Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER TIGAPULUH LIMA


__ADS_3

Anna dan Logan berdiri di dalam kamar, termenung melihat ranjang yang luasnya hampir sama seperti ranjang di rumah sakit.


"Terpaksa kamu tidur di sofa ruang tamu," kata Anna, lalu berjalan ke ranjang, duduk di tepinya.


"Aku tidak mau!" tolak Logan, tegas, mengikuti gerakannya.


"Ranjangku kecil. Kamu nggak mau saya tendang lagi, 'kan?"


Tentu saja tidak! "Terus, aku tidur di mana?" tanya Logan, hilang akal.


Anna melihat ke sekeliling, lalu ke lantai di dekat ranjang. "Tidur di sini! Saya akan menggelarkan karpet dulu."


Ide yang buruk! Logan buru-buru mencegah Anna yang akan berdiri. "Aku juga tidak mau tidur di sini! Bagaimana kalau kamu aja yang tidur di sana, sedangkan aku di kasur?"


"Em ... Boleh." Anna mengangguk. "Kalau kamu mau kesehatan bayi ini memburuk karena menyuruh ibunya tidur di lantai, ya baiklah."


Ah, tidak! Logan juga tidak mau disalahkan oleh orangtuanya karena keegoisannya itu. Mau tidak mau, Logan takluk oleh ancaman Anna.


"Ya, sudah. Gelar kasurnya!"


Anna diam-diam tersenyum menang sambil menghampiri sebuah lemari, lalu meraih sebuah karpet yang diletakkan di sampingnya.


Logan tergerak untuk membantu Anna, membawakan karpet itu, lalu menggelarnya bersama. Setelah selesai, Logan akan berbaring, tetapi dicegah oleh Anna karena ingin meletakkan kasur kapuk di atasnya, lalu melapisinya dengan seprai.


"Ini selimut dan bantalnya," kata Anna, menyerahkan benda-benda itu pada suaminya. "Ada lagi yang dibutuhkan?"


"Tidak ada," sahut Logan, lalu berbaring. "Tidurlah. Besok, kita harus bangun pagi, soalnya aku harus pulang untuk ganti baju."


Rintik hujan terdengar di atas genteng, membuat Logan tak bisa memejamkan matanya terasa berat. Kemudian, pandangannya mengarah ke atas. Nyenyak sekali Anna tidur, sampai tak terdengar suara dengkuran.


Supaya bisa tidur, Logan menyalakan musik di ponselnya mendengarkan lewat earphone. Lalu, dipejamkan matanya, merilekskan badan, mencoba untuk tidur.


Ia mengernyit merasakan sesuatu yang menjalar di kakinya. Entah apa itu, dan ia terbangun untuk memastikan. Sontak, ia melompat kaget, melihat seekor kecoa sedang merayap di kakinya.


Ia menedang-nendang, lalu melompat ke ranjang hingga membuat Anna tersentak bangun.


"Ada apa sih?" tanya Anna sambil duduk.


"Tadi ada kecoa," jawab Logan, bergidik.


Kecoa? Karena binatang itu saja Logan membuatnya terbangun. Anna menghela napas panjang. "Masa laki-laki takut sama kecoa."


"Jangan meledekku, ya. Memangnya, kamu berani sama kecoa?" sahut pria itu, tersinggung.


Anna menunduk malu. "Ya—bukannya takut, cuma geli."

__ADS_1


Logan mendengus, merutuk dalam hati. Sekarang, ia memikirkan di mana ia bisa tidur? Di ranjang ini? Tidak—Anna akan menendangnya lagi nanti. Di sofa ruang tamu? Lebih tidak mungkin, karena mertuanya akan bertanya-tanya nanti.


"Logan," panggil Anna, mencolek bahunya beberapa kali.


"Apa?" Logan menoleh.


"Bisa kamu pindah? Saya mau tidur lagi."


"Pindah ke mana?"


Anna menunjuk ke bawah, yang artinya Logan kembali diusir tidur di lantai.


Logan mendecak. "Ya udah, tidur aja," sahutnya ketus.


"Tapi sempit ini."


Pria itu memutar tubuhnya ke hadapan Anna. "Masih ada ruang kok. Lagipula, saya tidak bisa tidur di bawah."


"Karena kecoa?" decak Anna, lalu mendengus. "Tinggal pukul aja pakai sapu."


Logan malah mengambil bantal dan selimut yang ada di lantai, lalu berbaring, alih melakukan hal yang menurutnya menjijikan. "Cepat tidur."


Anna menghela napas gusar, menyimpulkan bahwa ia sangat keberatan jika pria itu di sini.


Ah, terserah! Malas berdebat, apalagi dalam keadaan yang sudah sangat mengantuk. Anna mengalah, membaringkan tubuh dengan membalikkan badan juga.


Akhirnya, mereka bisa tertidur. Tapi, siapa yang tahu, akan terjadi sesuatu dalam semalam tanpa disadari. Anna dan Logan perlahan membalikkan badan. Tiba-tiba, tangan Logan meraih tubuh Anna, merapatkannya ke dalam pelukannya.


Anna pun tak tersentak, malah semakin nyaman dalam posisi seperti ini. Keadaan ini berlangsung sampai suara adzan Subuh berkumandang.


Anna terbangun, membuka mata perlahan sambil memulihkan diri. Ini mimpi atau bukan? Melihat wajah tampan Logan dari dekat saat pertama kali membuka mata.


Namun, tak lama kemudian, matanya terbuka lebar karena menyadari ada hal yang salah. Apa ini? Posisinya kini tidur dalam keadaan berpelukan dengan Logan?


Anna tersentak, spontan mendorong kuat tubuh Logan hingga terjatuh ke bawah.


Logan menjerit, mengelus pinggangnya sambil berseru, "Kamu gila, ya?"


Anna tercengang beberapa saat. Bibirnya dikatup rapat, merasa bersalah pada suaminya. "Maaf," gumamnya sesal.



Tidak banyak yang dilakukan sebagai menantu di rumah ini, karena ada pembantu yang siap mengurusi kebutuhan rumah tangga. Selama seharian, ia hanya berjalan-jalan di sekitar rumah, istirahat di kamar, atau menemani ibu mertuanya mengobrol.


Tapi hari ini, Elina mengajaknya berbelanja beberapa barang keperluan rumah tangga, termasuk susu hamil buat Anna.

__ADS_1


"Merek susu ini sangat bagus untuk janin," kata Elina, meraih kaleng susu hamil dari rak.


Anna tak tahu apa-apa soal itu, jadi hanya mengangguk seraya tersenyum. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Saat dilihat, nomer Kenan yang muncul pada layar.


Aduh, untuk apa pria itu menghubunginya? Lantas, Anna melirik ibu mertuanya dengan cemas. Kalau sampai Elina tahu, bisa dianggap macam-macam.


"Kenapa tidak diangkat?" tanya Elina, mengejutkan Anna hingga ponselnya lepas dari pegangan.


Untung saja tidak jatuh. Anna memulihkan jantungnya yang berdetak tak keruan, lalu menjawab ucapan ibu mertuanya, "Iya, saya jawab telepon dulu, ya, Ma."


Anna tak pergi ke manapun, hanya membelakangi Elina sambil melangkah pelan. "Halo," sahutnya, menjawab telepon.


"Anna? Apa kabar?"


"Kabar aku baik. Bagaimana kabarmu?"


Kenan tersenyum. "Baik juga. Aku baru saja keluar dari kantor suamimu. Kayaknya, dia kurang suka dengan kehadiranku."


Kalau sudah tahu begitu, kenapa malah menghubungi istrinya? Anna cemas, bagaimana kalau Logan tahu soal ini?


"Anna, aku mau ajak kamu makan siang bareng. Kamu mau nggak?"


Langkah Anna terhenti, mengernyit tercengang. "Kenapa kamu lakukan hal ini, padahal jelas-jelas Logan tidak menyukaimu?"


Entah apa yang terjadi, di ujung sana hening dalam beberapa saat, lalu terdengar sahutan suara yang sangat familiar sedang marah.


"Untuk apa kamu mengganggu wanita yang sudah bersuami? Mengajaknya makan siang? Apa kamu tidak tahu malu?"


Anna menghela napas, memejamkan mata sejenak. "Hah! Benar, 'kan? Kenapa Logan sampai seperti ini sih?" gumamnya.


"Memang apa salahnya?" balas Kenan. "Kenapa kamu marah karena hal sepele?"


Karena Anna sudah jadi milik Logan, dan ia sangat membenci Kenan yang berusaha ingin merebutnya.


"Pokoknya, jangan pernah berbicara lagi dengan istriku!"


Kenan memiringkan kepala, tersenyum mencemooh. "Kamu cemburu? Kamu menyukai Anna?"


Anna yang masih mendengarkan dari sambungan telepon, terkejut. Darahnya berdesir, hingga membuat pacu degup jantungnya menjadi cepat.


"Apaan sih?" gumamnya mengomel, mematikan ponsel. "Jantung ini juga, kenapa deg-degan gini?" Ia memukul-mukul dadanya, kesal.


Sudahlah, ia tak mau memikirkan hal yang mustahil. Ia berbalik menghadap Elina. Namun kemudian, ia terkejut karena tidak menemukan sosok ibu mertuanya di mana pun, hanya ada troli belanjaannya saja.


"Ke mana mama? Dikira dia tadi ngikutin aku?" desahnya cemas, mengusap keningnya.[]

__ADS_1


__ADS_2