Matthelina

Matthelina
Chapter 24


__ADS_3

"Ini tidak mungkin. Pembantu itu pasti berbohong kan, Elina?" kata Matthew gusar.


Elina hanya diam, iba melihat kekecewaan pada kakak yang selama ini ia anggap sebagai wanita baik dan penyayang. Tangannya meraih pundak Matthew, dan menyentuhnya lembut. Tetapi Matthew menghelanya.


"Katakan Elina, apa kau percaya kalau kakakku sedingin itu, hah?" Kali ini, Matthew menyergah, *** kuat kedua lengan Elina.


Elina meringis pelan. Di matanya terbesit sinar ketakutan. "Matthew, kau menyakitiku," lirihnya.


Matthew tertegun. Ya, kedua tangannya terlalu erat memegang kedua lengan Elina. Bodoh! Apa yang telah dilakukannya. Kenapa ia sekasar ini? Dilepaskannya pegangan tangannya dari lengan Elina.


Elina bukan takut, tapi ia mengerti pada yang dirasakan Matthew. Lebih baik pria itu sendirian dulu, menenangkan pikiran yang menguras emosinya. Lantas ia beranjak, mengambil susunya.


"Matthew," panggilnya, membuat pria itu menoleh. "Jawabanku hanya ini: tanyakan saja pada orang yang bersangkutan mengenai kebenaran cerita ini."


Elina berbalik, dan pergi meninggalkan Matthew. Akan tetapi, Matthew mengejar dan meraih tangannya.


"Tunggu, Elina." Wanita itu pun berbalik. "Kau bilang, ada dua topik pembicaraan. Satu lagi mengenai apa?"


Elina menatap kedua mata biru Matthew yang jernih sembari berpikir sejenak. "Keputusanku, yang belum tepat untuk dibicarakan sekarang."


-;-;-;-


Karena cerita semalam, Matthew tak mengeluarkan sepatah katapun selama di meja makan. Ia juga tak menyahuti kata Monika, bahkan tak menatapnya sedikitpun. Elina mengamati perubahan sikap ini dalam diam. Tetap melaksanakan tugas, kadang melirik Matthew yang juga melihat ke arahnya.


Sekarang sudah genap sebulan Elina bekerja. Monika memberikan gajinya, saat ia pulang dari kantor.


"Terima kasih, Nyonya," kata Elina.


Monika tersenyum. "Elina, kayaknya susu yang kamu minum berhasil, ya. Kamu kelihatan agak gemuk sekarang."


Elina mengalihkan pandangannya ke bawah. Benar, perutnya telah kelihatan agak membesar sekarang. Ia mendelik. Mungkinkah, kehamilan ini akan diketahui oleh Monika?


"Nyonya, ada yang mau saya bicarakan," ujar Elina sangsi.


"Soal apa?"


-;-;-;-


Kasihan adikku. Gumam Monika yang turun dari lantai atas, melihat wajah Matthew yang terlihat lelah, berjalan ke arahnya sambil melonggarkan dasi.


"Udah pulang? Kok kayaknya capek banget?" sapa Monika, melipat kedua tangannya di dada.


Matthew hanya melirik sekilas. Dengan acuh tak acuh, ia berlalu dari hadapan Monika dan menaiki anak tangga.


Monika mengernyit. Ada apa dengannya? Apa dia tersinggung? Lantas, ia memanggil Matthew. Terpaksa, dia berbalik menatap wanita yang sama sekali tidak ingin ia lihat hari ini.


"Kau itu kenapa? Aku ajak bicara diam saja. Apa aku menyinggungmu? Apa aku salah bicara?"


"Tidak. Ucapanmu tidak salah, tapi sikapmu pada kak Dimas yang salah," kata Matthew agak pelan dan dingin.

__ADS_1


"Dimas? Apa maksudmu?" Monika menaiki anak tangga, menghampiri Matthew, merasa tersinggung.


"Aku sudah tahu semuanya, pernikahanmu."


Wajah Monika memucat, lalu menundukkan kepala. Pantas Matthew bersikap seperti ini, wajahnya memang tidak layak untuk dilihat. Wanita hina ini adalah kakaknya yang di matanya wanita baik-baik. Tapi ternyata, itu hanya terlihat di luar.


"Kak, kau sangat beruntung dipasangkan oleh kak Dimas. Tapi kau terlalu buta, sehingga kau tak melihat semua kebaikan yang selama ini dia tunjukkan," lanjut Matthew, membuat Monika semakin merasa bersalah. "Aku tidak tahu apa yang memicumu melakukan hal kejam itu padanya."


Matthew menegadah, menghela napas. Semua kata yang mengendap di dalam pikirannya terasa menyesakkan.


"Matthew, kau tidak akan mengerti apa yang aku rasakan," ucap Monika lirih. "Menikah dengan orang yang tidak kau cintai dan meninggalkan seseorang yang dicintai sangat menyakitkan. Aku sadar bahwa tidak seharusnya semua itu kulampiaskan pada Dimas."


Ya Tuhan, apa yang dipikirkan Monika? Sudah tahu salah, tapi masih melakukannya. Matthew menghela napas, menenangkan diri. Kemarahan itu tak boleh sampai keluar, karena tidak akan menyelesaikan masalah.


"Kak, aku memang bukan seorang ayah, tapi aku tahu bagaimana perasaan kak Dimas." Seketika, Monika mendongak dan menatapnya. "Tidak ada seorang ayahpun yang ingin berpisah dengan anaknya."


Monika ingin menyela, tapi Matthew menambahkan, "Dia sangat menyayangi Justin, dan pasti merindukannya. Suatu saat nanti, Justin juga seperti itu, sama seperti kau yang merindukan ayah saat dia pergi meninggalkanmu."


Ya, Monika ingat saat itu, betapa kerasnya ia tak menangis, selalu tersenyum dan tegar. Tetapi kala sendirian, hatinya sangat rapuh. Memanggil ayahnya, merindukan pelukannya. Tangisnya pecah seketika. Saat itu, Monika harus kehilangan sang ayah di usia belia, di usia yang masih membutuhkan kasih sayang ayah.


Mungkin Justin seperti itu kelak. Menanyakan ayahnya, ingin mendapatkan kasih sayang ayahnya seperti teman-temannya. Walaupun ia wanita yang kuat, tapi ia takkan bisa berperan sebagai ayah bagi Justin.


Meskipun begitu, ia tetap tidak bisa kembali pada Dimas. Cinta tidak bisa tumbuh untuk pria itu.


"Kak, aku tidak akan memaksamu untuk kembali pada kak Dimas. Tapi aku harap, kau bisa menyelesaikan masalah ini. Pikirkan lagi, dan bersikaplah bijak."


Ucapan terakhir Matthew menyudahi percakapan itu. Matthew melangkah ke atas, masuk ke dalam kamar. Setelah membersihkan badan, ia turun untuk makan malam.


"Matthew, ada apa?" tanya Dewi menegur, melihat wajah anaknya yang memucat.


"Ah, tidak," jawab Matthew terbata seraya menggeleng.


Lalu, Dewi menoleh pada Monika. "Monik, apa kau sudah memberikan gaji Elina?" Saat itulah, Matthew memasang kedua telinganya.


Monika mengangguk. "Sudah, Ma. Dan hari ini, adalah hari terakhir dia bekerja."


Tiba-tiba semua orang menoleh pada suara yang mengejutkan, berasal dari Matthew. Tanpa sengaja, Matthew menjatuhkan sendok dari tangannya, sehingga sendok itu terjatuh di piring.


"Kau kenapa, Matthew?" tanya Dewi setelahnya.


Matthew menoleh, terlihat bingung. "Ah, nggak. Aku sudah selesai makan. Permisi." Lalu, ia beranjak dari kursi dan meninggalkan ruang makan menuju halaman belakang.


Oh, Elina. Apa dia marah lagi? Kenapa dia pergi tanpa mengatakan apa pun? Dalam keadaan panik, ia menghubungi nomor Elina. Sial, tidak diangkat! Ah, Raima! Juga tidak diangkat. Mereka pasti sudah bersekongkol untuk membuatnya bingung dan cemas seperti ini.


Yang harus dilakukan adalah memastikannya ke rumah Raima, ataupun rumah Elina. Terpogoh-pogoh ia berlari, sampai tak sengaja menabrak Elina yang seketika terhuyung dan hampir jatuh, jika ia tidak sigap menangkap tubuh Elina.


Ia terkejut sekaligus lega. Wanita itu ternyata ada di sini. Tiba-tiba ia memeluk Elina, bahagia. Jantung yang berdetak sangat kencang--sampai Elina bisa mendengarnya--perlahan berdegup normal. Wanita bodoh, senang sekali menyiksanya sampai gila seperti ini.


"Kukira kau sudah pergi," kata Matthew.

__ADS_1


Tadi pria itu membuat Elina terkejut, sekarang malah dibuat bingung. "Tidak. Aku akan pergi jika kita sudah buat kesepakatan. Lagi pula, Nyonya Monika memintaku untuk menjaga Justin sampai akhir minggu ini."


Matthew melepaskan pelukannya. "Kenapa? Tunggu dulu, kesepakatan apa yang kau maksud?"


Elina menghampiri kursi, lalu duduk sambil menjawab, "Nyonya Monika ada urusan dan senang dengan kerjaku. Tapi aku bilang kalau aku mau berhenti karena ingin menikah."


"Kenapa kau beralasan seperti?" Matthew menyela.


"Jika tidak begitu, Nyonya Monika tidak akan melepaskanku," sahut Elina. "Makanya, dia memintaku bekerja seminggu lagi, hanya untuk menyelesaikan sebuah urusan."


Oke, oke, Matthew tak mempedulikan hal itu. "Lalu, ke mana kau tadi? Kenapa tidak menyuapi Justin."


Elina menutup rapat mulutnya, menundukkan kepala. "Kepalaku pusing dan mual. Jadi, aku istirahat. Aku sudah bilang pada Bibi Jumi kalau aku masuk angin, dan memintanya untuk mengatakan pada Nyonya Monika."


Akhirnya terjawab juga rasa penasarannya. Tapi tetap saja ia cemas. "Sekarang, bagaimana keadaanmu?"


"Masih sedikit pusing, tapi sudah merasa baikkan."


Matthew mencibir dalam hati: "Jangan tersenyum seperti itu. Kau bukannya membuatku lega, tapi justru membuatku semakin cemas."


"Em ... Matthew, aku sudah buat keputusan," ujar Elina setelahnya, tampak ragu.


"Keputusan apa?"


"Aku tetap tidak akan menikah denganmu, tapi aku akan melahirkan anak ini lalu kau boleh mengasuhnya."


"Apa?" Matthew berseru kaget, sampai beranjak dari kursi. "Kenapa kau membuat keputusan seperti itu?"


Elina menutup matanya. Ia tahu, Matthew tidak akan setuju. "Kau menyayangi anak ini, kan? Tapi aku tidak mau mengasuhnya ketika dia lahir."


Matthew mengacak rambutnya, geram. Memang, tapi ia ingin mengasuhnya bersama dengan Elina. Ia ingin, anak ini tumbuh dengan orangtua yang lengkap.


"Iya, tapi anak ini juga butuh seorang ibu," jawabnya, berusaha menahan diri untuk tidak marah.


Elina sangat tahu itu. "Tapi aku tidak mau menikah dan mengasuhnya. Titik. Itu keputusanku. Jika kau tidak mau terima, aku akan cari cara lain."


Tidak. Matthew yakin, yang ada di dalam pikiran Elina adalah melenyapkan anak itu. Jangan sampai itu terjadi. Matthew meraih tangannya dan menghentikan langkahnya.


"Oke, aku setuju. Apa ada syarat yang lain?" kata Matthew terpaksa.


"Kau harus membiayai semua kebutuhanku selama aku mengandung. Rahasia ini hanya kita yang boleh tahu."


"Baiklah. Tapi aku juga punya syarat. Kau tidak boleh menolak apa pun yang aku inginkan."


Yang dia inginkan? Maksudnya... Wajah Elina memerah seketika.


"Asal itu bukan keinginan yang aneh-aneh, aku setuju."


Matthew tersenyum. Diulurkan tangannya, mengisyaratkan pada Elina untuk menjabatnya sebagai tanda bahwa kesepakatan itu disetujui.

__ADS_1


"Deal!"[]


__ADS_2