
Ega melihat Gina menatap kearahnya. Selain berada satu kantor, mereka juga berada dalam satu ruangan. Sejak pertama masuk, tatapan Gina tidak lepas dari dirinya yang membuat ega jadi risih meskipun dia sudah berpura-pura tidak melihat.
Saat jam istirahat, Ginapun menghampiri Ega seperti biasanya.
"Ini bekal makan siang buat kamu," ujar Gina sembari menyodorkan bekal makan siang yang memang biasa Gina siapakan buat mereka berdua makan siang bersama.
"Maaf Gin. Aku sudah dibawakan bekal oleh istriku. Maaf ya, kamu berikan pada yang lain saja." Tolak Ega.
Ega langsung beranjak dari tempat duduk dan membawa bekalnya pergi ke kantin. Sementara itu Gina jadi menangis, saat Ega mengabaikan dirinya.
"Sudahlah Gin. Kamu ikhlaskan saja Ega. Mungkin dia memang bukan jodohmu. Tidak baik kalau kamu memaksakan kehendak begitu, kamu tidak akan bahagia," ujar Ikhsan.
"Tapi aku sangat mencintainya San. Hikz...."
"Ya mau gimana lagi. Kalau kamu memaksakan kehendakmu, takutnya kamu sendiri yang sengsara. Coba kamu lihat pria disekitarmu, masih ada yang bisa kamu sukai," ucap Ikhsan sembari menaik turunkan alisnya.
"Maksudnya kamu? mana selera aku sama kamu? seleraku itu tinggi," ujar Gina dengan sombongnya.
"Ya elah Gin. Aku ini masih perjaka ting-ting loh. Aku juga ganteng. Karierku juga bagus. Si Ega cuma menang hidungnya doang mancung. Biar hidungku pesek, tapi bawa hoki loh," ujar Ikhsan.
"Nggak mau!" ucap Gina sembari berlalu dari hadapan ikhsan.
Gina kemudian pergi menuju kantin dan melihat Ega makan sendiri disebuah meja.
Tap
Gina menaruh rantang makanan diatas meja. Dan duduk tanpa Ega persilahkan. Ega hanya bisa menghela nafas, dia benar-benar takut Gina yang seperti itu akan menimbulkan masalah untuk rumah tangganya. Jadilah Ega berakting, agar bisa kabur dari Gina.
"Ya sayang? iya. Ini aku lagi makan bekal buatan kamu. Apa? oh iya tentu enak dong. Buatan istriku selalu enak dan juga nikmat. Sama seperti orangnya nikmat," Ega berpura-pura menerima telpon dari Najwa.
Gina yang melihat kemesraan Ega dengan wanita lain, hatinya benar-benar panas terbakar. Dia bahkan membuang makanan yang dibuat Najwa kedalam tong sampah. Melihat hal itu tentu saja Ega marah. Dia meraih bekal makanan yang Gina buat dan melemparkannya ke tong sampah yang sama.
"Jauhi aku. Sekali lagi kamu melakukan itu, aku tidak akan segan-segan memukulmu meskipun kamu seorang wanita," ucap Ega.
Ega meraih wadah bekalnya dan membawanya pergi dari situ. Saat ini Gina benar-benar merasa malu, karena semua karyawan nyaris sedang makan siang semuanya disana.
Ginapun pergi dari tempat itu dengan perasaan malu.
Ting
Sebuah chat masuk, dan itu berasal dari Najwa.
"Sayang. Apa pelakor itu mengganggumu hari ini?" tanya Najwa.
"Ya. Tapi kamu tidak usah khawatir. Aku selalu menghindarinya," balas Ega.
"Hati-Hati kalau dia memberikan makanan atau minuman padamu,"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Nanti kayak kejadian si Melody waktu itu. Kamu dikasih obat perangsang atau obat tidur. Aku nggak akan mengampuni kamu kalau kamu benar-benar tidur sama dia." Jawab Najwa.
"Siap sayang. Lagian aku juga tidak berselera dengan wanita lain. Aku cuma mau kamu saja,"
"Huu...gombal."
"Sayang. Nanti kamu pulang jam berapa? biar nanti aku jemput kamu,"
"Tidak usah. Biar aku pulang sama Butet dan Marina. Kakak pasti capek. Kakak istirahat saja,"
"Memangnya kamu pulang jam berapa?"
"Jam 9."
"Akan aku jemput. Malam-Malam rawan kejahatan,"
"Baiklah."
Ega senyum-senyum sendiri saat membaca chat dari Najwa. Dan itu tidak luput dari penglihatan Gina yang menatapnya dengan tatapan sedih.
Sementara itu dibelahan dunia lainnya, Arga tampak tersenyum semringah. Terapi yang dia lakukan di luar negeri sangat maju pesat. Sangat sesuai dengan harga yang di keluarkan.
"Anda tenang saja. Kami bisa menjamin, dalam 4 kali terapi lagi, milik anda akan siap tempur di ranjang," ujar salah seorang dokter ahli fisioterapi.
"Terima kasih dok. Terima kasih atas bantuannya selama ini," ujar Arga.
"Sayang. Tunggulah aku. Sebentar lagi aku pasti akan sembuh. Dan aku akan membayar semua rasa kecewamu padaku waktu itu," ucap Arga lirih.
"Kali ini aku tidak akan mengecewakan kamu lagi. Kita akan selalu bersama, sampai maut memisahkan kita," sambung Arga.
Arga berbaring diatas tempat tidur. Sebuah poster besar yang tak lain foto cantik Najwa terpajang didinding.
Tiiin
Ega mengklakson Najwa satu kali, saat pria itu melihat istri cantiknya baru keluar dari mall. Najwa, Marina, dan Butet. masuk kedalam mobil. Najwa meraih tangan Ega untuk dia cium, sementara Ega mencium kening istrinya itu.
"Hadehhh...tontonan gratis lagi kita," sindir Butet.
"Makannya cepat kawin Tet. Enak banget loh," ujar Ega yang langsung Najwa cubit pahanya.
"Belum ketemu terong yang cocok bang." Jawab Butet yang langsung dipelototi oleh Najwa.
"Terong? kok terong?" Ega sama sekali belum nyambung.
"Nggak usah dengerin Butet kak. Suka eror anaknya," ujar Najwa.
"Serius nanya. Terong apaan sih?" tanya Ega.
Butet dan Marina jadi tertawa saat mendengar pertanyaan Ega. Sementara Najwa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tanya Najwa bang. Sudah jadi pawang terong dia sekarang," ujar Butet.
"Pawang terong? apaan sih yank maksud si Butet?" tanya Ega penasaran.
"Udah dibilangin. Nggak usah dengerin omongan Butet, masih aja kakak nggak percaya. Butet sama Marina itu suka eror." Jawab Najwa.
"Gitu amat kau Na. Mentang sudah merasakan terong suamimu. Nanti aku akan cari yang lebih besar dari terongmu itu," ujar Butet asal.
Najwa hanya bisa menepuk dahinya. Semakin dibahas semakin Butet tidak tahu malu. Bagaimana bisa dia membahas hal fulgar di depan laki-laki.
Setelah Ega mengantar Marina dan Butet, Ega dan Najwapun pulang kerumah. Setelah sampai dalam garasi rumah, Ega yang penasaran langsung bertanya kembali dengan Najwa.
"Serius nanya aku yank. Sumpah penasaran akunya. Soal terong yang dibahas Butet,"
Ega yang hanya mengenakan kolor pendek, menjadi kesempatan Najwa yang ingin menjelaskan pertanyaan Ega.
Sluppppp
Tangan Najwa dengan tidak tahu malunya langsung masuk kedalam celana itu.
"Terong inilah yang Butet maksud," ujar Najwa sembari sedikit meremas milik suaminya itu dan kemudian setelah benda itu bangkit sempurna, Najwa segera turun dari mobil.
Brakkkk
Ega langsung menutup pintu mobil dengan tergesa-gesa dan memblokir jalan Najwa.
"Ka-Kakak mau apa?"
"Tentu saja mau minta tanggung jawabmu karena sudah membangunkannya." Jawab Ega dengan tatapan nakal.
"Ya sudah ayo masuk rumah dulu," ujar Najwa.
"Tidak perlu. Aku ingin mencobanya di mobil." Jawab Ega sembari membuka pintu mobil bagian belakang.
"Di-Dimobil?" mata Najwa terbelalak.
Namun akhirnya Najwa menurut juga. Malam yang mulai sunyi itu hanya terdengar suara de**han mereka berdua. Beruntung Garasi yang belum sempat ditutup itu masih gelap. Jadi kendaraan yang melintas tidak bisa melihat, bahwa mobil itu tengah bergoyang hebat.
"Pindah kepangkuanku sayang," ujar Ega yang ingin merubah posisi mereka.
Najwapun menuruti kemauan suaminya. Setelah membenamkan milik suaminya yang kokoh. Najwa mulai bergerah naik turun, dengan kedua asetnya yang dimainkan oleh Ega secara bergantian. Suara merdu mereka kembali saling bersahutan.
"Kak aku mau udahan," ujar Najwa yang merasa dirinya akan mencapai puncak sebentar lagi.
"Ganti posisi sayang," ujar Ega yang meginginkan Najwa agar bisa dia mainkan lewat belakang.
Najwapun menuruti kata-kata suaminya. Ega kembali menghujamkan miliknya dengan keras dari arah belakang. Suara mereka yang bersahutan, dan suara kulit mereka yang beradu, membuat keheningan malam menjadi pecah ruah. Dan keheningan itu semakin ambyar, ketika dua insan itu sama-sama mengerang panjang, dan menyebutkan nama mereka satu sama lain.
To be continue...🤗🙏
__ADS_1