
Najwa menatap kearah Ega yang menatapnya seolah harap-harap cemas.
"Apa aku tidak salah lihat? aku merasa dia melihatku seolah sangat berharap jawabanku tidak mengecewakannya," batin Najwa.
Najwa segera menepis pikiran konyolnya. Karena dipikirkan bagaimanapun, Ega tidak mungkin mengharapkan dirinya menjadi istrinya.
"Imposible banget. Bismillah sajalah, semoga misiku ini mendapat ridho dari Allah. Amiin," batin Najwa.
Semua orang sangat menanti jawaban dari Najwa. Najwapun menarik nafas, kemudian menghempaskannya.
"Bismillahirohmanirrohim, dengan mengharap ridho Allah. Nana setuju menikah dengan kak Ega." Jawab Najwa.
"Alhamdulillah," semua orang mengucap syukur.
"Heh. Sudah kuduga, kamu itu sangat senang di nikahi olehku, ayo Najwa ini baru awalnya saja. Aku ingin melihat, sejauh mana kesombonganmu itu bertahan," batin Ega.
"Sepertinya ajang pertemuan ini kita langsung buat sebagai acara lamaran saja ya buk Mirah?" tanya Intan.
"Kalau saya sih terserah saja bu Intan. Yang penting anak-anak bisa bertanggung jawab dengan semua keputusan yang mereka ambil." Jawab Sumirah.
Intan kemudian melepaskan cincin yang dia kenakan di jari manisnya. Emas 24 karat yang baru dia beli sekitar satu bulan yang lalu.
"Sayang. Coba mana jari manismu?" tanya Intan pada Najwa.
Najwa mengulurkan tangan kirinya, dan sedikit merasa kebingungan.
"Ini cincin kawinmu ya? mama lepas dulu ya? nanti saat kamu nikah dengan Ega, nanti akan Ega ganti dengan yang baru," ujar Intan.
"Iya ma." Jawab Najwa.
__ADS_1
Intan kemudian melepaskan cincin kawin Najwa dan Affan, lalu memasukkan cincin miliknya ke jari manis Najwa.
"Sedikit agak longgar. Tapi tidak apa, ini hanya sebagai simbol. Bahwa kamu resmi di lamar oleh Ega hari ini," senyum Intan semringah. Dia sangat bahagia hari ini.
"Apa mama sebahagia itu, jika Melody yang menjadi menantunya? kenapa semua orang menyukai Najwa? padahal menurutku dia biasa saja, tapi kenapa seolah keluarga melihat dia seperti melihat berlian?" batin Ega.
"Baiklah. Karena Najwa belum selesai masa iddahnya, maka pernikahan ini akan diadakan 4 bulan mendatang," ucap Rahmat.
"Seharusnya aku bisa langsung menikah dengannya, soalnya aku kan belum pernah melakukan hubungan suami istri dengan mas Affan. Tapi biarlah mereka berpikir begitu, setidaknya aku bisa lepas dari pria mesum ini 4 bulan kedepan. Lagipula aku masih butuh sholat istikharah. Kalau memang 4 bulan lagi aku berubah pikiran, tidak jadi masalah kan?" batin Najwa.
"Yes. Untuk empat bulan ini aku bisa bebas. Aku bisa bersenang-senang sepuasku. Lagipula aku harus membicarakan masalah ini dengan Melody, aku tidak mau dia salah fahan padaku. Meski aku suka bermain wanita, tapi cuma dia yang aku cintai," batin Ega.
"Nanti sekitar 3 bulan lagi kami akan datang lagi kemari, kita akan menentukan tanggal pernikahan. Mulai sekarang kalian bisa menentukan konsep apa yang ingin kalian pakai saat pernikahan mereka nanti," ujar Rahmat.
"Waduh. Sepertinya ndak perlulah pak Rahmat. Nggak enak sama tetangga, la wong kita baru ngadain acara mantennya Najwa. Tapi kalau di tempat pak Rahmat mau ngadain acara besar-besaran ya tidak apa-apa. Saya rasa disini cukup mengadakan acara ijab qobul biasa saja," ucap Suratmo.
"Ya baiklah kalau itu keinginan dari kalian. Sebaiknya kita bahas masalah ini saat kami datang kesini lagi nanti," ujar Rahmat.
Ega meraih sebatang sedotan berwarna putih, kemudian mencobloskannya pada sebuah air mineral berbentuk gelas. Pria itu kemudian meminumnya hingga tandas. Sementara itu para orang tua itu mengobrol tentang banyak hal. Karena melihat Najwa keluar didepan teras, Ega pun menyusulnya.
"Apa yang kamu pikirkan? kenapa kamu menerima surat wasiat itu?" tanya Ega.
Najwa menoleh kearah sumber suara, dan ternyata Ega langsung duduk disebuah kursi berbahan rotan.
Najwa yang semula berdiri sembari menatap ke halaman rumah, jadi ikut duduk berdampingan dengan Ega. Mereka hanya di sekat oleh sebuah meja kecil berbahan rotan pula.
"Lalu kakak sendiri apa yang kakak pikirkan? setelah kunilai, kakak bukan tipe orang yang menurut bila di perintahkan seseorang," tanya Najwa.
"Ini berbeda. Mungkin kalau janji dengan orang lain, aku bisa mengingkarinya. Tapi ini janji dengan adikku sendiri, terlebih ini sebuah wasiat orang yang sudah meninggal. Sebenarnya apa yang Affan katakan di dalam surat itu, sehingga kamu bisa menyetujuinya begitu saja?" tanya Ega.
__ADS_1
"Seperti yang kakak bilang, itu sebuah surat wasiat. Affan tidak ingin ada orang lain yang mengetahui isi surat itu. jadi aku tidak akan memberitahumu tentang isi surat itu." Jawab Najwa.
"Lagipula kakak tidak usah khawatir, masih ada waktu 4 bulan lagi. Kakak dan aku masih bisa sama-sama berubah pikiran dan membatalkan rencana pernikahan itu," sambung Najwa.
"Kalau aku jelas tidak bisa mundur lagi. Aku akan menepati janjiku apapun yang terjadi. Kalau itu dari pihakmu yang mundur, itu artinya bukan salahku lagi. Aku malah bersyukur bisa lepas dari...."
Ega menilai Najwa dengan matanya, yang membuat Najwa memutar bola mata dengan malas.
"Berhenti memandang rendah diriku. Sebab kamu juga tidak tinggi dimataku. Aku tidak menilai pria dari ketampanan. Kalau yang tampan banyak di muka bumi ini, tapi sholeh dan tampan seperti mas Affan sangat sukar di jaman seperti ini. Terlebih seperti...."
Najwa membalas menatap Ega, dengan tatapan yang merendahkan pula. Mata Ega langsung melotot, karena dia paling tidak suka jika dibandingakan dengan orang lain, terlebih itu adiknya sendiri.
"Tatapan macam apa itu?" tanya Ega tidak senang.
"Husssttt...kecilkan suaramu. Apa kamu mau papa, mama mengira kita bertengkar?" ujar Najwa sembari meletakkan jari telunjuknya di bibir.
"Kamu ini benar-benar membuatku jengkel. Wanita seperti ini bisa-bisanya aku cium waktu itu," gerutu Ega.
Mendengar itu Najwa jadi tersulut emosi.
"Tidak usah di ingat-ingat kejadian itu. Aku bahkan benci mengingatnya. Pria mesum, tidak mau minta maaf lagi. Hah...sudahlah, anggap saja yang melakukan itu seekor kera." gerutu Najwa.
"Eugggghh...wanita ini, kalau bukan dirumahnya, sudah ku cekik dari tadi. Aku setampan ini dibilang kera. Menginginkan pengakuan maafku? jangan mimpi!" batin Ega.
Najwa yang malas berdebat kembali masuk kedalam rumah. Dan ternyata Intan dan Rahnat juga dalam keadaan berdiri, karena ingin berpamitan pulang.
"Sayang. Mama pulang dulu ya? jaga diri kamu baik-baik," ujar Intan.
"Iya ma." Jawab Najwa.
__ADS_1
Intan dan Rahmat kemudian memasuki mobil mereka yang disusul oleh Ega setelah berpamitan dengan kedua orang tua Najwa. Najwa pun melambaikan tangan, saat Rahmat menghidupkan klakson sebanyak satu kali.