Matthelina

Matthelina
Chapter 23


__ADS_3

Suara berbisik memekakkan telinganya, mengganggu tidurnya yang nyenyak. Tapi kok, tempat tidurnya tidak empuk dan sempit?


Matthew pun membuka mata, melihat wajah Monika yang mendekati wajahnya. Ia terhenyak. "Kakak, ngapain di sini?" Ia duduk sambil mengucek matanya.


"Seharusnya, aku yang tanya: sedang apa kau di sini." Lalu Monika menutup hidungnya. "Kau mabuk lagi?"


Dari ucapan Monikalah, ia baru sadar kalau semalam ia tidur di sini. Tapi bagaimana bisa? Coba ia ingat dulu....


Pada saat itu, ia melihat Elina sedang melintas, akan pergi ke arah dapur. Seketika, sekelebat ingatan berputar kembali ke kejadian tadi malam. Ia mendelik. Astaga! Bodohnya tingkahnya semalam. Bagaimana cara menghadapinya nanti?


"Jam berapa sekarang, Kak?" tanya Matthew.


Monika melirik arlojinya sekilas. "Jam 7 pagi."


Gawat! Sekonyong-konyong Matthew melompat dari sofa, berlari ke kamarnya dan bergegas mandi. Setelah bersiap, ia keluar kamar. Namun, berhenti di depan kamar Justin yang pintunya terbuka karena melihat sosok Elina.


"Elina," panggilnya sambil berjalan masuk ke dalam ruangan itu.


Yang dipanggilpun menengok, lalu berdiri di hadapannya.


Matthew mengumpulkan semua keberaniannya. Setelah menghela napas dan merasa sudah siap, akhirnya ia berkata, "Tadi malam ... aku minta maaf."


Saat itu, Matthew merasa tegang. Cemas jika wanita itu akan bersikap dingin, tak mengacuhkannya, bahkan marah. Tidak apa, ia akan terima itu. Semua itu gara-gara minuman laknat itu!


"Kenapa harus minta maaf?"


Matthew tertegun. Apa maksud wanita ini? "Elina, semalam kan aku ... tidak. Aku ingat apa yang telah terjadi semalam, dan aku benar-benar minta maaf."


"Jadi, yang Anda katakan semalam itu tidak serius?" kata Elina polos. Ah, syukurlah. Sudah ia bilang, omongan orang yang sedang mabuk selalu ngaco.


Matthew mencoba memutar balik memorinya. "Tidak, semua yang aku katakan itu serius. Termasuk ini." Matthew meraih kedua lengan Elina, merapatkan tubuhnya ke arahnya, lalu mencium bibirnya dengan tiba-tiba. "Aku akan melakukannya, jika kau membantah, ataupun mengatakan ucapan yang tidak aku suka."


Elina tercengang lama, sampai pria itu melepaskan dan berbalik, hendak keluar kamar. Ia lantas berpikir, mungkin saatnya untuk membuat keputusan.


"Matthew, nanti aku ingin berbicara denganmu," panggilnya.


Sebenarnya, Matthew hendak tersenyum, tapi sengaja ditahannya. Ia bersorak dalam hati, senang karena wanita itu takluk pada gertakannya dan mau berbicara lagi dengannya.


"Oke, nanti di balkon halaman belakang."


Elina mengangguk, setelah itu Matthew berbalik dan keluar kamar. Elina kembali melakukan pekerjaannya, mengalihkan perhatian pada Justin yang sedari tadi asyik memainkan smartphone-nya.

__ADS_1


-;-;-;-


Mbah Google menuliskan fakta bahwa yang mengalami mengidam bukan hanya istrinya, tapi juga suami. Itulah yang dirasakan oleh Matthew saat ini.


Rasanya ia ingin sekali memakan seporsi rujak buah, dengan sambal yang pedas. Ia sampai merepotkan sekertarisnya untuk mencari rujak yang enak sebelum ia pulang, sampai dapat.


Dua porsi rujak ia beli dan bawa pulang. Sekarang, ia sedang menunggu Elina di balkon, dengan tersedia segelas susu untuk wanita itu. Ia tersenyum, sambil memandangi halaman belakangnya yang baru saja rumputnya dipangkas.


Suara langkah kaki terdengar. Itu pasti Elina. Gumamnya. Cepat-cepat ia memudarkan senyumnya, untuk menjaga imejnya supaya gadis itu takut pada peringatannya tadi.


Ia menoleh. Gadis itu datang dengan memakai baju tidur lengan panjang berwarna putih yang panjangnya sebatas lutut. Rambutnya dicepol, terlihat leher putihnya yang menggoyahkan iman Matthew. Ia berjalan agak perlahan, sepertinya ragu.


"Sini, mendekatlah." kata Matthew datar dan dingin.


Matthew menyuruhnya duduk di sampingnya. Rujak dan susu hamil di letakkan di antara mereka berdua, lalu ia membukanya dan memberikan seporsi rujak kepada Elina.


Rujak? Elina heran, lalu menatap Matthew. Kenapa pria ini membelikannya? Padahal, ia tak memintanya.


"Makanlah. Aku menyuruh sekertarisku membelinya karena aku sedang mengidam," ujar Matthew, nada bicaranya seolah sedang membanggakan diri bahwa ia mengalami itu, yang berarti bahwa ikatannya dengan bayi itu sangat kuat.


"Tapi, aku tidak suka makanan asam."


Elina, apa kau lupa? Matthew langsung melemparkan tatapan dingin padanya. Elina bergidik sejenak. Ah, pria ini. Bergantung sekali dengan ancaman itu. Meskipun tidak mau, akhirnya ia terpaksa memakan rujak itu.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"


"Ada dua topik. Karena kau memintaku untuk menceritakannya, kita mulai dari cerita Bibi Onah," jawab Elina.


Matthew menatap Elina serius, memasang telinga, dan berhenti memakan rujaknya yang tinggal sedikit. Sebenarnya, ia tak begitu peduli dan penasaran. Tetapi gara-gara cerita ini, ia dan Elina jadi bertengkar. Jadi, ia terpaksa membahasnya untuk menghargai Elina dan mencegah kemarahannya.


"Sebenarnya, Pak Dimas tidak seperti yang kau pikirkan."


"Maksudnya?" tanya Matthew tersinggung.


Dimas Hardiwiryo, seorang pemuda baik hati yang tampan, lembut, dan santun, begitulah yang Bibi Onah sesaat pria itu masih lajang.


Kedua orangtuanya di Solo. Dia memiliki bisnis mabel di sana, tapi juga mengelola perusahaan di bidang jasa di Jakarta. Seorang entrepreneur muda sukses pujaan para wanita.


Umurnya sudah menginjak 30 tahun, dan itu membuat orangtuanya cemas. Ibunya, Sri Ayu Hardiwiryo, berteman baik dengan Dewi. Ia mengenalkan anaknya pada Dewi untuk dijodohkan dengan anak gadisnya yang sangat cantik, yaitu Monika.


Monika yang sangat periang, supel, dan suka kebebasan, tidak menerima perjodohan itu. Waktu itu umurnya masih 27 tahun, dan ia masih ingin meneruskan kuliah S2 di Belanda.

__ADS_1


Tetapi bagi Dewi, umur 27 tahun adalah umur yang sangat terlambat untuk menikah. Monika ingin membantah, tapi ia tak bisa menolak keinginan sang ibu yang sangat disayanginya. Akhirnya, ia setuju berkenalan dengan Dimas.


Dimas adalah pria yang sangat naif soal cinta. Tapi sepertinya, rasa cinta yang timbul sejak ia melihat gadis itu muncul dengan memakai setelan gaun merah muda polos dan rambut tergerai, adalah takdir yang digariskan oleh Tuhan. Sikap Monika yang tidak dibuat-buat, pendapatnya tentang kejadian yang ada di dunia dengan wawasannya yang luas semakin membuatnya terpukau.


Tak butuh waktu lama, Dimas menyetujui pernikahan mereka, yang akan dilangsungkan kurang sebulan sejak pertemuan pertama. Hal yang membahagiakan baginya dan bagi dua keluarga. Tapi, apa ada yang memikirkan perasaan Monika?


Di Belanda, Monika memiliki Justin yang sangat dicintainya. Hubungan mereka selama ini disembunyikan karena sudah berjanji akan fokus kuliah. Kalau sampai ibunya tahu bahwa ia melanggarnya, maka ia harus menghadapi kekecewaan Dewi yang sulit ia redakan.


Mau tidak mau, Monika memutuskan Justin dan berjalan ke altar bersama dengan Dimas, meski rasanya ia ingin memberontak dan lari dari pernikahannya.


Alih-alih menyesap manisnya pernikahan, Dimas mendapatkan hantaman pahit dari Monika. Tak ada desahan nikmat persetubuhan, Monika menunjukkan sikap dinginnya dan mengabaikan Dimas.


Monika sangat buta, Tuhan telah memasangkannya dengan jodoh yang sangat sabar. Tapi hal itu terjadi tak berlangsung lama, Monika mau menyerahkan tubuhnya pada saat mereka bulan madu di Yunani.


Bertahun-tahun berlalu. Rasa cinta dan sayang Dimas tak pernah luntur karena sikap dingin dan keras kepala Monika. 5 tahun tinggal seatap, pertengkaran yang dimulai oleh Monika, dengan permasalahan yang tidak Dimas mengerti terjadi di rumah ini.


Bi Onah yang jadi saksi pertengkaran itu. Sudah sering ia dengar kata "cerai" keluar dari mulut Monika. Wanita itu juga sering pulang malam, bahkan tak berada di rumah.


Suatu ketika, dua garis merah ditunjukkan oleh dokter kandungan ke hadapan Dimas dan Monika. Dimas menyambutnya dengan bahagia, tapi Monika malah merasa cemas. Monika tak menginginkan anak ini. Monika tak mau punya anak dari pria yang tidak dicintainya.


"Aku mau menggugurkan anak ini!" Bagai disambar petir di siang bolong, Dimas tak menyangka Monika sekejam itu. Ia tak masalah jika Monika membencinya, tapi jangan dia limpahkan kebenciannya pada anak yang tak berdosa itu.


Dimas sama sekali tak marah, justru ia berlutut dan memohon agar membiarkan anak itu lahir. Permohonan itu diterima, Monika mengandung anak itu selama 9 bulan.


Ketika "a little something" bersatu di dalam tubuh kita, otomotis timbulah rasa sayang, yang entah sejak kapan tumbuh. Monika menikmati masa kehamilannya. Bahagia ketika merasakan tendangan kecil di perutnya. Mengelus sayang perutnya, bahkan berbicara dengan bayi itu. Rasanya, bayi ini adalah bagian yang tak dapat terpisahkan darinya.


Seorang bayi laki-laki tampan lahir ke dunia. Ia tersenyum lega, terharu kala mendengar tangisan keras bayinya, yang seolah-olah memanggilnya. Dimas memberikan sebuah nama untuk bayi itu, tetapi Monika kekeh memberikan nama "Justin", sesuai dengan nama mantan kekasih yang dulu dicintainya. Pria itu tidak dapat dimilikinya, sekarang seluruh cintanya diberikan hanya pada anak ini.


Waktu bergulir, tak ada yang berubah sejak Justin lahir. Monika semakin gencar menuntut perceraian dari Dimas. Justin terus berada di tangannya, melarang Dimas untuk menyentuhnya walau sering Dimas memohon.


Suatu ketika pertengkaran hebat terjadi. Entah masalah apa, hingga berujung meminta bercerai. Dimas bersikeras, bahkan menghindari pertengkaran. Jika maunya begitu, Monika memakai cara nekat.


Ia membenturkan kepalanya ke dinding hingga beberapa kali. Dimas berusaha mencegah, tapi Monika mendorongnya hingga jatuh. Sebuah luka lebam membekas di keningnya.


Setelah itu ia berlari ke ruang tamu, meraih sebuah sapu. Ia memukul tubuh, tangan, kaki, dan wajahnya dengan sapu. Bi Onah melihatnya sendiri, tapi ia tak mencegah karena tak mau ikut campur.


Namun ternyata, sikapnya itu salah. Jika ia mencegah perbuatan itu dan diperbolehkan bersaksi dalam sidang cerai, majikannya yang baik hati itu tidak akan difitnah. Monika membeberkan, bahwa kekerasan yang didapatinya adalah perbuatan Dimas.


Lalu, apa yang dilakukan Dimas? Hanya diam, membiarkan semua tuduhan itu dilemparkan padanya. Tidak ada yang boleh bersaksi untuk dirinya. Dan mengikhlaskan rumah tangganya hancur.


Monika berpura-pura menunjukkan kebaikan hatinya, dengan tidak mempenjarakan Dimas. Tetapi, ia tidak memperbolehkan dirinya bertemu dengan Justin, kalau perlu selamanya. Hal itulah yang membuat Dimas nekat menculik Justin.

__ADS_1


Setelah mendengarkan semua cerita Elina, Matthew mendelik frustasi. Ia menggeleng, berkali-kali bergumam "ini bohong. Ini tidak mungkin". Tangannya terkepal kuat.[]


__ADS_2