
"Buk'e ada yang ingin Nana bicarakan sama buk'e," ujar Najwa diseberang telpon.
"Ada apa ndok?" tanya Sumirah.
"Buk'e. Apa buk'e dan pak'e setuju kalau Nana menikah lagi?"
"Menikah lagi? kapan?" tanya Sumirah terkejut.
"Secepatnya." Jawab Najwa.
Najwa lalu menceritakan awal pertemuannya dengan Arga yang tidak disengaja. Sampai Najwa bercerai dengan Ega, pria itu masih setia menunggu Najwa. Dan pada akhirnya Najwa dipertemukan dengan keluarga Arga, untuk meminta Najwa menjadi istri putranya itu.
Terdengar suara helaan nafas Sumirah yang terdengar begitu berat. Sebenarnya Najwa tahu apa yang tengah di pikirkan oleh ibunya itu.
"Sebenarnya buk'e tidak masalah kalau kamu mau mengakhiri masa jandamu secepat itu, asalkan kamu sendiri tahan mendengar gunjingan orang-orang."
"Ndok. Kita ini hidup bermasyarakat. Memang masyarakat tidak berhak mengomentari hidup kita, tapi tidak ada salahnya juga kamu mendengar apa pendapat orang lain," sambung Sumirah.
"Apa sebaiknya aku tolak saja ya buk'e?" tanya Najwa.
"Ya jangan gitu juga ndok. Ndak baik kalau kita nolak niat baik orang begitu aja. Minimal kamu harus punya alasan buat menolaknya. Apa menurut pandanganmu dia pria yang tidak baik? hingga tidak layak di pertimbangkan?" tanya Sumirah.
"Dia sangat baik malah. Hanya saja Nana jadi kepikiran omongan buk'e tadi." Jawab Najwa.
"Seperti biasa kamu harus minta petunjuk dulu dari yang maha kuasa. Tapi kalau menurut buk'e pribadi sih tidak masalah kalau kamu mau menerima dia selama dia orang baik. Hanya saja dia harus bersabar, kalau dia mau menunggu. Minimal 6 bulan atau setahun lagi," ujar Sumirah.
"Berarti aku harus bicara tegas dan serius sama dia buk'e. Biar dia tidak terlalu berharap." Jawab Najwa.
"Sebenarnya semua ada sama kamu juga ndok. Kalau kamu memang tidak mau, ya tolak saja. Nggak ada yang boleh memaksamu, kalau kamu tidak nyaman. Ini masalah hati," ujar Sumirah.
"Iya buk'e." Jawab Najwa.
Perasaan Najwa cukup plong, setelah berbicara dengan ibunya. Najwa sudah memutuskan ingin bersikap tegas pada Arga, agar pria itu tidak terlalu berharap banyak padanya. Dan jadilah saat ini Najwa dan Arga tengah berada disebuah taman. Najwa memilih taman sebagai tempat nyaman berbicara karena selain ramai orang, disana juga tempatnya lumayan sejuk.
__ADS_1
"Kak. Aku sudah mengambil keputusan setelah kupikirkan matang-matang," ujar Najwa.
"Apa keputusanmu?" tanya Arga harap-harap cemas.
"Aku bersedia menikah denganmu, kalau kakak mau menungguku sampai 6 bulan lagi." Jawab Najwa.
"6 bulan? kenapa harus 6 bulan?" tanya Arga sedikt kecewa.
"Kak. Kita ini hidup bermasyarakat. Mungkin bagimu tidak ada masalah kalau harus menikah secepat itu. Tapi kita juga harus memikirkan kedua orang tuaku. Aku tidak bisa kedua orangku juga ikut di gunjing."
"Jadi kalau kakak mau menunggu maka tunggulah sampai 6 bulan lagi. Tapi kalau kakak nggak mau nunggu, kakak boleh cari wanita lain yang bisa kakak nikahi dalam waktu dekat. Walau bagaimanapun kakak berlum pernah menikah, sudah sepatutnya kakak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik," sambung Najwa.
"Baiklah kakak terima syaratmu. Tapi apa setekah 6 bulan itu kamu benar-benar akan memenuhi janjimu? kakak takut kamu akan berubah pikiran lagi. Najwa, kamu tidak tahu betapa begitu berharapnya aku dengan hubungan ini."
"Kakak juga menyadari, kakak seolah memaksakan kehendak kakak padamu. Tapi itu kakak lakukan karena kakak takut kehilanganmu," sambung Arga.
Najwa menghela nafas, dia bingung harus mengartikan ungkapan Arga, apa memang sesungguhnya atau hanya sekedar obsesi belaka.
"Kak. Apa kakak sungguh yakin kalau perasaan kakak itu benar-benar cinta?" tanya Najwa.
"Eh? bu-bukan begitu," Najwa jadi tidak enak hati karena merasa pemikirannya bisa terbaca oleh Arga.
"Mungkin kelihatannya seperti itu. Tapi kakak sungguh-sungguh dengan semua yang kakak ucapkan," ujar Arga.
"Terima kasih kak. Aku merasa tersanjung, karena meski statusku janda dua kali, tapi kakak masih mau bersabar menungguku. Malah sebenarnya akulah yang terkesan tidak tahu diri dan tidak tahu di untung," ucap Najwa.
"Jangan bicara begitu. Wajar saja kalau kamu punya pemikiran seperti itu. Kamu sudah mengalami banyak hal dalam hidup. Bahkan mungkin ada trauma yang membekas dalam hatinya. Tapi percayalah Najwa, jika kamu menikah denganku, aku akan menghapus rasa sedihmu dan juga rasa traumamu," ujar Arga.
"Terima kasih kak. Kakak sangat baik padaku, selama ini. Maaf aku belum bisa membalas kebaikkan kakak selama ini, tapi aku percaya Allah pasti akan memeberikan hadiah yang indah untuk orang sebaik kakak," ucap Najwa.
"Kamulah hadiah terindah dari Allah buat kakak."
Jawaban Arga membuat Najwa jadi tersipu. Najwa sedikit terharu, karena Arga begitu sangat memujanya.
__ADS_1
"Kita pulang yuk kak? sudah sore, cuaca juga agak mendung, takutnya sebentar lagi turun hujan," ucap Najwa.
Arga menatap langit, dan dia membenarkan ucapan Najwa. Arga dan Najwapun memutuskan untuk pulang.
Sementara itu di tempat berbeda, Ega yang tengah beristirahat sepulang kerja, dikejutkan oleh kehadiran Melody yang tiba-tiba masuk kekamarnya dengan pakaian yang tidak biasa. Ega yang tidak sengaja terlelap karena kelelahan, merasakan ada sesuatu yang membelai kejantanannya dari arah luar celananya.
Pakkkkk
Ega menepis tangan Melody dengan kasar, saat tahu wanita itu menyentuh tanpa seinzinnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Ega berang.
"Sayang. Apa kamu sungguh tidak menginginkannya? kita sudah 3 bulan menikah, tapi kamu sama sekali belum menyentuhku," tanya Melody sembari melepaskan kain yang melekat padanya satu persatu.
"Jangan kamu mengira, kamu berbuat begini bisa menggodaku. Melody, meski kamu telanjang sekalipun di hadapanku, aku sama sekali tidak tertarik padamu lagi." Jawab Ega.
Ega segera bangkit dari tempat tidur, dan pergi begitu saja tanpa perduli dengan Melody berteriak frustasi menyeru namanya.
"Ega brengsek! dasar munafik," maki Melody.
Ega yang bergegas keluar, memasuki kamar pribadinya dan segera membersihkan dirinya.
"Tingkah Melody benar-benar membuatku muak. Apa ada alat yang bisa meniup perutnya itu? aku sungguh tidak tahan lagi hidup serumah dengan wanita seperti itu," ucap Ega sembari membanjiri tubuhnya dengan air dari kucuran shower.
"Apa dia pikir bisa menggodaku seperti dulu? dulu ku akui aku memang buta, karena bisa tergoda dengannya. Ah...ya Tuhan...begitu banyak dosa hambamu ini, rasanya dosa-dosaku sangat sulit diampuni," air mata Ega menetes saat mengingat semua dosa-dosanya yang sering berzina dengan banyak wanita. Terlebih bersama Melody, dia sering melakukan hal-hal gila bersama wanita itu.
Tok
Tok
Tok
"Ega aku ikut mandi ya?" ucap Melody.
__ADS_1
"Enyalah brengsek!" teriak Ega dengan nafas yang sudah naik turun. Sementara itu Melody menghentakkan kakinya karena hasratnya benar-benar tidak bisa terpenuhi.