
Rahmat melihat ada tulisan di bagian depan surat yang beramplop putih itu.
"Untuk kak Ega dibacakan," ujar Rahmat yang membacakan tulisan di bagian depan surat.
Mendengar itu Ega hanya bisa mengerutkan dahinya. Pria itu cukup kebingungan, kenapa surat wasiat itu tertuju pada dirinya.
"Ega. Kata Affan, surat untukmu ini dibacakan didepan semua orang, apa kamu tidak keberatan?" tanya Rahmat.
"Tidak pa. Bukankah amanatnya memang begitu?" ujar Ega.
"Baiklah. Kalau begitu biar papa yang bacakan," ucap Rahmat.
Rahmat kemudian menyobek ujung amplop itu, dan mulai membuka selembar kertas putih yang dilipat menjadi tiga bagian.
"Teruntuk kakakku Ega Dirgantara. Apa kakak masih ingat dengan janji kakak yang akan memenuhi apapun permintaanku? melalui surat wasiat ini, aku ingin menagih janji itu."
Rahmat menghentikan membaca isi surat wasiat itu, dan menatap Ega sejenak.
"Apa kamu ingat apa yang Affan maksud?" tanya Rahmat.
"Ingat pa. Waktu itu aku berjanji akan memberikan kado pernikahan untuk dia, karena aku tidak bisa hadir ke pernikahannya."
"Lalu apa yang dia minta?" tanya Rahmat.
"Dia belum sempat mengatakannya, padahal aku menunggu apa yang dia minta. Mungkin surat wasiat itu adalah jawaban apa yang dia minta. Papa teruskan saja baca suratnya, aku janji. Apapun yang dia minta di surat wasiat itu akan mengabulkannya." Jawab Ega.
Rahmat kembali fokus dengan surat wasiat yang dia pegang.
"Aku ingin kakak menggantikan aku menjadi suami dari Najwa. Nikahi dia, aku harap kakak menepati janjimu yang akan mengabulkan semua permintaanku."
Jdeeeeeerrrrrrr
__ADS_1
Isi surat wasiat itu bagai sambaran petir bagi Ega dan Najwa saat mendengarnya. Tidak hanya mereka saja, kedua orang tua Najwa dan kedua orang tua Ega sama terkejutnya. Namun sesaat kemudian, Intan menyembunyikan senyumnya. Wanita itu sangat senang, saat mengetahui Najwa akan menjadi menantunya lagi.
"Apa-Apaan Affan? kenapa dia punya pemikiran seperti itu? tapi...."
Ega melirik Najwa yang sudah tertunduk dengan meneteskan air mata.
"Ini lagi. Ngapain dia pakai nangis segala? apa dia terlalu menghayati isi surat wasiat itu? atau dia menangis haru, karena senang akan kunikahi?"
Rahmat melirik ke arah Ega, dia sangat khawatir kalau-kalau putranya itu bersikap tidak sopan pada Najwa, terlebih didepan orang tua Najwa.
"Aku senang Najwa menjadi menantuku, tapi aku sangat khawatir kalau yang menjadi suaminya si Ega yang temperamennya sangat buruk. Terlebih ku perhatikan akhir-akhir ini mereka juga kurang akur. Tapi bagaimana lagi, ini kan wasiat alias keinginan dari Affan sendiri," batin Rahmat.
"Mas. Kenapa kamu melakukan ini sama Nana? inikah yang kamu maksud dalam mimpi itu?" batin Najwa.
"Bagaimana Ga? apa keputusanmu?" tanya Rahmat.
Ega masih dalam mode diam. Dia tidak mungkin menjilat ludahnya sendiri.
"Bagaimana ini? kalau aku menikahinya, bagaimana dengan Melody? kami sudah berjanji akan menikah tahun depan, sepulang dia dari Australi. Tapi...."
"Eghhhhh...disaat seperti ini, kamu masih memikirkan saat kamu mencium bibirnya. Padahal sudah puluhan wanita kamu cium, kenapa harus terpengaruh dengan dia? lagi pula, apa ini kesempatan yang diberikan Tuhan agar aku bisa membalas dendam padanya? gara-gara dia, aku jadi kehilangan adikku," batin Ega.
"Ega? kok malah melamun? papa tahu kamu pasti syok mendengar isi dari surat wasiat ini. Kalau kamu tidak mau ya tidak apa-apa. Toh Affan sudah meninggal juga, dia nggak akan bangkit hanya karena kamu menolak permintaannya," ujar Rahmat.
"Aku setuju." Jawab Ega dengan lantang.
Jderrrr
Perkataan Ega sungguh mengejutkan berbagai pihak, terlebih Najwa sendiri. Wanita itu sempat berpikir, tidak mungkin Ega mau menerima wasiat konyol itu, terlebih mereka seperti kucing dan anjing.
"Dia setuju? apa aku tidak salah dengar? bukankah dia tidak menyukaiku? aku juga tidak menyukai pria mesum ini. Lalu apa maksudnya dia menyetujui ini dengan mudah? apa itu karena janjinya pada mas Affan. Heh, mau di bilang sok jantan dengan nepatin janji? aku sama sekali tidak bisa kamu tipu," batin Najwa.
__ADS_1
"Aku. Najwa Azzahra, tidak akan pernah mau jadi istrimu," batin Najwa.
"Heh. Melotot aja terus itu matamu. Kamu pasti tidak menyangka akan dinikahi pria setampan dan sepintar aku kan? tapi rasa banggamu itu akan sirna, setelah kamu jadi istriku. Aku ini bukan Affan, pria tolol yang tertipu dengan kepolosanmu, padahal sebenarnya kamu itu adalah pembawa sial di keluargaku," batin Ega.
"Yes. Nana jadi mantuku lagi, aku tidak menyangka Ega akan setuju. Sekarang aku tidak khawatir lagi, kalau Nana yang menjadi istrinya. Nana bisa membimbing Ega menjadi orang yang lebih baik lagi. Putraku yang satu ini sudah parah akut kelakuannya, dengan adanya Nana disampingnya aku harap bisa membawa perubahan besar," batin Intan.
"Entah aku harus sedih atau bahagia mendengar ini. Tapi sejujurnya aku benar-benar bahagia mendengar hal ini," batin Sumirah.
"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Ega, sehingga dia mau menerima wasiat ini begitu saja. Kenapa aku merasa dia ini punya rencana sendiri, aku jadi sedikit khawatir pada Najwa," batin Rahmat.
"Apa kamu yakin mau menerima wasiat ini?" tanya Rahmat.
"Yakin Pa." Jawab Ega.
Ega kembali melirik kearah Najwa, tatapan mata mereka bertemu. Tanpa Najwa duga, Ega tiba-tiba mengedipkan mata kearahnya yang membuat Najwa jadi jengah dan memutar bola mata dengan malas.
"Sudah kuduga. Pria mesum ini, ingin rasanya aku menggetok kepalamya pakai panci, agar otaknya itu tidak lagi bermasalah," batin Najwa.
"Heh. Sok jual mahal, padahal aku yakin 100% selama pacaran 9 tahun dengan Affan, kamu dengan suka rela menyerahkan tubuhmu itu. Jadi jangan sok cantik. Kamu berpakaian longgar, pasti karena tidak PD dengan tubuh jelekmu itu," batin Ega.
"Kalau begitu kini giliran Najwa membaca surat wasiatnya sendri," ujar Rahmat.
"Kok baca sendiri pa? Ega tadi dibacakan," tanya Intan.
"Tidak tahu. Di depan amplop itu tertulis, Najwa harus membaca surat itu sendirian. tidak boleh diketahui orang lain. Sepertinya keputusan itu tergantung setelah Najwa selesai membaca isi surat wasiat itu." Jawab Rahmat.
"Baiklah. Coba kamu baca dengan teliti ya ndok? tidak usah terpengaruh pada siapapun, termasuk dengan isi surat wasiat yang kamu baca. Tidak ada yang boleh memaksamu melakukan apapun yang tidak kamu sukai, termasuk menolak keinginan Affan agar kamu menikah dengan Ega. Apa kamu paham?" tanya Rahmat.
"Paham pa." Jawab Najwa.
"Kalau begitu kamu bukalah dan bacalah surat itu dengan hati-hati," ujar Rahmat.
__ADS_1
"Iya pa." Jawab Najwa.
Najwa kemudian menyobek ujung amplop surat, dan mulai membuka selembar kertas yang dilipat menjadi tiga bagian itu.