
"Justru hubungan seperti kalian ini adalah hubungan yang paling indah. Pacaran setelah menikah. Buat apa menyentuh wanita lain yang bukan muhrim, sementara yang halal jelas-jelas ada di depan mata. Dosa zina adalah dosa besar, sementara mendzolimi istri dengan tidak memberikan haknya juga merupakan dosa yang tidak sepele. Saran saya lupakan masa lalu, anggap saja wanita itu selama ini sedang menjaga jodoh anda." ujar ustad Abdul Mamat
"Intinya begini. Wanita baik-baik tidak mungkin mau merebut yang bukan haknya. Terlebih merebut dengan cara yang salah. Ingat! pandai-pandailah mengendalikan hawa nafsu jika tidak mau hancur," sambung ustad Abdul Mamat.
Ega tertunduk saat mendengar nasihat dari ustad Abdul Mamat. Untuk selanjutnya ustad itu membacakan pertanyaam dari jama'ah lain dan menjawabnya dengan singkat, dan jelas.
Tidak ada kata yang terucap, atau adegan mesra saat Ega dan Najwa berada di dalam mobil saat menuju pulang. Dua insan itu seakan larut dalam pemikiran mereka masing-masing. Bahkan Ega pun tidak menyalakan musik yang ada di dalam mobilnya, untuk mengusir sepi.
Saat tiba dirumah, Ega dan Najwa kembali ke kamar masing-masing. Mereka seakan merenungkan apa yang sudah mereka dengar dari ustad Abdul Mamat.
"Jadi pada intinya aku harus pasrah saja saat kak Ega meminta haknya. Jangan perdulikan hasil akhirnya, dan lakukan kewajibanku sesuai kodratku sebagai istri. Karena selain mencari ridho suami, aku juga mencari ridho Allah. Hah...nasibmu gini amat Na, Na."
Najwa menghela nafas berat. Setelah mengganti pakaian, Najwa pergi ke dapur memasak untuk makan siang. Najwa dan Ega sampai lupa makan siang, setelah pulang menghadiri tabligh akbar itu.
Tok
Tok
Tok
"Kak. Boleh aku masuk?" tanya Najwa dari luar pintu.
Kriekkk
Ega membukakan pintu untuk Najwa. Senyum cantik terangkat dari sudut bibir Najwa, saat matanya bertemu dengan mata suaminya itu.
Grepppp
Ega tiba-tiba memeluk tubuh Najwa dengan erat, yang membuat Najwa terkejut seketika.
"Ada apa kak?" tanya Najwa heran.
Ega melepaskan pelukkannya dan meraih kedua sisi wajah Najwa, untuk mencium kening istrinya itu.
"Maafkan kakak yang belum bisa jadi imam yang baik buat kamu. Kakak tahu pertanyaan di tempat tabligh tadi adalah pertanyaan darimu, begitu juga sebaliknya. Najwa, jika kamu mengizinkan, bolehkah aku meminta waktu sedikit lagi? aku tahu semua perkataan ustad memang benar semua, tapi aku tidak mungkin membuat Melody hilang begitu saja. Kamu mengerti kan maksudku?"
__ADS_1
Mendengar itu jelas saja Najwa menekan perasaannya sekuat mungkin. Dengan senyum terkembang, Najwa meraih kedua sisi wajah suaminya, dan berkata-kata seolah dirinya baik-baik saja.
"Kak. Aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku. Lakukan semuanya sesuai dengan kata hatimu. Jangan perdulikan ucapan orang lain. Baik itu ucapan ustad, ucapanku, ataupun ucapan siapapun yang akan mempengaruhimu. Kalau memang pada akhirnya kamu tetap memilih Melody, aku nggak apa kok. Berarti jodoh kita memang singkat. Karena aku mengerti, hubungan 3 tahun bukanlah hubungan yang singkat. Tidak bisa dibandingkan dengan hubungan kita yang seumur jagung." Jawab Najwa.
Ega meraih kedua tangan Najwa dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku sudah berjanji akan memberikan ruang untuk kita saling mengisi. Ajari aku mencintaimu Najwa, buat hatiku dipenuhi olehmu sepenuhnya. Agar saat penentuan nanti, aku benar-benar yakin akan memilihmu. Maafkan aku yang sudah menjadikanmu satu diantara dua pilihan. Mafkan aku Najwa," ujar Ega sembari mencium kedua tangan Najwa.
Najwa lagi-lagi tersenyum. Meski tanpa Ega tahu, senyum itu adalah senyum kepahitan.
"Kakak tenang saja. Aku akan berusaha agar aku tidak kalah. Meski aku juga belum tahu arah perasaanku, tapi aku juga mau mencoba. Pokoknya kita sama-sama berusaha ya kak?"
"Emm." Ega mengangguk.
"Sekarang kakak bersiaplah. Aku menunggu kakak di meja makan. Kita sudah melewatkan makan siang kita hari ini," ujar Najwa.
Ega menepuk dahi karena kebodohannya.
"Maaf. Karena terlalu larut dalam pikiran sendiri, kakak sampai lupa memperhatikanmu," ujar Ega.
"Tidak apa. Seharusnya aku juga mengingatkan kakak. Tapi aku juga lupa." Jawab Najwa.
"Iya kak." Jawab Najwa.
Najwa kemudian keluar kamar dan menutup pintu. Tanpa terasa Najwapun meneteskan air mata, dan menyekanya sekilat mungkin. Sementara itu Ega bergegas keluar, karena dia tidak ingin melewatkan makan siang bersama istrinya.
"Emm...ada yang ingin ku usulkan padamu," ujar Ega sembari mengunyah makanannya.
"Apa kak?" tanya Najwa yang kemudian memasukkan sesendok nasi kedalam mulutnya.
"Kakak mau mulai malam ini kita tidur sekamar." Jawab Ega.
Uhukkk
Uhukkk
__ADS_1
Mendengar ucapan Ega, Najwa jadi tersedak. Bayangan malam pertama dengan Ega langsung merasuk dalam benaknya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ega sembari menyodorkan segelas air putih.
Najwa meraih minuman itu dan meneguknya hingga tandas.
"Aku nggak apa." Jawab Najwa.
"Kalau kamu keberatan, kakak nggak apa-apa kok," ujar Ega.
"Nggak kak. Setelah dipikir-pikir itu sangat diperlukan untuk membangun hubungan diantara kita." Jawab Najwa.
Mendengar itu Ega tersenyum senang, dan menyendokkan nasi serta lauk dan menyodorkannya kedepan mulut Najwa.
"Buka mulutmu!" ucap Ega.
Najwa tersenyum sebelum akhirnya membuka mulut untuk menerima suapan dari Ega. Najwa kemudian melakukan hal yang sama pada Ega.
"Bolehkan aku memanggilmu sayang?" tanya Ega.
Najwa tersipu mendengar ucapan Ega, sebelum akhirnya mengangguk. Setelah mereka selesai makan siang, merekapun kembali ke kamar Ega untuk berbincang banyak hal.
"Kak. Aku mengantuk," ujar Najwa.
"Tidurlah! kita akan tidur siang bersama," ucap Ega yang di angguki oleh Najwa.
Najwa kemudian memejamkan mata, namun baru saja dirinya akan terlelap, Ega mendapat telpon dari seseorang. Najwa tahu betul siapa yang membuat panggilan itu. Karena sesaat setelah mengangkatnya, Ega langsung keluar kamar karena takut Najwa mendengar.
"Sangat sulit membuatmu jatuh cinta padaku kak. Terlebih kamu tidak menutup akses bagi wanita itu agar tidak mengganggu pertahananmu. Karena setelah kuperhatikan, moodmu akan berubah setelah berbicara dengan dia. Tapi tidak apa-apa, aku akan berusaha semampuku untuk mempertahankan rumah tangga kita," batin Najwa.
Setelah menerima telpon hampir 20 menit, Egapun kembali memasuki kamar dan berbaring di samping Najwa.
Cup
"Bobok yang nyenyak sayang," ujar Ega lirih.
__ADS_1
Egapun memeluk Najwa dari belakang, tidak lama kemudian diapun jatuh tertidur.
TO be continue...🤗🙏