
Najwa menelan ludahnya untuk mengurangi ketegangannya. Tangannya terkepal, meskipun tak terlihat oleh Ega.
"Aku keluar bukan karena ada pekerjaan penting. Tapi aku akan menjemput dia di bandara, dan akan membahas sesuatu di rumahnya," sambung Ega.
Ega benar-benar gugup saat mengatakannya. Padahal sebelum dirinya memiliki perasaan pada Najwa, dia sama sekali tidak perduli apa pemikiran Najwa tentang dirinya.
Najwa menekan perasaannya sekuat mungkin. Najwa juga menahan laju air matanya agar tidak tumpah ruah di hadapan suaminya itu.
"Apa kesepakatan kita akan berakhir di bulan kelima pernikahan kita ini?" tanya Najwa.
"Tidak. Kita tetap akan membuat keputusan di bulan depan. Sesuai perjanjian kita bersama." Jawab Ega.
"Karena di hari itu aku akan mengungkapkan seluruh perasaanku dan akan melamarmu secara benar. Bersabarlah sebentar lagi sayang,"
"Untuk apa harus menunggu bulan depan kak. Kalau pada akhirnya, akulah orang yang akan kalian singkirkan. Kamu ingin pergi kerumahnya pasti ingin membahas surat cerai itu kan?" batin Najwa.
"Pergilah!" ucap Najwa dengan suara yang nyaris tercekat di tenggorokkannya.
"Bisakah kakak jangan pergi?" batin Najwa yang bertentangan dengan lisannya.
"Kakak janji tidak akan lama. Tunggu aku kembali," ujar Ega sembari mengusap wajah lembut Najwa.
"Apa kakak benar-benar akan pulang?" tanya Najwa.
Ada nada tidak rela dan ketakutan yang bisa Ega tangkap dari pertanyaan istrinya itu.
"Tentu saja. Tunggu kakak ya?"
"Emm." Najwa mengangguk.
Cup
Ega mencium kening Najwa sedikit agak lama dari biasanya. Sementara Najwa menejamkan mata menikmati ciuman hangat itu.
"Tuhan...bolehkah aku berharap dia benar-benar akan kembali untukku saja? aku tiba-tiba sangat takut kehilangan dia, aku sangat takut kehilangan suami untuk kedua kalinya," batin Najwa.
Ega perlahan melepaskan bibir dari kening licin Najwa. Setelah mengusap wajah Najwa berkali-kali, pria itu kemudian berbalik badan dan pergi.
Brukkkk
__ADS_1
Najwa terduduk di sofa dengan tangis yang pecah. Serasa ada batu besar yang menghimpit dadanya saat ini. Begitu takutnya dia kehilangan Ega saat ini, hingga jantungnya tidak mau berhenti berdentum. Najwa kemudian menutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia mencari kesibukkan dengan mengganti pakaian dan meraih kitab suci untuk dia baca sebagai penentram hati.
Sementara itu, Ega memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia begitu tidak sabar ingin segera sampai di bandara dan mengajak Melody untuk berbicara serius.
Tidak butuh waktu yang lama, Ega akhirnya tiba di kawasan bandara dan memarkirkan mobilnya.
"Sayang," Melody berhambur kepelukkan Ega seraya mencium pipi kanan dan kiri pria itu.
Ega sama sekali tidak bisa menghindar, karena Melody melakukannya secara tiba-tiba.
"Melody. Tolong jaga sikapmu! disini banyak orang yang melihat," ujar Ega.
" Kamu kenapa hari ini kaku banget sih? biasanya juga gitu," ucap Melody yang tubuhnya sudah di dorong pelan oleh Ega.
Cepat masuk mobil. Aku ada yang ingin dibicarakan denganmu," ucap Ega.
"Ada apa? apa kamu ingin membahas tentang perceraianmu?" tanya Melody.
"Pokoknya kamu masuk saja dulu. Kita akan membahasnya saat di apartemenmu." Jawab Ega.
Melody menurut saja, meskipun tanpa Ega tahu ada seringai aneh di bibirnya.
"Kamu kenapa diam aja? aku kangen kamu sayang. Kita mampir ke apotik yuk?" ucap Melody.
Ega mengerti apa yang Melody maksudkan. Karena saat gadis itu kembali, mereka akan mampir ke apotik hanya sekedar untuk membeli obat tempur dan juga pengaman. Namun kali ini entah mengapa perkataan Melody terdengar menjijikkan ditelinga pria itu.
"Maaf Melody. Mungkin kalau dulu aku akan bersemangat saat kamu mengajakku berbuat mesum. Tapi sekarang tidak lagi, Najwa mengajarkanku banyak hal termasuk menahan syahwat dan menjaga pandangan. Yah meskipun belum sepenuhnya aku realisasikan, tapi aku yakin tidak akan tergoda denganmu. Karena istriku jauh lebih menggoda," batin Ega.
"Sebaiknya kita langsung pulang saja. Atau kamu mau cari makanan dulu barangkali? di apartemenmu pasti nggak punya makanan buat makan malammu nanti,"
Ega berusaha mengalihkan perhatian gadis itu.
"Ya sudah kita cari makan aja sekarang. Kamu benar, aku sudah sangat lapar." Jawab Melody.
"Kamu mau makan apa?" tanya Ega.
"Kita makan di tempat biasa saja." Jawab Melody.
Ega menuruti semua keinginan Melody. Ega pikir itu akan dianggap sebagai perpisahan terakhirnya dengan Melody. Setelah menemani Melody makan, Ega kemudian mengantar Melody pulang sekaligus ingin membicarakan tentang niatnya yang ingin berpisah dari Melody.
__ADS_1
"Mampir ke mini market dulu dong. Pengen beli kopi atau minuman buat teman kita malam ini," ujar Melody.
Ega lagi-lagi menuruti kemauan Melody. Setelah membeli beberapa minuman dan kopi saset, Merekapun bergegas pulang ke apartemen.
Udara di apartemen itu sedikit pengap, karena sudah lama tidak di tempati.
"Kita langsung ke kamar saja sayang," Melody berusaha menggoda Ega, terlebih saat ini gadis itu sudah melepaskan jaket, dan hanya meninggalkan baju tanktop untuk memperlihatkan asetnya yang berharga.
"Kita bicara di ruang tamu saja," ujar Ega sembari menjatuhkan diri di sofa.
"Ya sudah. Kamu tunggu dulu sebentar, aku akan membuat kopi dulu untuk kita," ucap Melody.
Ega tidak membantah. Karena Melody tipe orang yang keras kepala dan tidak suka di tolak. Setelah menunggu beberapa menit, Melody keluar dengan membawa dua cangkir kopi.
Melody meraih cangkir kopi miliknya, dan perlahan menyesapnya.
"Jadi. Apa istrimu itu sudah menanda tangani surat perceraian itu?" tanya Melody sembari meletakkan cankir kopi diatas nampan yang dia bawa.
"Melody. Sebelumnya aku minta maaf padamu, karena aku tidak bisa menepati janjiku padamu."
"Ada apa? kenapa kata-katamu terdengar menakutkan?" tanya Melody.
"Melody. Tadinya aku berpikir kamulah cinta sejatiku, cinta yang aku inginkan dalam hidupku. Tapi ternyata aku keliru. Aku tahu ini terlalu kejam untuk kamu dengar. Tapi Melody, jujur saja, kamu sudah tidak ada disini lagi,"
Ega berkata sembari menepuk pelan dadanya.
"Apa maksudnya ini?" Nafas Melody sudah mulai naik turun.
"Ayo kita putus! aku tidak bisa menghianati istriku, menghianati pernikahan yang sudah di wasiatkan adikku. Lebih dari itu, saat ini aku sudah benar-benar jatuh cinta pada Najwa, pada istriku sendiri." Jawab Ega.
Air mata Melody runtuh seketika. Ega memalingkan wajahnya, karena sejujurnya dia juga tidak tega melihat Melody menangis.
"Tega sekali kamu melakukan ini sama aku Ga. Kamu mencampakkan aku setelah puas menikmati tubuhku. Kamu benar-benar sudah menghianati cinta kita?"
"Maaf," hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Ega, dengan kepala yang tertunduk.
"Apa kurangku? katakan! apa dia lebih hebat saat diranjang? apa dia sangat mahir merayumu? katakan! katakan mengapa kamu tega melakukan ini padaku? hikz..."
Melody terisak di dada Ega sembari mencengkram baju pria itu. Sementara itu Ega tampak kebingungan, meskipun dia tidak membalas pelukkan itu.
__ADS_1
To be continue...🤗🙏