MATIMU MEMBERIKU JODOH

MATIMU MEMBERIKU JODOH
72. Memberi Waktu


__ADS_3

Prangggg


Prangggg


Prangggg


Ega membanting apapun yang ada di dekatnya. Pria itu begitu frustasi, saat tahu Najwa sudah menikahi pria lain.


Tring


Tring


Tring


Suara ponsel Ega berdering. Panggilan itu berasal dari Rahmat, yang khawatir putranya itu mengalami depresi berat. Bukan tanpa alasan Rahmat khawatir, mengingat Ega pernah frustasi saat dirinya bercerai dari Najwa.


"Ya pa?" ucap Ega dengan suara berat.


"Bersabarlah. Jangan pernah melakukan hal bodoh. Kamu adalah putraku satu-satunya, setelah kepergian Affan. Kamulah kebanggaan papa. Jangan pernah wibawamu runtuh hanya karena kehilangan satu wanita saja. Apa kamu mengerti?" tanya Rahmat.


"Tapi aku sangat mencintainya pa. Najwa sudah benar-benar hilang dari genggamanku sekarang. Hikz...rasanya aku tidak ingin hidup lagi pa. Aku tidak ingin hidup lagi. Hikz..."


Ega terisak pilu. Rahmat jadi tidak tahan untuk tidak meneteskan air matanya, saat mendengar putranya begitu menderita.


"Jangan bodoh. Wanita tidak hanya Najwa saja dimuka bumi ini. Papa akan mencarikanmu gadis yang paling cantik, kalau kamu mau. Kehilangan Najwa bukan akhir dari segalanya. Kamu harus percaya pada sang maha pencipta. Dia pasti memberikanmu cobaan, pasti beserta alasannya juga. Percayalah nak, papa yakin kamu akan menemukan jawabannya nanti," bujuk Rahmat.


"Papa lihat kamu sudah banyak perubahan sejak menikah dengan Najwa. Jadikan perubahan baik itu sebagai semangat buat kamu membuka lembaran baru dalam hidup kamu. Pengalaman dari dua pernikahan yang pernah kamu jalani, menjadi cambukkan buatmu untuk menjadi orang yang lebih baik lagi," sambung Rahmat.

__ADS_1


"Iya pa. Pa Ega mau istirahat dulu ya?"


Tanpa menunggu jawaban Rahmat, Ega segera mengakhiri percakapan itu. Ega duduk dilantai, dengan kepala bersandar ditempat tidur.


"Ah...akhirnya aku benar-benar kehilanganmu. Aku tidak menyangka kalau kita tidak berjodoh hingga akhir hayat kita. Meskipun sulit, aku harus melepaskanmu bukan?" Ega kembali menatap foto Najwa yang sudah dia jadikan foto walpaper itu.


Sejak bercerai dari Najwa, dinding kamarnya sudah dipenuhi oleh semua foto Najwa. Pernah suatu ketika Melody ingin menurunkan semua foto-foto itu, namun Ega sangat marah dan tidak mengizinkan Melody menyentuh foto-foto itu lagi. Dan sekarang Ega tengah berbaring sembari menghadap foto-foto itu, seolah Najwa tengah melihat kearahnya dan selalu menemani dirinya di kamar itu.


*****


Ega bangun lebih awal. Seperti biasa, Ega menjalankan ibadah menjelang fajar tiba. Do'a yang dia panjatkan selalu sama seperti bulan-bulan terakhir ini. Ega selalu mendo'akan kebahagiaan Najwa, namun masih berharap berjodoh dengannya. Do'a yang konyol memang, tapi disinilah dia ingin membuktikan bahwa keajaiban itu masih ada.


Setelah selesai beribadah, Ega pergi kedapur untuk membuat sarapannya. Hanya ada keheningan, saat pria itu sedang memakan hasil masakkannya. Semua terasa hampa, Ega jadi teringat saat dirinya disuapi oleh Najwa makan begitu juga sebaliknya. Dan lagi-lagi bayangan itu membuat dirinya tidak berselera untuk makan dan akhirnya meinggalkan makanannya begitu saja.


Ega bersiap untuk pergi bekerja. Sementara itu di tempat berbeda Arga dan Najwa baru selesai sarapan dan juga siap-siap pergi ke restauran. Arga menatap wajah istrinya yang masih mendung itu. Sejak menikahinya kemarin, tidak ada kontak fisik diantara mereka. Arga ingin memberikan waktu bagi Najwa untuk beradaptasi dengan dirinya. Bahkan Najwa masih saja menggunakan jilbab ketika sedang tidur dengannya.


"Ya." Jawab Najwa.


"Apa kamu menganggap pernikahan kita adalah sebuah kesalahan? sejak kamu bertemu dengannya kemarin, kamu sama sekali belum mengajakku bicara. Aku sadar, aku sudah masuk diantara kalian berdua. Tapi sekarang kamu adalah istriku, apa kamu tidak ingin memberiku kesempatan untuk masuk ke hatimu?" tanya Arga.


"Maafkan aku kak. Aku sungguh-sungguh minta maaf kalau kakak merasa begitu. aku akan berusaha membuka hatiku buat kakak, tapi aku mohon bersabarlah." Jawab Najwa.


"Kakak akan bersabar. Najwa, bolehkah kakak menciummu?" tanya Arga.


Glekkkk


Jujur saja, permintaan Arga begitu berat dia terima. Pasalnya dia masih mengingat dengan jelas, saat-saat dirinya dan Ega sering bercumbu mesra setiap kali ada kesempatan.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari Najwa, Arga perlahan mendekat kearah Najwa, dan meraih dagu Najwa yang kini tengah tertunduk. Tatapan mata Najwa bertemu dengan Arga. Tidak ada rasa jantung berdebar, saat Najwa menatap pria didepannya. Sangat berbeda saat dirinya bertatapan mata dengan Ega, dan itu membuat Najwa bertambah merindu pada sosok pria yang terlarang untuk dia rindukan.


Perlahan Arga mendekatkan wajahnya, dan ketika jarak itu hanya tinggal beberapa senti saja, Najwa tiba-tiba memalingkan wajahnya. Dia benar-benar belum merasa siap untuk melakukan hal itu.


"Ayo kita pergi," ujar Arga yang menekan rasa kecewanya dalam-dalam.


Arga yang sudah berada di dekat pintu terpaksa menghentikan langkahnya saat Najwa memanggilnya.


"Kak. Maaf," ujar Najwa yang merasa sangat bersalah.


"Tidak masalah. Kita bisa melakukannya pelan-pelan. Sekarang lebih baik kita pergi saja dulu," ucap Arga.


Diluar dugaan Arga, Najwa meraih jari kelingkingnya untuk dia gengam. Arga mengerti, untuk menyenangkan suasana hatinya yang buruk, Najwa mengambil hatinya dengan menggenggam jari kelingkingnya untuk mengajaknya bergandengan tangan dengan cara seperti itu.


Arga tersenyum kearah Najwa, begitu juga sebaliknya. Paling tidak menurut Arga ini merupakan sebuah kemajuan untuk hubungannya dengan Najwa yang terasa dingin sejak kemarin. Dan jadilah sekarang mereka pergi dengan bergandengan tangan ala Najwa.


Namun pegangan tangan itu terlepas tiba-tiba, saat tidak sengaja Najwa dan Arga bertemu dengan Ega ketika mereka sama-sama keluar dari lift yang berbeda. Sesaat Ega melihat tangan Najwa yang sedang menggenggam erat jari Arga, dan kemudian terlepas begitu saja saat melihat dirinya. Ega kemudian berlalu tanpa menyapa sama sekali. Pria itu tidak ingin berlama-lama berada disana, yang akan membuat hatinya terasa berdenyut sakit.


"Kak Ega pasti sangat membenciku sekarang. Maafkan aku kak, maafkan aku yang sudah mengecewakanmu,"


Najwa sekuat mungkin menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia ingin menjaga perasaan Arga yang saat ini sudah menjadi suaminya.


"Ayo kita pergi kak," ujar Najwa sembari tersenyum.


"Aku tahu senyummu itu senyum palsu Najwa. Tapi aku yakin suatu saat nanti, kamu hanya akan melihat kearahku," batin Arga.


Arga juga tersenyum kearah Najwa. Arga tahu saat ini suasana hati Najwa kembali buruk setelah bertemu Ega, dan itu terbukti saat tangan Najwa tidak lagi menggenggam jarinya seperti beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Sementara itu ditempat berbeda, kepala Ega tertunduk, di stir mobil. Pria itu sedang menetralkan perasaannya yang baru saja merasakan cemburu, saat melihat kebersamaan Najwa dengan pria lain.


__ADS_2