
Ega mengaduk-aduk makanan sembari memikirkan setiap ucapan Najwa. Meski masakkan Najwa sesuai dengan seleranya, tapi pikirannya cukup terganggu dengan apa yang Najwa katakan.
Setelah menyantap makanannya, Ega kembali ke kamar untuk beristirahat. Pria itu masih teringat dengan percakapan antara dirinya dan Melody kemarin siang. Saat pulang nanti, Melody ingin tinggal serumah bersama Najwa dan dirinya.
Dulu. Saat Najwa belum ada di rumah itu, setiap pulang Melody memang selalu pulang kerumahnya dan tinggal sekamar dengannya. Kini dia bingung harus mendengarkan ucapan siapa. Jika dia memilih Najwa, Melody akan mengamuk dan sudah tentu sangat sulit di bujuk. Sementara kalau dia memilih Melody, Ega takut Najwa akan mengadu pada orang tuanya dan juga melukai harga diri najwa.
"Aku harus membujuk Najwa kalau begitu. Toh aku dan dia tidak akan lama bersama, jadi aku tidak mungkin mengecewakan Melody,"
"Melody sudah cukup sabar menerima pernikahanku dan Najwa. Aku tidak mau melihat dia terluka lagi, dan berpikiran buruk tentangku,"
Ega memejamkan matanya. Tidak berapa lama kemudian, Ega pun jatuh tertidur.
*****
Ega menatap Najwa, saat mereka sama-sama keluar dari kamar dengan memakai pakaian yang sudah rapi. Ega melirik sebuah map coklat yang ada di tangan Najwa, dan dia langsung tahu kalau Najwa saat ini berniat akan pergi melamar pekerjaan.
"Mau kemana?" tanya Ega. Saat mereka sama-sama berjalan menuju meja makan.
"Cari kerja. Seperti kataku kemarin, aku mau mencari pekerjaan hari ini." Jawab Najwa.
"Kenapa? apa nafkah dariku masih kurang? itu uang buat keperluan pribadimu. Nanti kalau untuk keperluan dapur, akan aku kasih lagi," ucap Ega.
"Terima kasih, itu sudah lebih dari cukup. Aku bekerja bukan karena kekurangan, tapi semua itu aku lakukan untuk persiapan masa depanku sendiri. Tidak lama lagi kita akan berpisah, setelah jadi janda aku harus menghidupi diriku sendiri bukan?" ujar Najwa.
Ega terdiam. Nasi goreng yang semula hendak masuk kedalam mulutnya, menggantung begitu saja di udara. Pria itu kemudian menatap wajah cantik Najwa yang tengah khusyuk menikmati makanan di depannya..
"Sebenarnya dia wanita yang luar biasa. Di usia yang sangat muda, tapi harus menyandang status janda dua kali, itu pasti tidaklah muda. Tapi kenapa dia begitu santai? seolah itu bukan apa-apa baginya," batin Ega.
__ADS_1
"Ehemm...Najwa. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Ega.
"Bicara saja," ucap Najwa.
"I-Ini tentang Melody." Jawab Ega, yang membuat Najwa berhenti mengunyah makanannya.
"Ada apa dengannya?" tanya Najwa sembari kembali melanjutkan makan.
"Sebelum kamu kesini, Melody sudah biasa datang kesini dan menginap di dalam kamarku. Dia sudah cukup bersabar dengan menyetujui pernikahan sementara antara aku dan kamu, demi menjalankan wasiat itu."
"Saat dia kembali dia ingin tetap seperti dulu, meskipun sudah ada kamu dalam rumah ini. Aku tidak mau mengecewakan dia untuk kedua kalinya. Dia pasti akan bersedih," sambung Ega.
Mendengar hal itu, Najwa melepaskan sendok ditangannya, dan fokus menatap suami yang baru dia nikahi hampir satu minggu itu.
"Jadi maksud kakak, aku harus membiarkan kalian berzina di dalam rumahku sendiri? aku harus bersikap biasa saja saat melihat kemesraan kalian di depan mataku?"
"Kamu. Menyuruhku diam saja, saat melihat perbuatan hina di depan mataku, itu artinya kakak sudah menghina diriku. Sudah menghina pendidikkan agama yang pernah aku pelajari. Dan aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi," sambung Najwa dengan berapi-api.
"Ya aku mengerti. Tapi kamu juga harus mengerti dengan posisiku. Aku tidak mau hubunganku hancur hanya karena dia salah faham padaku," ucap Ega.
"Aku nggak perduli. Di sini akulah yang istri sahmu. Aku tidak akan membiarkan pelakor masuk ke rumahku dan mengotorinya selama aku ada disini. Bersabarlah, tidak sampai 6 bulan lagi. Kalian bisa melakukan apapun yang kalian mau," ujar Najwa.
"Najwa please. Kamu juga harus mengerti aku dong, jangan mempersulitku," timpal Ega.
Najwa menghela nafas panjang. Baginya ini benar-benar gila. Mana mungkin dia menerima suaminya memasukkan wanita lain kedalam rumah mereka. Itu berarti sama saja dia mendukung perzinahan.
"Mas. Apa ini mas? jodoh apa yang kamu berikan padaku? bukannya dia ingin belajar memulai hubungan suami istri, dia malah ingin wanita lain berada diantara kami. Dan bahkan dia ingin memasukkan wanita lain kedalam rumah bahkan kamar pribadinya,"
__ADS_1
Najwa yang semula tertunduk, akhirnya kembali menatap Ega.
"Baiklah. Seperti perkataanku semalam, kalau kak Ega tidak mau berusaha menciptakan hubungan yang layak buat kita, mari kita urus perceraian kita bersama. Kalau kakak begitu bersikeras dengan keegoisan kakak, maka aku juga punya prinsipku sendiri. Biarpun aku wanita kampung, tapi aku tidak mau harga diriku di injak-injak."
"Pikirkanlah. Setelah aku pulang cari kerja nanti, kita akan bicara lagi. Di saat itu, kakak harus sudah memiliki keputusan. Lakukan tanpa ragu, dan jangan pernah katakan kalau aku tidak pernah memperingatkanmu," sambung Najwa.
"Apa tidak ada solusi lain selain perceraian sebelum 6 bulan? pasalnya mama, papa pasti akan membunuhku, kalau kita bercerai secepat kilat begini," tanya Ega.
"Kenapa aku harus perduli apa yang kakak alami kedepannya? seharusnya kakak sudah tahu resikonya, memasukkan wanita lain diantara kita."
"Hah...ya sudahlah kalau kakak memaksa. Hanya satu solusi yang mungkin agak terdengar gila. Tidak masalah bagiku terusir dari rumahku sendiri, daripada aku membiarkan perzinahan di depan mataku,"
"Apa maksudmu?" tanya Ega.
"Aku akn menyewa kontrakkan diluar. Dengan begitu kakak bebas melakukan apa saja yang kakak mau."
"Sampai berapa lama kamu mengontrak?" tanya Ega.
"Bisa jadi selamanya. Sampai kita resmi bercerai, dan kita menjalani kehidupan kita masing-masing." Jawab Najwa.
Ega terdiam. Meski dia tidak ingin Najwa keluar rumah, tapi solusi itu lebih baik menurutnya. Najwa berdiri dari tempat duduknya, saat melihat Ega masih duduk merenung seperti menimbang sesuatu. Najwa kemudian meraih tangan Ega dan menciumnya.
"Aku berangkat kak. Itu bekal makan siangmu sudah aku siapkan," Najwa menunjuk kearah rantang kecil berwarna kuning. Rantang yang baru dia beli saat belanja ke supermarket.
Najwa pergi tanpa mendengar jawaban dari Ega. Sementara Ega menatap rantang kuning itu, dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Ega mengusap wajahnya berkali-kali. Dia mulai tidak mengerti dengan perasaannya sendiri saat ini. Di depan Najwa dirinya sanggup melontarkan kata-kata kejam dan menusuk, namun saat wanita itu pergi, dirinya selalu merasa ada yang kosong. Bahkan sejak melihat rambut indah milik Najwa, dirinya ingin sekali melakukan hal yang sering dia lakukan dengan mendiang mantan kekasihnya dulu.
__ADS_1