
Elina hanya pingsan selama Matthew berada di kantor polisi untuk proses hukuman William. Begitu ia membuka mata, Monika langsung menghubunginya, dan Matthew akan kembali setelah melakukan kesaksian.
Langkah Matthew dipercepat, dan kadang setengah berlari sesampainya di rumah sakit. Ia membuka pintu ruangan tempat Elina dirawat. Dewi dan Elina menoleh, melihatnya datang dengan napas terengah-engah.
"Bagaimana keadaan Elina? Apa dia sudah diperiksa oleh dokter?" cecarnya sambil menghampiri ranjang Elina.
Dewi dan Elina saling memandang sekejab, lalu tersenyum, yang membuat Matthew penasaran. Pandangan Matthew dialihkan pada Dewi.
"Ada apa, Ma? Apa yang terjadi?" Lalu, ia memandang Elina, dengan ekspresi cemas yang membuat Elina geli.
Elina tersenyum, menahan tawa. Tangan besar Matthew yang sedang membungkus tangannya, diarahkan dan diletakkan di atas perut Elina. "Aku hamil."
Matthew tercengang, hampir tak percaya. Namun, kebahagiaan yang penuh haru melingkupinya. Ia akan jadi ayah! Begitulah gumaman yang diucapkan di dalam hatinya.
Diraihnya kening Elina, dan sebuah kecupan disematkan di sana. Genggaman tangannya dipererat. Wanita itu ditatapnya dengan mesra dan penuh cinta yang begitu lembut dan hangat.
"Aku bahagia," ucapnya lembut dan pelan.
"Aku juga, Matthew. Mulai sekarang, kita harus menjaga anugrah ini dengan baik."
Matthew mengangguk dan tersenyum. Melihat suasana ini, Dewi undur diri keluar kamar, agar mereka dapat berbicara berdua dalam larutnya kebahagiaan ini.
"Maafkan aku, karena papa, kau jadi terkena bahaya."
Elina tersenyum. "Tidak apa-apa. Tapi, apa kau benar-benar akan memenjarakan papamu?"
Matthew diam seribu bahasa, menunduk dan berpikir dengan penuh kebimbangan. Elina mengerti itu, ia juga mengalami hal yang sama dengannya.
"Dulu, aku juga begitu marah pada ayahku, sering mengutuknya, sering menghindarinya, bahkan pernah terpikir untuk membencinya," ucap Elina pelan dan lirih, membuat Matthew menoleh padanya. "Tapi aku berpikir, bahwa membencinya, tak semudah mengatakannya. Sampai saat ini, aku tetap tidak bisa membenci ayahku. Justru aku memaafkannya."
Matthew tertegun. Bagaimana bisa Elina sebaik ini, bahkan setelah ayahnya memperlakukannya dengan buruk? Di matanya, Elina semakin terlihat mengagumkan.
"Aku sedih karena Ayah menyakiti Ibu dan Frasya, tapi betapa sulit membenci Ayah, yang telah memberiku kehidupan," lanjut Elina, yang kemudian tertawa kecil. "Mungkin jika tidak bukan karena Ayah, Elina yang dicintai oleh Matthew tidak akan pernah terlahir ke dunia ini."
Matthew turut tersenyum. Ya, memang. Jika ia tak bertemu Elina, mungkin kebahagiaan dan cinta yang luar biasa ini tidak akan pernah dirasakan oleh Matthew. Mereka menyadari, bahwa kehidupan sulit yang mereka jalani adalah rencana Tuhan. Takdir yang membawa mereka pada kebahagiaan, yang mereka pikir hanya ada di angan saja.
Seperti yang Elina bilang, sulit membenci seorang ayah. Oleh karenanya Matthew telah bernegosiasi dengan polisi agar melepaskan dari penjara, memulangkan William ke Inggris, dengan syarat perjanjian. William juga dilarang datang ke Indonesia, dan ruang geraknya dibatasi.
"Jadi," kata Matthew, "kita tidak jadi tinggal di Inggris. Walaupun aman, tapi aku hanya bersiaga saja agar William tidak menyentuhmu."
"Aku sama sekali tidak kecewa. Lagipula, aku lebih suka tinggal di Indonesia," sahut Elina.
"Hmm, begitu? Baiklah, aku juga akan tinggal di sini, lalu menyerahkan soal perusahaan di Inggris pada Kevin."
"Apa tidak apa-apa? Kevin pasti kewalahan nanti."
"Tidak. Kalau ada yang penting, aku akan ke Inggris. Atau aku hanya sekadar memeriksa jalannya perusahaan sebulan sekali."
Tangan besar milik Matthew diletakkan di atas tangan Elina. Jari-jarinya membungkusnya dengan lembut, penuh kasih. Pandangan mereka beradu, saling tersenyum, dan larut dalam cinta. Satu kecupan di bibir menghangatkan cinta mereka, di tengah malam yang diguyur oleh hujan.
Malam ini, takkan sedetikpun Matthew lewatkan. Elina akan terus berada di sampingnya, tertidur di ranjang sempit yang sama sambil memeluknya.
-;-;-;-
Mawar putih telah tertata dengan rapi di berbagai sudut sebuah ballroom mewah yang ada di sebuah hotel. Kue pernikahanpun telah di pajang di meja, beserta beberapa minuman. Pelaminan juga dihias serba putih dan bunga mawar.
Seluruh tamu undangan telah datang, duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan untuk menyaksikan sumpah sehidup-semati yang diucapkan oleh pasangan pengantin yang berbahagia itu.
Matthew dan Elina sempat gugup. Meskipun kepalanya agak sedikit pusing, tapi Elina berusaha menahannya karena ada sebuah tangan kekar yang akan menguatkannya untuk menjalani semua prosesi pernikahan.
Janji telah terucap. Tuhanpun merestui pernikahan yang penuh dengan air mata bahagia dari semua orang yang menyaksikannya. Dewi dan Ibu, tak dapat menahan tangis. Frasya bertepuk tangan gembira. Monika tersenyum, dan memperhatikan tingkah Justin yang turut bertepuk tangan. Raima yang turut bahagia, mendoakan pernikahan sahabatnya itu. Akhirnya Elina mendapat kebahagiaan sejatinya.
Elina dan Matthew berjalan menuju pelaminan, dengan diiringi oleh kelopak bunga yang dilemparkan oleh beberapa tamu undangan. Tersenyum, saling menatap mesra.
__ADS_1
Setelah itu, giliran melemparkan bunga. Seorang gadis berbaju hijau toska yang mendapatkan bunga itu. Gadis itu tidak menyangka bahwa bunga itu akan jatuh ke tangannya. Padahal, ia ikut-ikutan saja karena paksaan.
Beberapa orang naik ke atas pelaminan setelah acara itu, memberi selamat pada pasangan yang begitu serasi itu. Dewi dan Ibu menaiki pelaminan untuk pertama kali. Mereka memeluk anaknya.
"Selamat, ya, Nak. Ingat, kau harus jadi istri yang baik, yang patuh pada suamimu. Apa pun yang terjadi, dampingi Matthew, dan jadilah ibu yang baik," kata Ibu pada Elina, dengan beruraian air mata yang tak kuasa meleleh dari pelupuk matanya. Tangan Ibu mengelus perut Elina, yang berisi janin kecil, dengan lembut.
Dewi melepaskan pelukannya, mengecup kening Matthew dan menatapnya. "Mulai sekarang, kau adalah suami Elina. Bersikaplah sebagai suami yang baik dan lembut, juga bertanggung jawab."
"Jangan sakiti dia!" tambah Monika menimpali. "Ingat itu. Oke?"
Matthew mengangguk, tersenyum, sampai tanpa sadar air mata haru menggenang di mata birunya.
Kemudian, Frasya datang, sekonyong-konyong memeluk Elina. Di belakangnya ada Raima yang sedang menyaksikan kemanjaannya pada Elina. "Kakakku akan pergi dibawa oleh kak Matthew," selorohnya, berpura-pura merajuk. "Tapi aku bahagia, karena Kakak menikah dengan orang yang mencintaimu dan dicintai olehmu. Jadi, selamat, ya, Kak."
Raima maju ke depan setelahnya. Memeluk Elina, dan menjabat tangan Matthew sembari memberi selamat. "Mister, sahabatku ini sangat pendiam dan suka memendam perasaannya sendiri. Jadi, usahakan agar kau menjadi temannya untuk berbagi. Elin, tugasku untuk mendengarkan kesedihanmu sudah selesai. Aku hanya bisa mendoakan kebahagiaan kalian."
Elina sedih mendengar ucapan Raima. Dipeluknya wanita, erat. Kemudian, ia berkata setelah melepaskan pelukannya, "Kau akan terus menjadi sahabatku. Aku akan mengunjungimu. Jangan pernah bosan mendengarkan curhatanku, ya?"
Raima mengangguk, terkekeh. "Iya, deh."
Beberapa orang berkumpul di atas pelaminan. Raima langsung berada di sisi kiri Elina, begitu mendengar Frasya berseru meminta difoto dengan pengantin. Matthew mengandeng tangan Elina, mulai tersenyum di hadapan kamera.
Sang photografer memberi aba-aba. 1, 2, 3! Sebuah momen indah yang akan Elina dan Matthew kenang selamanya terekam dalam sebuah foto.
Matthew dan Elina saling memandang, dengan tangan tergenggam erat dan saling tersenyum. Elina pikir, semua ini hanya akan menjadi mimpi belaka. Tidak akan ada yang mau menikah dengannya, sampai ia putus harapan.
Bertemu dengan Matthew adalah sebuah takdir. Meski semuanya berawal dari sebuah kesalahan, tapi Tuhan menuntunnya sampai ke arahnya, memberikan banyak cobaan, kehilangan, perpisahan yang menyakitkan, hingga cinta ini begitu kuat dan berakhir dengan bahagia.
Kini ia mengerti, bahwa tidak semua yang telah kita rencanakan dan inginkan bisa terwujud. Tapi Tuhan akan menggantinya dengan hal yang lebih baik dari yang kita ingini. Setiap ujian yang Tuhan berikan memang sangat menyakitkan, meski begitu semua itu tidak akan selamanya seperti itu. Akan ada takdir lain yang begitu indah di sana. Yang menunggu uluran tangan kita untuk menjemputnya.[]
Epilog
Telah ia susuri setiap sudut ruangan ini. Berkeliling, bertanya, bahkan sampai keluar ruangan.
"Hei!" sapa seseorang dari belakang, menepuk pundaknya.
Seorang pria bule seperti dirinya, berambut kuning, dengan senyum khas nakalnya. Berdiri dengan tangan kanan memegang segelas koktail berwarna biru. Dia adalah Fritz.
"Kau sedang apa?" tanyanya, dengan memakai bahasa Inggris.
"Tidak ada," jawabnya.
"Oh, iya, Malvin. Di mana gadis yang tadi kau gandeng itu? Dia cantik."
"Oh, dia Eiliya, calon istriku," jawab Malvin, matanya masih mencari-cari sosok gadis bergaun hijau toska.
Fritz melihat gelagat Malvin, dan tidak jadi membahas soal gadis itu. "Kau sedang apa sih, sejak tadi?"
"Aku mencari gadis itu. Kau lihat dia?"
Apa Malvin tidak fokus sejak tadi? Fritz tersenyum geli. Bukankah, ia menanyakan hal yang sama pada Malvin. Tentu saja, ia tidak tahu di mana gadis itu.
Tetapi ia memberikan jawaban alternatif lain. "Coba cari dia ke toilet?"
Malvin menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Fritz, lalu mulai mencari ke sana. Ia tak langsung masuk ke dalam kamar mandi, hanya bertanya pada seorang wanita yang keluar dari dalam sana. Ia menanyakan soal Eiliya, tapi kata wanita itu tidak ada seorangpun di sana. Setelah dicek dari luar pintu, toilet memang kosong. Malvin menghela napas kesal.
-;-;-;-
Elina sedang memijat keningnya yang terasa pusing. Hari ini sangat melelahkan, dan ia minta izin untuk istirahat di sebuah ruangan khusus untuknya.
Sebuah suara pintu terbuka datang dari arah belakang. Ia menoleh, menemukan sosok gadis bergaun hijau toska sedang mematung menatapnya. Ia ingat, dia yang menangkap buket bunganya tadi. Gadis itu tersipu dan meminta maaf.
"Saya kira ini toilet umum," katanya beralasan. "Habisnya, saya tidak menemukan toilet sejak tadi. Maaf, ya, Kak."
__ADS_1
Elina tersenyum. "Nggak apa-apa."
Gadis itu berjalan mendekat ke arahnya, lalu mengulurkan tangan. "Selamat atas pernikahanmu, ya? Aku doakan semoga pernikahannya langgeng." Ucapan yang lugu itu, membuat Elina tersenyum geli.
"Siapa namamu?" tanyanya kemudian.
Baru saja gadis itu akan menjawab, Matthew datang sambil membawa sebuah nampan berisi makanan dan susu hamil untuk Elina. Dia tertegun dan bertanya:
"Kau siapa?"
Gadis itu sempat terpesona pada Matthew. Pria itu bukan hanya tampan, baik hati, perhatian, dan sikapnya sangat manis itu loh, yang membawakan makanan untuk istrinya. Elina sangat beruntung, dan ia jadi sangat iri.
"Namaku Eiliya, Kak."
Elina menceritakan kedatangan Eiliya ke sini. Matthew hanya tersenyum mengerti, dan tak mempermasalahkannya.
Ponsel Eiliya berdering. Ck! Dari pria yang menyebalkan itu! Jadi malas angkat.
"Kenapa?" tanya Elina, yang memperhatikan sikapnya itu.
"Ah, nggak penting kok, Kak."
Mau apa lagi sih, nih cowok? Dia menerornya terus sampai telepon darinya diangkat. Terpaksa Eiliya menjawabnya.
"Ha...."
"Di mana kau?"
Eiliya melirik pasangan itu. Ia tak mau membuat keributan, makanya ia berjalan keluar setelah meminta izin pada Elina dan Matthew. Namun, ia terkejut begitu membuka pintu. Malvin tepat ada di depannya!
Malvin menutup teleponnya, lalu melirik ke arah Matthew dan Elina.
"Malvin?" sapa Matthew.
Malvin menjawab sapaannya, berjalan masuk ke dalam, lalu menjabat tangannya sembari mengucapkan selamat.
Matthew menjelaskan bahwa Malvin adalah sahabatnya Fritz, yang turut menjadi investor di perusahaannya yang ada di Inggris. Dan Malvin memperkenalkan Eiliya sebagai calon istrinya pada Matthew.
Pasangan itu kaget dan tidak menyangka tentang fakta gadis itu. Pantas saja, buket bunga jatuh ke tangan Eiliya. Sebentar lagi, dia juga akan menjadi pengantin.
"Maaf, kalau Eiliya sudah tidak sopan dan mengganggu kalian," kata Malvin.
"Sama sekali tidak," jawab Elina tulus.
"Kalau begitu, kami permisi."
Matthew dan Elina mengangguk, mempersilakan mereka pergi. Kemudian, mereka saling memandang heran. Pasangan tadi itu... agak sedikit aneh. Menurut Elina, Eiliya tampak tak senang ketika Malvin merangkul pundaknya.
"Mungkin mereka sedang bertengkar," kata Matthew berpendapat. "Biarlah cinta yang menyatukan mereka lagi."
Ya, Elina setuju. Cinta yang membuat pertengkaran dan benci mereda. Sama seperti mereka, yang bersatu karena cinta.[]
**Tamat
-;-;-;-
Author note: Makasih sudah membaca novelku ini. aku nggak bisa ngomong apa2, kecuali mengucapkan perpisahan pada Matthew dan Elina.
Oh, ya makasih atas like dan votenya, bikin aku semakin semangat untuk terus menulis, walaupun jadwalnya tersendat2 dan padat.
untuk yang komen, makasih dan maaf cuma di like dan nggak dibales. sumpah, aku senang banget baca komenan kalian.
sebelum say good bye, kalo berkenan, baca cerita aku yang selanjutnya. nggak maksa sih. judulnya? cek aja di akun aku.
__ADS_1
oke, sampai sini kisah ini. Bye**...