
Brakkkkkk
Ega membanting pintu dengan lumayan keras.
"Kamu kenapa sih? kamu marah-marah kenapa? apa yang Arga katakan sama kamu, hingga kamu emosi begini?" tanya Melody.
"Diam kamu! nggak usah ngajakin aku ngomong. Jangan mentang sudah jadi istriku, seenaknya saja kamu bersuara," hardik Ega.
"Aku ini istri kamu. Aku ini cuma nanya kamu kenapa? kenapa kamu jadi marah-marah nggak jelas?" tanya Melody.
"Nggak usah nanya-nanya." Jawab Ega.
Brakkkkk
Ega menutup pintu kamar, yang biasa ditempati Najwa sebelumnya. Ega kemudian mengunci pintu itu dan pergi berbaring diatas tempat tidur.
Tok
Tok
Tok
"Sayang. Kenapa kamu masuk kamar ini? kamar kita kan ada disebelah?" tanya Melody.
Ega menutup telinganya dengan bantal, dia sama sekali tidak suka mendengar suara Melody. Karena tidak ada respon, Melody akhirnya pergi dari situ dan masuk ke kamar sebelah.
Ega merenung di dalam kamar itu. Aroma parfum Najwa masih bisa Ega cium, karena seprei terakhir yang Najwa pakai sama sekali belum Ega cuci. Ega membiarkan kamar itu sama seperti terakhir kali Najwa pergi dari rumah itu.
Ega yang belum sempat membuka isi lemari Najwa, berjalan mendekati lemari itu. Ega berharap ada pakaian Najwa yang tertinggal disana. Namun Ega kecewa, karena didalam lemari itu tidak menemukan apapun selain selembar kertas.
Ega membuka kertas itu dan membaca isinya. Awalnya Ega mengira itu surat dari Najwa, tapi ternyata itu adalah surat wasiat dari Affan. Air mata Ega lagi-lagi mengucur saat membaca isi surat wasiat itu. Andai waktu bisa diputar kembali, dirinya tentu tidak akan pernah menyia-nyiakan Najwa.
"Ya Allah. Aku mohon jodohkan kembali aku dengan Najwa. Aku sangat mencintainya. Hikz...." Ega terisak.
Sementara itu, di tempat berbeda. Najwa tengah sibuk melayani pembeli yang baru saja selesai makan siang di restauran. Arga melihat wajah Najwa tidak secerah biasanya. Pria itu tahu, kalau saat ini suasana hati Najwa sedang tidak menentu alias masih patah hati.
__ADS_1
Najwa duduk di salah satu meja pengunjung. Suasana sudah lumayan sepi. Karena ingin menyibukkan diri, Najwa memutuskan untuk bekerja sampai shiff sore hingga restaurant tutup.
"Ega sudah menikah tadi pagi," ujar Arga saat pria itu menghampiri Najwa.
Deg
Jantung Najwa seolah berhenti berdetak seketika. Ada rasa sesak di dadanya disertai air matanya yang sudah mengucur deras. Namun secepat kilat Najwa menyeka air matanya itu.
"Memang sudah waktunya bukan? lambat laun ini pasti akan terjadi," ujar Najwa.
"Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Tadi aku sempat berpapasan dengannya saat akan pergi ke restauran."
"Tidak masalah. Ini juga sudah menjadi keputusanku." Jawab Najwa.
"Lupakan dia. Tatap masa depanmu. Seperti dia yang melangkah maju, kamu juga harus membuka lembaran baru," ujar Arga.
"Pasti. Tapi untuk saat ini caraku melupakan dia dengan cara sibuk bekerja, dari pagi hingga malam. Tapi suatu saat nanti, caraku melupakannya harus dengan cara berbeda," ucap Najwa.
"Cara berbeda? cara seperti apa?" tanya Arga.
"Tentu saja menikahi pria lain." Jawab Najwa sembari terkekeh.
"Bolehkah pria beruntung itu adalah aku?" tanya Arga dengan wajah serius.
Najwa yang semula tertawa, jadi terdiam seketika.
"Kakak jangan bercanda. Kakak itu masih bujangan, sementara aku sudah janda dua kali. Meski kakak tidak keberatan, keluarga dan tetanggamu pasti akan menggunjingku." jawab Najwa.
"Terus terang aku sudah agak kenyang mendengar gunjingan para tetanggaku di kampung. Bahkan ada yang bilang kalau aku ini wanita pembawa sial," sambung Najwa.
"Hanya orang-orang yang tidak beriman yang sanggup mencela saudara seimannya sendiri. Kakak sama sekali tidak keberatan dengan statusmu. Yang kakak cari bukan wajah, harta, maupun tahta. Aku menyukaimu karena imanmu, karena kamu wanita sholeha dimataku," ucap Arga yang membuat Najwa terdiam.
"Maaf kak. Tapi dalam waktu dekat ini, tidak ada rencanaku buat menikah lagi. Lagi pula malu kak. Aku baru saja bercerai, masa iya menikah lagi secepat itu?"
"Kenapa tidak? asalkan masa iddahmu sudah selesai, itu tidak jadi masalah. Jangan perdulikan omongan orang lain, karena kita tidak hidup minta-minta dengan orang itu. Lagi pula itu lebih baik untuk menghindari fitnah. Kamu tahu sendiri menjanda itu tidak mudah, banyak orang berpikiran buruk dengan status janda yang jamu sandang saat ini."
__ADS_1
"Najwa. Kakak sungguh-sungguh menyukaimu. Mungkin ini terdengar gila, karena kamu baru saja bercerai dari suamimu. Tapi kamu juga harus tahu, perasaan kakak ke kamu tidak kurang sedikitpun sejak pertama kali kita bertemu," sambung Arga.
Najwa terdiam sembari tertunduk. Entah mengapa dia jadi teringat kata-kata Ega yang ingin bercerai dari Melody, dan akan kembali rujuk dengannya.
"Aku tahu kamu masih mencintai Ega. Aku akan sabar sampai kamu benar-benar menghapus nama itu dari dalam hatimu," ucap Arga.
"Najwa. Apa kamu ingin menunggu Ega samapi dia benar-benar mencerikan Melody?" tanya Arga.
"Ti-Tidak." Jawab Najwa terbata, sebab dia masih bimbang dengan jawabannya sendiri.
"Najwa. Coba kamu bayangkan kalau anak itu benar-benar anak kandung dari Ega. Dengan kamu menikahi orang lain, Ega pasti tidak akan berpikir untuk menceraikan Melody. Kita bisa menyelamatkan rumah tangga orang lain, dan juga kebahagiaan anak mereka."
"Maaf. Aku tidak bermaksud mempengaruhimu, ataupun memaksamu. Aku hanya ingin mengutarakan sudut pandangku saja," sambung Arga.
"Tidak masalah kak. Perkataan kakak ada benarnya juga. Aku akan coba memikirkannya," ujar Najwa.
"Ap-Apa itu artinya kamu mau memberiku kesempatan?" tanya Arga.
Najwa menghela nafas. Sejujurnya sama sekali dirinya belum kepikiran buat berumah tangga lagi. Tapi melihat ketulusan Arga, dia terpaksa membiarkan pria itu mendekati dirinya.
"Tapi sebaiknya kakak utarakan niat kakak itu pada keluarga kakak dulu. Takutnya mereka tidak bisa menerima statusku. Terus terang aku sudah lelah. Aku menjalani hidupku saat ini sesuai alur saja," ujar Najwa.
"Iya. Kakak akan bicarakan ini seceapatnya dengan keluarga kakak. Insya Allah mereka mau menerimamu apa adanya." Jawab Arga.
"Apa sebaiknya aku langsung memintamu pada orang tuamu?" tanya Arga.
"Ja-Jangan dulu." Jawab Najwa.
"Kenapa?" tanya Arga.
"Pokoknya jangan dulu. Kakak urus saja dulu masalahnya dengan keluarga kakak. Setelah itu kita bicarakan lagi." Jawab Najwa.
Sejujurnya Najwa bingung bagaimana caranya ingin menolak Arga. Disamping dirinya tidak memiliki perasaan pada pria itu, Najwa juga belum kepikiran buat berumah tangga lagi.
"Maaf Najwa. Aku kesannya sedikit memaksa. Tapi aku tidak ingin kamu dimiliki orang lain lagi," batin Arga.
__ADS_1
"Dan untuk Ega. Mungkin secara tidak langsung aku sudah nikung kamu. Tapi biarkan aku yang membahagiakan dia,"
Arga sudah bertekad bahwa dia harus bisa memiliki Najwa. Meski terkesan menghalalkan segala cara.