
Semua orang menikmati pesta, tetapi Anna lebih banyak diam, berdiri di dekat jendela ballroom yang menampilkan pemandangan kota Jakarta di malam hari, sementara Kenan menemui beberapa orang yang dikenalnya.
Bukannya Kenan enggan memperkenalkan gadis itu pada kenalannya, melainkan karena Anna yang sedang tidak ingin bergabung dengan mereka.
Tak ia sadari, Kenan menghampiri dan memanggilnya. "Anna? Apa kamu sedang tidak enak badan? Aku akan mengantarkanmu pulang."
Anna menoleh, tersenyum simpul yang dipaksakan. "Aku baik-baik saja. Cuma, aku mungkin belum beradaptasi dengan mereka."
Pria itu menatap Anna, mencari makna dari ekspresi dan ucapannya. "Kamu pasti merasa bosan di sini?"
"Nggak kok, aku menikmati pestanya," kilah Anna. "Kenapa kamu bilang gitu?"
"Habisnya, kamu nggak mau bergabung dengan yang lainnya," sahut Kenan. "Kalau kamu tidak kenal mereka, aku bisa memperkenalkan mereka padamu."
Bukan itu masalahnya, tetapi perasaan Anna yang sedang tidak menentu inilah penyebabnya.
Anna tak mengatakan apa pun lagi, menyesap minumannya sedikit, lalu berkata, "Aku mau ke kamar mandi dulu."
Alih-alih untuk buang air, Anna ke toilet hanya demi menghindari ucapan Kenan. Namun, justru pria yang sangat dihindarinya malah muncul di hadapannya.
Logan muncul dari balik lorong ketika Anna hendak keluar dari ruang pesta. Mereka terkejut dan saling menatap dengan perasaan campur aduk.
"Aaaa ... Maaf. Saya permisi," kata Anna, canggung, berjalan biasa meski rasanya ingin buru-buru melewati Logan.
Logan menoleh sedikit pada Anna. Tidak ada perasaan marah, ataupun kebencian yang terlihat di matanya. Yang tertinggal hanya rasa bersalah.
Perasaan itu terus hinggap, meskipun Nina menyambutnya dengan senyum riang ketika Logan memasuki ruangan.
"Dari mana saja, Sayang?" tanya Nina. "Para tamu undangan banyak yang nanyain kamu lho."
"Kan aku udah ada di sini," sahut Logan, memaksakan senyum. "Yuk, temui mereka."
🍀
Seorang pria muda berseragam sopir memasuki tempat parkir. Majikannya mengatakan bahwa pesta hampir usai, dan mereka akan segera pulang.
Dia menghampiri mobil mewah yang tadi Tama sentuh. Sebelum masuk ke dalam mobil, dibersihkan dulu body mobilnya—majikan tidak suka kalau mobilnya tidak mengkilat.
Pada saat ia sedang mengelap body pintu mobil, ia tertegun melihat sebuah benda yang ada dekat ban depan. Diambilnya benda itu, lalu diamati.
"Flashdisk siapa ini? Apa punya Nona Nina?" gumamnya.
Mungkin memang punya majikannya, makanya ia simpan benda itu di sakunya. Tak lama kemudian, Nina pun sampai di tempat parkir bersama dengan kedua orangtuanya dan Logan.
Sopir itu setengah membungkuk, lalu membukakan pintu belakang mobil untuk Nina.
"Aku pulang dulu, ya, Logan," pamit Nina.
"Hmm." Logan mengangguk. "Istirahatlah. Besok, aku akan mengantarkanmu ke bandara."
Logan mengecup kening Nina sebelum gadis itu masuk ke dalam mobil, sementara orangtuanya di mobil terpisah. Setelah mobil keluarga Anna keluar dari tempat parkir, Logan menemui orangtuanya yang baru saja sampai di tempat parkir.
"Mama sama Papa pulang duluan aja," kata Logan pada Elina dan Matthew.
"Apa kamu akan mampir ke rumah?" tanya Elina, raut wajahnya penuh harap.
"Tidak, Ma. Mungkin aku akan langsung ke vila," jawab Logan.
Elina mengangguk meski merasa kecewa. Matthew menghela Elina untuk masuk ke dalam mobil, dan Logan mengantarkan kepergian mereka.
Mobil mewah berwarna silver itu melaju meninggalkan hotel. Setelah itu, Logan termenung sesaat, memikirkan sesuatu sebelum menghampiri mobilnya.
__ADS_1
🍀
Mobil yang ditumpangi oleh Nina, telah sampai di kediaman rumah mewah bercat putih bak istana itu. Pada saat Nina melangkah masuk, sang supir memanggil sambil mengejarnya.
Nina berhenti dan menatap si supir yang sudah menghadapnya dengan napas terengah-engah. "Kenapa, Pak?"
"Ini punya Nona, bukan?" tanya sopir itu, menyodorkan sebuah flashdisk.
Nina menerimanya dengan dahi mengernyit. "Kayaknya bukan. Di mana kamu menemukannya?"
"Di dekat ban mobil," jawab sopir itu sembari menunjuk pada ban mobil miliknya.
Nina tampak ragu, tapi menduga sesuatu. Seingatnya, ia tak pernah memiliki flashdisk ini, apalagi ia bukan tipe wanita yang teledor terhadap barang penting seperti ini.
Apa mungkin punya orang? Kalau begitu, ia akan meletakkan benda ini di dalam dompetnya. Nanti, ia akan memeriksa isi file-nya.
"Ya, sudah. Kalau begitu, kamu boleh pergi," kata wanita itu, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
🍀
Kenan mengantarkan Anna sampai rumah. Anna membuka sabuk pengaman dan berkata sebelum turun dari mobil.
"Terima kasih, ya."
"Sama-sama," jawab Kenan, tersenyum simpul.
"Aku masuk ke dalam rumah dulu, ya."
"Hmm ... Anna!" panggil Kenan tiba-tiba. Padahal, Anna bersiap akan membuka pintu mobil. "Besok aku jemput, ya?"
Anna menghela napas, memelas. "Terima kasih, tidak usah."
Ditolak untuk kesekian kalinya, dan menyerah lagi pada akhirnya. Kenan hanya dapat melihatnya masuk ke dalam rumah dari kejauhan.
"Kenapa sulit sekali buat menggapai kamu, Anna?" gumamnya.
"Kakak!" sambut Tasya, tersenyum. Anna jadi merasakan firasat buruk. "Tadi itu siapa?"
Tuh, kan! Anna melepaskan lengan Tasya yang melingkari lengannya. "Kepo," jawab Anna, judes.
Awalnya, Tasya tersinggung, tapi ia tidak menyerah. "Pacar, ya?"
"Buuuukaaan," sahut kakaknya, mulai jengkel sambil menaiki anak tangga.
"Terus, siapa?" cecar Tasya.
Anna tak menjawab, terus menaiki tangga, dan akhirnya sampai juga di depan kamarnya. Ia membuka pintu, berhenti sejenak untuk bicara sebelum masuk ke kamar.
"Tasya adikku sayang, tadi itu namanya Kenan, bos gue. Cuma teman, bukan gebetan, bukan juga pacar. Jelas, ya?"
Berhasil, Tasya akhirnya bungkam. Anna pun bisa masuk ke dalam kamarnya.
Ia menghela napas, lalu melompat ke ranjang. Sepatu heels-nya dilepaskan dengan cara menggoyang-goyangkan kakinya. Kalau ibunya melihat ini, maka dia mengomel:
"Kebiasaan! Anak gadis nggak boleh gitu kelakuannya."
Bagaimana lagi, ia sedang lelah, malas, dan galau.
Tunggu dulu! Galau?
Anna tertegun, menegakkan kepalanya. "Kenapa gue jadi galau gini, ya?" Ia beranjak, duduk. "Tenangin diri lo, Anna."
__ADS_1
Ia menghirup napas dalam-dalam, lalu dihelanya perlahan hingga beberapa kali sambil menutup mata.
"Pak Logan membenci lo, jadi anggap dia orang asing. Dan kejadian malam itu ... Lupakan!"
🍀
LONDON
Sudah tiga hari Nina di London. Tinggal bersama dengan Tita, sahabatnya, di sebuah rumah khusus untuk keluarganya tempati.
Selama di sini, berlatih piano adalah kegiatan yang sering dilakukan. Perpustakaan yang besar ini, menjadi tempat berlatihnya dan tempat piano diletakkan.
Seperti biasa, Nina sedang berlatih di sini bersama dengan seorang guru musik, Miss Chloe Macfadyen. Tita menyaksikannya sambil minum teh di sebuah sofa yang ada di dekat piano.
Senyum Nina mengembang setiap jemarinya menari di tuts piano. Permainan pianonya semakin membaik, dan pelatihnya sangat puas dengan hasil latihan hari ini.
Miss Chloe pergi dari ruangan dengan diantarkan oleh pelayan. Tita beranjak, lalu menghampiri Nina.
"Udah selesai, istirahatin tuh jari-jari kamu yang cantik itu," celetuk Tita.
Nina menimpali dengan senyuman, masih terus bermain. Merasa dicuekin, Tita cemberut.
"Kacang mahaaaaal!" sindirnya ketus.
"Ada apa lo ke sini?" tanya Nina.
"Mau nengokin sahabat gue yang mulai sombong karena udah tunangan."
Nina terkekeh, berhenti bermain piano, lalu memutar kursinya ke hadapan Tita. "Mana ada gue sombong," bantahnya.
Wanita itu beranjak, dengan anggunnya berjalan menuju sebuah meja kerja, lalu duduk di kursi. Pada ujung meja, terdapat sebuah buku "Kumpulan Musik-Musik Klasik". Nina meraihnya, membuka lembaran demi lembaran untuk mencari sebuah lagu karya pianis terkenal.
"Menurut lo, lagu apa yang gue mainkan untuk lomba, ya?" gumam Nina.
Tita mana mengerti soal begituan, dan juga tidak tertarik. Ia tak mau mengganggu gadis itu, membuka sebuah kotak berwarna biru.
"Hmm ... Cuma benda-benda yang nggak penting—" Tita tertegun, heran menemukan sebuah flashdisk warna merah yang tampak murahan."
Benaran punya Nina? Gadis itu kan alergi barang murah, apalagi desainnya biasa sekali.
"Nina, ini punya lo?" tanya Tita.
Nina mengalihkan pandangannya, melihat benda yang diperlihatkan oleh Tita. "Bukan ... Oh, iya! Aku lupa!"
Nina langsung menyambar flashdisk itu, membuat Tita bingung. Sambil menjelaskan bahwa itu adalah flashdisk temuan, Nina meraih laptop.
Ujung flashdisk, dimasukkan dalam konektor yang ada di sebelah kanan papan keyboard laptop. Nina mulai mencari file yang tersimpan dalam flashdisk itu.
Hanya ada satu file? Agak mencurigakan, apalagi nama file-nya aneh: "Rahasia MR. L"
"Tunggu, Nin!" cegah Tita, ketika Nina mengarahkan kursor ke fail itu. "Mending jangan dibuka. Siapa tahu isinya pribadi? Lihat deh! Nama failnya aneh."
Iya juga sih? Tapi Nina merasa sangat penasaran. Ia jadi ragu untuk melihat isi fail itu.
"Tapi aku perlu melihatnya. Takutnya, orang yang punya mencari-cari flashdisk ini," tangkis Nina.
"Ah, terserah lo aja deh!" Tita mengalah akhirnya.
Nina kembali memalingkan wajahnya ke layar laptop. Kursor masih mengarah ke fail itu, tinggal meng-klik saja, isi fail pun terbuka.
Sebuah video! Nina pun tak ragu untuk menekan tombol "play".
__ADS_1
Apa ini? Mata kedua wanita itu terbelalak melihat adegan yang ada di video itu. Nina menutup mulutnya, matanya telah digenangi oleh air mata.
"Nina, bukannya ini Logan?" tanya Tita, syok.[]