MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
46. Dia Kembali


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Kriekkkkk


"Kakak sudah pulang?"


Seperti biasa, Najwa meraih tangan Ega untuk dia cium. Kemudian Ega akan menariknya duduk disofa, lalu mereka akan berciuman dengan posisi Najwa berada dipangkuan pria itu.


Rutinitas itu mereka lakukan setiap hari, seolah hari mereka tidak akan lengkap, kalau belum melakukan hal itu.


"Seperti biasa kamu selalu cantik dan wangi," ujar Ega.


Ega membenamkan wajahnya didada Najwa yang empuk. Pria itu bisa mendegarkan detak jantung Najwa yang berdebar kencang saat ini.


"Sayang. Kita jalan yuk?" tanya Ega setelah mengangkat wajahnya, menatap wajah cantik istrinya.


"Jalan? jalan kemana kak?" tanya Najwa.


Tentu saja hati Najwa berbunga-bunga mendapat tawaran itu. Sebab ini kali kedua Ega mengajaknya jalan-jalan, setelah pergi ke puncak waktu itu.


"Gimana kalau kita cuci mata ke mall saja?" ujar Ega.


"Ke mall?"


"Ya. Mau?" tanya Ega.


"Mau kak." Jawab Najwa semringah.


"Kalau gitu bersiaplah. Kakak juga mau mandi dan bersiap juga," ucap Ega sembari mengusap puncak kepala Najwa.


"Ya."


Najwa kemudian bangkit dari pangkuan Ega. Wanita itu senyum-senyum sendiri saat akan menuju kamarnya. Ega kemudian bangkit dari tempat duduk, dan pergi menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, Ega bergegas berpakaian.


Tring


Tring


Tring

__ADS_1


"Melody?"


Ega sedikit tegang, pasalnya dia lupa kalau bulan ini Melody berjanji akan pulang. Sebulan terakhir ini komunikasi antara dirinya dan Melody sedikit merenggang. Itu di karenakan Ega ingin memberi jarak dengan gadis itu, sebelum akhirnya dia akan memutuskan hubungan mereka.


Ega menggeser tanda panah hijau di layar ponselnya, untuk menerima panggilan telpon itu.


"Sayang. Kamu ada dimana?" tanya Melody.


"Dirumah." Jawab Ega singkat.


"Aku sudah berada di bandara. Aku langsung ke apartementmu ya?"


"Ka-Kamu sudah kembali?" tanya Ega.


"Iya. Kamu senang kan? aku langsung ke apartementmu aja ya?"


"Jangan!"


"Kenapa? aku sudah kangen banget sama kamu. Kamu nggak kangen aku?" tanya Melody.


"Pokoknya jangan kesini. Tidak enak dengan Najwa," ujar Ega.


"Kenapa aku harus menjaga perasaan dia? yang kamu cintai itu aku, bukan dia. Kalau dia mah bodo amat mau ngapain juga. Pokoknya aku kesitu sekarang!"


"Kamu kenapa lagi sih? kalian kan mau bercerai juga, kenapa harus menutupi hubungan kita lagi?"


"Pokoknya kamu diam di tempatmu sekarang. Aku akan menjemputmu. Kita akan bicara di apartementmu," ucap Ega.


"Oke aku tunggu," ujar Melody dan kemudian mengakhiri panggilan itu.


Ega menjambak-jambak rambutnya sendiri. Dia tahu betul kepribadian Melody yang keras kepala dan suka berbuat seenaknya. Itulah dia sangat terkejut, saat mendapatkan Najwa yang berkepribadian sebaliknya. Najwa selalu bisa menghargainya sebagai seorang suami, dan benar-benar menjunjung tinggi aturan agama dalam berumah tangga.


"Aku harus mengambil sikap tegas. Aku tahu ini tidak akan mudah, dan Melody tidak akan mau menerima begitu saja. Tapi aku harus menyelamatkan rumah tanggaku lebih dulu,"


Ega dengan tekad sekuat baja ingin mengakhiri hubungannya dengan Melody. Pria itu lupa, bahwa saat ini dia sudah memiliki janji akan pergi bersama Najwa ke salah satu mall terbesar di kota J.


Baru saja akan melangkah ke depan pintu keluar, langkah kakinya terpaksa berhenti saat suara Najwa menyeru namanya.


"Astaga...aku benar-benar lupa kalau saat ini aku punya janji dengan Najwa. Bagaimana ini? Najwa pasti akan kecewa," batin Ega.

__ADS_1


Ega perlahan berbalik badan. Pria itu menatap Najwa yang berjalan ke arahnya dengan anggun. Gamis berwarna abu-abu, dengan jilbab berwarna senada, menunjang kecantikkannya pada sore ini.


Dapat Ega lihat senyum semringah terbit dari bibir pujaan hatinya itu. Mata Najwa berbinar, seperti bintang terang dimalam hari. Rasanya Ega tak sampai hati ingin membatalkan janji mereka yang akan bersenang-senang dihari ini.


Ega memijat keningnya sejenak, dia sedang berpikir keras, bagaimana caranya agar Najwa tidak kecewa karena mereka batal pergi. Namun raut wajah gelisah itu tertangkap juga oleh Najwa, hingga wanita itu meraih kedua tangan suaminya dan menatap bola mata hitam milik Ega.


"Kakak mau kemana? kok sepertinya sedang terburu-buru? apa kakak ada urusan penting?" tanya Najwa.


"I-Iya. Najwa, bolehkah kita pergi di lain hari saja? kakak benar-benar ada pekerjaan mendesak sekarang," ujar Ega.


"Begitu ya? ya sudah nggak apa-apa. Kita bisa pergi lain kali. Kakak hati-hati di jalan ya?" senyum Najwa masih terkembang, padahal Ega sudah mengecewannya.


"Ya Tuhan...baik sekali dia. Dia masih bisa tersenyum, padahal aku sudah mengecewakanmya. Padahal dia sudah berdandan dengan sangat cantik. Dia benar-benar bidadari syurgaku, aku jadi bertambah mencintainya."


"Kalau posisi ini pada Melody, dia akan merajukiku sepanjang hari. Dan dia bisa tersenyum kalau sudah diberi transferan duit untuk dia shoping."


"Sayang. Tunggulah aku sebentar lagi, karena bisa aku pastikan setelah hari ini kita akan bersatu selamanya,"


"Ya. Kamu tunggu dirumah ya? kakak nggak akan lama kok," ujar Ega.


"Iya." Jawab Najwa.


Ega kemudian keluar pintu, sementara Najwa duduk termenung di sofa, tempat mereka biasa bercumbu mesra.


Ega yang akan memasuki lift menghentikan langkahnya tiba-tiba. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinnya, dan itu tiba-tiba membebani moralnya.


"Bukankah aku akan memulai hubungan yang baru dengan Najwa nanti? seharusnya aku jujur padanya dalam segala hal, seperti dia yang selalu jujur dan polos. Kalau suatu saat tindakkanku ini diketahui olehnya, dia pasti akan kecewa padaku. Bukankah harus jujur meskipun itu pahit?"


"Aku tidak tahu dia sudah menyukaiku atau tidak. Karena aku yakin bisa meruntuhkan pertahanannya itu. Yang penting sekarang aku sudah yakin dengan perasaanku padanya. Aku tidak akan menyia-nyiakan dia, aku akan membahagiakannya,"


Ega memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Dia akan jujur, bahwa dia akan menemui Melody saat ini. Dia tidak ingin menyimpan bangkainya pada istri sholehanya itu, dan akan tercium baunya suatu saat nanti. Dia ingin memberi keadilan untuk istri polosnya itu, karena Ega yakin dengan niat yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik.


Dengan langkah tergesa-gesa Ega kembali ke apartemennya. Pria itu menekan beberapa sandi, dan akhirnya pintu itu terbuka. Najwa yang tengah melamun menoleh seketika saat pintu itu terbuka lebar, dan sedikit mengerutkan dahinya.


Najwa kemudian berdiri dari duduknya, Wanita itu bermaksud ingin bertanya kepada Ega yang kembali dalam keadaan tergesa-gesa.


"Ada apa kak? apa ada yang ketinggalan?" tanya Najwa.


Ega menatap dalam mata Najwa. Sungguh keputusannya untuk kembali dan jujur adalah keputusan yang tepat. Dia tidak tega berbohong pada wajah polos itu.

__ADS_1


"Dia kembali." Jawab Ega.


Jawaban Ega membuat tubuh Najwa menegang seketika. Meski Ega tidak menjelaskannya secara rinci, Najwa tahu siapa yang di maksud oleh suaminya itu.


__ADS_2