Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER TIGAPULUH


__ADS_3

Untuk apa Logan membawa Anna ke vilanya? Anna jadi khawatir sejak pria itu memasuki pekarangan vila. Anna sampai tak mau turun dari mobil. Matanya menyipit curiga.


"Kenapa nggak turun?" tanya Logan.


"Kenapa kamu bawa aku ke sini?"


Isi pikiran gadis ini kotor sekali! "Aku tidak akan melakukan yang macam-macam. Kita hanya perlu bicara."


"Di tempat lain tidak bisa? Aku cuma nggak nyaman aja." Anna beralasan.


Cukup sudah menguji kesabarannya, Nona. Logan menarik tangannya dan mengeluarkan Anna dengan paksa.


"Aduh, sakit! Kasar banget sih?" jerit Anna.


Logan seakan tidak peduli, membawa Anna meski tangannya telah memerah akibat pegangannya. Seorang pelayan menyambut mereka. Logan menghela Anna ke sofa dengan agak kasar.


"Au!" keluh wanita itu, lalu mendongak menatap Logan dengan melotot. "Bapak sengaja buat saya keguguran?"


Logan terhenyak dan memucat. Kekasaran yang tidak disengajanya hampir membuat bayi yang ada di kandungan Anna celaka. Ia tak tahu mau menanggapinya apa, tapi ia mencoba berkata dengan sedikit lembut dan mengulurkan tangan.


"Ikut aku. Kita makan siang di ruang makan."


Ajakan yang baik, tapi Anna melihat uluran tangan itu dengan curiga, walaupun pada akhirnya ia tetap menyambutnya. Perlahan, ia beranjak, dan Logan membimbingnya sambil merangkul pinggang Anna.


Ini aneh, sampai Anna mengernyit bingung. Apa Logan tidak sadar dengan yang dilakukannya? Jadi canggung.


Logan ingat akan pesan Elina, agar memperlakukan Anna dan bayinya dengan baik. Dan ia melakukannya dengan menyeret bangku dan menghela lembut Anna sewaktu duduk di bangku itu.


Makanan sudah terhidang, tapi Anna hanya melihatnya saja karena semua makanan itu tidak membuatnya berselera.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Logan, menyadari keheningan Anna.


Anna menoleh. "Em ... Aku ingin makanan yang lain."


Merepotkan. Logan menghela napas jengkel. "Semua makanan ini enak, dan kamu pasti jarang makan semua makanan ini."


Sombong sekali! "Makanya, karena nggak terbiasa saya mau makanan yang lain," sindir Anna agak ketus. "Lagipula, saya sedang mengidam. Bapak ingat sama ucapan pak Matthew, 'kan? Kalau Bapak harus memberikan apa pun yang saya inginkan."


Memang benar, tapi Logan tetap saja gusar. Oh, baiklah jika memang karena si bayi. "Kamu mau apa? tanyanya dengan menahan rasa kesalnya.


"Aku ingin sate madura," jawab Anna.


"Apa?" Logan setengah berseru. "Ah! Oke!"


Logan akhirnya memanggil pelayannya. Terpaksa, ia harus merepotkan si pelayan agar membelikan seporsi sate madura. Akan tetapi, Anna buru-buru menyela.


"Maaf, Pak. Tapi saya maunya Bapak yang beli," ucap Anna agar ragu, lalu tersenyum lebar.


"Oke," sahutnya menahan geram. "Kita sekalian makan di sana."


Anna tersenyum. Melihat pria itu menahan marahnya menyenangkan juga sepertinya. Ia beranjak dan berjalan di belakang Logan yang berjalan cepat.


Entah sengaja atau tidak, Logan kesal menyadari Anna berjalan lambat. Ia berhenti berjalan, menunggu sampai Anna menghampirinya. Lalu, ia meraih tangannya dan menariknya mengikuti laju jalannya yang cepat sampai ke mobil.


Heran, dia kasar lagi. Apa karena kesal pada permintaannya tadi? Anna jadi tidak enak. Apa batalkan saja beli sate maduranya? Ah, tidak. Anna pikir, pria itu akan kesal lagi.


Dengan bantuan GPS Logan melajukan mobilnya ke sebuah restoran yang menyediakan menu yang diminta Anna.


Sebenarnya, Anna melihat warung sederhana yang menyediakan sate madura, tapi tidak ia katakan karena menyadari kelakuannya sudah keterlaluan.

__ADS_1


Restoran itu ramai, untung dapat tempat duduk. Logan memesan seporsi sate madura untuk Anna, dan soto ayam untuknya.


"Puas?" sindir Logan, sinis.


"Saya belum makan. Jadi, saya belum bisa menilainya," jawab Anna.


Waktu sudah terbuang, dan Logan tak perlu banyak basa-basi lagi. "Papa dan mama akan datang lagi ke rumahmu untuk membicarakan hari pernikahan kita."


Lalu, ia harus apa? Mama sudah memberikan kode soal hal itu padanya tadi. "Apa bisa kalau kita tidak menikah?"


Logan memiringkan kepala, ekspresinya datar. "Tidak."


Anna mengernyit. Heran, kenapa sekarang justru Logan bersikap sebaliknya? Dulu, bukannya dia tidak ingin menikahinya? Ia harus tanya lagi untuk memastikannya.


"Maaf? Tadi Bapak bilang—"


"Saya ingin kamu melahirkan bayi itu dan jadi istri saya," tegas Logan.


Serius? Hati Anna jadi tersentuh, tapi tercengang juga. Hanya saja, hatinya ragu lagi. Apa Logan benar-benar tulus atau karena paksaan papanya?


Logan beranjak dari kursinya setelah itu. "Saya ke toilet dulu."


Hidangan datang tak lama kemudian. Senyum Anna merekah, meraih sendok, tak sabarnya menyantap makanan itu.


Kebetulan yang tak terduga, Kenan juga makan siang di sana hari ini. Kenan melihatnya sesaat memilih tempat duduk. Maka, dihampirinya meja Anna.


"Anna, apa kabar?" sapanya.


Baru saja Anna akan menyuapkan seiris daging ke dalam mulut, tapi berhenti karena sapaan dari suara yang terdengar tidak asing di telinganya. Lantas, ia menoleh, tersenyum pada pria itu.

__ADS_1


"Hai, Kenan."


Tanpa mereka sadari, Logan sudah keluar dari kamar mandi, melihat calon istrinya bersama dengan sahabatnya dengan rahang mengeras.[]


__ADS_2