
Takdir akhirnya menyatukan mereka dalam cinta yang hangat dan kuat, di bawah hujan yang menjadi saksi resminya cinta itu.
Matthew dan Elina yang sudah berganti pakaian, duduk di sofa sambil memandang ke arah jendela yang berembun. Elina duduk dan bersandar di tubuh Matthew, sedangkan tangan pria itu mengelus perut Elina.
Matthew meletakkan kepalanya di atas kepala Elina, tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Elina. Di atas meja, terdapat dua cangkir susu jahe yang baru separuh diminum dan hampir dingin. Keduanya terlalu larut dalam cinta, sehingga melupakan minuman itu.
"Kau sudah makan?" tanya Elina memecah keheningan.
"Bersamamu, aku tidak merasa lapar." Matthew semakin mempererat dekapannya. "Aku tak mau melewatkan momen ini sedetikpun."
Elina tersipu. "Tapi aku lapar. Apa kau tidak merasakan bayinya menendang-nendang terus, meminta makanan?"
"Benarkah? Aku pikir karena senang dielus oleh papanya."
Elina menjauhkan tubuhnya, berbalik menatap pria yang begitu sangat dicintainya sembari tersenyum. "Kalau itu juga. Tapi sekarang, rasa lapar yang membuatnya bergerak gelisah di dalam perut."
"Baiklah. Ayo, kita makan," kata Matthew. "Nanti aku buatkan kau susu, ya."
Elina mengangguk, lalu berdiri dan langsung berjalan menghampiri dapur. Hari ini ia memasak soto, jadi ia hanya tinggal menghangatkan kuahnya dan memasukkan nasi ke dalam mangkok untuk dihidangkan di atas meja makan. Matthew juga membantu meletakkan dua piring di meja, sebelum membuatkan segelas susu untuk Elina.
Makan malam pertama mereka, yang tak lagi bagai dua orang asing. Mereka saling membicarakan banyak hal sambil tersenyum. Matthew memulai topik dengan memberikan nama untuk bayi itu.
"Tapi kita belum tahu jenis kelaminnya apa," sahut Elina menginterupsi.
"Iya," kata Matthew. "Tapi aku punya ide mau memberikan nama depannya dengan huruf M, seperti namaku."
"Kenapa harus huruf M?"
"Karena dia anakku."
Elina menatap protes. "Tapi dia juga anakku."
"Memang, tapi benihnya dari siapa? Aku kan?"
"Tapi aku yang mengandung dan melahirkanya," Elina terus gencar mendebatnya.
Matthew terkekeh, membuat Elina merasa tersinggung dan menyangka bahwa Matthew sedang meledeknya. Padahal, Matthew begitu karena percakapan ini sangat lucu, dan Elina sangat menggemaskan jika sedang marah.
"Baiklah. Bagaimana kalau huruf M untuk anak laki-laki, dan huruf E untuk anak perempuan," usul Matthew, mengalah.
"Tidak adil dong," seru Elina memprotes. "Kalau lahirnya laki-laki gimana?"
Matthew tersenyum geli. Wajahnya sedikit mendekat ke arah Elina, lalu berkata lembut, "Elina, mau laki-laki atau perempuan, dia akan tetap jadi anak papa Matthew dan mama Elina. Kenapa harus dipermasalahkan?"
Elina tertegun, terpana menatap pria itu. Betapa manisnya sikap pria, yang dulu dikenalnya dingin dan cepat marah ini, jika sedang jatuh cinta. Ia hampir menyesal menyadari begitu terlambatnya cinta ini datang.
Mereka juga sekarang tidak lagi tidur terpisah. Setelah makan malam selesai, Matthew menggendong Elina ke dalam kamar. Ia sedikit menggoda Elina dengan mengatakan bahwa tubuhnya sangat berat.
"Kalau begitu, turunkan saja aku," kata Elina.
Sambil berjalan ke arah kamar, Matthew menjawab, "Tidak. Aku tidak mau kau lari dariku."
Elina tekekeh. "Aku tidak akan pergi."
"Aku tahu, tapi tetap saja kau akan kugendong sampai kamar."
Perlahan Matthew merebahkan tubuh Elina di ranjang, lalu ia duduk di tepi ranjang, memandangi wanita cantik itu dengan tatapan lembut dan penuh cinta. Akhirnya, seluruh ruangan dilingkupi oleh perasaan yang menggebu. Elina melingkarkan tangannya ke pinggang Matthew, dipeluknya tubuh kekar pria itu.
Matthew mengelus kepala Elina. Mengecup rambutnya yang harum dan hitam bagai langit malam ini. "Elina." Entah mengapa ia begitu senang menyebut nama wanita itu.
"Hmm?"
"Papaku menjodohkanku dengan seseorang karena ingin menjalin kerja sama dengan perusahaannya." Walaupun ia tahu Elina akan sedih, tapi Matthew tak ingin menyembunyikan apa pun darinya.
Elina hanya diam. Soal itu ia sudah tahu, tapi ia tak ingin mengatakannya, apalagi soal perjanjian itu.
"Papa mengancamku karena menolaknya," lanjut Matthew. "Tapi aku tidak takut meski harus kehilangan semua harta, asal bukan kehilangan dirimu." Kemudian, ia berkata lirih dan serak, "Aku bisa gila jika itu terjadi."
Elina mempererat pelukannya. Asal Matthew tahu, ia juga tidak bisa kehilangan dirinya.
"Aku sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Aku juga seorang pengangguran. Tapi, apa kau masih mau hidup bersamaku?"
"Matthew, jika cinta harus dihadapi bersama, baik susah maupun senang--bukankah itu sumpah pernikahan?" jawab Elina.
__ADS_1
Matthew menggangguk haru. Beruntungnya ia ditakdirkan bertemu dan jatuh cinta dengan wanita ini. Tak puas-puasnya ia mengasihi, memeluk, dan bahkan mencium bibirnya, sampai akhirnya larut dalam gelombang nafsu yang mendadak muncul.
Kancing baju tidur Elina perlahan dibukanya satu per satu sambil berciuman. Tapi ia tak mau melakukan hubungan intim, jika Elina tidak mengizinkannya. Maka, dilepaskannya ciuman itu.
"Elina, bolehkah aku...." tanya Matthew ragu.
Elina mengangguk. "Boleh."
Matthew langsung melanjutkan aksinya. Dalam sekejab seluruh tubuh Elina sudah tak ditutupi oleh sehelai benang pun. Begitu juga dengan dirinya, ia membuka seluruh pakaiannya, lalu melemparkannya asal. Kini, mereka tak malu lagi.
Mereka saling memandang, lalu Matthew merebahkan tubuh Elina, sebelum menciumnya. Elina menjerit kecil, *** selimut, dan mendesah pelan.
Desahan tiap desahan beriringan dengan suara air hujan yang menghantam genteng. Meski ini pertama kalinya bagi Matthew, tapi ia sudah bisa membuat Elina tersiksa dalam nafsunya yang tak tertahankan dengan sentuhan-sentuhannya.
Napas Elina memburu. Tatapan memohon agar Matthew segera memuaskannya tergambar jelas, meski bibir Elina tak mengungkapkannya. Matthew mengerti, dan langsung **** Elina dengan hati-hati, sebab khawatir dapat berpengaruh pada bayi yang ada di dalam kandungan Elina.
Jerit penuh kenikmatan terhela dari bibir mereka. Surga dunia yang begitu indah. Malam yang penuh peluh dan desah, yang mereka lakukan secara sadar, tanpa dipengaruhi oleh viagra maupun alkohol. Yang ada karena cinta yang menggebu di antara mereka.
-;-;-;-
Hal yang diinginkannya dulu, saat mengenal dunia fiksi yang indah adalah, melihat seseorang yang amat dicintai saat membuka mata di pagi hari.
Pria itu masih terpejam sambil memeluknya. Mereka terbaring di ranjang hanya dengan memakai selimut saja. Elina tersenyum bahagia, pria ini tetap tampan meski sedang tertidur. Akan tetapi, waktu tidak bisa dihabiskan hanya dengan melewatkan momen ini, meskipun ia sangat ingin.
Perlahan, ia beringsut bangun. Tetapi tangan kekar Matthew meraih tubuhnya dan merapatkannya lagi dalam pelukannya, masih dengan mata terpejam.
"Kau tidak boleh pergi," gumamnya pelan.
"Tapi aku harus memasak, Matthew." Ucapan Elina tak berhasil. Malah, Matthew semakin mempererat pelukannya.
"Aku masih belum puas," bisik Matthew nakal di telinga Elina, yang membuatnya tersipu.
Semalam mereka telah mencurahkan hasrat mereka sampai dua kali, tapi Matthew masih ingin melakukannya? Elina menolak, menghela tangan Matthew.
"Nanti malam aja, ya," bujuk Elina.
Akhirnya Matthew terpaksa menyerah. Ia membuka matanya, menatap Elina sembari tersenyum. Bagai bidadari. Katanya di dalam hati. Matanya, senyum di bibirnya... sial! Kenapa cantik sekali perempuan ini?
Wanita itu menghela napas, tapi tetap ia lakukan. Bukan ciuman di pipi, tapi di bibir Matthew dengan mesra dan lama.
"Sudah?"
"Belum," jawab Matthew menggeleng.
"Apa lagi?" tanya Elina mulai jengkel.
Melihat senyuman Matthew, perasaan Elina mulai tidak enak. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Elina, dan berbisik, "Ayo, kita mandi bersama."
"Matthew!" tegur Elina, pura-pura marah, sambil menjauhkan tubuhnya dari Matthew.
Matthew tertawa, melepaskan pelukannya dan membiarkan Elina berjalan menuju kamar mandi. Wanita itu yang membuatnya seperti ini, bebas menunjukkan sikap berbedanya pada wanita yang dicintai. Berbeda pada saat bersama dengan Lisa; walaupun ia memang menunjukkan kelembutan sikapnya, tetapi ia tak pernah menggoda Lisa seperti kepada Elina.
Entahlah, mungkin karena perjalanan cinta yang berbeda; pertemuan yang menyesakkan, dan penyesuaian hati yang lama, sebelum cinta itu saling bersambut. Ia harap, tidak ada lagi batu sandungan yang memisahkan cinta mereka lagi. Ia ingin kehidupan mereka berakhir dengan bahagia, selamanya.
-;-;-;-
Mendengar adiknya diusir, Monika seketika marah pada William. Dewi juga mengusir pria itu setelah Matthew pergi dari rumah ini. William tidak berhak bertindak seperti itu, apalagi ini adalah rumahnya.
Monika ingin membujuk adiknya untuk kembali ke rumah. Maka siang itu, ia dan Dewi mencari ke rumah kontrakan yang ditempati oleh Elina--karena kemungkinan Matthew ada di sana. Dan memang benar, Matthew sedang ada di rumah itu.
Monika dan Dewi langsung menceritakan semuanya yang telah terjadi setelah kepergian Matthew, begitu keduanya duduk di ruang tamu.
"Matthew, pulanglah. Di sana rumahku, rumahmu juga. Papamu tidak akan bisa mengusikmu lagi," bujuk Dewi, hampir terisak.
Matthew dan Elina saling memandang, lalu ia mengenggam tangan Elina erat sambil mengatakan keputusannya yang sudah mantap. "Aku sudah memutuskan untuk membangun keluarga kecilku bersama dengan Elina.
Kedua wanita itu tercengang melihat genggaman tangan pasangan muda itu. Mereka menyimpulkan: ini berarti Matthew dan Elina sudah saling menyatakan perasaannya. Ini berarti, mereka akan menikah? Baguslah. Tentu saja, Monika dan Dewi menyambut baik hubungan itu.
"Kalian akan menikah?"seru Monika girang.
"Iya," Matthew mengangguk, menatap mesra pada Elina. "Setelah aku mendapatkan pekerjaan."
"Itu terlalu lama, Matthew," sahut Monika. "Perut Elina semakin membuncit--sebaiknya kalian cepat menikah."
__ADS_1
"Benar, Matthew," timpal Dewi. "Dan setelah itu, tinggalah bersama dengan kami, di rumahku."
Tapi Matthew tetap tidak setuju. "Tidak. Aku akan mengawali semuanya berdua dengan Elina. Lagi pula, namaku sudah dicoret dari daftar keluarga." Ketika Matthew mengatakannya, betapa sakit hatinya ia, apalagi terbayang wajah William.
"Itu nggak masalah, Matthew. Kau bisa mengganti nama belakangmu dengan nama belakang mama," kata Monika. Kemudian, ia melirik Elina, iba. "Matthew, apa kau tidak berpikir, kalau Elina sendirian di rumah, siapa yang akan menjaganya jika terjadi sesuatu padanya, sementara kau sendiri sedang bekerja. Dan lagi, papa tidak akan membiarkan kalian hidup tenang; bisa saja dia melakukan sesuatu pada kau atau Elina."
Itu pemikiran yang mengerikan, tetapi dirasa ada benarnya. Selama ini, William telah mengutus seorang mata-mata, yang sampai mengejar-kejar Elina dan Raima ke manapun.
Matthew kembali menoleh pada Elina, lalu ke arah perutnya yang terdapat janin kecil mereka. Demi keselamatan mereka, Matthew merasa saran ini perlu dipertimbangkan. Maka ia mengangguk, dan berkata:
"Baiklah. Akan kami pikirkan."
Hal itu Matthew bicarakan pada Elina malam harinya. Wanita itu sedang menyisir rambutnya di depan cermin rias. Matthew memeluknya dari belakang, mencium rambutnya yang masih harum.
Elina hanya melirik dan tersenyum. Namun, senyum itu memudar perlahan, kala teringat pada percakapan mereka dengan Monika tadi pagi.
"Apakah kau sudah memikirkan soal ucapan Nyonya Monika?"
Matthew mundur ke belakang, duduk di tepi ranjang sambil menghela napas panjang. "Entahlah. Tapi aku tak menampik kalau papa bisa saja melakukan sesuatu pada kita."
Elina berhenti menyisir rambut, lalu berpikir.
"Kalau menurutmu, bagaimana?" tanya Matthew kemudian.
Sambil berbalik menghadap Matthew--tetap di tempat duduknya--Elina berpendapat, "Jika memang seperti itu, kita pindah saja ke rumah ibumu. Tetapi aku tidak memaksa; apa pun keputusanmu, aku akan mendukungnya.
"Hmm ... begini. Sebenarnya, aku ingin ke Inggris dua hari lagi, ada urusan dengan Kevin. Dia telah membelikanku tiket. Rencananya, aku ingin memboyongmu ke Inggris dan hidup di sana."
Inggris? Bukankah itu terlalu jauh? Bagaimana ia bisa ke sana dan meninggalkan adik serta ibunya?
"Tidak, Matthew? Aku tidak bisa meninggalkan ibu dan Frasya," tolak Elina.
"Soal mereka, kau tidak perlu khawatir, aku juga akan membawa mereka."
"Lalu ibu dan kakakmu?" tanya Elina, suaranya pelan. "Lagi pula, ayahmu juga tinggal di Inggris."
"Kalaupun dia ada di sana, dia tidak akan bisa berbuat apa pun. Aku jamin itu."
Entahlah, bujukan Matthew masih membuatnya ragu. Firasatnya ... tiba-tiba tidak enak. Ia tidak tahu apa harus mengiyakan atau menolak. Ia hanya terdiam sambil menatap Matthew.
"Oh, iya. Kau kutinggal di rumah mama selama aku ke Inggris. Dua atau tiga hari aku ada di sana. Dan selama kau di sana, kau akan disibukkan oleh rencana pernikahan kita, karena aku akan menugaskan kak Monika untuk mengatur rencananya. Jadi, kita menikah, setelah aku sampai kembali di Jakarta." Matthew menambahkan.
Elina terpaksa mengangguk dan tersenyum. Perasaannya tak rela jika Matthew ke Inggris lusa besok. Tidak ada alasan apa pun, hanya firasat seseorang yang mencintai kekasihnya. Ia berusaha bahwa itu mungkin hanya kecemasannya belaka, karena begitulah kalau sedang hamil.
-;-;-;-
Ternyata benar yang dikatakan oleh Matthew, Elina sudah disibukkan oleh rencana pernikahan; gaun, undangan, tempat acara pernikahan, dan lainnya, meski Monika yang sibuk mencari dan merekomendasikan pada Elina.
Selama di rumah Dewi, Elina hanya di rumah. Calon ibu dan iparnya sangat menyayanginya. Mereka memberikan perhatian lebih, nasihat, beberapa saran, dan kasih sayang.
Dewi begitu lembut dan perhatian. Dia mengajarkan banyak hal ketika sedang hamil dan setelah melahirkan nanti. Elina merasa terurus selama di sana, Dewi mengingatkannya pada sang ibu.
Matthew bilang, ia akan bertemu dengan ibu dan adiknya setelah ia kembali ke Jakarta. Matthew akan datang ke rumah untuk menyampaikan ramalan resmi pada ibunya, dan membicarakan soal pernikahan.
Sudah dua hari pria itu meninggalkannya--sungguh, rindu sekali rasanya. Elina menatap bulan yang tertutup awan. Menggambarkan bayangan pria itu di sana. Sedang apa dia? Sudahkah dia makan? Apakah dia juga merindukannya, sama seperti dirinya yang merindukan pria itu. Sayang sekali, Matthew tidak memiliki ponsel, ia ingin menghubunginya, mendengar suaranya.
Ditatapnya layar ponselnya. Beberapa hari yang lalu, mereka sempat berfoto bersama di teras rumah. Pada foto itu, Matthew sedang memeluk Elina dari belakang sambil memegang perutnya--mereka tersenyum bahagia.
Kebahagiaan mereka juga akan sebentar lagi hadir secara sekaligus: pernikahan dan lahirnya anak ini. Tak sabarnya ia menunggu hari itu.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar, Elina pun mengalihkan pandangannya, dan segera menghampiri pintu. Di depan kamarnya, Monika berdiri menatap Elina sembari sesegukan, membuat Elina cemas dan bingung.
"Ada apa, Kak?"
Monika tak langsung menjawab, ia membawa Elina untuk duduk di tepi ranjang. Elina kembali bertanya, hatinya mulai berdetak takut, apalagi pikirannya langsung mengarah ke Matthew.
"Elina, Kevin menghubungiku. Katanya, Matthew kecelakaan," jawab Monika, yang tangisnya langsung pecah kala membicarakan soal Matthew.
Elina terhenyak. Tidak mungkin, ia pasti salah dengar. Matthew, dia ...
Ia menutup mulutnya, menangis dalam pelukan Monika. Ia tak menyangka bahwa kebahagiaan yang diharapkan masih terlalu jauh untuk digapai. Ada saja yang menjadi masalah di dalam cinta mereka, termasuk kecelakaan ini.
Elina tak berdaya, tangisannya semakin kencang. Lama-lama tubuhnya melemas, lalu jatuh pingsan.[]
__ADS_1