Matthelina

Matthelina
chapter 10


__ADS_3

Akhir liburan part 2


Digiring ke kantor polisi, tidak akan pernah Matthew sangka sebelumnya. Tempat di mana semua orang berseragam cokelat memandangnya hina, kurungan besi yang terdapat beberapa orang bertampang tidak mengenakan.


Matthew saat ini masih belum ditetapkan sebagai tersangka. Ia sendiri juga tidak tahu pasti kesalahannya apa, sampai ia bertatapan dengan seorang pria tua yang sangat diingatnya.


Oh, ternyata pria itu lagi. Mau cari masalah lagi dengannya? Apa dihajar sampai bonyok tidak cukup? Memangnya, dia bisa dengan mudah memperkarakannya, hanya dengan modal kasus receh seperti penganiayaan?


Saat Matthew masuk ke dalam ruangan, pria itu langsung menunjuknya dan menjerit bahwa dirinya dan wanita di sebelah sana adalah penjahat. Tetapi pandangan Matthew mengarah pada Elina, begitu menyadari keberadaannya.


Wanita itu sedang menunduk, lalu menoleh pada Matthew, yang sedang duduk di sampingnya. Dia terlihat tegar, tak ada raut kesedihan di wajahnya. Beberapa detik itu, keduanya saling memandang dalam diam.


“Penjarakan mereka! Dasar wanita jalang! Kalian berdua pasti bersekongkol!” tuding pria tua itu.


“Tenang, Pak. Kami harus menyelesaikan prosedur ini dulu,” sahut seorang polisi yang duduk di belakang meja interograsi. Lalu, dia menatap Matthew dan Elina. “Jadi saudari Elina, apa benar Anda telah menipu Pak Prasetyo?”


Menipu? Mana pernah terpikirkan dalam otaknya untuk melakukan hal seperti itu. Gadis itu tak bereaksi sama sekali, menunduk dengan ekspresi datar. Menjawab dengan lirih:


“Malam itu, saya sedang bekerja di bar sebagai pelayan. Seperti biasa, saya menuangkan minumannya karena bapak ini memanggil saya untuk minta dilayani. Tapi bapak ini bersikap kurang ajar dan mencoba melecehkan saya.”


“Itu tidak benar, Pak!” tukas Prasetyo langsung berdiri. “Saya orang terhormat, masa saya melakukan hal itu?”


Raima yang tidak terima, angkat bicara. “Justru karena Anda orang yang terhormat, makanya Anda bisa berbuat apa saja!”


“Dia lo, wanita murahan!”


Polisi menggebrak meja untuk mendinginkan perseteruan antara Raima dan Prasetyo. “Diam kalian! Dan untuk Bapak Prasetyo, tolong tenang selama masa interogasi.”


Elina menggenggam tangan Raima, yang berada di pundaknya. Prasetyo mengangguk, terpaksa menuruti polisi.


“Teruskan saudari Elina,” pinta polisi.


Elina mengangguk sekali. “Karena saya tidak terima, maka saya menampar bapak itu. Setelah itu, pengawalnya menggendong saya dengan paksa dan membawa saya ke mobil.”


Polisi mencatat semua keterangan Elina di komputer. “Lalu, apa lagi yang terjadi?”


“Saya dibawa ke Hotel Heaven, lalu bapak ini mencoba memperkosa saya….”


Prasetyo yang terbawa emosi dan berusaha menjaga harga dirinya, berdiri untuk membela diri. “Hei, jangan ngarang kamu!”


“Tolong tenang! Jaga prilaku Anda, Pak!” tegur polisi.


“Dia memfitnah saya, Pak,” Prasetyo bersikukuh.


Cukup! Matthew tidak tahan pada Prasetyo yang mencoba menyudutkan Elina. Lantas ia berdiri, menghampiri Prasetyo, dan menggenggam kerahnya, sampai tubuh pria itu terangkat. Semua orang kaget, dan Kevin mencoba menghentikannya.


“Kau yang memfitnah kami. Dasar pria tua bejat!” makinya.


“Tenang, Matt,” bisik Kevin, memegangi tangan Matthew.


“Tuan Matthew, harap tenang!” seru polisi menegur. “Kita selesaikan kasus ini. Tolong, kembali ke tempat duduk Anda!”


Matthew melepaskan pegangan tangan Kevin dengan kasar, dan kembali ke tempat duduknya, dengan diiringi oleh Kevin. Interogasipun kembali dilanjutkan.


“Lalu, apa yang terjadi?” tanya polisi lagi.

__ADS_1


“Pria yang bernama Matthew datang menolong saya dan menghajar bapak ini,” jawab Elina.


Sebelum mencatat, polisi melirik Matthew, kemudian mengetik beberapa kata di komputernya. “Apa hubungan Anda dengan pria itu?”


Sepintas bayangan kejadian itu teringat olehnya. Entahlah, apa yang harus dijelaskan, pada dasarnya memang tidak ada hubungan apa pun di antara dirinya dan Matthew. Namun, saat ia menjawab, ucapannya terasa tercekat di tenggorokan.


“Tidak ada hubungan apa-apa.”


Matthew menoleh sedikit, kenapa rasanya agak kecewa mendengar penuturan Elina. Walaupun hubungan mereka tidak berstatus, tapi tubuh mereka telah bersatu. Seandainya ia mampu menyanggahnya, pasti akan ia lakukan.


“Mana mungkin!” Prasetyo mencibir. “Bule itu pasti pacarnya atau mungkin salah satu dari pelanggannya—” Kemudian, ia menunjuk Franz dan berseru, “Pria di sana itu! Saya ingat dia pernah menyewa Elina.”


Polisi yang mulai curiga, mengernyit. “Bagaimana Anda bisa tahu?”


Dengan bersemangat, Prasetyo menjawab, “Tentu saja, saya ada di Angel’s Club malam….” Ia tersentak, sadar bahwa ucapannya bisa menjadi bumerang baginya.


“Angel’s Club?” ulang polisi selidik. “Untuk apa ke sana?”


Prasetyo membisu, bingung menjawabnya. Ia telah terjebak oleh omongannya sendiri. Entah apa yang harus dilakukannya untuk menghindari pertanyaan itu.


Di sana, Raima tersenyum menang melihat pria tua mesum itu tersudut. Inilah saat yang tepat baginya untuk menyelamatkan Elina. “Bapak polisi yang terhormat, bapak itu adalah pelanggan tetap Angel’s Club, Pak,” ujarnya sarkastik, sembari melirik Prasetyo.


Tentu saja Prasetyo bereaksi dan menyangkal. Tapi Raima terus mengkonfrontasinya dan membeberkan semua fakta pria itu, walaupun pada akhirnya ia harus mengakui bahwa dirinya salah satu pelacur yang melayani pria itu.


Matthew tersenyum. “Pak, boleh saya minta seseorang datang kemari untuk membela saya?”


“Silakan.”


Matthew menyuruh Franz untuk membungkuk. Ia membisikkan pria itu, agar membawa Mami Sarah dan biarkan Raima ikut bersamanya. Selain itu, ia juga memerintahkan hal lain:


-;-;-;-


Sekitar 15 menit sejak Franz pergi, Mami Sarah datang bersamanya dan Raima ke kantor polisi. Sikap percaya diri yang selalu ditunjukkan tidak terlihat; di wajahnya hanya ada ekspresi seperti tertekan, berjalan pelan menghampiri meja interogasi.


Matthew dan Elina menoleh. Pria itu tersenyum sinis. Mudah sekali membujuk wanita picik itu hanya dengan sejumlah uang?


Wajah Prasetyo terlihat memucat, sekaligus geram. Ia bahkan memandang Mami Sarah dengan tatapan mengancam, sehingga wanita itu tidak sanggup menatapnya.


“Nyonya siapa?” tanya polisi yang memeriksa Matthew dan Elina.


Mami Sarah canggung dan ragu, tatapannya ke bawah terus. “Maaf, saya hanya ingin masalah yang menyangkut mereka diselesaikan secara damai saja.”


Prasetyo berang dan langsung beranjak dari kursi. “Mana bisa begitu! Aku sudah membayar banyak wanita itu!”


Semua mata menatapnya tercengang, kecuali Matthew yang diam-diam terkekeh.


Prasetyo telah naik pitam, tidak peduli lagi dengan imej yang dijaganya sejak tadi—toh, sudah hancur juga. Ia berkata sambil menunjuk Mami Sarah, “Dibayar berapa lo sama bule itu, hah? Gue udah rugi banyak. Belum lagi muka gue yang bonyok gini!” Ia menunjuk wajah yang penuh memar.


Mami Sarah bereaksi agak lama, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih tebal dari tas tangannya yang berwarna senada dengan bajunya, kuning. “Maaf, Mas Pras. Saya kembalikan uang Mas dan uang tambahan sebagai ganti rugi, asal Mas mencabut tuntutan Mas.”


Antara tetap pada tuntutan atau mengambil uang itu, Prasetyo melirik amplop sambil berpikir. Ia juga menatap Mami Sarah, yang memberikannya kode untuk menyerah pada kasus ini.


Akhirnya, Prasetyo menyerah. Amplop itu diambilnya tanpa menoleh dan dengan harga diri yang tersisa. “Ya, sudah. Saya setuju mencabut laporan saya.”


Raima tersenyum gembira pada Elina, yang juga tersenyum hambar. Matthew merasa puas, mengucapkan rasa terima kasihnya pada Franz dan Raima. Mereka berlima keluar dari kantor polisi, sementara Mami Sarah mendampingi Prasetyo mengurus pencabutan laporannya.

__ADS_1


Elina berhenti sejenak, ketika ketiga pemuda bule itu dan Raima berdiri di dekat pagar kantor polisi. “Terima kasih, kalian sudah membantuku,” ujar Elina dengan Bahasa Inggris, yang membuat Raima tercengang mendengarnya.


“Sama-sama,” jawab Matthew, mewakili kedua temannya. Tersenyum memandang Elina yang terus menunduk.


Elina sadar bahwa mata biru itu melihat ke arahnya terus, dan ini membuatnya tidak nyaman. “Ima, yuk kita pergi.”


Elina dan Raima akan beranjak pergi, tapi Matthew, yang merasa tak rela, meraih tangan Elina dan menggenggamnya. “Aku akan kembali ke Inggris, bisakah kita bicara sebentar?”


Pulang? Begitu mendengarnya, Elina spontan *** pakaian yang menutupi dadanya. Perasaan apa ini? Dia bukan siapa-siapa, ingat itu! Pikirannya berseru seperti itu terus.


Elina menoleh, memasang senyum seceria mungkin walau semu semata. “Oh, begitu, ya? Semoga selamat sampai di Inggris. Dan jaga dirimu ya, Mister.”


Matthew terkejut. Inikah penolakan? Sejak awal memang Elina tidak ingin bertemu dengannya lagi. Begitu perih yang dirasa, tapi ia harus menerimanya. Ia juga tersenyum hambar, dan berkata sembari melepaskan genggaman tangannya perlahan.


“Terima kasih. Jaga dirimu.”


Elina mengangguk sekali, tersenyum getir sebelum meninggalkan Matthew, yang masih menatap punggungnya. Raima merasakan perasaan itu, iba dan menoleh pada Matthew. Pria itu mengangguk padanya dan tersenyum singkat. Kemudian, ia melirik Elina yang sedang menunduk.


Entah ada apa dengan kedua orang ini? Kenapa mengucapkan perpisahan, jika ada kesedihan menyiksa yang tergambar jelas pada wajah mereka? Dan Elina, tidak bisakah memberi kesempatan pada Matthew untuk berbicara sebentar? Raima sangat berharap, di lain kesempatan, ia bisa menyatukan mereka. Namun, jika perpisahan adalah pilihan, Raima hanya dapat berdo’a agar mereka mendapatkan kehidupan yang baik kelak.


-;-;-;-


Elina pov


Terima kasih Tuhan, tidak ada yang terjadi setelah semua masalah sulit dihadapi dengan sabar. Ibu sudah hampir membaik setelah dioperasi dan diopname kurang seminggu di rumah sakit.


Utang ayah sudah lunas, dan renternir sudah mencabut tuntutannya. Tapi setelah bebas, ayah tidak pulang ke rumah. Masa bodo, kami juga tidak akan menerimanya jika dia mendatangi kami lagi.


Satu bulan berlalu dengan riang. Kehidupan kami membaik; ibu berjualan nasi uduk di depan rumah, dan Frasya sekolah sembari membawa beberapa bungkus nasi dan gorengan untuk dijual di kantin sekolah, sedangkan aku tidak lagi bekerja di bar.


Aku membawa sebuah formulir yang sudah diisi. Formulir ini akan aku ajukan ke tata usaha karena aku ingin pindah jam mata kuliah. Benar, aku sudah tidak cuti kuliah lagi! Pekerjaan di Mall masih, tapi aku minta sifnya diganti jadi sore. Jadi, paginya bisa kuliah.


Beberapa langkah lagi, aku akan sampai di depan kantor tata usaha. Bibirku mengulaskan senyum, dan langkahku dipercepat. Namun, sebelum aku memasuki ruangan itu, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tidak enak di tenggorokan.


“Huek!” Spontan aku menutup mulutku.


Kenapa mual seperti ini? Padahal, tadi pagi aku baik-baik saja.


“Huek.” Aku mendelik. Rasa mual ini semakin tak tertahankan. Aku harus bergegas ke kamar mandi, sebelum seluruh isi perutku dikeluarkan di sini.


Aku berlari hingga mencapai di westafel—untunglah aku muntah di waktu yang tepat. Seketika badanku terasa lemas dan kepalaku pusing. Lantas, aku bersandar di samping westafel.


Kubasuh wajahku dengan air, lalu kutatap pantulan bayanganku di cermin. Tadinya aku tak mau menduga atau mengakuinya, tapi aku pikir mungkin ini bukan karena aku sedang sakit.


Seingatku, seharusnya sekitar dua minggu yang lalu aku menstruasi, tapi sampai sekarang masa itu tak kunjung datang. Aku pikir, hal seperti itu biasa, hanya saja jika dilihat dari gejalanya mungkin saja aku … hamil.[]


***Cuap2 Author


Thank you so much, God! Rampung juga nih bab. Dari hari Sabtu dibikin, selesainya hari Senin. Ada aja nih gangguan dari eksternal dan internal hehehe.


Bab 11 juga udah setengah selesai sih, soalnya udah buat spoiler, jadi lancar jaya nulisnya. Cuma, aku nggak bisa up bab 11 langsung, biarlah cerita ini mengalir perlahan, yeelaaaah 😕.


Oh, iya maaf kalo bab ini rada sedikit acak adul, kurasa. Kalo nemu typo bilang aja dan komen kalo ada yang kurang, tapi dengan kata2 yang sopan ya.


Mungkin aku terlalu bawel bilang “makasih udah baca karyaku” trus, karena aku menghargai pembacaku. Maaf kalo komen kalian cuma aku kasih jempol. Komenan dan like kalian bikin aku semangat 😘.

__ADS_1


Sampai jumpa di Chapter 11.***


__ADS_2