
"Apa kau mengingatku, Matthew?"
"Umurku boleh 60 tahun, tapi aku tidak sepikun kau," sahut Matthew dengan dingin dan tanpa melirik sedikitpun ke arah wanita itu. "Apa maumu?"
Wanita yang bernama Charlotte itu tersenyum. "Responsmu sangat cepat. Tapi, apa kau tidak mau tahu tentang kabar ibu tirimu dulu?"
Matthew menghela napas panjang, menatap wanita itu dengan malas. "Bagaimana kabar Aurellie?"
"Wah! Kau lebih menyayangi adik tirimu dibanding aku? Sampai kapan kau membenciku? Papamu sudah meninggal, dan seharusnya rasa bencimu berkurang, bukan?"
Entah apa maunya wanita itu, Matthew tidak tahan berlama-lama dengannya. "Aku sibuk. Jika tidak ada yang ingin kau katakan, silakan keluar!"
Charlotte tertawa keras sambil menutup mulut. "Oke. Sebelumnya, aku ingin tanya. Apa kau sudah menulis surat wasiat tentang pembagian aset." Matthew mengernyit mendengarnya. "Kalau begitu, aku punya saran untukmu."
"Aku belum mau mati, jadi aku tidak perlu membuat atau mendengar saranmu," timpal Matthew cepat, dengan sinis.
Charlotte mengepalkan tangan, geram. Namun, ia berusaha menahan dan kembali tersenyum. "Tidak ada salahnya kalau kau dengar saranku sekarang. Jadi begini. Jika kau menyayangi Aurellie, jadikan dia pemilik utama perusahaan Jonathan Group yang ada di London."
__ADS_1
Matthew menatapnya tanpa ekspresi, lalu tersenyum mencemooh. "Umurmu sudah tidak muda lagi, apa kau tidak ingat pada Tuhan?" Ia menggeleng sambil mendecakkan lidah. "Sifat tamakmu itu belum hilang juga."
Dari dulu sampai sekarang, Matthew selalu melontarkan ucapan pedas yang membakar hatinya. Dulu, ia tahan semua karena tidak mau dianggap buruk di mata William. Sekarang, pria tua itu telah membusuk dengan tanah. Jadi, apakah saatnya ia melontarkan semua kemarahan yang dipendamnya?
Charlotte akan melakukan itu, tetapi kali ini sepertinya ia harus menahannya lagi dan mengalah. Kalau tidak, apa yang menjadi tujuannya tidak akan tercapai.
"Hah! Matthew, ini bukan karena aku, tapi demi Aurellie," sahutnya, agak melunak.
Matthew menegakkan badannya. "Aurellie sudah mendapatkan bagian warisan tanpa menuntut lebih. Dia juga sudah ditempatkan di jabatan yang sesuai dengan kemampuannya."
Matthew geram. Bisa-bisanya wanita itu menyudutkannya. "Siapa bilang aku tidak punya ahli waris?"
"Logan maksudmu?" tukas Carlotte, mencemooh. "Kau mau memberikannya pada anak yang tidak punya asal-usul jelas itu? Yang benar saja! Lebih baik, kau berikan pada adik tirimu, yang jelas-jelas sedarah denganmu—"
Darah Matthew mendidih, sontak ia beranjak dari kursi sambil memukul meja. "Tutup mulutmu!"
__ADS_1
"Aku tidak mau tutup mulut, aku muak diam saja diremehkan olehmu," balas Carlotte.
"Siapa kau berani berkata begitu kepadaku?"
"Aku ibu tirimu!"
"Ibu tiri?" sahut Matthew, berseru. Tawa sinisnya terkembang. "Bahkan aku tidak pernah mengakuimu!"
Charlotte memelototkan mata, tapi diam seribu bahasa.
"Untung saja, Aurellie diasuh olehku dan Elina. Jika tidak, mungkin dia akan setamak ibunya," sindir Matthew. "Pergilah!"
Charlotte kehabisan kata, tidak ada yang bisa dilakukannya lagi selain meraih tasnya lalu keluar dari ruangan ini dengan derap langkah kencang. Saat di luar ruangan, ia berpapasan dengan Logan.
Logan tercengang sejenak, lalu menyapa, "Halo, Omma—" Namun, Charlotte tak mengindahkan dan melintas di depannya begitu saja dengan wajah masam.
Logan menatap kepergiannya, lalu melirik pintu ruang kerja Matthew. Apa mereka baru saja berbicara? Apa yang mereka bicarakan, sampai neneknya kesal begitu?[]
__ADS_1