Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER DUABELAS


__ADS_3

Entah dari mana, suara dengingan terdengar oleh telinga Anna. Udara dingin menusuk kulitnya, membuatnya ingin menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang tebal.


Namun, seseorang tak rela berbagi selimut, sehingga selimut itu ditarik darinya. Anna pun tak mau kalah, dengan setengah sadar, selimut itu ditariknya kembali.


Logan tersentak, tapi matanya masih terpejam. Ia menarik selimut, tapi tertahan. Ia ingin tahu apa yang terjadi, makanya ia berbalik.


Ada seorang wanita sedang berbaring membelakanginya. Logan sontak terbangun, ekspresinya bingung.


"Apa yang terjadi?" gumamnya sangat pelan.


Logan coba mengingat, tetapi ingatannya hanya sampai ia sedang diantarkan oleh seorang pelayan. Habis itu? Semua ingatannya buyar.


Sambil memegangi kepalanya, Logan menceracau geram. "Kacau! Benar-benar kacau! Bagaimana mungkin aku—"


Ucapannya tertahan karena wanita itu menggeliat, lalu berbalik. Mata Logan terbelalak, wanita yang seranjang dengannya itu adalah si pegawai baru?


Anna membuka matanya hanya separuh, kemudian tiba-tiba terbelalak dan sontak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Namun, yang dilakukan Anna membuat tubuh bagian bawah Logan hampir terlihat.


Logan pun menarik selimutnya, tetapi Anna tak membiarkannya. Tarik-menarik selimut pun terjadi.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Logan, kesal. "Kamu sengaja mau lihat punya saya?"


Apa? Mata Anna langsung melotot tajam. Lalu, ia mengambil bantal dan melemparnya tepat di wajah Logan. "Anda yang mesum! Anda telah memperkosa saya tadi malam!"


Logan meradang, melempar kembali bantal itu pada Anna. "Apa? Saya memperkosa kamu?!" bantah Logan sambil menarik selimut. "Kamu bukan tipe saya. Mana mungkin saya melakukan itu?"


Yang dia bilang apa? Anna meremas selimut, menatap Logan dengan mata menyala-nyala. Bantal tadi diambilnya, lalu ia memukul Logan hingga bertubi-tubi seraya berkata:


"DASAR MESUM! SETELAH MEMPERKOSA SAYA, ANDA TIDAK MENGAKUINYA! PRIA MACAM APA ANDA INI? HABIS DAPAT ENAKNYA, LALU SAYA DIBUANG BEGITU SAJA!"


Logan mau membantah, tetapi tidak ada kesempatan. Ia merentangkan tangannya ke depan wajahnya, melindungi diri dari serangan wanita barbar itu.


Tak lama kemudian, Anna berhenti memukul. Inilah kesempatan Logan untuk membantah semua tuduhan yang ia rasa tidak pernah dilakukannya. Namun, baru akan membuka mulut, sontak ia tertegun.


Karena kekesalannya yang meledak, Anna terisak. Anna menangkupkan wajah dengan telapak tangannya, menangis keras dalam beberapa saat.


Logan termenung sambil menoleh ke arah lain. Dalam hati, ia bergumam, "Benarkah aku melakukan itu? Cobalah mengingat Logan!" Kemudian, matanya terpejam erat.


Perlahan, ia melirik gadis itu. Kini, Anna tengah merintih sambil memeluk tubuhnya. Logan kembali bergumam dalam hati lagi:


"Jika aku melakukan hal itu? Bagaimana ini?"


Rambut cokelat kehitaman pria itu diremasnya dengan frustrasi.


🍀

__ADS_1


Kapal telah sepi, para cleaning service mulai membersihkannya. Seorang pelayan muncul dari balik tembok ujung lorong, berjalan dengan pandangan waspada menuju sebuah kamar.


Sesampainya di depan kamar, dia membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan yang ditempati oleh Logan dan Anna tadi malam. Aksinya dimulai, diambilnya semua kamera yang disembunyikannya di berbagai titik.


Kemudian, ia bergegas turun dari kapal, menemui seseorang yang sudah menunggunya sejak tadi. Seorang pria paruh baya berjaket denim yang warnanya sudah pudar.


Pria itu sedang membelakanginya dan menelepon. Sambil berjingkat dan senyum jahilnya, ia menghampiri pria itu, lalu menepuk pundaknya.


"Hayo!" serunya.


"Eh, kodok mati!" Pria itu tersentak dan latah. Saat ia menoleh, ia melihat anaknya menertawakannya, lalu memberinya pukulan di lengan anaknya itu. "Dasar iseng!"


Pria itu berhenti tertawa. Pukulan bapaknya sangat sakit, ia meringis kesakitan karenanya. "Aduh, sakit tahu, Pak."


"Jadi bagaimana?" tanya pria itu, setelah menghentikan pukulannya.


Tama tersenyum lebar, perlahan memperlihatkan sebuah kamera. "Dapat dong!"


Mereka berdua tertawa begitu senang. Tanpa buang waktu lagi, mereka pergi ke tempat rahasia mereka, yang bahkan mirip seperti gudang penyimpanan karena banyaknya kotak, rak berisi buku-buku yang dipenuhi debu, dan sebuah meja.


Tama mengeluarkan sebuah laptop tua dari dalam laci yang ada di meja itu. Setelah laptop itu berhasil dinyalakan, dimasukkan sebuah memory card ke dalam konektor.


Ayahnya berdiri di belakangnya, memperhatikan apa yang dilakukan oleh anaknya. Tama mencari sebuah berkas, lalu mengkliknya.


Berkas berhasil dibuka, sebuah video ditampilkan. Senyum mereka merekah hanya beberapa detik, karena ada sebuah momen yang membuat dahi mereka mengernyit.


"Itu bukan Wanda, 'kan?" timpal ayahnya.


Keduanya saling menatap, tercengang. Ada apa ini? Ke mana wanita bayaran mereka?


🍀


Gita memperhatikan Anna selama mobil yang dikendarainya melaju. Tak ada percakapan sejak mereka turun dari kapal. Ia menghela napas dan bersandar.


"Lo masih sakit?" tanyanya bergumam.


Anna termenung dalam beberapa saat. "Nggak, udah baikan."


Tapi Gita merasa Anna tidak terlihat baik-baik saja, wajahnya pucat dan matanya sembab. Ia melirik, dan Anna menyadarinya.


"Gita, i'm fine," kata Anna, bersusah payah tersenyum untuk meyakinkan gadis itu. "Gue nggak pakai make up tadi, makanya kelihatan kayak orang sakit."


"Gue nggak bilang apa-apa lho," sahut Gita.


Anna terbahak sekali. "Nggak ngomong pun gue juga tahu." Ia menghela napas panjang. "Nggak elo, Yerin, Ranti, semuanya selalu berlebihan deh. Gue baik-baik aja, tapi lo semua malah khawatir sama gue."

__ADS_1


Gita sudah bosen melihat Anna yang sok kuat disaat tubuhnya lemah karena penyakit. Jadi, ia hanya menanggapinya seperti ini, "No comment!"


Anna memang sedang tertawa saat ini, tetapi itu semua hanya kedok—dia memang dalam keadaan tidak baik. Sebuah kejadian menimpa dirinya. Ia langsung mengurung diri di kamar sesampainya di rumah.


"Apa ini karma?" Ia tercenung, tertelungkup di atas ranjang. Matanya digenangi oleh air mata.


Kilasan ingatan kejadian, di mana ia menolak para cowok yang dijodohkannya padanya, melintas dalam benak.


"Aku suka bohong soal keperawanan aku. Mungkin mereka sakit hati sama aku, terus aku disumpahin. Makanya, keperawanan aku benar-benar terenggut."


Anna membenamkan wajahnya pada bantal, tangan dan kakinya memukul-mukul ranjang sambil menangis kesal tapi juga penuh penyesalan.


Yang merasa seperti itu bukan dia saja, Logan juga. Setiap matanya terpejam, kejadian malam penuh gairah itu terlintas. Lalu, ia cepat-cepat membuka matanya, tak ingin melihatnya lagi.


Ya, ia sudah ingat, bahwa malam itu ia telah memperkosa si karyawan baru itu.


Di dalam kamar bercahaya remang, ia berbaring dan termenung. Tatapannya sendu kala menatap foto Nina pada layar ponsel. Ia menghela napas, tetapi dadanya tetap saja sesak.


"Maafkan aku, Nina...," lirihnya. Setelah itu, ia mengenyahkan foto itu dari pandangannya. Lagi-lagi, ia menghela napas. "Aku harus bagaimana kalau bertemu dengan pegawai baru itu?"


Itu juga yang dipikirkan oleh Anna. Pasti nanti bakal canggung atau bingung. Anna memikirkan hal itu sampai kepalanya sakit lagi. Terpaksa, ia tinggal sendirian di rumah karena semua anggota keluarganya pergi ke pesta pernikahan saudara ayahnya.


🍀


Kenan keluar dari mobilnya sambil bersenandung, memutar-putar kunci mobil, berjalan menuju pintu masuk kantor. Ia tersenyum, Logan baru saja datang. Buru-buru ia menghampirinya.


"Cogan!" sapanya ceria.


"Sejak kapan nama gue ganti?" protes Logan.


"Lah, elo emang cogan: cowok ganteng," kilah Kenan, berseloroh.


Logan sama sekali tidak berminat menimpali candaan Kenan, justru mengganti topik pembicaraan dengan berkata sinis, "Lagi ngapain lo di sini? Gue nggak panggil, 'kan?"


Kenan terkekeh. Bertepatan dengan itu, Anna sedang berjalan mendekati mereka. Pandangan Kenan beralih, kata yang mau terucap jadi lupa, berganti dengan sapaan untuk gadis itu.


"Pagi, Anna."


Anna berhenti di dekat mereka, menatap Kenan sejenak, tapi kemudian lirikan matanya teralihkan pada Logan.


Sama dengannya, Logan menegang lalu salah tingkah. Anna pun canggung tetapi berusaha tak diperlihatkan, lalu tersenyum pada Kenan sekalian menyapa.


"Pagi, Pak Kenan."


Bukan main senangnya Kenan karena akhirnya gadis itu mau membuka diri. Apa sekarang ia bisa melangkah ke level selanjutnya?

__ADS_1


"Oh iya, Anna. Habis selesai shalat, mau tidak makan siang sama aku di kantin?"


Anna terkejut, Logan tercengang sambil menoleh pada Kenan. Anna bingung, ragu akan keputusan ini. Ia berpikir cukup lama, sampai tak sadar melirik Logan yang juga sedang meliriknya.[]


__ADS_2