
Ega menyelipkan rambut panjang Najwa yang panjang, ke daun telinga istrinya itu. Bibir Najwa tampak memerah, karena baru saja Ega melu**t habis daging lembut itu.
"Apa kamu tahu? aku merindukanmu hari ini," ujar Ega sembari mengelus lembut pipi Najwa.
Mendengar ucapan Ega, tentu saja membuat pipi Najwa merona. Siapa yang tidak senang dan berbunga-bunga saat mendengar kalimat rayuan itu dari bibir suaminya sendiri. Namun Najwa berusaha tidak memperlihatkannya pada Ega, karena sejujurnya dia masih takut berharap lebih jauh untuk hubungan mereka yang belum ada kejelasan itu.
"Apa kamu juga merindukanku?" tanya Ega sembari menatap mata Najwa.
"Aku tidak mengerti cara mendeskripsikan rasa rinduku seperti yang kakak rasakan. Karena sejujurnya aku masih bertanya-tanya mau dibawa kemana hubungan kita ini. Tapi kalau aku boleh jujur, saat aku di tempat bekerja, aku ingin cepat-cepat pulang karena ingin memasak untukmu. Aku ingin cepat-cepat pulang, karena ingin berbagi banyak cerita denganmu. Apa itu bisa disebut dengan merindu?" tanya Najwa.
Ega tersenyum mendengar tuturan polos istrinya itu. Meski tidak di katakan, Ega mengerti bahwa Najwa mengungkapkan rasa rindunya dengan cara yang jauh lebih sederhana dan natural. Dan entah mengapa, itu bisa membuat hati Ega melonjak senang.
"Jadi kamu sempat memasak untukku?" tanya Ega sembari mengusap bibir mungil Najwa dengan ibu jarinya. Bibir yang selalu ingin dia lagi dan lagi.
"Tentu saja. Aku kan sudah berjanji akan pulang sebelum kakak pulang kerumah. Pokoknya aku akan membuat kakak selalu makan masakkan rumah. Baik pagi, siang maupun malam." Jawab Najwa.
"Terima kasih," ujar Ega sembari mengusap puncak kepala istrinya itu.
"Sekarang lebih baik kakak bersihkan diri dulu. setelah itu kita makan bersama. Masih ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu," ucap Najwa.
"Baiklah. Aku mandi dulu, kamu bisa siapkan makanannya," ujar Ega.
Najwa bangkit dari pangkuan Ega, dan membiarkan suaminya itu pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Sementara itu Najwa tampak duduk termenung, entah mengapa meski Ega sudah bersikap baik padanya, dia masih belum merasakan tenang. Karena dia menyadari masih ada orang ketiga diantara mereka. Dan Ega pun belum memberikan ketegasan untuk hubungan mereka.
"Bagaimana kalau kak Ega meminta haknya? dan tiba-tiba Melody muncul mengacaukan semuanya. Apa yang harus aku lakukan untuk menjaga keutuhan rumah tanggaku? apa kak Ega mau melepaskan Melody demi aku?" batin Najwa.
"Kalau boleh jujur, kak Ega sudah berhasil sedikit meruntuhkan pertahananku dengan sikap manis dan romantisnya. Aku benar-benar takut jadi terbuai dan lupa diri. Bagaimana kalau nanti disaat aku sudah menyerahkan seluruh hatiku padanya, tapi ujung-ujungnya akan terluka? kak Ega, sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku? apa kamu sudah mulai menyukaiku?"
Sementara itu Ega yang berada di kamar dan baru selesai membersihkan diri, menerima panggilan telpon dari Melody.
"Kenapa ya, aku merasa kamu menghindari aku akhir-akhir ini? kamu jadi jarang chat atau nelpon aku," tanya Melody.
"Kamu ngomong apa sih? aku benar-benar sedang sibuk kerja." Jawab Ega.
"Aku harap kamu tidak mengecewakan aku. Aku disini sudah sangat setia dan sabar, meski kamu menikahi wanita lain. Aku harap kamu menepati janjimu yang akan menceraikan istrimu, setelah aku pulang nanti. Ega, apa kamu sadar? bahwa istrimu itu adalah cobaan bagi hubungan kita?"
"Aku tahu." Jawab Ega.
"Baguslah. Aku yakin kamu memang hanya mencintaiku. Akulah sumber kebahagiaanmu yang sebenarnya, bukan istri sementaramu itu," ujar Melody.
__ADS_1
"Iya. Ya sudah ya? aku mau makan dulu, aku sudah lapar," ucap Ega.
"Oke. Dah...sayang,"
"Dah...." Ega mengakhiri percakapan itu. Hatinya benar-benar dilanda kegalauan saat ini.
Tok
Tok
Tok
"Kak. Makanannya sudah siap," ujar Najwa dari luar pintu.
Ceklekkkk
Ega membuka pintu kamar, dan melihat senyum cantik Najwa. Senyum yang mampu menghilangkan kegalauannya seketika.
"Ayo kita makan bersama," ujar Ega.
"Emm." Najwa mengangguk sembari tersenyum.
Ega meraih tangan Najwa. Merekapun bergandengan tangan saat menuju meja makan. Seperti biasa, Najwa melayani Ega dengan sangat baik saat di meja makan. Hal yang tidak pernah Ega dapatkan saat bersama Melody. Bahkan malah sebaliknya, Egalah yang melayani gadis itu bak seorang putri.
"Kenapa?" tanya Ega sembari mengunyah makanannya.
"Boleh nggak aku datang ke tabligh akbar? aku melihat spanduk dijalan. Katanya ada tabligh akbar di masjid Al-Ikhlas. Tempatnya nggak jauh kok dari sini." Jawab Najwa.
"Kenapa kamu ingin sekali pergi kesana?" tanya Ega.
"Ada ustad idolaku yang mengisi tausiyah di tabligh itu. Aku ingin sekali mendengar tausiyah beliau secara langsung." Jawab Najwa.
"Siapa ustad idolamu itu?" tanya Ega.
"Ustad Abdul Mamat." Jawab Najwa.
"Kita akan pergi bersama," ujar Ega.
"Benarkah?" tanya Najwa dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Ega yang duduk bersebelahan dengan Najwa jadi terkekeh melihat tingkah istrinya itu.
"Kamu kenapa hobi sekali menangis. Hem?"
Ega menyeka air mata Najwa dengan ibu jarinya.
"Aku terharu kak. Apa kakak tahu? aku sangat bahagia kakak mau pergi bersamaku di acara seperti itu." Jawab Najwa.
Cup
Ega mengecup kening Najwa, dan mengelus pipi mulus istrinya itu.
"Najwa. Kenapa sumber kebahagiaanmu itu sangat sederhana. Kamu sangat senang cuma gara-gara aku ikut di acara keagamaan. Kamu juga menangis saat aku menjadi imam sholatmu. Apa kamu tidak ingin meminta yang lainnya dariku? emas berlian misalnya," ujar Ega.
"Buat apa aku meminta itu. Toh juga tidak bisa aku pamerkan pada orang lain," ucap Najwa.
"Kenapa tidak bisa? biasanya wanita akan senang memperlihatkannya pada orang lain atau pada temannnya," ujar Ega.
"Itu wanita lain. Kalau aku nggak suka begitu. Lagipula setahuku kaum wanita tidak boleh berbuat begitu, terlebih tujuannya untuk pamer. Kalau di hati wanita lain jadi timbul rasa iri, atau menginginkan hal itu, maka kita juga akan berdosa." Jawab Ega.
"Oh...begitu ya?" tanya Ega.
"Iya. Lagipula pakaianku tertutup, tidak bisa pamer kesiapapun," ucap Najwa.
"Terima kasih atas tausiyahnya buk ustadzah," ujar Ega sembari mengusap puncak kepala Najwa.
"Sama-Sama Jama'ah." Jawab Najwa sembari terkekeh.
"Oh ya kak. Aku sudah tahu gaji di tempat kerjaku," ujar Najwa.
"Oh ya?"
"Emm. Katanya sih UMR. Apa itu pas untuk para pekerja di kota ini?" tanya Najwa.
"Mungkin. Tapi berapapun itu, kamu simpan untuk kebutuhanmu sendiri. Jangan pernah menggunakan uang pribadimu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kita. Pokoknya uang nafkah dan belanja kebutuhan rumah, akan aku berikan setiap bulannya," ujar Ega.
"Makasih ya kak," ucap Najwa.
"Emm. Habiskan makananmu, setelah selesai kita bisa berbincang lagi," ujar Ega.
__ADS_1
Sungguh Najwa sangat bahagia saat ini. Meskipun dia tidak tahu suaminya mencintai dia atau tidak, tapi perlakuan manis Ega bisa membuat hati Najwa bergetar.
TO BE CONTINUE...🤗🙏