MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
85. Merantau Ke Kota.


__ADS_3

Najwa dan Butet tampak sibuk mencari lowongan kerja di beberapa lembar koran dengan berbagai merek. Kening mereka kadang kencang, dan terkadang mengendur, saat membaca lowongan kerja yang tulisannya lumayan irit.


"Ini ada loker untuk guru bimbel. Kamu tertarik tidak?" tanya Butet.


"Apa saja yang penting halal. Guru bimbel juga tidak buruk. Gimana kalau besok kita langsung merantau saja ke kota. Kita bisa cari kerja apa sajalah di sana. Daripada disini, dengerin gunjingan mak rempong," ujar Najwa.


"Masih gunjingin kau si Asti?" tanya Butet.


"Ya. Semua ibu-ibu yang belanja sayur di mang Firman dia bagi tahu semuanya. Sampai-sampai aku jadi malu keluar rumah." Jawab Najwa.


"Cuek ajalah Na. Belum tahu azab dia. Kamu do'akan saja bibirnya korengan," ujar Butet.


"Hustttt...kamu nggak boleh ngomong gitu. Meski orang jahat sama kita, kita harus tetap berbuat baik sama mereka," ucap Najwa.


"Habisnya aku kesal sama Asti. Dari kau masih gadis, dia selalu cari masalah. Terlihat sekali dia itu iri sama kau," ujar Butet.


"Lagian apa juga yang mau dia irikan sama aku Tet. La wong selain kismin, karier kacau balau, aku ini udah janda 3 kali. Pantas saja kalau dia menggunjingku."


"Kau salah Na. Mau semiskin apapun orang itu, mau seperti apa status orang itu. Dia tidak berhak menghina kekurangan siapapun termasuk kamu. Kita ini sebagai manusia bermartabat tinggi, harus berani menyangkal atau memberi pelajaran orang seperti itu," ucap Butet.


"Hah...ya sudahlah Tet. Jadi gimana ini? jadi nggak besok kita merantau ke kota?" tanya Najwa.


"Jadi dong. Setelah kupikir-pikir hidup bebas juga enak ya? nggak terikat dan tidak perlu mikirin tugas sekolah," ucap Butet sembari terkekeh.


"Ya nggak gitu juga Tet. Hidup bebas memang enak, tapi jadi guru di sekolah juga mulia.Kamu tahu sendiri tidak mudah membuat cerdas anak bangsa, mungkin kita berdua ini jadi guru yang gagal karena sudah menyerah duluan," ujar Najwa.


"Ya sudah nanti kita datangi tempat bimbel itu, atau kerja apa sajalah. Yang penting kita tidak nganggur lagi dan bisa dapat duit buat beli softek," ucap Butet.


"Ya sudah aku pulang dulu ya Tet? mau siap-siap buat berangkat besok," ujar Najwa.


"Oke. Aku juga mau beberes," ujar Butet


Najwapun pulang kerumah. Untuk beberes buat keperluan merantau keesokan harinya.


"Kamu yakin mau pergi secepat ini ndok?" tanya Sumirah saat melihat putrinya berkemas-kemas.


"Iya buk'e. Lagian Nana tidak suka menganggur. Biarkan Nana cari kerja buat ngumpulin uang, untuk Buk'e dan pak'e pergi haji." Jawab Najwa.


"Buk'e tidak perlu naik haji. Asalkan kamu bahagia, buk'e sudah senang," ujar Sumirah.


"Buk'e do'akan saja Nana banyak rejeki

__ADS_1


Memang Nana sudah punya niat sejak lama buat naikin Buk'e sama pak'e naik haji. Sekarang Nana nggak mikirin masalah jodoh lagi. Nana mau fokus cari duit saja buat buk'e," ucap Najwa.


"Tidak boleh begitu. Masa depanmu masih panjang. Kalau memang ada jodohnya jangan di tahan-tahan hanya karena kamu merasa malu dengan tetangga. Lagipula buk'e juga pengen gendong cucu," ujar Sumirah.


"Maafin Nana ya buk'e? Nana selalu ngecewain buk'e," Najwa meneteskan air matanya.


"Kamu putri satu-satuku yang paling berbakti dengan orang tua. Ridhoku selalu menyertaimu ndok. Suatu saat kamu pasti akan menemukan kebahagiaan."


*****


Keesokkan harinya....


"Ah...akhirnya datang juga," ujar Butet sembari merenggangkan tubuhnya setelah menaiki sebuah becak.


Najwa membayar ongkos becak itu dan kemudian menurunkan kopernya yang di ikat diatas becak.


"Kearah mana kita akan berkelana sekarang Na?" tanya Butet.


"Kita cari kontrakkan dulu." Jawab Najwa.


"Dimana? kalau nyari di pusat kota pasti mahal," ujar Butet.


"Cari yang asal ada angkot lewat saja." Jawab Najwa.


"Uhhhffftt...mayanlah meskipun kita tinggal di bedeng panjang begini," ujar Butet, saat mereka sudah masuk kedalam kontrakkan yang mereka dapat.


"Aku lihat di bedeng ujung ada warung, bisa nanti kita beli teko elektrik buat masak mie instan sebelum kita beli peralatan masak," sambung Butet.


"Iya." Jawab Najwa.


Butet yang merasa kepanasan keluar rumah untuk melihat daerah sekitar. Dilihatnya beberapa gadis di luar kontrakkan sembari ngerumpi banyak hal.


"Eh...ada tetangga baru rupanya. Siapa nama kau, kenalan dulu lah kita," ujar gadis berambut merah itu.


Mendengar logat yang digunakan gadis itu, senanglah hati Butet. Butet merasa seolah bertemu dengan saudara satu kampung.


"Kenalkan namaku Butet," ujar butet sembari mengulurkan tangannya.


"Bah...orang satu kampungku rupanya. Namaku Marina. Tapi jangan kau kira aku nama merk handbody kakak," ujar Marina sembari terkekeh.


Butet lalu berkenalan dengan para gadis lainnya, dan ikut mengobrol bersama mereka.

__ADS_1


"Datang sendiri kakak rupanya?" tanya Marina.


"Datang berdua dengan temanku. Dia ada didalam lagi beberes." Jawab Butet.


"Kau sendiri tinggal dengan siapa?" tanya Butet.


"Aku sama teman-temanku dari kabupaten P. Kesini cuma kerja." Jawab Marina.


"Kerja dimana? soalnya kami merantau ke kota buat cari kerjanya ini," tanya Butet.


"Kerja di mall. Kakak mau kerja apa? kebetulan aku kenal baik dengan managernya," tanya Marina.


"Lowongan apa yang ada saat ini?" tanya Butet.


"Kasir." Jawab Marina.


"Ya sudah kalau begitu aku dan temanku titip lamaran sama kau saja. Boleh?" tanya Butet.


"Boleh kakak. Malam nanti buatlah lamarannya, aku jamin kalian akan langsung bekerja nantinya," ujar Marina.


"Makasih Marina. Moga dilancarkan rejeki kau," ucap Butet.


"Sama-Sama kak." Jawab Marina.


"Aku masuk dulu. Mau kasih temanku kabar baik ini," ujar Butet.


"Nanti keluar lagi kak ya? kami lagi nunggu paket speaker datang. Nanti kita bisa karaoke bersama," ucap Marina.


"Boleh-Boleh. Nanti kita test speakermu itu. Aku akan menyumbang lagu,"


"Kakak masih gadis kah?" tanya Marina.


"Ya. Tapi temanku sudah janda." Jawab Butet.


"Ya sudah nanti jam 5 keluar ya? aku mau ajak kakak buat godain duda tampan diseberang kontakkan kita," ucap Marina sembari terkekeh.


"Eh? masih gadisnya kau. Kenapa harus ngabil duda. Kejarlah terong perjaka," ujar Butet.


"Ini dudanya kualitas unggul kakak. Ibarat durian ini durian montong." Jawab Marina.


"Bisa saja kau. Tapi aku suka gaya kau. Akhirnya aku bertemu juga teman sama gilanya seperti aku," ujar Butet sembari terkekeh.

__ADS_1


Butet melihat kearah rumah yang Marina maksud. Rumah yang dikelilingi oleh pohon rindang dan hanya ada satu buah rumah itu saja.


__ADS_2