Najwa mana?" pertanyaan yang terdengar lucu ditelinga butet, meluncur begitu saja dari mulut Arga
"Aku boleh numpang nggak?" tanya Butet.
"Numpang? boleh, kebetulan aku mau pergi keluar negeri. Jadi kamu bisa pakai sepuasnya." Jawab Arga.
"Bukan numpang itu. Tapi numpang yang lain," ujar Butet.
"Nunpang apa?" tanya Arga.
"Numpang Nabok." Jawab Butet sembari dibarangi dengan pukulan keras di wajah pria itu.
Bagh
Bugh
Bagh
Bugh
Butet memukul Arga dengan membabi buta namun tanpa perlawanan dari Arga. Arga yang sudah terhuyung kebelakang terduduk di sofa ruang tamu. Butetpun masih mengejarnya. Namun saat akan melayangkan pukulan lagi, Arga menangkapnya dan tidak sengaja tangan Butet tertarik kearahnya
Brukkkkk
Butet jatuh diatas tubuh Arga. Hingga mereka jadi saling bertatapan.
Plakkkkk
Butet sekali lagi menampar Arga.
"Jangan coba-coba tebar pesona. Aku sama sekali tidak tertarik dengan duda berterong layu seperti kau," hardik Butet.
"Kau seenak saja menceraikan Najwa. Aku kesini ingin membuat perhitungan dengan kau. Beruntung Najwa yang kau sakiti, kalau aku sudah pasti akan membakar terongmu yang tidak berguna itu dan menjadikannya sambal," oceh Butet.
"Gadis ini. Biarpun galak tapi dia sangat setia kawan. Aku jadi tidak khawatir meninggalkan Najwa bersamanya," batin Arga.
"Jaga Najwa untukku. Setelah aku sembuh nanti, aku akan datang menemuinya lagi," ujar Arga.
"Enak saja. Emangnya apa pangkatmu, sehingga Najwa akan bodoh menunggumu. Kau dengar ya terong kecut, aku adalah orang yang pertama kali akan menghalangi kau dengan dia buat kembali. Apa kau pikir dia itu layak kamu sakiti? apa kau pikir dia itu sampah yang seenaknya kau buang dan kau pungut lagi?"
__ADS_1
"Kau ingat kata-kataku. Jangan pernah kau muncul lagi dihadapannya. Kalau tidak mau terongmu itu aku bakar," ancam butet.
"Duduklah dengan benar. Aku perlu bicara denganmu," ujar Arga.
"Aku tidak perlu bicara denganmu. Jangan pernah kau berpikir untuk menyogokku. Mimpi saja kau," ucap Butet.
"Hah...."
Terdengar helaan nafas panjang dari pria didepannya itu.
"Aku tahu kamu sebagai teman Najwa juga ikut kecewa dengan keputusanku,"
"Tentu saja. Apa kau lupa? siapa yang ngemis-ngemis cinta Najwa agar bersedia kau nikahi. Sampai-Sampai Najwa mengorbankan cintanya pada Ega. Coba kalau dia sabar sedikit, sekarang pasti dia sudah bahagia bersama Ega. Jangan kau kira aku tidak paham, kalau sebenarnya kaulah yang meracuni pikiran Najwa agar mau cepat-cepat kau kawini."
"Heh...tapi ternyata kau itu hanya sekedar menikahi saja, tapi tidak mampu mengawini. Aku sumpahi terongmu itu tidak akan bangun lagi," ucap Butet.
Wajah Arga mendadak murung dan sedih.
"Tidak usah memasang wajah memelas seperti itu. Aku sama sekali tidak bisa kau tipu," ucap Butet.
"Terserah saja kamu mau berkata apa. Tapi sejujurnya aku sama sekali tidak berniat ingin menyakiti hati Najwa. Aku tahu aku egois, tapi aku lakukan ini demi dirinya juga."
"Hari ini aku akan berobat ke luar negeri. Kalau aku sembuh nanti aku pasti akan mencarinya. Selama aku pergi tolong jaga dia ya?"
"Apa kau perintah-perintah aku buat jaga dia. Tanpa diperintahpun dia itu sahabatku. Sebaiknya kau fokus saja berobat keluar negeri. Jagan pikirkan Najwa disini. Karena saat kau kembali, aku pastikan dia pasti sudah mendapat terong baru." Jawab Butet.
"Pikiran tolol. Seharusnya kau ajak dia berobat keluar negeri. Dia bisa jadi penguatmu. Bukan malah menceraikannya."
"Aku tidak berdaya butet. Itu syarat dari keluargaku agar aku bisa berobat keluar negeri,"
"Kalau begitu kau kawini saja keluargamu." Jawab Butet sembari berlalu dari hadapan Arga.
"Enak saja sudah menceraikan dan mau ngawini lagi. Apa dia pikir Najwa tidak bisa cari terong lain. Aku akan mencarikan terong besar buat dia," gerutu Butet yang masih bisa didengar oleh Arga.
Brakkkkkkkk
Butet membanting pintu hingga membuat Arga terjengkit kaget. Arga menjambak-jambak rambutnya karena kesal.
"Najwa pasti sangat terluka dengan keputusanku. Tunggulah sebentar saja sayang. Aku pasti akan segera kembali untukmu," ujar Arga lirih.
Arga kembali bangkit dari tempat duduknya, dan kemudian menyeret kopernya. Arga memutuskan segera pergi ke bandara, karena kedua orang tuannya sudah menunggu disana.
Kriekkkkk
Butet membuka pintu kontrakkannya dan mendapati Najwa tengah melamun.
__ADS_1
"Anak perawan jangan suka melamun," ujar Butet membuyarkan lamunan Najwa.
"Kamu darimana? katanya cuma mau beli gula ke warung. Apa warung ujung tidak punya jualan gula?" tanya Najwa.
"Aku ada yang mau dibeli. Tapi ternyata tidak ada jualannya." Jawab Butet sembari menuju dapur.
"Emang apa yang mau kamu beli?" tanya Najwa.
"Terong." Jawab Butet singkat.
"Eh?" Najwa heran.
"Najwa kita pergi belanja ke mall yuk? sekalian refreshing buat otak kau, agar tidak mikirin Arga terus," ujar Butet.
"Malas Tet. Lagi nggak mood buat pergi." Jawab Najwa.
"Jadi apa rencanamu kedepannya?" tanya Butet.
"Sepertinya aku mau kembali ke kampung saja."Jawab Najwa.
"Kembali ke kampung? terus kau mau tinggalkan aku sendiri?" tanya Butet.
"Terus kamu mau ngikut kemanapun aku pergi? kalau aku mau masuk sumur kamu mau ikut juga?" tanya Najwa.
Pukkkk
Butet memukul lengan Najwa pelan, sembari terkekeh.
"Kau baru janda 3 kali sudah bisa buat humor," ujar Butet.
"Tet. Masa depanmu masih panjang. Tidak sepertiku yang sudah hancur berantakkan. Kamu bisa pergi kemanapun yang kamu mau, demi masa depanmu yang lebih cerah," ujar Najwa.
"Najwa. Aku ini sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Aku cuma punya kau. Bahkan kalau aku tidak malu, aku ingin ikut kemanapun kau tinggal. Paling tidak biarkan aku nempel sama kau, sampai aku menemukan terongku sendiri," ujar Butet.
"Ini apalagi sih? dari kemarin ngomongnya terong-terong terus. Udah kebelet banget ya?" ucap Najwa.
"Jangan begitu. Kau seperti tidak butuh dengan benda satu itu. Tunggu sampai kau merem melek dibuatnya, barulah kau senyum-senyum sendiri nanti," ujar Butet.
"Taukkk ah...gelap. Mending aku makan saja. Lapar," ucap Najwa.
"Masak apa kau tadi?" tanya Butet.
"Terong." Jawab Najwa asal.
"Wah...sudah mulai suka terong kau rupanya," ujar Butet sembari terkekeh.
__ADS_1
Sementara Najwa hanya bisa menepuk dahinya. Di benar-benar pusing menghadapi Butet yang koplaknya mendarah daging.