
Sudah hampir satu bulan Najwa tinggal serumah dengan Ega, namun tidak ada perubahan yang berarti untuk hubungan mereka. Kali ini yang membuat Najwa risau adalah, uang simpanannya sudah hampir habis. Selama Najwa tinggal disana, Ega belum sekalipun memberikan nafkah lahir, terlebih lagi nafkah batin. Entah Ega lupa atau sengaja, tapi yang pasti Najwa saat ini sedang dilanda kebingungan.
"Aku tidak mungkin meminta uang padanya. Bukan aku gengsi atau apa, tapi seharusnya dia sudah tahu kewajibannya itu. Aku juga tidak tahu dia lupa atau sengaja, tapi dia ini benar-benar sama sekali tidak peka," gerutu Najwa.
"Aku juga nggak mungkin minta uang sama mak'e, terlebih aku nggak punya ponsel buat menghubungi mereka. Jadi aku harus bagaimana ini? jaman sekarang nggak punya ponsel gimana caranya buat cari kerja? kecuali pekerjaan yang memang nggak menggunakan ijazah,"
Najwa mengurut dahinya, dia benar-benar pusing saat ini. Selama dia tinggal bersama Ega, Ega bahkan tidak pernah lagi belanja buat kebutuhan dapur. Najwa terpaksa menggunakan uang pribadinya, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
"Sekarang sudah tanggal 2. Seharusnya PNS seperti dia sudah gajiankan? apa aku sindir saja dengan cara meminjam uang padanya? aku butuh ponsel, meskipun itu ponsel jadul sekalipun," ucap Najwa lirih.
Di tempat berbeda, Ega tengah bekerja membuat laporan keuangan tentang pajak yang dihasilkan tiap harinya. Saat sedang asyik bergelut dengan laptop, Ega mendapat panggilan dari Intan.
"Ya ma?" tanya Ega sembari jarinya tetap lincah menekan tombol-tombol di laptopnya.
"Najwa masih nggak punya ponsel? gimana caranya kami tahu kabar dia, kalau dia nggak punya polsel begitu? kasihan ibunya. Terus kamu sudah kasih uang bulanan sama dia belum? kamu jangan samain hidup kamu pas masih bujangan sama pas nikah. Kamu harus peka dengan kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan pribadi istrimu. Mama nggak mau ya, kalau lihat dia pulang nanti jadi kurus kering?" tanya Intan.
"Iya ma. Ega nggak lupa kok. Habis pulang kerja nanti Ega akan carikan ponsel buat dia. Nanti akan Najwa kabari kalau ponselnya sudah dibeli." Jawab Ega.
"Bagus. Ya sudah bekerjalah lebih giat lagi. Sekarang kamu sudah punya tanggung jawab. Bisa jadi nanti akan ada kabar baik dari kalian berdua, dan itu akan menambah biaya hidup kalian lagi,"
"Kabar baik?" tanya Ega.
"Itu, maksud mama cepat kalian kasih cucu buat mama. Jangan suruh Najwa nunda kehamilan, pokoknya mama mau kamu segera kasih kabar baik itu buat mama. Kamu dengar nggak?" tanya Intan.
"I-Iya. Ega dengar kok ma." Jawab Ega terbata.
"Ya sudah. Mama tutup dulu telponnya," ujar Intan.
Intan kemudian mengakhiri percakapan itu. Sementara Ega jadi memijat keningnya, setelah mendengar ucapan Intan.
__ADS_1
"Wanita keras kepala itu bahkan gengsinya melebihi langit. Dia sama sekali tidak pernah meminta uang padaku, padahal aku sengaja tidak pernah belanja dan tidak pernah memberikan uang padanya. Apa salahnya sih, dia duluan yang minta? apa mulutnya itu akan langsung kena sariawan, kalau meruntuhkan gengsinya itu?" batin Ega.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Najwa kini tengah mondar mandir menunggu kedatangan Ega pulang .Dia sudah bertekad akan meminta izin pada pria itu untuk mencari pekerjaan.
"Aku nggak bisa begini terus. Ini bukan hanya karena dia nggak peka, tapi terus terang aku juga bosan kalau berada terus dirumah. Aku harus minta izin dulu sama dia, nanti kalau sudah dapat kerja uangnya bisa buat beli HP," ujar Najwa lirih.
Krieeekkkk
Ega terlihat sudah pulang. Najwa yang menunggu diruang tamu jadi bangkit dari tempat duduknya.
"Kakak sudah pulang?" tanya Najwa sembari meraih tangan Ega, untuk dia cium.
"Emm." Jawab Ega yang langsung hendak beranjak pergi.
"Kak," seru Najwa.
"Ada apa?" tanya Ega tanpa menoleh ke arah Najwa.
"Tunggu setelah aku membersihkan diri." Jawab Ega.
"Apa kakak butuh teh atau kopi?" tanya Najwa.
"Tidak usah." Jawab Ega, kemudian langsung pergi begitu saja.
Najwa tidak mengerti dengan perangai Ega. Sudah hampir sebulan dia tinggal serumah, tapi bahkan kopi atau teh yang dia tawarkan selalu Ega tolak. Najwa kemudian memutuskan masuk ke kamar, sembari menungu Ega selesai dari membersihkan diri.
Hanya butuh waktu 15 menit bagi ega, untuk membersihkan dirinya. Kini dia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Ega kemudian meraih kotak ponsel, yah...Ega memang sudah membelikan ponsel android untuk Najwa. Dia juga tidak ingin Intan selalu bertanya padanya tentang keadaan Najwa.
Najwa yang berbaring di atas ranjang, tidak sengaja tertidur. Bahkan suara ketukan pelan didepan pintu, sama sekali tidak dia dengar.
__ADS_1
Ceklekkk
"Najwa kamu tuli ya?" Ega yang kesal langsung membuka pintu begitu saja.
Najwa yang terkejut langsung bangkit dari tempat tidur, dengan rambut yang tergerai indah.
"Rambutnya indah sekali? panjang, wajahnya juga lebih cantik saat dia tidak menggunakan jilbab," batin Ega.
Di tatap seperti itu, Najwa baru teringat kalau saat ini dia sedang tidak menggunakan jilbab. Najwa bergegas meraih jilbabnya dan mengenakan benda itu seadanya.
Ega mengerutkan dahinya saat melihat tingkah Najwa itu. Dirinya merasa sedikit tersinggung, karena Najwa tidak ingin dirinya melihat keindahan di depan matanya itu.
"Harus ya? kamu menutup kepalamu didepan suamimu sendiri? terlihat sekali kalau kamu itu selama ini hanya berpura-pura menganggapku sebagai suamimu, dan berpura-pura jadi istri yang baik?" tanya Ega.
Mendengar itu tentu saja Najwa jadi tersenyum lebar. Akhirnya dia memiliki kesempatan untuk menjatuhkan perkataan pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Tentu saja aku tidak pernah berpura-pura. Hanya saja kadang aku merasa akulah yang tidak dianggap istri disini. Punya buku nikah, cincin kawin, tinggal serumah, itu tidak menjadi aku diperlakukan layaknya sebagai seorang istri. Jadi untuk apa aku harus berpura-pura? bukankah kakak yang ingin membuat jarak denganku?"
"Kakak ingin kita tidur tepisah, tidak mau makan apa yang aku masak, tidak mau minum kopi atau teh buatanku. Bahkan kakak melupakan hal penting dan wajib yang harus kakak lakukan. Kakak tidak memberikan semua itu, karena kakak juga tidak menganggapku seorang istri kan? jadi kenapa kakak menimpakan semua kesalahan ada padaku?" tanya Najwa.
Ega terdiam. Semua yang Najwa katakan memanglah benar. Karena malu, Ega langsung menyodorkan kantung plastik yang berisi ponsel dan sebuah amplop didalamnya.
"Apa ini?" tanya Najwa.
"Ambil saja." Jawab Ega.
Setelah Najwa menerimanya, Ega kemudian ingin beranjak pergi. Namun Najwa lagi-lagi menghentikannya.
"Kak. Aku kan belum selesai bicara? aku kan sudah bilang ingin bicara serius dengan kakak," ucap Najwa.
__ADS_1
Ega kemudian berbalik badan dan menatap Najwa dengan lekat. Di tatap seperti itu, Najwa jadi menundukkan kepalanya.