MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
96. Kemarahan Najwa


__ADS_3

"Gina? kamu kenapa nangis? kamu sudah pulang dari cuti?" tanya Ega yang heran saat melihat Gina menangis.


"Kamu jahat tahu nggak!" hardik Gina.


"Ke-Kenapa denganku? aku salah apa?" tanya Ega.


"Kamu sudah menikah? siapa wanita yang kamu nikahi? waktu itu kamu bilang akan memberikan aku kesempatan, tapi ternyata apa? kamu malah menikahi wanita lain. Kamu jahat Ega, kamu jahat. Hikz...."


"Gi-Gina maafkan aku. Ini memang diluar dugaanku. Apa kamu masih ingat dengan ceritaku dulu? aku sangat mencintai seseorang, tapi dia dimiliki orang lain. Tapi ternyata dia sudah bercerai dengan pria itu, dan sekarang kami sudah rujuk kembali."


"Maaf ya Gin. Bukan niatku memberimu harapan palsu. Tapi aku benar-benar mencintai istriku. Cuka dia wanita yang aku inginkan dalam hidupku. Waktu itu aku memberimu kesempatan dekat denganku, karena aku berharap aku bisa melupakan dia. Tapi ternyata kami memang masih berjodoh. Maafin aku ya Gina?"


"Kamu benar-benar melukaiku Ega. Kenapa sih kamu nggak usah rujuk saja dengan dia. Kenapa kamu tidak bisa melupakan masa lalu kamu dan mulai membuka lembaran hidupmu yang baru bersamaku? aku itu sangat mencintaimu, harusnya kamu beruntung dicintai seorang gadis perawan, bukan barang bekas yang sudah dimasukki oleh banyak pria seperti itu."


"Gina aku mengerti dengan kemarahanmu ini. Tapi bukan berarti aku mengizinkanmu menghina istriku. Kamu tidak tahu apa-apa, jadi jangan berkata sembarangan," ucap Ega dengan suara yang mulai meninggi.


"Hikz...maafkan aku..." Gina langsung berhambur kepelukkan Ega.


"Gina jangan begini. Kita ini bukan muhrim. Nanti akan menimbulkan fitnah."


Ega sekuat tenaga melepaskan pelukkan Gina ditubuhnya. Namun semakin erat pula Gina mendekapnya.


"Tidak Ega. Aku tidak bisa kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu. Tolong terima aku. Aku rela jadi istri keduamu," ujar Ega.


"Istri kedua? ap...." Perkataan terpotong itu menimbulkan kesalahfahaman yang fatal, saat Ega melihat kedatangan Najwa yang melihat dirinya tengah berpelukkan dengan wanita lain.


"Sa-Sayang," bibir Ega bergetar dan langsung mendorong paksa tubuh Gina.


"Sayang. Aku bisa jelasin semuanya, ini tidak seperti yang kamu lihat," Ega mendadak panik, karena takut Najwa salah faham.


Namun diluar dugaannya, Najwa malah tersenyum manis kearahnya. Tapi entah mengapa Ega malah merasa, senyum Najwa itu sangat menakutkan baginya. Mungkin karena dia sudah mendapatkan firasat buruk.

__ADS_1


"Tidak masalah. Aku percaya padamu, kamu tidak mungkin membiarkan pelakor datang diantara kita," ujar Najwa.


"Kamu ngatain aku pelakor? kamu yang sudah merebut Ega dari aku. Kamu kenapa datang lagi sih? kenapa tidak mati aja sekalian. Kamu sudah merusak rencana pernikahanku dengan Ega tahu nggak?"


"Gina. Omong kosong apa yang kamu katakan? jaga mulut kamu!" hardik Ega.


"Kamu kenapa sih masih mau mungut barang bekas? dia pasti sengaja manfaatin hati kamu yang lembut buat menjerat kamu lagi. Dasar wanita tidak tahu diri kamu. Wajah polosmu itu menipu. Kamu tahu diri dikit dong," omel Gina.


"Kamu sudah gila ya? pergi dari rumahku! apa kamu pikir aku mau menikahi wanita bermulut racun sepertimu?" hardik Ega.


Najwa tidak menggubris pertengkaran Ega dan Gina. Dia lebih memilih masuk kedalam rumah dan langsung masuk ke kamarnya.


Ega berniat ingin menyusul Najwa, namun dihalangi oleh Gina.


"Kalau kamu nggak mau nikahin aku, aku akan mengakhiri hidupku. Ega, kenapa kamu tidak mengerti juga, kalau aku ini sangat mencintaimu, dan tidak bisa kehilanganmu. Hikz..."


"Gina aku mohon kamu jangan begini. Lupakan aku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menduakan istriku," ucap Ega.


Brakkkkkkk


Ega menutup pintu setelah mendorong tubuh Gina keluar. Gina hanya bisa menangis sembari menggedor-gedor rumah Ega.


Tanpa mereka tahu, percekcokkan itu sudah diperhatikan Butet dan Marina dari seberang rumah. Meskipun mereka tidak tahu apa yang mereka ributkan, tapi Marina dan Butet tahu, Najwa pasti sedang sedih saat ini.


Ceklekkk


Ega menekan handle pintu, dan tidak menemukan Najwa di kamar itu. Tapi bisa Ega dengar, kalau saat ini Najwa tengah berada di kamar mandi.


Ceklek


Najwa keluar dari kamar mandi, dan tatapan mata mereka bertemu. Najwa segera memutus tatapan mata itu dan berjalan kearah lemari pakaiannya. Najwa tipe wanita berbeda, dia tidak suka marah dengan mulutnya, namun mulut itu malah dia silent.

__ADS_1


"Sayang. Aku mohon dengarkan penjelasanku ya? aku sama sekali tidak punya hubungan apa-apa dengan Gina," ujar Ega menjelaskan.


"Tidak masalah ada hubungan apa juga. Kamu juga sudah berniat berpoligami kan?" tanya Najwa.


"Poligami apa? aku nggak mau wanita lainnya. Aku cuma mau kamu," ujar Ega sembari membawa Najwa dalam pelukkannya.


"Jangan peluk-peluk. Aku nggak mau dipeluk bekas wanita lain," Najwa merajuk sembari melepaskan diri dari pelukkan Ega.


"Sayang. Bukan aku yang memeluk dia, dia yang tiba-tiba peluk aku. Aku juga ingat dia bukan muhrimku. Aku sudah berusaha melepaskan pelukkan itu, tapi dia semakin mengeratkannya."


"Pokoknya aku nggak mau kamu peluk. Kamu sudah kecewain aku kak. Hikz...." Najwa terisak sembari berusaha melepaskn diri dari dekapan Ega.


Ega sama sekali tidak melepaskan pelukkan itu. Pria itu malah mendekap Najwa bertambah erat.


"Maaf. Tapi aku benar-benar tidak sengaja melukai hatimu. Aku sudah menegaskan sama dia, kalau antara aku dan dia tidak akan pernah bersatu. Memang salahku waktu itu pernah bilang sama dia, kalau aku mau memberi dia kesempatan. Karena aku pikir kita tidak mungkin akan rujuk. Maaf ya?"


"Aku nggak mau dimadu. Hikz...."


"Siapa juga yang mau mencari madu buat kamu? kamu adalah istriku satu-satunya sampai maut memisahkan kita," ujar Ega.


"Pokoknya meski dia berusaha memisahkan kita dengan cara apapun, aku tetap tidak akan pernah menganggapnya," sambung Ega.


Ega membelai rambut panjang Najwa. Ega berusaha menenangkan istrinya itu. Namun tiba-tiba kata- kata Najwa membuat matanya terbelalak, dan membuat kepalanya mendadak pusing seketika.


"Sebagai hukuman karena sudah pelukkan dengan wanita lain, malam ini kakak tidak boleh tidur bersamaku," ujar Najwa dengan bibir cemberut.


"Eh? Sa-Sayang. Kok gitu? lalu gimana urusan dengan yang ini? dari tadi aku nungguin kamu pulang, sudah ingin sekali dia masuk kesarangnya," ucap Ega dengan memelas.


"Jepitin saja dipintu." Jawab Najwa yang membuat mulut Ega menganga lebar.


Sementara Itu Najwa bergegas memakai baju dan keluar kamar.

__ADS_1


__ADS_2