
Malam itu, Anna dan Logan makan malam bersama dengan Matthew dan Elina di rumah. Masakan ala rumahan yang dibuat oleh pelayan, membuat Anna berselera.
Namun, Anna hanya mengambil ikan bakar dan sayur sop dan sambal saja. Ayam dan rendang tidak termasuk dalam menu yang ada di piringnya.
Logan meraih piring berisi rendang, lalu diletakkan di depan Anna. "Makan juga dagingnya."
Anna tercengang sesaat melihat makanan itu, lalu menoleh sekalian tersenyum pada Logan. "Saya tidak suka rendang."
Aneh, masakan enak begini tidak suka? Ya, sudah. Logan jauhkan piring itu, lalu meraih piring berisi ayam goreng dan meletakkannya di depan Anna.
Anna menghela napas, memelas. "Logan, piring saya sudah penuh."
Penuh apanya? Nasi sedikit, satu ekor ikan, dan sedikit sayur? Apa cukup nutrisinya untuk Anna dan bayinya? Logan menghela napas, ditahan sedikit rasa gusarnya
"Kamu ingat kata dokter? 'Kamu harus memperhatikan asupan makananmu'. Lihat tadi, bayi kamu kecil sekali."
Sambil mengaduk makanannya dengan jengkel, Anna menggerutu sangat pelan, "Memangnya, bobot janin berusia 2 bulan harus sebesar apa?"
"Aku mendengarnya, Anna," sahut Logan cepat, membuat Anna terhenyak. "Porsi makananmu sedikit seperti orang sedang diet. Sedangkan kamu sekarang nggak makan sendirian—bayi di perut kamu juga ikut makan. Kenapa? Apa kamu takut gemuk? Itu risiko yang kamu tanggung sebagai wanita hamil."
Matthew dan Elina tersenyum geli mendengar Logan yang begitu rewel hari ini.
"Tapi aku tidak begitu suka daging ayam," debat Anna.
Ya, sudah kalau begitu. Logan mengambil mangkok berisi sayur sop, lalu menuangkan satu sendok sayuran beserta kuahnya ke piring Anna.
"Kalau begitu, makan sayurnya!" kata Logan tegas.
Anna mendengus. Baiklah, baiklah. Akan ia turuti kata pria itu.
"Anna," panggil Elina. "Mulai sekarang, makanan kamu harus agak sedikit berkuah. Kata orang, biar nanti keluar ASI."
Entahlah benar atau tidaknya, Anna hanya tersenyum terpaksa. Tapi, bukan berarti ia tidak menuruti nasihat Elina, walaupun ia kurang suka makan nasi bebek kayak gini.
Kemudian, Matthew ikut nimbrung. "Oh, iya. Bagaimana hasil pemeriksaan kandungannya?"
Logan sangat bersemangat untuk menjawab. "Kata dokter bayinya sehat, tapi Anna harus memperhatikan kesehatannya lagi dan asupan makanannya."
"Oh, gitu," timpal Elina. "Oh, iya, Anna. Susu kamu masih ada?"
"Tinggal sedikit, Ma," sahut Anna.
__ADS_1
"Ya, sudah. Nanti kita beli." Tiba-tiba, Logan menimpali dengan santai.
Kita? Anna menoleh tercengang.
"Apa kau ingin ikut denganku setelah aku pulang dari gereja?" kata Logan lagi.
Anna tampak berpikir sejenak. "Ya, udah."
"Terus, apalagi kata dokter?" tanya Elina.
"Anna tidak boleh terlalu lelah, stress, atau mengangkat beban yang berat," terang Logan, kemudian menenggak air putihnya.
"Terus, bagaimana soal berhubungan intim? Apa dokter...."
Matthew tak meneruskan ucapannya karena Logan tiba-tiba menyemburkan air ke arah lain, sementara Anna tersedak hingga batuk.
Logan langsung sigap memberikan air untuk Anna, lalu mengelus punggungnya dengan lembut. Elina menatap suaminya, yang juga melirik padanya. Sepertinya, itu bukan topik pembicaraan yang tepat.
Logan menyudahi makan malamnya, lantas beranjak dari kursi menuju ke dapur. Anna melihat tingkah pria itu.
Setelah ia selesai makan dan membantu membereskan meja makan, ia pergi ke kamar.
Entah apa yang dilakukan pria itu kini. Logan duduk di sofa, tangannya yang gemetar memengang pisau untuk mengupas apel secara perlahan. Logan menoleh menyadari kehadiran Anna yang sedang menghampiri.
"Nggak usah, aku a ... AH!"
Logan mendesis, jari telunjuknya terasa perih oleh luka karena tersayat pisau. Anna terhenyak, sontak memeriksa jari yang telah mengeluarkan cukup banyak darah.
"Tuh, kan! Kalau nggak terbiasa, ngapain dilakuin," sindir Anna.
Logan tersenyum sinis. "Kamu meremehkan aku?"
Anna melirik dengan dahi mengernyit. Kali ini, ia sedang tak ingin berdebat. Ia buru-buru keluar kamar untuk mengambil wadah kecil berisi air bersih dan kotak obat.
"Sini tangannya! Biar aku obatin."
Logan membiarkan Anna membersihkan luka, lalu memberikan obat antiseptik meski menahan rasa sakit. Namun, diam-diam pria itu sambil menatap wajah Anna yang begitu tekun membalut lukanya dengan plester.
"Nah, udah selesai," gumam Anna, lalu tanpa sengaja pandangannya mengarah pada Logan. Ia tertegun, menemukan pria itu menatapnya lama dengan senyum tipis yang terlihat manis.
Anna tak mau larut terlalu lama dalam suasana itu. Ia mengalihkan perhatian Logan dengan mengacungkan buah apel di depan wajahnya.
__ADS_1
"Kamu mau makan apel, 'kan? Aku kupasin."
Sejujurnya, Anna merasa canggung, bahkan sampai menunduk dalam ketika mengupas kulit apel. Senyuman Logan menghantui pikirannya, hingga detak jantung Anna berdebar tak keruan.
"Ini." Anna menyodorkan piring berupa apel yang telah dikupas dan dipotong-potong.
"Kau juga makan," kata Logan.
Anna tersenyum mencemooh. Apakah ini cara pria itu untuk membujuknya? Ah, baiklah. Anna mengambil sepotong apel, akan memasukkannya ke dalam mulut.
"Em ... Manis sih. Tapi aku tidak terlalu suka buah apel," komentar Anna.
Logan mendecakkan lidah, menatap gadis itu dengan jengkel. "Aneh. Daging nggak doyan, sekarang buah apel. Apa sih yang kamu suka?"
Anna memangku dagu, tatapannya mengejek. "Pengin tahu banget, ya? Kepo."
"Ha!" desah Logan kesal, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Anna. "Ada yang mau minta dicium rupanya."
Wajah Anna seketika memerah, mendelik, lalu sontak menjauhkah wajahnya. "Dasar maniak!"
Logan tersenyum puas. Menyenangkan juga menggoda gadis itu. Memangnya, hanya Anna saja yang bisa jail.
Piring sudah kosong, Logan menawarkan diri untuk meletakkan piring itu ke dapur, sementara Anna berbaring di ranjang sambil membalas pesan dari Tasya.
Saat kembali, Anna sudah menyelimuti tubuhnya dan mata terpejam. Cepat juga tidurnya, gumam Logan dalam hati.
Pria itu menghampiri ranjang, berbaring di samping Anna, tetapi tidak langsung tertidur. Pikirannya masih melayang pada gambar calon anaknya yang terlihat di monitor saat Anna melakukan USG.
"Aku akan jadi seorang ayah," ucapnya di dalam hati, tersenyum bahagia. "Aku ingin cepat-cepat membawanya dalam gendonganku, lalu aku dan Anna...."
Logan melirik Anna yang terlihat begitu pulas dalam tidurnya. Tanpa suara, Logan mendekat ke arah Anna, memangku kepala, lalu mengarahkan tatapannya pada Anna.
"Aku tidak tahu apa malaikat secantik ini?" Logan tersipu. "Istriku ... Kapan kau akan berpaling padaku? Apa hanya aku saja seperti itu?"
Tanpa diduga, perlahan mata Anna terbuka. Lagi, ia terkejut melihat wajah pria itu sedekat ini. Namun, alih-alih menghindar, Anna justru terpaku.
Logan juga tidak mengalihkan pandangannya, malah sebuah hasrat muncul dalam benaknya.
Matthew tadi menyinggung soal "hubungan suami-istri". Semenjak menikah, Logan dan Anna tidak pernah melakukannya karena mereka sama-sama tidak memiliki perasaan yang saat ini muncul tanpa disadari.
Maka dari itu, apakah ia bisa melakukannya pada istrinya? Jika Anna tetap bergeming begini, berarti dia tidak menolak, 'kan? Logan terhasut oleh hasrat; dimulai dari sentuhan tangannya ke pipi Anna, perlahan jari telunjuknya mengarahkannya pada bibir mungil ranumnya.
__ADS_1
Logan mengelus lembut bibir yang selalu membuatnya tak tahan ingin segera dikecupnya. Mendekatkan wajahnya perlahan, hingga jarak bibir mereka kurang satu senti.
Anna bingung, tapi tetap bergeming. Jantungnya berpacu dengan kencang, ia menegang menunggu bibirnya disentuh. Perlahan, ia menutup mata, pasrah.[]