MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
107. Gagal


__ADS_3

"Butet. Stop!"


Arga tiba-tiba mendorong bahu Butet, dan pergi kembali ke kamar mandi.


Sementara itu Butet jadi bengong sendiri dan bergegas mengganti pakaiannya dengan baju santai dan keluar rumah setelah menyambar sebuah handuk.


Tok


Tok


Tok


Marina dan teman-teman yang tengah mencuri dengar terhenyak saat mendengar suara ketukan dipintu rumahnya.


Krieekkkk


Marina dan teman-temannya terkejut, saat melihat Butet berada di depan pintu.


"Matilah aku. Apa kak Butet tahu kami mengintip?" batin Marina.


Sementaraa itu Butet jadi mengerutkan dahinya saat melihat teman-temannya berkumpul didalam rumah Marina.


"A-Ada apa kak?" tanya Marina.


"Numpang mandi." Jawab Butet yang langsung masuk kedalam rumah Marina.


"Eh? sudah selesai kak?" tanya Marina yang langsung menutup mulutnya karena keceplosan.


Butet menghentikan langkahnya dan menoleh kearah teman-temannya.


"Jadi kalian mengintip?" tanya Butet.


"Ng-Nggak kok." Jawab Marina.


"Apa yang mau kalian dengar? kita belum ngapa-ngapain. Kalau sudah nanti aku teriak yang kencang, biar kalian tambah blingsatan," ujar Butet sembari masuk ke kamar mandi.


"Eh? jadi dia teriak anaconda, apaan itu?" tanya Maryam.


"Apa mungkin dia malu mengakui, karena terong suaminya mainnya kilat?" ucap Marina.


"Kalian cepat bubar. Sebelum aku siram pakai air. Aku dengar kalian menggosipkan aku," teriak Butet dari dalam kamar mandi.


Marina dan teman-temannya mendadak kocar- kacir, dan suasana jadi hening seketika. Sementara itu Butet yang berada didalam kamar mandi jadi merenung sendiri. Harga dirinya merasa terluka karena perbuatan Arga.


Krieeeekkk


Arga yang baru selesai dengan hajatnya keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu tidak menemukan Butet di kamar dan kemudian menghela nafas.


"Kemana dia? apa dia tersinggung dengan sikapku?" ucap Arga lirih.


Setelah menunggu hampir dua jam, Arga akhirnya keluar kontrakkan sore harinya. Terlihat Marina dan teman-temannya sedang bergosip diluar kontrakkan dan mendadak diam setelah melihat Arga.


"Emm...apa kalian melihat Butet?" tanya Arga


"Ada didalam dia bang. Katanya capek, jadi tidur dikamarku." Jawab Marina.

__ADS_1


"Oh gitu," ujar Arga sembari melempar sedikt senyum.


Arga kemudian masuk kedalam rumah lagi. Sementara itu Marina dan teman-teman melanjutkan rumpian mereka.


"Mungkin kak Butet kesal karena terong suaminya mainnya cepat. Sementara suaminya jadi merasa bersalah dan mencari kak Butet buat minta maaf," ujar Maryam.


"Betul. Parah banget kaka Butet nafsunya besar, sementara suaminya kan baru sembuh. Mungkin belum bisa ngulek terlalu lama," timpal Marina.


"Terus saja moncong kalian ghibahin aku. Biar nanti aku ulek juga moncong kalian pakai ulekkan batu," sahut Butet yang hendak keluar rumah Marina.


"Eh? kakak sudah bangun? katanya mau tidur?" tanya Marina mengalihkan pembicaraan.


"Mau pulanglah aku. Ada suami yang bisa dipeluk, kalau disini aku sudah bosan dengar moncong kalian berghibah." Jawab Butet sembari menekan handle pintu.


Krieekkkkkk


Butet melihat Arga yang juga melihat kearahnya. Arga segera bangkit dari berbaring.


"Butet. Abang...."


"Tidak apa bang. Justru aku yang harus minta maaf. Mungkin ini terlalu cepat buat kita. Ya sudah aku mau masak buat makan malam kita dulu ya bang?"


Tap


Arga menahan tangan Butet dengan mencekal tangan istrinya itu.


"Ada apa bang?" tanya Butet yang sekuat mungkin menekan perasaannya.


Cup


"Beri aku waktu Tet," ujar Arga.


"Ya." Jawab Butet singkat dengan wajah datar


Butet kemudian berbalik badan dan pergi dari kamar itu.


"Hah. Sabarlah Butet. Dia pasti masih menyukai Najwa. Tidak mudah berpindah hati seperti itu. Kamu sudah tahu resikonya sejak mengambil keputusan menikah dengannya. Semangatlah, buat dia jatuh cinta padamu. Dan itu dimulai dari masakkanmu," ujar Butet lirih.


Butetpun segera memasak untuk memanjakan perut suaminya. Setelah selesai dirinya langsung mengajak Arga buat mencicipi hasil masakkannya.


Tidak ada percakapan saat makan itu berlangsung. Arga sesekali melirik kearah Butet yang mendadak pendiam dan merubah sikapnya secara drastis.


Tring


Tring


Tring


"Ada apa?" tanya Arga yang menerima telponn saat dirinya sedang makan.


Sementara Butet hanya mendengarkan sembari tetap mengunyah makanannya.


"Woy pengantin baru, ikut jalan yuk? kita mau ke mall nih," ujar Ega diseberang telpon.


Arga langsung menoleh kearah Butet, yang kebetulan panggilan itu dia buat pengeras suara.

__ADS_1


"Terserah abang saja," ujar Butet yang tahu suaminya menunggu persetujuan darinya.


"Ya kita ikut." Jawab Arga.


"Bersiaplah. Nanti tunggu diseberang jalan abis magrib ya?"


"Ya." Jawab Arga.


Ega mengakhiri panggilan itu. Arga melirik ke arah Butet yang masih tampak diam, dan tidak banyak bicara seperti biasanya.


"Butet. Apa kamu marah sama abang karena kita tidak jadi melakukannya?" tanya Arga.


"Tidak. Lagipula itu memang terong abang. Hak abang mau dimakan atau mau dibiarkan sampai lapukkan." Jawab Butet.


"Aku takut kamu menyesal, saat ternyata hubungan ini berakhir dengan kecewamu," ujar Arga.


Butet menghentikan gerakkan makannya, dan menoleh sembari tersenyum.


"Aku malah berpikir abanglah yang menyesal sudah menikahiku. Aku sudah menempatkan diriku sebagai seorang istri yang bersedia melayani suami. Tapi jika abang menolak, itu artinya aku tidak berdosa kan?"


"Bagikuvmerasakannya sekarang atau nanti tidak ada bedanya. Aku melajang hingga usia 24 tahun. Selama itu tidak pernah kucicipi terong siapapun. Jadi walau menunggu 24 tahun lagi, aku tidak masalah," sambung Butet.


Arga terdiam. Itu sungguh sindiran tajam baginya. Dan dia benar-benar merasa bersalah pada istrinya itu.


"Harusnya aku tidak boleh bersikap begitu pada Butet. Bukankah aku yang membuatnya terperosok dalam kesedihanku? ini mungkin memang pernikahan dadakkan, tapi dia istri sahku. Sudah sepatutnya aku memberikan nafkah lahir dan batin untuknya," batin Arga.


Seperti yang sudah disepakati, habis magrib mereka pergi jalan-jalan ke mall. Ada yang aneh menurut Najwa pada diri Butet. Wanita itu tampak lebih pendiam dari biasanya, dan itu membuat dirinya heran


"Kamu sakit Tet?" tanya Najwa.


"Ya." Jawab Butet.


"Kenapa sakit malah ikut jalan?" tanya Najwa.


"Sakit enak soalnya." Jawab Butet asal.


Sementara Najwa yang teringat kalau sahabatnya itu seorang pengantin baru, jadi merona wajahnya. Dia jadi teringat saat dirinya malam pertama dengan Ega. Sementara itu Ega yang mendengar obrolan istrinya dan Butet jadi terkekeh.


"Nggak sabaran juga kamu bro. Udah gol aja," sindir Ega yang hanya dijawab senyum tipis oleh Arga.


"Sorry ya. Harusnya kami nggak ajak kalian jalan-jalan. Harusnya kalian diam saja dirumah," sambung Ega.


"Nggak apa. Lagian aku juga belum pernah jalan di kota ini. Siapa tahu nanti bisa cari peluang buat bisnis di kota ini." Jawab Arga.


"Kamu mah gitu. Dimana tempat bisnis aja yang dipikirkan. Uang nggak dibawa mati bro," ujar Ega.


"Iya tapi nggak ada uang rasanya juga mau mati Ga." Jawab Arga.


"Eh ngomong-ngomong kita nonton bioskop aja yuk? udah lama nggak nonton. Biar bisa sambilan," ujar Ega.


"Sambilan? sambilan apa?" tanya Arga.


"Mesum." Jawab Ega sembari tertawa.


Najwa dan Arga menggelengkan kepalanya. Arga sekilas melirik kearah Butet yang diam saja, tanpa menyahuti ucapan mereka. Butet tampak menikmati malam dengan melihat kearah luar jendela.

__ADS_1


__ADS_2