
"Sebaiknya kamu tanyakan saja pada istrimu. Karena aku tidak dibutuhkan disini. Maka aku pergi dulu," ujar Ega sembari melangkah pergi.
"Kak Ega pasti tersinggung dengan ucapanku," batin Najwa yang merasa bersalah.
"Sebenarnya ada apa sih? apa ada yang kamu sembunyikan?" tanya Arga.
"Tidak usaha dibahas kak. Itu sama sekali tidak penting. Sekarang yang paling penting adalah kesembuhan kakak dulu, biar kita cepat pulang."Jawab Najwa.
"Sepertinya memang ada yang Najwa sembunyikan. Tapi apa?" batin Arga.
"Kakak makan dulu ya? biar kakak cepat pulih," ujar Najwa.
Arga menuruti apa yang Najwa katakan demi kesembuhannya. Setelah selesai makan, Arga meminum obatnya dan kemudian kembali beristirahat.
"Maafin aku kak. Aku tidak mau kamu dan keluargamu jadi bertengkar gara-gara aku. Aku akan berusaha tidak perduli dengan ucapan mereka, selagi kata-kata itu bukan berasal dari mulutmu," batin Najwa.
Satu minggu telah berlalu. Kini Arga sudah diperbolehkan pulang kerumah. Keluarga Arga juga sudah berkumpul dirumah Najwa karena ingin menyambut kepulangan putranya itu. Karena tidak punya persiapan apapun, Najwa memutuskan pergi keluar untuk membeli beberapa kue untuk tamu di rumahnya.
"Najwa," seru Ega saat Najwa sedang memilih beberapa kue di toko kue.
"Kak Ega," ujar Najwa lirih dan berbalik badan.
"Apa kamu sudah menjelaskan pada Arga tentang sikap keluarga suamimu itu pada kamu?" tanya.
"Tidak kak. Sampai kapanpun aku tidak akan membongkarnya. Pokoknya selagi kata itu bukan berasal dari mulut kak Arga, aku tidak akan perduli orang lain mau ngomong apa." Jawab Najwa.
"Rumah tanggaku masih seumur jagung. Aku tidak akan mengambil hati ucapan mereka. Aku akan menganggap itu sebagai ujian dalam rumah tanggaku," sambung Najwa.
Ega menatap mata Najwa. Pria itu tahu ucapan dan hati Najwa pasti sangat bertolak belakang saat ini.
"Hanya satu yang ingin aku pastikan padamu saat ini. Saat aku tahu semuanya, jadi aku bisa mempertimbangkan segalanya. Najwa, apa kamu bahagia dengan pernikahanmu? apa kamu dan Arga sudah sama-sama saling mencintai?" tanya Ega.
__ADS_1
"Jawabanmu akan menentukan segalanya. Jadi jawablah berdasarkan dengan apa yang kamu rasakan. Bukan karena tidak enak hati, apalagi berdasarkan hutang budi," sambung Ega.
"Terlepas aku bahagia atau tidak dengan pernikahan ini, bukankah aku sudah tidak bisa mundur lagi? seandainya aku menjawab tidak bahagia, haruskah aku meminta cerai dan menjada lagi? tapi aku percaya suatu saat perasaan itu akan muncul dengan sendirinya seiring lamanya waktu kebersamaan kami." Jawab Najwa.
Mendengar jawaban Najwa, Ega menyadari Najwa tidak akan memberikan celah baginya untuk masuk kembali dalam hidupnya. Dan dia bisa memaklumi itu. Najwa seorang wanita yang memegang teguh prinsip pernikahan.
"Kalau begitu aku bisa melepaskanmu dengan tenang sekarang. Dan aku bisa melanjutkan hidupku kembali tanpamu. Najwa, jika suatu saat keluarga Arga melakukan tindakan diluar batasmu sebagai manusia biasa, aku harap kamu bisa berpikir cerdas untuk menyelamatkan nyawamu sendiri. Kamu orang berpendidikkan, tentu kamu paham dengan apa yang aku katakan," ujar Ega.
"Rencananya aku ingin mengajukan mutasi," ucap Ega.
"Mu-Mutasi? kenapa?" Najwa cukup terkejut mendengar perkataan Ega.
Entah mengapa meski dirinya tidak bersama Ega lagi, tapi paling tidak dirinya merasa pria itu seolah masih bersamanya. Kalau Ega pergi, itu artinya dia tidak bisa lagi melihat pria dihadapannya itu.
"Aku ingin meninggalkan kota yang sudah memberikan kenangan manis sekaligus kenangan buruk buatku. Dengan begitu aku bisa membuka lembaran yang baru. Najwa, teruslah bahagia. Dengan begitu aku bisa pergi meninggalkanmu dengan tenang, tanpa ada beban sedikitpun dihatiku." Jawab Ega.
Tes
"Aku harap ini adalah air mata terakhir yang aku lihat darimu. Jangan pernah lagi menangis untuk siapapun. Hanya satu yang perlu kamu ingat. Aku akan selalu mencintai dan menyayangimu meskipun ragaku tidak lagi bersamamu,"
"Hikz...kenapa kakak harus pergi? kenapa tidak disini saja. Hiks....."
"Karena sudah tidak ada lagi alasan untuk diriku bertahan." Jawab Ega dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku kak...maafkan aku. Hikz...."
"Tidak Najwa. Bukan kamu yang salah, tapi ini salahku. Akulah penyebab diriku kehilanganmu. Karena aku terlalu lama mengulur waktu, hingga membiarkan orang lain hadir diantara kita,"
"Tidak kak. Sebagai seorang istri seharusnya aku lebih bersabar dalam menghadapi cobaan rumah tangga. Bukan malah langsung mengambil keputusan yang sangat aku sesali. Sekarang kita memang sudah berbeda. Namun izinkan aku berdosa sekali lagi. Aku ingin mengatakan hal untuk terakhir kalinya sebelum kita berpisah. Kalau aku...ka-kalau aku masih sangat mencintaimu kak,"
"Hikz....hikz...."
__ADS_1
Najwa dan Ega sama-sama terisak. Mereka tidak perduli meski semua orang menjadikan mereka pusat perhatian.
"Aku pergi dulu kak. Keluarga kak Arga ada dirumah. Aku do'akan dimanapun kakak berada nanti, kakak akan menemukan kebahagiaan," ujar Najwa sembari berlalu pergi.
"Kebahagiaanku hanya ada padamu Najwa," ucap Ega lirih sembari menyeka air matanya.
Sementara itu dirumah Arga, keluarga pria itu memiliki kesempatan untuk bicara pada Arga tentang maksud dan tujuan mereka datang kerumahnya.
"Arga. Kami ingin bicara denganmu," ujar Lina.
"Ada apa ma?" tanya Arga.
"Sebaiknya kamu ceraikan saja Najwa. Wanita itu memiliki aura buruk, sehingga membawa kesialan untuk hidupmu."
"Apa maksud mama?" tanya Arga.
"Lihatlah. Baru seminggu kalian menikah, tapi restauranmu sudah kebakaran dan kamu mengalami kecelakaan. Apa itu namanya kalau bukan wanita pembawa sial. Kamu juga jangan lupa, suami pertamanya juga meninggal sebelum pernikahannya mencapai seminggu. Dan pernikahan keduanya mungkin Ega ingin menyelamatkan diri dari kesialan itu." Jawab Lina.
"Betul itu Uda. Kami mengatakan ini karena kami perduli denganmu. Sebelum semuanya terlambat," timpal Sri.
"Apa papa, Uda Alman, Marini juga berpendapat demikian?" tanya Arga yang hanya dijawab dengan kebisuan.
"Astagfirullahaladzim...naudzubillah summa naudzubilah. Bagaimana bisa kalian yang mendirikan sholat lima waktu. Sholat malam dan membaca Al-qur'an one day one juz bisa berpikiran sesat seperti ini?"
"Papa dan mama adalah orang yang paling tua dikeluarga kita. Kalian sering mengkaji isi Al-qur'an dan juga hadist-hadist rosulullah. Apa ada satu ayat atau satu hadist yang menyatakan tentang kesialan seseorang? sungguh prasangka dan fitnah merupakan perbuatan yang tercela dan keji."
"Bukan keinginan Najwa suami pertamanya meninggal sebelum seminggu pernikahannya. Bukan keinginan Najwa kembali menjanda untuk kedua kalinya. Dan bukan pula keinginan Najwa agar restaurant kebakaran dan aku jadi celaka. Kalian bicara seperti itu, berarti kalian tidak percaya takdir Allah."
"Uni Sri, mama dan Marini. Kalian itu adalah wanita yang sama juga sepertinya. Coba kalian bayangkan kalau posisi kalian berada pada posisinya. Kini aku baru mengerti, kenapa wajah Najwa sangat murung akhir-akhir ini. Ini pasti ada hubungannya dengan kalian,"
"Perbanyaklah beristigfar. Kalian menghilangkan pahala ibadah kalian dengan menggunjingkan hal-hal yang tidak benar tentang dia."
__ADS_1
Semua keluarga Arga terdiam. Mereka benar-benar lupa kalau Arga itu seorang pria berhati lurus tentang agamanya. Bahkan mereka lupa kalau Arga pernah mondok di pesantren selama 6 tahun lamanya.