
"Cantik,"
Ega memuji kecantikan Najwa, saat emas putih yang di belinya bertengger cantik di leher Najwa. Jangan ditanya bagaimana perasaan Najwa saat ini, wanita itu tidak henti-hentinya mengusap kalung yang ada diehernya itu.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Ega sembari meletakkan dagu di leher Najwa yang sedang mematut dirinya didepan cermin.
"Suka. Apapun yang kakak beri untukku, aku sangat menyukainya." Jawab Najwa sembari tersenyum.
"Lalu kamu mau memberikan aku hadih apa sebagai ucapan terima kasih?" tanya Ega.
Najwa tiba-tiba berdiri, dan mengalungkan tagannya di leher Ega.
Deg
Deg
Deg
Jantung Ega bertalu-talu. Tentu saja wajah Ega jadi memanas, karena Najwa tidak pernah seagresif ini padanya.
Cup
Najwa mencium Ega lebih dulu, yang kemudian dibalas oleh Ega. Ega menuntun Najwa, hingga istrinya itu sudah berada diatas tempat tidur dan dibawah kungkungan Ega. Suara decap keduanya memecah keheningan kamar itu, baju yang Najwa kenakan sudah tersingkap sepenuhnya. Namun saat Najwa ingin melakukan hal yang sama padanya, Ega bergegas menangkap tangan mungil itu yang membuat pagutan mereka terlepas.
"Kenapa kak?" tanya Najwa kecewa.
Sebenarnya bukan nafkah bathin tujuan Najwa, tapi dia ingin tahu seberapa besar Ega menginginkannya. Pasalnya sudah 5 bulan mereka menikah, tapi Ega belum meminta haknya secara utuh. Dan itu membuat Najwa heran, karena suaminya itu terkenal sebagai seorang casanova.
Ega membelai wajah cantik Najwa yang masih berada dibawah kungkungannya itu. Pandangan mereka bertemu satu sama lain.
"Belum saatnya kita melangkah ke hubungan sejauh itu," ujar Ega.
"Kenapa? bukankah aku istrimu yang halal?" sindir Najwa.
"Aku ingin tetap menjalankan sesuai kesepakatan kita. Bersabarlah, bulan depan adalah keputusan yang terbaik untuk kita," ujar Ega.
"Kak. Aku ini adalah istrimu, terlepas kita memiliki perjanjian itu. Aku tidak keberatan jika harus menunaikan kewajibanku sebagai istri kapanpun kakak mau," ucap Najwa.
"Tidak. Karena aku sangat menghargaimu. Aku bisa saja mengambil keuntungan itu, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan berbuat lebih sebelum perjanjian itu berakhir." Jawab Ega.
__ADS_1
Entah Najwa harus merasa bersedih atau bahagia saat mendengar ucapan Ega. Namun satu hal yang pasti, perkataan Ega terdengar sangat tulus ditelinganya.
"Baiklah terserah kakak saja kalau begitu. Aku mau ke kamar dulu, sudah waktunya sholat isya," ucap Najwa sembari menyingkirkan Ega dari atasnya.
Ega menghela nafasnya saat melihat kepergian Najwa dari kamarnya. Selain memang karena janjinya pada diri sendiri, Ega juga cukup lega karena najwa tidak melihat dua tanda merah di dadanya. Kalau itu sampai terjadi, mungkin dia akan bingung menjelaskannya pada istrinya itu.
Sementara itu Najwa yang sudah memasuki kamarnya, kembali mematut dirinya di depan cermin. Emas putih yang bertengger di lehernya memang tampak indah.
"Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku kak? kadang aku merasa kamu itu sudah mencintaiku, seperti aku mencintaimu. Kata-Katamu seolah kamu menjunjung tinggi setiap janji yang kamu ucapkan, tapi pada kenyatannya janjimu untuk pulang malam itu saja sudah kamu ingkari. Jadi sebenarnya kata-kata mana yang jujur dari mulutmu?" ucap Najwa sembari meraba kalung yang ada dilehernya.
Najwa memutuskan untuk menghapus gundahnya dengan mendirikan sholat dan membaca beberapa ayat di kitab suci. Setelah selesai, Najwa berbaring di atas ranjang, dan tanpa sadar dirinyapun terlelap.
Krieekkk
Ega memasuki kamar itu, dan melihat istrinya itu tengah tertidur. Ega perlahan mendekat, dan ikut berbaring disamping Najwa. Ega kemudian memainkan rambut panjang Najwa, dan sesekali mencium aroma wangi yang tertinggal dirambut itu.
"Maaf karena berkali-kali sudah mengecewakanmu sayang. Andai waktu bisa diputar kembali, tentu aku akan mengakhiri hubunganku dengan melody sebelum hari pernikahan kita. Tapi inilah aku laki-laki lemah iman, yang mendahulukan nafsu daripada perasaan," batin Ega.
Ega memeluk Najwa dengan erat dari arah belakang. Tanpa sadar dirinya pun ikut tertidur.
*****
Bbrrrrrrr
Tubuh Najwa tiba-tiba bergetar hebat, Ega yang tadinya tertidur merasa terganggu, terutama suhu ditubuhnya jadi ikut panas.
"Sayang. Kamu kenapa?" tanya Ega sembari membangunkan Najwa.
Tak ada respon dari Najwa. Ega memeriksa kening istrinya itu, dan terkejut karena mendapati suhu tubuh Najwa yang panas tinggi.
"Sayang bangunlah. Kita pergi kerumah sakit ya?" Ega berusaha membangunkan Najwa.
"Ka-Kak. Dingin," ujar Najwa lirih.
Ega membantu Najwa duduk, dan mengikat rambut Najwa seadanya. Ega juga menyambar jilbab Najwa dan memasangkannya di kepala istrinya itu. Ega kenudian pergi ke kamarnya untuk mengambil dompet dan kunci mobilnya.
"Sayang. Naiklah kepunggungku, biarkan kakak menggendongmu. Kita harus pergi kerumah sakit, kamu sekarang sedang panas tinggi," ujar Ega yang sudah memasang kuda-kuda, agar Najwa segera naik kepunggungnya.
Najwa menuruti saja apa yang Ega katakan. Wanita itu kemudian menaiki punggung Ega, dan mengalungkan tangan dileher suaminya itu.
__ADS_1
"Aku jalan sendiri saja kak," ujar Najwa saat mendengar pernafasan Ega ya g sudah terdengar ngos-ngosan saat sudah menuruni lift.
"Kakak masih sanggup. Bahkan kamu terlalu ringan. Sepertinya kakak belum bisa membutmu bahagia," ucap Ega terkekeh.
"Aku bahagia kok bersama kakak." Jawab Najwa.
"Buktinya tubuhmu masih kurus. Biasanya istri orang kebanyakan badannya akan melar setelah menikah. Itu tandanya dia sangat bahagia,"ujar Ega.
"Mana ada riset seperti itu. Tetanggaku ada juga tubuhnya yang bongsor, meski suaminya bikin dia sakit hati tiap hari," ucap Najwa.
Najwa meletakkan sisi wajahnya dipunggung Ega. Ega bisa merasakan suhu panas itu menjalar dipunggungnya. Setelah memasuki mobilnya, Ega bergegas membawa Najwa kerumah sakit.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Ega setelah selesai memeriksa Najwa.
"Istri anda hanya demam biasa. Apa istri anda punya riwayat alergi makanan?" tanya dokter.
"Tidak ada dok." Jawab Najwa saat melihat Ega menoleh padanya untuk mendapat jawaban.
"Tapi memang kemarin dia makan ice cream dalam jumlah yang sangat banyak. Apa itu salah satu pemicu terjadinya demam dok?" tanya Ega.
"Bisa jadi. Disamping tubuh kita yang kelelahan dan kurang istirahat." Jawab dokter.
"Kamu dengar itu? jangan banyak-banyak kalau makan ice cream ya?"
"Ya kak." Jawab Najwa.
"Malam ini harus opname dulu ya? suhu tubuh ibu masih panas. Jadi saya sarankan memang harus di opname dulu," ujar dokter.
"Lakukan yang terbaik saja dok." Jawab Ega.
Dokter itupun meninggalkan sepasang suami istri itu. Ega mendekati Najwa dan duduk disisi tempat tidur pasien. Ega kemudian menggenggam erat tangan Najwa dan menciumnya berkali-kali.
"Maaf sudah lalai menjagamu. Seharusnya aku lebih bersikeras melarangmu makan ice cream terlalu banyak, tapi aku malah menuruti ucapanmu," ujar Ega.
"Justru aku yang minta maaf kak. Karena aku bandel, malah menyusahkan kakak." Jawab Najwa.
"Aku senang kalau kamu menyusahkanku. Malah membuatku lebih berguna sebagai seorang suami. Selama ini kamu yang selalu melayaniku, menjagaku. Sekarang aku diberi kesempatan untuk melakukan hal yang sama, tentu saja aku sangat senang," ujar Ega.
Najwa membawa tangan Ega berada dipipinya setelah mencium tangan itu berkali-kali.
__ADS_1