MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
109. Kebahagiaan


__ADS_3

Dua bulan kemudian...


"Bro udah subuhan ama mandi wajib belum? tanya Ega dari seberang telpon.


"Sudah. Ada apa?" tanya Arga.


"Biniku mau ngajak joging sambil cari sarapan pagi. Pengen makan bubur ayam katanya." Jawab Ega.


"Ntar aku tanya biniku dulu ya?"


Tutttt


Arga mengakhiri panggilan itu tanpa persetujuan dari Ega.


"Manis...manis....," teriak Arga dari dalam kamar.


Seiring waktu bersama, dan Arga sering menyatu dengan Butet. Lambat laun perasan Arga mulai muncul pada Butet. Butet mungkin memang tidak selembut Najwa, tapi Butet memiliki daya tarik tersendiri bagi Arga. Butet bisa menghiburnya dalam suasana apapun. Bahkan Arga tidak pernah bisa marah dibuat istrinya itu.


Kini mereka sudah memiliki panggilan sayang sendiri. Arga memanggil Butet dengan sebutan manis, karena memang istrinya itu memiliki senyum yang manis. Sama manis dengan kulitnya.


"Ada apa bang? aku baru mau ngupas bawang buat sarapan kita," tanya Butet.


"Nggak usah bikin sarapan. Ega ngajakin kita joging sambil cari sarapan juga. Katanya Najwa pengen sarapan bubur ayam." Jawab Arga.


"Ah...jadi pingin bubur ayam juga bang," ujar Butet.


"Ya sudah ayo siap-siap. Nanti dia nungguin kitanya lama," ucap Arga.


"Ya."


Butet bergegas mencuci tangan dan mengganti pakaiannya. Setelah itu mereka keluar rumah tepat pada pukul 6 pagi.


"Kita mau makan bubur dimana Na?" tanya Butet.


"Ditempat waktu itu yok Tet?"


"Yang mana? yang di dekat mini market itu?" tanya Butet.


"Iya. Enak kan itu?"


"Iya. Waktu itu kita pernah beli rame-rame." Jawab Butet.


"Jadi kita sarapan dulu apa joging dulu nih?" tanya Ega.


"Makan dulu." Jawab Najwa dan Butet serentak.


Merekapun pergi ketempat yang Najwa dan Butet tuju. Setelah sampai merekapun memesan 4 mangkuk bubur ayam.


"Ah...mantap kali ini pasti Na. Tambahlah ini ayam sama kerupuknya bang. Jangan pelit-pelit," ujar Butet pada tukang bubur.


"Sayang mintanya dengan cara bagus dong," ujar Arga.


"Iya maaf abang ganteng," ucap Butet.


Namun baru hitungan detik Najwa dan Butet mencicipi Bubur, tiba-tiba keduanya muntah bersamaan.


Hoekkk


Hoekkk


Hoekkk


"Sayang. Kamu kenapa?" tanya Arga dan Ega bersamaan.


Gara-Gara Najwa dan Butet. Pelanggan bubur pedagang itu jadi batal membeli. Jadi terpaksa Ega dan Arga memborong semua bubur sang pedagang.


"Sayang wajahmu pucat sekali. Kamu kenapa? masuk angin?" tanya Ega.


"Iya. Wajah kamu pucat juga. Masak masuk angin bisa samaan gini? apa jangan-jangan kalian keracunan makanan?" tanya Arga.


Ega dan Arga saling berpandangan. Karena khawatir, merekapun bergegas membawa Najwa dan Butet ke rumah sakit.


"Bang. Aku mau muntah lagi bang," ujar Butet.


"Sayang tunggu!"


Hoeeekkkkk


Butet muntah di baju Arga. Melihat Butet yang muntah, Najwa jadi ikutan muntah. Yang membuat Ega bertambah panik.


Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit, merekapun tiba di rumah sakit. Ega dan Arga sama-sama menggendong istri mereka, dan memasukkannya ke ruang IGD.

__ADS_1


Ega dan Arga mondar mandir menunggu istri mereka di depan ruang tindakkan. Setelah menunggu beberapa saat, dokterpun keluar.


"Bagaimana keadaan istri kami dok? apa mereka benar-benar keracunan makanan?" tanya Ega.


"Tidak. Tapi untuk memastikannya kita harus berkonsultasi pada dokter kandungan." Jawab Dokter.


"Dokter kandungan?" tanya Ega dan Arga bersamaan.


"Ya. Karena mereka di curigai sedang berbadan dua saat ini." Jawab dokter.


Ega dan Arga kembali saling berpandangan. Merekapun menyetujui saran dokter untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan.


"Ah...ternyata benar sesuai dugaan. Saat ini ibu Najwa tengah hamil 6 minggu," ujar dokter.


"Be-Benarkah?" tanya Ega dengan bibir bergetar.


"Ya. Usia kehamilam masih rentan, jadi harus berhati-hati ya? dan gejala mual muntah tadi memang salah satu tandanya." Jawab dokter.


"Sayang. Kita akan jadi orang tua," ujar Ega dengan mata berkaca-kaca.


"Ya. Aku sangat bahagia kak," ucap Najwa.


Ega menghapus air mata Najwa dan mencium kening istrinya itu.


"Alhamdulillah. Apa yang kita tunggu-tunggu akhirnya hadir juga. Semoga keturunan kita nanti jadi keturunan yang sholeh sholeha," ujar Ega.


"Amiin."Jawab Najwa.


Krieekkkk


Ega membuka pintu ruangan dokter dengan senyum semringah di bibirnya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Arga. Sementara Butet sudah tidak bisa bicara lagi karena lemas.


"Alhamdulillah memang positif. Usia kehamilan Najwa sudah 6 minggu." Jawab Ega bahagia.


"Benarkah? selamat ya?" ujar Arga turut senang.


Tidak berapa lama kemudian giliran Butetpun tiba.


"Wah...selamat ya bu, pak. Ternyata ibu positif hamil. Usia kehamilan kurang lebih 6 minggu," ujar dokter.


"Ya. Perhatikan asupan nutrisinya ya bu? dianjurkan makan sedikit tapi sering." Jawab dokter.


"Bah...apa aku bilang kan? memang paten punya terong dari padang ini. horas pokoknya," suara Butet jadi bersemangat tiba-tiba, hingga Najwapun bisa mendengar dari luar pintu.


"Sa-Sayang. Kecilkan sedikit suaramu," ujar Arga sembari cengar cengir di depan dokter karena malu dengan ulah Butet.


"Aku bahagia kali bang. Pokoknya pulang nanti aku akan mengajak Marina Karaoke," ujar Butef.


"Mau ngapain karaoke?" tanya Arga.


"Mau kusawer Marina dan kawan-kawan. Karena aku bahagia hari ini." Jawab Butet.


"Sekalian aku mau sumbang sebuah lagu bahagia," sambung Butet.


"Lagu apa bahagia bu?" tanya dokter yang jadi ikut kepo.


"Kemandulan." Jawab Butet yang langsung dapat tepukkan dahi dari Arga.


Setelah selesai konsultasi, merekapun pulang kerumah. Sesuai rencana Butet, dia langsung mengajak Marina dan kawan-kawan karaoke. Arga tidak melarang Butet, karena dia ingin Butet bahagia dan nyaman dengan kehamilannya.


Sementara itu Ega dan Najwa kini tengah berada diatas tempat tidur. Ega tengah mengelus perut Najwa yang masih terlihat rata.


"Ah...aku sangat tidak sabar melihat hasil karya kita sayang," ujar Ega.


"Aku juga kak. Dia pasti akan tampan dan sholeh sepertimu kalau dia lahir laki-laki," ujar Najwa.


"Dan akan cantik dan sholeha sepertimu, jika dia lahir perempuan," ucap Ega.


*****


"Ah...sakit kak. Hufft...hufttt,"


Najwa sesekali menarik nafas, saat kontraksi tiba-tiba melanda. Tidak jauh dengan Najwa, Butetpun kini tengah berteriak-teriak di dalam mobil, karena mengalami kontraksi yang sama.


"Arga gantian nyupir. Aku gemetaran ini," ujar Ega.


"Nggak mau. Aku juga lagi gemetaran ini," tolak Arga.


"Ah...ya Allah sakit kali ini ya Allah. Kenapa buatnya enak, lahirannya sakit begini. Aduh mamak...tolong aku mamak...." teriak Butet.

__ADS_1


"Sayang. Tarik nafasmu, sebentar lagi kita akan tiba dirumah sakit. Sabar ya?" ucap Arga panik.


"Bang. Jangan-Jangan terongmu semalam beracun. Kenapa ini sakit kali bang. Tak kuat lagi aku rasanya. Hikz...." Butet menangis.


Sementara Arga yang panik jadi menjawab ucapan Butet tak kalah gila dan memalukan.


"Kan abang sudah tanya sama kamu semalam? abang sudah melakukannya pelan-pelan. Abang tanya sakit tidak? kamu bilang enak," ujar Arga.


"Memang enak kali bang. Tapi kenapa ini jadi sakit perutku. Hikz...." Butet nangis bertambah keras.


"Allah hu Akbar...kalian bisa diam tidak? tambah sakit perutku dengar kalian mengoceh," ucap Najwa.


"Sayang nyebut...but...but...." Ega jadi panik. Karena baru kali ini dia melihat Najwa segarang itu.


Tidak berapa lama kemudian merekapun tiba di rumah sakit. Merekapun segera ditangani oleh dokter ahli kandungan. Sementara itu kedua orang tua Ega, Najwa, Arga baru tiba di rumah sakit setelahnya.


Oekkk


Oekkk


Oekkk


Anak Najwa dan Butet lahir hanya berjarak sekitar 10 menit. Anak Najwa lahir lebih dulu, 10 menit kemudian barulah anak Butet lahir. Mereka sengaja memilih ruangan yang sama, hanya dibatasi dengan tirai pembatas.


"Selamat ya bu. Anak anda lahir laki-laki," ujar dokter.


"Alhamdulillah." Jawab Ega dan Najwa bersamaan.


"Selamat ya bu. Anak anda lahir perempuan," ujar dokter.


"Alhamdulillah." Jawab Arga dan Butet.


"Najwa," seru Butet.


"Apa?"


"Besanan kita ya?" tanya Butet dari balik tirai.


"Siap." Jawab Najwa.


Setelah mereka dibersihkan, merekapun dipindahkan ke ruang perawatan.


"Ah...gantengnya cucu nenek. Hidungnya mirip ayahnya," ujar Intan.


"Siapa nama anakmu nak?" tanya Sumirah.


"Affan Putra Dirgantara." Jawab Ega.


Air mata haru Intan mengucur tiba-tiba. Lahirnya Affan mengingatkan dia tentang putranya yang sudah tiada. Najwa dan Ega memang sengaja memberikan nama putranya dengan nama mendiang adiknya Ega. Agar mereka merasakan Affan tetap hidup di tengah-tengah mereka.


"Lalu siapa nama anakmu Tet?" tanya Sumirah.


"Najwa putri ibrahim." Jawab Arga.


"Eh?" Najwa terkejut.


"Kenapa nama anak kalian Najwa?" tanya Sri tidak senang.


"Karena aku dan suamiku mengagumi sosok Najwa. Dia sholeha, baik hati. Karena dia pula kami dipertemukan dalam ikatan pernikahan. Kalau ada yang tidak suka dia, itu derita orang yang punya penyakit hati." Jawab Butet.


Tes


Air mata haru kelur dari sudut mata Najwa.


"Kamu pantas mendapat pujian itu sayang. Karena akupun sangat mengagumimu tanpa batas," ujar Ega sembari menghapus air mata Najwa.


Cintai pasangan kita dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Karena sejatinya cinta itu tidak butuh syarat apapun


END


Makasih teman-teman sudah membaca karyaku. Tanpa teman-teman apalah arti karya Author. Jangan lupa mampir ke karya Author yang lain.


*SERANJANG TIGA NYAWA


*SUAMIKU CEO GANAS


*TERJEBAK HASRAT TERLARANG


* BELENGGU MAFIA LAPUK


SEGERA RILIS " MENIKAHI DEWI JUDI"

__ADS_1


__ADS_2