Matthelina

Matthelina
Chapter 17


__ADS_3

Ini Bukan Kencan!


Matthew melonggarkan dasinya, menaiki tangga dengan letih. Wajahnya terlihat lelah, dan matanya mulai mengantuk. Untung saja dia memakai supir, jadi sempat tertidur di mobil selama perjalanan menuju rumah.


Sepertinya, ia paling tidak bisa bangun terlalu pagi. Ia bertanya-tanya, para wanita yang setiap hari bangun pagi-pagi, membuat sarapan, bekerja, lalu mengerjakan pekerjaan rumah bisa sekuat itu menahan rasa kantuk dan lelah. Ini saja Matthew berencana ingin langsung berbaring di ranjang. Tapi ia ingat harus membuatkan susu untuk ibu dari bayinya.


Matthew menguap saat mencapai di depan kamar. Tapi ia terkejut, berpapasan dengan Elina yang baru saja keluar dari kamarnya. Di tangannya menenteng sebuah seprai dan selimut yang dipakainya semalam.


"Maaf, saya cuma mengganti seprai, sarung bantal, dan selimut saja," Elina langsung menjelaskan, padahal tak ada yang menanyakan.


"Hmm...." Hanya itu jawabannya, lalu Matthew menguap lagi sambil menutup mulutnya.


"Saya permisi dulu," kata Elina, mengerti bahwa pria itu sudah waktunya untuk istirahat.


"Elina," panggil Matthew, baru saja beberapa langkah Elina menjauh.


Elina menoleh. "Iya?"


Matthew termangu. Rasanya agak malu mengatakan hal ini. Tapi wanita itu menunggu di sana, jadi singkirkan sikap itu, dan mulailah mengatakannya. "Tunggu aku di halaman belakang, aku ingin membuatkanmu susu."


Alih-alih mengangguk, Elina sama sekali tak merespon. Ia melirik ke bawah, sepertinya sedang memutuskan sesuatu. "Anda istirahat saja, biar saya saja yang membuatkan susu."


Matthew mengangguk. Kemudian, akan berbalik ke kamarnya. Tapi tunggu dulu, ada lagi yang mau dikatakan. Maka, ia bergegas kembali dan memanggil Elina lagi.


Elina berbalik, tapi tak mengatakan apa pun. Dibiarkan pria itu yang mengatakan apa yang terpikirkan olehnya.


"Hmm ... kau sudah makan?"


Oh, dikira apa. "Sudah, Tuan." Elina kembali akan berbalik, tapi Matthew mencegahnya dengan memanggilnya lagi.


"Ada apa lagi, Tuan?" Elina mengucapkannya dengan penuh penekanan. Pria itu telah membuatnya jengkel.


"Besok jam 3 sore, aku akan menjemputmu. Aku sudah membuat jadwal temu dengan dokter kandungan."


Mata Elina membulat. Benarkah? Sampai segitunya? Jadi, dia serius mau tanggung jawab? Hati Elina bimbang lagi jadinya.


Karena diam, Matthew menganggap itu jawaban "iya".


"Ya, udah. Selamat malam."


Tunggu dulu! Elina akan berseru begitu. Tetapi Matthew telah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Rencana besok, Elina tidak tahu bisa atau tidaknya. Tetapi ia juga tidak bisa membatalkan karena Matthew telah membuat janji temu dengan dokternya.


Elina mendesah, pusing memikirkan itu. Mungkin besok ia akan mencoba minta izin dan mencari alasannya. Rancangan itu ia pikirkan sambil menuruni tangga, lalu pergi ke kamar mandi.


Setelah meletakkan kain kotor ke dalam bak, Elina lantas beranjak ke dapur untuk membuat segelas susu. Pada saat itu, Monika memasuki dapur, hendak mengambil sebotol air untuk diminum di kamar, kalau-kalau ia haus pada tengah malam.


"Hei, Elina. Belum tidur?" sapanya ringan, menghampiri Elina setelah menutup pintu kulkas.


Elina tersenyum. "Belum, Nyonya."


Setelah itu tidak ada ucapan lagi karena Monika terfokus pada segelas susu cokelat yang sedang diaduk oleh Elina. Tumben, menurutnya selama ini ia tak pernah melihat Elina minum susu.


"Elina, itu susu apa?" Monika mulai menyelidiki lagi.

__ADS_1


Karena tidak tahu harus jawab apa, Elina berpura-pura polos. "Susu cokelat, Nyonya."


"Hehehe, ia saya tahu. Tapi maksudnya jenis susunya; apa itu susu biasa, susu penggemuk badan, atau susu hamil?"


Elina mendelik. Jangan-jangan Monika telah curiga padanya? Tapi kemudian, Monika tergelak dan berkata santai:


"Bercanda. Mana mungkin kamu minum susu hamil. Kamu kan belum nikah."


Elina tersenyum tipis. Leganya, ternyata itu bukanlah kecurigaan. Elina berhenti mengaduk susunya, lalu meletakkan sendoknya di westafel.


"Ini susu biasa kok, Nyonya."


"Tumben banget. Kamu mau gemukin badan?" Monika bersandar di tepi meja dapur, memandang Elina sambil tersenyum penuh arti.


Elina sempat gugup melihat sikap Monika seperti itu, bahkan tak berani menoleh. Tetapi ia harus bisa menjawabnya dengan tenang, supaya tatapan menyelidik itu lenyap. Maka ia menoleh, tersenyum seperti biasa.


"Iya, mungkin sedikit."


"Tapi kenapa? Kamu sudah cantik kok, dengan badan yang langsing. Kamu tahu, nggak? Wanita kalau berbadan gemuk kurang bagus."


"Iya, tapi ada sebagian laki-laki menganggap kalau wanita berisi itu menarik," tukas Elina.


"Oh, jadi kamu mau menarik hati laki-laki?" celetuk Monika. " Yah, emang sih, wanita yang agak... apa istilahnya itu ... bahenol, mungkin terlihat seksi di mata laki-laki." Monika tergelak. "Elina, Elina. Ada-ada aja deh. Tapi ya, kalau kamu mau gemukin badan, ya boleh aja," ujar Monika lagi, lalu berbisik, " Kalau nggak ada yang cowok yang cocok, nanti aku kenalin deh, sama cowok."


Selorohan Monika membuat Elina turut tertawa kecil bersamanya. Kedua wanita itu akrab sejak Elina bekerja, tapi hanya sebatas itu, tidak saling bertukar cerita mengenai masalah pribadi.


Obrolan dilanjutkan ke topik yang lain. Di sela-sela obrolan, Elina berpikir untuk meminta izin keluar dengan alasan "ada urusan dengan teman". Sepertinya, alasan itu kurang kuat, tapi tak disangka Monika memberinya izin dengan mudah.


Elina tersenyum girang. Setidaknya satu masalah sudah selesai, tinggal masalah lain: bayi ini. Melihat keseriusan Matthew, Elina cukup tersentuh dan galau. Prinsipnya bisa saja goyah sekarang, atau mungkin seiring berjalannya waktu. Tetapi trauma melihat pernikahan orangtuanya, membuat prinsipnya semakin kuat.


Di luar hujan lebat sekali. Tetapi bukan itu yang membuatnya tidak bisa tidur. Jantungnya berdetak gelisah karena besok ia akan pergi memeriksakan kandungannya bersama Matthew. Sungguh, ini aneh! Ini bukan kencan, tapi perasaannya jadi begini. Ah, mungkin cuma gugup saja karena ini pertama kalinya pergi bersama pria itu, hanya berdua saja.


Tak perlu berpakaian bagus; di lemari pakaian plastik ini hanya ada dress usang yang modelnya ketinggalan jaman, beberapa blus, dan celana jins. Dikeluarkan celana jins hitam favoritnya dari tumpukan baju. Kayaknya nggak mungkin pakai ini untuk ke sana. Perutnya kan, akan diperiksa oleh dokter.


Bagaimana dengan dress berwarna sian yang di bawahnya terdapat motif bunga-bunga kecil, yang sedang dipegangnya? Ia menyukai dress ini karena warnanya, tapi ia sendiri jarang memakainya. Elina termenung sejenak. Mungkin memang sudah saatnya untuk dipakai.


-;-;-;-


Elina menatap diri di cermin. Seperti bukan dirinya. Ia terbiasa pakai celana jins dan atasan kaus atau blus. Karena sedang hamil, sepertinya ia harus membiasakan diri memakai dress atau daster layaknya para ibu-ibu hamil.


Jika hamil, otomatis perut akan membesar secara bertahap. Hari-hari hanya memakai daster yang longgar. Apakah nanti ia akan masih tetap terlihat menarik?


Ia tersadar. Kenapa harus peduli pada hal itu? Memangnya, siapa yang ingin ia lirik?


Bi Jumi tiba-tiba membuka pintu dan masuk ke kamar. Seperti melihat sesuatu yang menakjubkan, Bi Jumi meneliti tubuh Elina dari ujung kaki sampai ujung kepala, terpana.


"Kamu cantik sekali, Nduk. Mau ke mana?" tanyanya.


"Ada urusan, Bi," jawab Elina, tersenyum.


"Emang pekerjaanmu sudah selesai?"


"Sudah kok, Bi," sahut Elina langsung. "Saya juga sudah minta izin ke Nyona Monika. Katanya, Nyonya sebentar lagi pulang—"

__ADS_1


Elina melirik ponselnya yang bergetar. Telepon dari Matthew. Pasti pria itu sudah menunggu?


"Halo. Iya, saya akan ke sana," jawabnya. Kemudian, ia menatap Bi Jumi. "Saya pergi dulu ya, Bi."


Setelah Bi Jumi mengangguk, Elina bergegas keluar rumah, menemui Matthew yang telah bersandar di samping mobilnya yang terparkir agak jauh dari rumah.


Matthew menegak kala melihat Elina dari kejauhan. Ia terpana. Benarkah wanita yang memakai dress berwarna sian itu Elina? Hari ini kecantikannya tersibak, meski bedak yang terpulas di wajahnya tipis. Meski bibirnya tak semerah malam itu. Rambut hitam panjangnya yang selalu dicepol, sekarang digerai, menambah pesonanya.


"Ayo, Tuan," kata Elina, setelah berdiri tepat di depannya.


Matthew terkesiap. "Oh ... baiklah." Ia jadi salah tingkah, sampai lupa ingin membukakan pintu untuk Elina dan mempersilakannya masuk duluan.


-;-;-;-


Sebelum pindah ke Inggris, Matthew bersekolah di sebuah SMA yang ada di Jakarta. Walau ia termasuk cowok populer, ia tak memiliki banyak teman. Hanya satu kawan karib, yang merupakan teman sebangkunya.


Dokter Erick Satria Darmawan. Elina bergidik saat melihat papan nama yang tertera di depan pintu masuk. Ia menoleh skeptis pada Matthew.


Meski tidak mengerti pandangan itu, Matthew berkata, "Dia teman masa SMA-ku, dan masih saling berhubungan dengannya. Jadi tenang, dia bisa dipercaya."


Tapi bukan itu maksudnya, dan bukan jawaban itu yang ingin didengar. Masalahnya dokternya itu laki-laki? Tentu saja Elina malu, apalagi jika nanti harus menyibakkan roknya saat pemeriksaan.


"Tidak ada dokter lain?" bisik Elina, mendekatkan wajahnya ke arah Matthew, takut pasien yang sedang menunggu di sini mendengarnya.


Matthew duduk menegak, beringsut menghadap Elina. "Memang ada, tapi aku hanya percaya padanya. Memangnya kenapa? Apa ada masalah?"


Elina tak menjawab. Malu dong, mengatakan alasan konyol itu.


Terdiamnya Elina membuat Matthew penasaran. Ia melirik, meneliti sikap Elina, yang walau terlihat tenang. Tapi tak mudah juga menyimpulkannya, wanita itu terlalu ahli dalam menyembunyikan ekspresinya.


Seorang suster keluar dari dalam ruangan dokter. "Ibu Elina," panggilnya.


Elina dan Matthew sama-sama langsung menoleh pada suster itu. Jantung keduanya sama-sama berdebar, grogi saat berjalan masuk ke dalam ruangan, dan duduk di depan dokter Erick.


Erick yang saat itu tengah menuliskan sesuatu pada selembar formulir, tersenyum begitu melihat sahabatnya datang dengan seorang wanita cantik. Ia menjabat tangannya dan berkata sambil melirik Elina:


"Pintar juga kau memilih istri."


Istri? Wajah keduanya merah padam mendengar celetukan asal Erick. Ya, memang pria itu tidak salah, sebab Matthew mengatakan bahwa Elina adalah istrinya, dengan agak ragu-ragu.


"Oke, Nyonya Jonathan. Silakan berbaring di ranjang," perintah Erick, membentangkan tangan ke sebelah kiri.


Seorang suster menghampiri Elina dan Matthew, memegang tangan dan membimbing Elina naik ke atas ranjang. Kemudian, ia memeriksa alat USG, setelahnya mengoleskan gel bening yang dingin ke perut Elina.


Pasangan yang menggemaskan. Gumam Erick di dalam hati sambil tersenyum. Matthew membuang muka dan wajahnya memerah—sama seperti Elina—saat suster menarik selimut sampai sebatas pinggul, lalu menaikkan ujung roknya sampai perut Elina setengah terbuka.


Erick mengambil sebuah alat USG, yang kemudian didekatkan ke perut Elina. Benda itu memeriksa setiap sudut dinding rahim, sampai menemukan sebuah janin kecil yang terlihat pada monitor.


Meski hanya berwarna hitam putih, tapi Matthew masih bisa melihat dengan jelas darah dagingnya yang masih sebesar buah stroberi itu. Takjub, terharu, dan bahagia. Ternyata seperti inilah manusia sebelum dilahirkan. Inilah kekuasaan Tuhan. Sangking larutnya pada emosinya itu, Matthew sampai meraih tangan Elina dan menggenggamnya erat.


"Kau bisa dengar detak jantungnya, kan?" kata Erick.


Ya, detak jantung anak itu, sangat cepat, melebihi detak jantungnya sendiri saat ini. Erick bilang kalau itu normal dan menyatakan bahwa anak mereka sehat.

__ADS_1


"Nah, kalian sudah melihat anaknya, kan? Sekarang, bantulah istirimu turun, dan berhentilah *** tangannya," kata Erick, diselingi tawa kecil.


Matthew menatap bingung, lalu melihat ke bawah. Ia malu karena tak sadar telah menggenggam tangan Elina sejak tadi. Bukan hanya Erick, suster itu juga tersenyum geli melihatnya. Tetapi Matthew tidak langsung melepaskan tangan mungil itu, ia membantu Elina turun dari ranjang dulu, baru melepaskan tangannya perlahan.[]


__ADS_2