
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ega saat sudah mendekat kearah ranjang, dimana Arga berbaring.
"Baik kak." Jawab Najwa singkat.
"Yang sakit itu Arga. Kenapa kamu menanyakan keadaan Najwa? tolong ya, disini tempat untuk merawat orang sakit. Bukan buat pertemuan para mantan," ujar Sri.
Sri dan Alman memang sudah lama mengenal sosok Ega. Dulu Arga sering membawa Ega kerumah orang tuanya. Pada waktu itu Ega belum di tempatkan di kantor Direktorat pajak, dan sedang mencari tempat tinggal setelah selesai pendidikkan.
Najwa sedikit memberikan kode pada Ega dengan gelengan kepala. Ega yang mengerti maksud Najwa, tidak menanggapi ucapan Sri yang terdengar pedas di telinga itu.
Kini Ega juga mengerti, kalau keluarga Arga tidak menyukai Najwa. Dan itu membuat Ega jadi khawatir.
"Bagaimana keadaan Arga?" tanya Ega.
"Kak Arga belum siuman setelah operasi tadi malam. Tapi kata dokter dia sudah melewati masa kritisnya," ujar Najwa dengan air mata yang langsung menetes di pipinya.
"Bersabarlah. Ini ujianmu," ucap Ega.
"Ini bukan ujian. Ini karena mantan istri kamu itu pembawa sial. Beruntung kamu sudah bercerai dengan dia. Kalau tidak, mungkin kamu yang akan celaka. Si Arganya saja yang bodoh, mau-maunya saja menikahi barang bekas," ujar Sri.
Wajah Ega langsung memerah hingga ketelinganya. Ucapan Sri sudah tidak bisa dia tolelir lagi.
"Ucapan Uni Sri seperti bukan ucapan orang beriman. Tidak ada istilah pembawa sial bagi orang yang benar-benar meyakini takdir Allah. Uni begitu terang-terangan tidak menyukainya, apa Uni pikir dia hidup sendiri di kota ini?"
"Memang dia ditakdirkan hidup sendiri. Saat Arga sadar nanti, kami akan berusaha menjauhkan dia dari wanita sial ini," ucap Sri.
Ega yang hilang kesabaran langsung melangkah untuk mendekati wanita itu.
Tidak ada rasa takut di hati Ega, meski tubuh suami Sri lebih besar dari badannya.
Tap
Najwa menahan langkah kaki Ega, dan menggelengkan kepalanya. Ega hanya bisa beristigfar dalam hati, namun tangannya masih saja terkepal erat. Tidak berapa lama kemudian orang tua Arga datang bersama Marini, adik bungsu Arga yang diam-diam pernah menyukai Ega.
"Uda masih belum sadar?" tanya Lina.
"Belum ma." Jawab Najwa.
"Saya nggak nanya kamu," ucap Lina yang seperti tamparan keras diwajah Najwa.
"Najwa. Pernikahan apa yang kamu jalani saat ini. Aku pikir kamu sudah hidup bahagia bersama Arga. Tapi ternyata kamu diperlakukan tidak adil seperti ini hanya karena statusmu yang pernah janda dua kali," batin Ega.
"Kalau begini caranya. Aku sudah bisa membayangkan air matamu itu akan turun satu ember satu hari,"
Ega menatap Najwa yang tengah tertunduk sembari sesekali menyeka air matanya. Sungguh rasa teriris hati Ega melihatnya. Karena tidak tahan, Egapun segera pergi dari situ.
Arga perlahan membuka matanya yang terasa berat. Najwa yang menyadari hal itu langsung menyeka air matanya dan tersenyum lebar.
"Ma. Kak Arga sudah sadar," ujar Najwa sembari mendekat kearah Arga.
__ADS_1
"Minggir!" Lina menggeser tubuh Najwa.
Najwa jadi tersingkir kebelakang, saat semua keluarga Arga mengelilingi tempat tidur suaminya itu.
"Na-Najwa," ucap Arga lirih.
"Ya. Aku disini kak." Jawab Najwa sembari menyeka air matanya, dan segera ia gantikan dengan senyuman.
Dengan enggan Sri memberikan jalan untuk iparnya itu.
"Mana yang sakit. Hem?" tanya Najwa dengan lembut, namun dijawab gelengan oleh Arga.
"Lapar tidak? akan aku suapi," ujar Najwa yang ingin mengambil mangkok bubur di atas nakas.
Tap
Tangan Arga mencekal tangan Najwa, sehingga Najwa jadi menoleh kearah suaminya itu.
"Disini saja. Aku butuh kamu," ujar Arga.
Najwa mengurungkan niatnya dan duduk disamping Arga.
"Kalian pasti lelah menjagaku. Kalian boleh pulang untuk beristirahat. Biar Najwa yang menjagaku disini," ujar Arga.
Tidak berapa lama kemudian seorang dokter dan dua orang perawat datang keruangan itu untuk memeriksa keadaan Arga. Dan dokter menyatakan Arga sudah baik-baik saja, hanya menunggu pemulihan luka-lukanya saja.
"Arga. Mama ada yang ingin dibicarakan," ujar Lina.
"Ma. Arga lagi sakit, hal itu bisa kita bicarakan nanti," ujar Sulaiman.
Lina menghela nafas panjang, dan kemudian mereka berpamitan untuk pulang. Arga memperhatikan raut wajah lelah Najwa, juga mata istrinya itu yang sedikit bengkak.
"Sudah berapa ember air mata yang kamu keluarkan karena aku disini?" tanya Arga.
"Jangan meledekku. Apa kakak tahu, jantungku rasanya ingin berhenti berdetak saat tahu kakak mengalami kecelakaan itu." Jawab Najwa.
"Aku senang mendengarnya. Itu artinya kamu sangat mengkhawatirkan aku. Dan kekhawatiranmu itu menunjukkan kamu sangat perduli padaku. Aku suka kamu perdulikan," ujar Arga sembari tersenyum.
"Kak. Restauran kita...."
"Itu ujian pertama dalam rumah tangga kita. Nanti Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih besar, kalau kita bersabar," ujar Arga.
"Masya Allah. Begitu luas hati suamiku. Aku percaya suamiku orang baik, itulah sebabnya dia masih mau menerimaku meskipun aku sudah menjanda dua kali," batin Najwa.
"Kakak cepat sembuh ya? biar kita cepat pulang kerumah. Biar kita bisa kerja keras lagi, buat menggantikan Restauran kita yang terbakar itu," ujar Najwa.
"Jangan khawatirkan itu. Cabang Restauran kita masih banyak. Insya Allah masih cukup buat beli 1 rumah 1 mobil setiap bulan," ucap Arga sembari terkekeh.
"Mungkin bukan itu yang kamu inginkan. Kamu ingin aku segera sembuh agar kita cepat melakukan kegiatan yang tertunda waktu itu," sambung Arga dengan menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Kegiatan tertunda? kegiatan tertunda apa?" tanya Najwa.
"Buat anak." Jawab Arga yang langsung mendapat pelototan mata dari Najwa.
"Kakak sembuh dulu, baru mikirin hal mesum," ucap Najwa.
"Kok mesum sih? ah...sayang banget nggak jadi waktu itu. Padahal...."
"Apa?" tanya Najwa saat melihat tatapan mata Arga yang sudah penuh hasrat.
"Aku pengen menciummu," ujar Arga.
"Kakak. Ini rumah sakit. Jangan ngomong atau bertindak sembarangan," ujar Najwa.
"Tapi kita belum ciuman," Arga semakin ingin menggoda Najwa. Terlebih saat melihat wajah Najwa yang sudah merona.
Arga kemudian menarik kepala Najwa untuk mendekat kearahnya. Pandangan mata mereka sejenak bertemu. Saat ciuman itu hampir mendarat, seseorang mendorong pintu dari arah luar.
Krieeetttt
Ega mendorong pintu perlahan dan mendapati Arga dan Najwa nyaris berciuman.
Nyuuttttt
Ega merasa hatinya berdenyut sakit. Saat melihat adegan mesra itu. Pria itu masih belum rela, bibir manis Najwa yang pernah dia cicipi itu menjadi santapan empuk pria lain.
Melihat kedatangan Ega, Najwa bergegas menarik diri dan bersikap sempurna. Ega sengaja kembali dan izin karena dia tidak tenang meninggalkan Najwa bersama keluarga Arga yang terlihat memusuhinya itu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ega sembari meletakkan parcel buah diatas nakas.
"Baik. Terima kasih sudah menjengukku," ujar Arga.
"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Ega.
"Aku tidak fokus setelah mendengar berita kebakaran itu. Jadilah aku mencium jalan aspal setelah diserempet mobil." Jawab Arga.
"Apa ada bagian tubuhnlmu yang sakit? atau memang hanya ada luka luar saja?" tanya Ega.
"Sepertinya memang cuma luka luar saja. Soalnya aku tidak ada masalah, saat menggerakkan anggota tubuhku." Jawab Arga.
"Baguslah. Arga ada yang ingin aku katakan padamu, ini menyangkut keluargamu...."
"Kak. Aku harap kakak tahu batasan. Maaf, aku bisa menyelesaikan masalah keluargaku sendiri," Najwa memotong ucapan Ega.
Arga nampak kebingungan, saat melihat Ega dan Najwa seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Arga.
To be continue....🤗🙏
__ADS_1