MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
48. Lupakan Aku


__ADS_3

Ega memegang kedua bahu Melody, untuk menjauhkan gadis itu dari dekapannya. Lama bergaul dengan Najwa, membuat dirinya jadi tahu sedikit-sedikit batasan dengan seorang wanita yang bukan muhrimnya. Namun Ega tetap mengakui, berduaan dengan yang bukan muhrim di rumah yang tidak memiliki penghuni lain, juga tidak di benarkan.


"Melody. Lepaskanlah aku, lupakanlah aku. Aku benar-benar minta maaf, karena aku sudah mencintai orang lain dan sudah menghapusmu dari hatiku," ujar Ega.


"Kenapa kamu tega sekali Ega. Disana aku sangat setia padamu. Apa salahku sama kamu sampai kamu giniin aku? apa ada yang kurang dariku? kamu tinggal bilang, aku bisa memperbaiki kekurangan dan kesalahanku. Tapi aku mohon tetaplah bersamaku,"ucap Melody dengan wajah yang sudah dipenuhi air mata.


"Tidak Melody. Aku nggak akan sanggup menduakan Najwa dengan siapapun lagi. Aku juga bukan nabi yang bisa berlaku adil, kalau memang suatu saat nanti kita berjodoh. Itulah sebabnya aku ingin hubungan kita berakhir sampai disini. Aku tidak mau mengecewakan Najwa lagi, terlebih aku sangat mencintainya." Jawab Ega.


"Cinta? teganya kamu mengatakan kata-kata cinta itu di depan gadis yang sudah kamu lukai dengan cintaimu itu. Lalu apa arti hubungan kita selama 3 tahun ini bagi kamu Ega? mudah sekali kamu menghancurkannya, hanya karena tergoda oleh wanita lain?"


"Melody. Dia adalah istriku. Sudah sepatutnya aku mencintai dia dan menghargai dia. Sedangkan kita? selama ini kita selalu melakukan hubungan yang tidak halal. Jadi Melody, ku mohon lupakan aku."


"Tapi kamu juga sudah menikmati tubuhku selama bertahun-tahun. Apa kamu tidak ingin bertanggung jawab? kamu sudah menghancurkan aku," ucap Melody.


"Maaf Melody. Seharusnya kamu juga tidak lupa. Bahwa yang melakukan itu pertama kali padamu bukanlah aku. Aku juga sudah menerimamu apa adanya selama kita berhubungan. Aku akui aku bersalah padamu, kesannya aku mencampakkan mu setelah bosan denganmu. Tapi demi Allah, aku tidak pernah berpikir begitu selama ini. Tapi mungkin memang kita tidak berjodoh. Aku pulang dulu, Najwa menungguku dirumah,"


Ega beranjak dari tempat duduknya. Namun tiba-tiba Melody berlari ke arah dapur dan mengambil sebilah pisau.


"Kalau kamu berani melangkah keluar dari pintu, kamu akan melihat mayatku di depan matamu," ujar Melody sembari meletakkan pisau dipegelangan tangan.


"Melody. Apa yang kamu lakukan? apa kamu sudah gila?"


"Aku memang akan gila kalau sampai kamu ninggalin aku Ga. Kamu sudah menghancurkan angan-angan kita. Aku pulang karena aku ingin kamu nikahi, tapi kamu malah mencampakkan aku. Sakit tahu nggak?"


"Melody. Lepaskan pisau itu! bahaya," ucap Ega panik.


"Biarin aja. Kalau aku mati kamu bisa bebas bersenang-senang dengan istrimu itu kan?"


"Bisa nggak kamu nggak usah drama kayak gini? kamu mau mati atau hidup, aku akan tetap bersama Najwa. Dengan kamu kayak gini, aku malah tambah yakin kalau Najwa memang pilihan terbaik." Jawab Ega.


Ega perlahan mendekati Melody, karena ingin mengambil pisau itu dari tangan gadis itu.


"Aku tahu aku salah sama kamu. Tapi aku bisa apa? kita memang tidak bisa bersama lagi Melody," ujar Ega.


"Bisa. Jadikan aku istri keduamu." Jawab Melody.

__ADS_1


"Tidak akan pernah. Aku tidak mau menghianati Najwa. Aku tidak bisa menjelaskannya padamu, kenapa aku tidak bisa. Pokoknya apapun yang kamu lakukan, tidak akan merubah keputusanku," ucap Ega.


"Oh...sepertinya kamu menganggap aku hanya menggertak saja ya?"


Melody kemudian benar-benar mengiris pegelangan tangannya, meskipun itu tidak terlalu dalam. Darah segar menetes kelantai, dan itu membuat Ega jadi panik.


"Melody. Kamu benar-benar sudah tidak waras?"


Ega menyerbu kearah Melody yang akan segera tumbang di lantai.


"Aku akan membawamu kerumah sakit," ujar Ega panik.


"Tidak mau. Biarkan aku mati! aku tidak mau dibawa kerumah sakit. Aku tidak mau menanggung malu."


"Menaggung malu apa? Jangan keras kepala," ucap Ega.


Ega kemudian menggendong Melody, untuk membawa gadis itu kerumah sakit.


"Beruntung lukanya tidak terlalu dalam, dan tidak perlu di jahit," ujar dokter.


"Tentu saja. Saran saya awasi dia, jangan membuat dirinya banyak pikiran dan jadi tertekan, hingga kembali melakukan aksi bunuh diri lagi." Jawab dokter.


"Baik dok," ujar Ega.


Ega dan Melody kembali menuju pulang ke apartemen. Tidak ada percakapan diantara keduanya selama dalam perjalanan pulang itu.


"Ega. Apa kita benar-benar tidak bisa bersama lagi?" tanya Melody dengan kembali berurai air mata.


"Maaf Melody. Aku harap kamu mengerti dan ikhlas menerima semua keputusanku." Jawab Ega.


"Baiklah kalau itu maumu, aku bisa apa? bahkan saat melihat diriku celaka, kamu masih bersikukuh mau ninggalin aku. Sekarang aku harus berusaha melupakanmu."


Ega merasa lega saat mendengar ucapan Melody. Pria itu berpikir tidak terlalu susah untuk meyakinkan Melody.


"Sebagai tanda perpisahan kita, maukan kamu menuruti permintaanku?" tanya Melody.

__ADS_1


"Permintaan?"


"Ya. Tapi berjanjilah kamu akan mengabulkan semua permintaanku." Jawab Melody.


"Asalkan tidak melakukan hal yang tidak senonoh, aku berjanji akan mengabulkannya" ujar Ega.


"Menginaplah malam ini. Kamu tenang saja, aku akan berada di kamar, dan kamu tidur diruang tamu. Aku hanya merasakan takut malam ini," ucap Melody.


"Maaf Melody, aku tidak bisa. Najwa pasti sudah lama menungguku, aku mohon mengertilah." Jawab Ega.


"Tidakkah kamu mau menghargai hubungan kita selama 3 tahun ini? bahkan kamu tidak mau memberikan aku muka sedikitpun? Ega, tidakkah kamu itu merasa sangat kejam?".


"Maaf Melody. Tapi itu hal yang tidak pantas."


Jawaban Ega tentu saja membut Melody tertawa keras. Hanya kurun waktu kurang dari 5 bulan, Ega sudah benar-benar jauh darinya. Bahkan pria itu membatasi hubungan mereka dengan hal pantas dan tidak pantas. Sangat jauh berbeda saat dia pulang 6 bulan yang lalu. Ega dan dirinya bahkan bisa bertelanjang dari pagi hingga ke pagi demi memenuhi hasrat mereka.


"Kamu pasti akan mengatakan diriku sangat naif. Tapi itu tidak masalah, asal aku sudah sedikit berjalan di koridorku."


"Please. Aku hanya minta di temani saja, bukan mengajakmu tidur bersama. Aku benar-benar takut malam ini. Tolong hargai perasaanku untuk yang terakhir kalinya,"


"Maaf Melody aku benar-benar tidak bisa." Jawab Ega.


"Aku pulang dulu ya? istriku sudah menunggu dirumah. Lagi pula aku berjanji hanya keluar sebentar saja, dan ini sudah jam 9 malam. Dia pasti sangat khawatir," ujar Ega.


Ega kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Ega. Minumlah dulu kopinya," ujar Melody.


"Aku tidak suka kopi dingin," ucap Ega.


"Akan aku buatkan lagi,"


"Tidak usah. Najwa yang akan membuatkannya untukku nanti,"


Melody mengepalkan tanggannya tanpa Ega ketahui. Sesaat akan mencapai pintu keluar, Melody menyeru namanya kembali, namun tepat berada di belakang punggungnya.

__ADS_1


__ADS_2