MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
88. Melihat dia


__ADS_3

Sore itu hal tak terduga terjadi lagi dalam hidup Najwa. Saat tengah menangani antrian panjang para pelanggan, Najwa dikejutkan oleh sosok Ega yang tengah menaruh barang belanjaannya diatas meja setelah orang didepannya selesai membayar barang belanjaannya.


Tangan Najwa sedikit bergetar. Beruntung dirinya menggunakan masker saat ini. Namun yang membuat Najwa sedih adalah, Ega belanja tidak sendiri. Dia pergi bersama Gina teman kantornya, yang dikira Najwa gadis pengganti dirinya.


Ega yang diajak ngobrol oleh Gina, sama sekali tidak memperhatikan sosok di depannya. Sementara itu Najwa dengan cepat menyelesaikan hitungannya dan menyebutkan nominal total harga barang belanjaan Ega dengan suara yang sedikit di buat-buat.


Setelah Ega membayar barang belanjaannya, Ega dan Ginapun pergi dari situ. Mata Najwa masih menatap punggung Ega yang menjauh dan tersadar setelah seseorang yang mengantri setelah Ega membuyarkan lamunannya.


"Jadi kak Ega di mutasi di kota ini? kenapa ini seperti sebuah kebetulan. Sekarang apalagi yang Tuhan rencanakan untukku? apa Tuhan ingin aku merasakan seperti yang kak Ega rasakan dulu?" batin Najwa.


"Sungguh hukuman ini terasa berat aku rasakan. Aku merasa sangat sakit melihatnya,"


Najwa menyeka air matanya yang sudah terlanjur meleleh. Sementara itu Ega dan Gina berkeliling ke area pakaian pria dan tidak sengaja Butet melihat Ega bersama seorang gadis.


"Astaga. Jadi Ega juga berada di kota ini? sepertinya dia sudah menemukan pengganti Najwa. Apa aku samperin dia saja ya? dan bilang kalau Najwa sudah bercerai. Tapi Aku takut Najwa marah kalau aku lancang," batin Butet.


Butet melihat Ega tersenyum dan sesekali tertawa kearah Gina. Butet akui, gadis bersama Ega juga cantik. Tapi menurutnya Najwalah yang terbaik dalam segala hal.


Najwa tampak murung saat mereka sudah pulang kerumah. Butet yang ragu ingin bercerita, akhirnya tidak tahan juga ingin buka suara.


"Na. A-Aku tadi liahat Ega di mall," ujar Butet.


"Ka-kamu juga lihat dia?" tanya Najwa.


"Jadi kamu juga lihat?"


"Iya. Dia sudah sama orang lain sekarang," ujar Najwa.


"Apa kamu bicara dengannya?" tanya Butet.


"Tidak. Aku tidak punya keberanian. Terlebih ada wanita cantik disebelahnya. Aku takut akan menimbulkan salah paham." Jawab Najwa.


"Kalau masih pacaran atau tunangan, kamu masih punya kesempatan Na," ujar Butet.


"Nggaklah Tet. Aku sudah pernah merasakan sakit saat milik kita diambil orang. Rasanya luar biasa sakit, dan seperti tidak ada obatnya. Aku sudah ikhlas kalau memang tidak lagi berjodoh dengannya, meskipun aku masih sangat mencintainya," ujar Najwa.


"Hah...rumit sekali kisah hidup kau. Besok jatah kita libur kan ya? senang deh, bisa istirahat," ujar Butet.


"Iya. Udah berapa hari nggak sempat nyuci. Sayang kalau duitnya dipake buat laundry pakaian," ucap Najwa.


Kratakkk

__ADS_1


Kratakkk


Suara gemeratak dari persendian Butet memecah kesunyian kamar itu. Makin lama kamar itu makin sunyi, Najwa dan Butet sudah menembus mimpi mereka.


*****


Srekkk


Srekkk


Srekkk


Suara sikat kain, beradu dengan pakaian yang Najwa cuci. Hari ini adalah jadwal Najwa, Butet, Maryam dan Marina libur. Dan kebetulan jatah libur mereka tepat di hari minggu. Najwa mencuci pakaian, sementara Butet dapat jatah memasak. Mereka bekerja sama, agar kerjaan mereka cepat kelar.


Sementara di bedeng sebelah. Pakaian Marina dan Maryam sudah berjejer lebih dulu. Najwa terlambat bangun, karena setelah sholat subuh dirinya melanjutakan tidur.


"Mana ini tetangga. Kok belum keluar? apa masih tidur?" tanya Marina sembari mengeluarkan speaker ke depan teras.


"Iya. Mumpung libur. Kita karaokean lagi. Si abang seberang juga belum kelihatan. Apa dia masih tidur?" ucap Maryam.


"Kau telponlah dia. Suruh dia kesini. Kita kumpul-kumpul bersama," ujar Marina.


Maryampun menelpon nomor ponsel Ega. namun sama sekali tidak di jawab. Maryam mengulangnya beberapa kali, tapi masih sama. Ega tidak juga mengangkat panggilan darinya.


"Mungkin dia masih tidur kali ya? udah 4 kali aku nelpon dia, tapi tidak diangkat," ucap Maryam.


"Tidak biasanya dia begitu. Biasanya hari minggu dia sering keluar joging. Ini sudah jam 10. Seharusnya dia sudah pulang bukan?" tanya Marina.


Kriekkk


Najwa dan Butet keluar rumah bersamaan. Dan melihat Marina dan Maryam tengah memegang microfon dan ada yabg sedang memegang ponsel.


"Bang...abang ganteng bangun bang. Nyebrang kemari, kita karaokean yuk bang?" Marina dengan kegilaannya memanggil Ega melalui microfonnya.


Najwa dan Butet hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat kegilaan Marina.


"Belum menyerah kau rupanya sama si duda ganteng kau itu," ujar Butet.


"Dia bilang gadis tempo hari bukan pacarnya, cuma teman kantornya. Jadi aku masih semangat buat godain duda hot itu." Jawab Marina.


"Ngapai kau teriak-teriak di microfon. Kau datangi saja kerumahnya," ujar Butet.

__ADS_1


"Tidak. Meski aku gesrek, tapi aku juga punya martabat. Aku tidak pernah datang kerumah laki-laki sendirian," ucap Marina.


"Pengecut kau. Cinta itu butuh pengorbanan. Sekarang aku beri kau tantangan. kalau kau bisa membuat duda ganteng kau itu keluar pintu, aku akan beri kau uang 100 ribu," ujar Butet.


"Dikit kali 100 ribu. Tambahi dikit, biar aku punya semangatnya ini," ucap Marina.


"200 ribu," ujar butet.


"Deal 200 ribu. Lumayan beli bedak dan lipstikku yang tinggal seucrit," ucap Marina.


"Kau tengok keberanianku. Jangan panggil aku Marina Nababan kalau tidak berani membawa dia keluar dan nyanyi bersama kita disini. Kalian tunggu disini, akan ku kenalkan dengan duda ganteng pujaanku," sambung Marina.


Marina kemudian menggulung bajunya dan perlahan menyebrang kearah rumah Ega Sekali dua kali Marina mengetuj pintu rumah itu, namun sama sekali tidak ada jawaban. Ketukkan itu lambat laun sudah berubah menjadi sebuah gedoran, namun tetap saja Ega tidak keluar dari rumah itu.


Marina kemudian berkeliling kesamping, untuk melihat Ega dari kaca jendela kamar pria itu. Namun alangkah terkejutnya saat dia mengitip kamar itu, ternyata Ega tengah tergeletak dilantai kamarnya.


Marina berteriak memanggil teman-temannya termasuk Najwa dan Butet. Merekapun menyebrang bersama untuk memastikan mengapa Marina sampai berteriak histeris.


"Ada apa?" tanya Najwa.


Marina yang tidak sanggup bicara hanya menunjuk-nunjuk jarinya kearah jendela kamar Ega. Najwa yang penasaranpun mengintip. Matanya terbelalak saat tahu Egalah yang tengah tergeletak di lantai.


Drap


Drap


Drap


Najwa segera berlari kearah pintu depan. Entah apa yang ada dipikiran wanita itu, hingga dirinya yang lemah mendobrak pintu dengan tubuhnya.


"Najwa apa yang kau lakukan? tubuhmu bisa sakit nanti. Kenapa pula kau menangis?" tanya Butet.


"Butet. Cepat bantu aku dobrak pintu ini. Kita tidak punya banyak waktu. Pria didalam kamar itu kak Ega. Dia sedang tergeletak dilantai saat ini. Ya Tuhan....semoga tidak terjadi sesuatu dengannya. Hikz...."


"Ap-Apa? dia Ega?" Butet terkejut.


"Kalian kenal bang Ega?" tanya Marina.


Najwa dan Butet saling berpandangan setelah melihat Marina. Karena mereka tahu Marina pasti akan kecewa setelah mendengar cerita mereka. Akhirnya dengan kekuatan 4 orang wanita, pintu itu berhasil di dobrak. Najwa bergegas masuk kedalam dan memangku kepala Ega yang wajahnya sudah terlihat pucat.


To be continue....🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2