MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
82.Tekanan Batin


__ADS_3

Najwa menyeret kopernya menuju apartemen Ega. Saat ini dia benar-benar butuh sendiri. Setelah masuk kedalam apartemen, Najwa berbaring diatas tempat tidur sembari memeluk baju Ega yang pria itu tinggalkan.


"Kak. Kamu dimana? aku butuh kamu kak. Hikz...." Najwa terisak.


Sementara itu di apartemen yang berbeda. Arga keluar dari kamarnya. Rasa sepi sunyi langsung menyergap hatinya. Bayang-Bayang kehadiran Najwa baru saja terasa hadir beberapa menit yang lalu.


"Baru beberapa menit yang lalu kamu ninggalin aku. Tapi rasa rindu sudah bersarang di dadaku. Sayang, tunggulah aku. Saat aku sembuh nanti, aku akan kembali padamu. Jika Allah menginginkan kita berjodoh, pasti kita akan di satukan lagi," ucap Arga lirih.


Arga kemudian menghubungi keluarganya dan memberitahu perihal dirinya setuju untuk mengadakan pengobatan keluar negeri.


"Kenapa ya perasaannku jadi tidak enak begini? apa terjadi sesuatu dengan Najwa?" ucap Ega.


Ingin rasanya dia menghubungi nomor ponsel Najwa. Namun sekuat mungkin dirinya mencoba bertahan. Dia tidak ingin mengganggu Najwa lagi.


"Ha-Halo," suara Najwa terdengar berat.


"Najwa. Aku tadi dihubungi Arga. Dia bilang kau keluar rumah. Sekarang kau dimana? kenapa kau keluar rumah? apa kalian bertengkar?" tanya Butet khawatir.


"Nanti aku akan menceritakan semuanya. Aku baik-baik saja. Sebentar lagi aku kesana," ujar Najwa.


"Oke. Aku tunggu ya?"


"Emm."


Setelah panggilan terputus, Najwa segera menyeret kopernya kembali. Najwa memutuskan pergi ke kontrakkan Butet.


Tok


Tok


Tok


Kriekkkk


"Najwa?" Butet cukup terkejut, saat melihat Najwa yang matanya sudah membengkak.


"Butet. Hikz...."


Najwa langsung berhambur kepelukkan Butet sembari terisak.


"Na-Najwa. Kamu kenapa? ayo kita masuk dulu, nggak enak kalau sampai dilihat orang" Butet kebingungan.

__ADS_1


Butet dan Najwa masuk kedalam. Butet membantu Najwa memasukkan koper kedalam rumah.


"Ada apa? kalian bertengkar? kata orang bertengkar dalam rumah tangga itu sudah biasa Na," tanya Butet.


"A-Aku di ceraikan kak Arga. Hikz...."


"Ap-Apa?" Butet terkejut.


"Dasar pria kurang ajar. Kamu tunggu disini, biar aku datangi pria tidak tahu diri itu. Dia sudah janji mau bahagiain kau, sekarang seenaknya saja membuangmu. Aku akan patahkan tangannya itu,"


Butet yang emosi berjalan menuju pintu kontrakkan namun di tahan oleh Najwa.


"Butet sabarlah sedikit. Untuk apa mendatanginya. Toh aku sudah bercerai dengan dia. Tidak ada gunanya mengemis sama dia,"


"Siapa yang mau mengemis sama dia? aku kesana pengen bikin bonyok wajah gantengnya itu. Mentang-Mentang kamu sudah janda dua kali, seenaknya saja dia menceraikanmu,"


"Sudahlah Butet. Mungkin ini memang sudah nasibku. Hikz...."


"Tapi aku tidak terima. Dia kan yang ambil perawanmu? sekarang burungnya sudah letoy baru menceraikanmu. Enak saja dia," ucap butet dengan berapi-api.


"Dia belum menyentuhku. Bah-Bahkan kami belum berciuman." Jawab Najwa.


"Butetttt...."


"Hehehe maaf. Tapi kalau begitu, buat apa kau sedih? toh mahkotamu juga masih utuh. Atau jangan-jangan jodohmu itu memang sama si Ega," ujar Butet.


"Dia sudah pergi. Bahkan dia sudah mengganti nomor ponselnya. Dia ingin melupakanku, terlebih dia sudah punya penggantiku,"


"Dia sudah menikah lagi?" tanya Butet.


"Aku tidak tahu. Tapi aku pernah bertemu dengannya, saat pergi bersama seorang wanita. Bahkan dia menyeru nama wanita itu dengan sebutan Baby."


"Siapa tahu belum nikah. Kamu kan bisa nyari info kontaknya dengan mantan mertuamu itu," ucap Butet.


"Eh? nggaklah Tet, malu. Apa yang akan mereka pikirkan tentangku. Sudah mencampakkan anaknya, sekarang seenaknya mau kembali."


"Tapi kamu masih mencintainya kan?" tanya Butet.


"Sangat. Tapi cinta itu sudah tidak berguna lagi sekarang. Yang ada cuma rasa penyesalan. Aku tidak tahu kenapa Tuhan ingin memberikan aku ujian seberat ini. Padahal aku sudah berniat menerima kak Arga apapun kekurabgan dia,"


"Justru karena Allah sayang kau, dia tidak ingin kau bersama dengan si terong kecut itu. Apa jadinya kau seumur hidup sama dia. Kalau aku jelas cari terong lain saja," ujar Butet.

__ADS_1


"Butet. Bisa nggak sih pikiranmu nggak mikir yang mesum terus? aku lagi berduka ini,"


"Eh...jangan salahnya kau. Urusan ranjang itu sangat penting dalam rumah tangga. Mungkin setahun dua tahun kau bisa tahan. Masa seumur hidupmu kau biarkan punyamu itu masih perawan?"


"Sudahlah Tet. Malas aku ngomong sama kamu. Bikin tambah nyesek aja tahun nggak," ujar Najwa sembari masuk kedalam kamar.


"Eh...aku itu bicara realistis. Masak iya seumur hidup kau cuma mau ciuman sama dia. Atau perawanmu dia pecahkan dengan jarinya. Kalau aku mending pakai terong palsu,"


"Buteeeeettttt...." teriak Najwa kesal.


"Hah...terserah kau. Sekarang yang lebih penting. Orang tuamu sudah tahu belum kau sudah di ceraikan oleh si terong kecut itu?" tanya Butet.


Deg


Jantung Najwa terasa berhenti berdetak. Dirinya benar-benar melupakan hal itu. Bayang-Bayang Sumirah menangis, menjadi rasa sakit tersendiri bagi Najwa. Terlebih Suratmo. Pria berwajah seram namun berhati hello kitty itu pasti akan menangisi dirinya lagi.


"Ya Allah...kasihan sekali Buk'e dan Pak'e. Mereka pasti sangat sedih saat mendengar perceraianku. Aku harus bagaimana sekarang. Aku nggak mau darah tinggi pak'e kumat lagi," batin Najwa.


"Butet. Aku mohon jangan ceritakan pada siapapun tentang perceraianku. Terutama pada orang tuaku."


"Apa maksudmu? kau mau merahasiakan hal sepenting ini dari orang tuamu?" tanya Butet.


"Mereka pasti akan sedih dengan perceraianku ini. Terutama sama bapakku. Aku mohon rahasiakan ini untuk sementara saja, sampai aku siap bercerita. Untuk sekarang aku belum siap. Aku masih merasa tertekan." Jawab Najwa.


"Baiklah. Tapi apapun itu memang sebaiknya kau ceritakan masalahmu pada orang tua. Mereka memang sedih, tapi mau kemana lagi kita akan kembali kalau bukan pada keluarga," ucap Butet.


"Iya aku tahu. Aku cuma butuh ketenangan dulu saat ini," ujar Najwa.


Najwa kemudian membuka ponselnya dan langsung memblokir nomor Arga. Dia sudah memutuskan untuk tidak ingin mengemis pada pria yang sudah menghina martabatnya itu.


"Apa yang kau lakukan? kau memblokir nomor Arga?" tanya Butet.


"Iya." Jawab Najwa.


"Bagus. Itu baru temanku. Lelaki macam tai kucing itu tidak usah di perdulikan lagi. Tenang, kau masih perawan. Kau masih bisa mencari terong segar," ucap Butet yang langsung di plototi oleh Najwa.


"Hehehe. Janganlah kau galak-galak sama temanmu. Saat kau sudah mencicipi terong yang ku maksud, kau pasti akan datang padaku dan berterima kasih dengan penyuluhanku,"


Najwa hanya bisa menepuk dahinya. Dia tahu tingakat kemesuman butet memang tidak tertolong lagi.


To be continue...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2