Matthelina

Matthelina
Chapter 18


__ADS_3

Monika mencium tangan Dewi yang juga baru memasuki ruang tamu. Dia kembali dari persidangan perceraiannya dan membeli beberapa barang di mall. Terlihat kedua tangannya penuh oleh tas belanjaan.


"Matthew tadi pulang, Ma?" tanyanya kemudian.


Dewi mengernyit. "Nggak."


Jawaban yang sama dikatakan oleh Bi Jumi, saat Monika menanyakannya seraya menggeleng.


"Memang kenapa, Monik?" tanya Dewi.


Pasalnya, Monika melihat mobil Matthew melaju dari arah berlawanan, pada saat mobilnya akan menuju ke rumah. Sekilas, ia melihat seseorang di dalam mobil bersamanya, tapi tak melihat dengan jelas siapa sosok itu.


"Ah, enggak kok, Ma," jawabnya, tersenyum paksa. "Ya, udah. Aku mau ke atas dulu, ya?"


Sambil berjalan ke lantai atas, setiap menaiki anak tangga satu persatu, otak Monika bertumpu pada apa yang dilihatnya tadi. Apa lagi yang dilakukan oleh adiknya itu? Mungkinkah yang bersamanya tadi Elina? Tapi kan, Elina pergi bersama dengan temannya. Apa nanti ia tanyakan saja pada Matthew?


-;-;-;-


Matthew termangu memperhatikan gerakan mulut Elina yang sedang mengunyah nasi goreng dengan nikmat. Ia tidak makan, bukan karena ini makanan yang dijual di warung sederhana, tapi melihat Elina makan selahap ini membuatnya kenyang. Mungkin nasi goreng miliknya juga akan ia berikan untuk Elina.


Erick bilang kalau bobot tubuh Elina sangat kecil, itu bisa mempengaruhi sang bayi. Jadi, Elina harus menambah porsi asupan yang lebih banyak dari biasanya. Maka, Matthew mengajaknya mencari makan, biar sekalian makan malam di sebuah restoran. Tetapi, kenapa mereka malah tersesat di warung nasi goreng sederhana ini?


Elina yang minta. Elina yang pengin. Mungkin keinginan bayi, pikir Matthew yang membacanya di internet beberapa waktu lalu.


Matthew mendorong piringnya ke arah Elina. "Habiskanlah."


Elina tertegun menatapnya. "Kenapa Anda tidak makan, Tuan? Anda tidak suka?"


Tuan? Matthew memejamkan mata, menahan rasa kesalnya. Elina, pria ini adalah ayah dari bayi yang sedang kau kandung. Jadi, tidak perlu bersikap formal padanya.


"Elina, bisakah kau panggil aku dengan namaku saja? Di sini kita hanya berdua. Kalau di rumah, kau boleh memanggilku begitu, oke?"


Elina terdiam sesaat, mencerna ucapan Matthew sebelum ia mengangguk paham.


"Elina, tadi dokter bilang bobot tubuhmu kurang, jadi kau harus makan yang banyak," ujar Matthew lagi.


"Iya," Elina menjawab.


Erick juga bilang bahwa Elina tidak boleh terlalu lelah, stress, apalagi mengangkat barang berat. Jadi, ia memutuskan: "Kau juga harus berhenti bekerja."


"Berhenti?" Kening Elina mengernyit. "Tapi Tuan, saya—"


"Matthew," sela pria itu mempertegas.


"Iya, Matthew ... tapi saya baru bekerja sebulan di sana. Mana mungkin berhenti tiba-tiba. Saya juga harus menafkahi ibu dan adik saya."


"Baiklah. Aku yang akan mengirimkan uang setiap bulan," tukas Matthew cepat.


Elina mengatup mulutnya. Arogan sekali, menurutnya. Percuma berdebat dengan hati yang panas. Sepertinya, bernegosiasi dengan agak sedikit melunak lebih baik.


"Oke, begini saja. Minggu depan genap sebulan aku bekerja. Setelah itu, aku berhenti. Bagaimana?"


Kelihatannya Matthew tidak setuju. Dia berpikir cukup lama. "Tapi kenapa harus menunggu selama itu?"


Elina meletakkan sendoknya di piring, menatap Matthew dengan menantang. "Kalau begitu, berikan alasan yang tepat pada nyonya Monika, jika tiba-tiba aku berhenti bekerja."

__ADS_1


"Hmm ... katakan saja kalau kau sudah tidak betah?"


Elina menggeleng. "Kurang logis. Keluargamu memperlakukan aku dengan baik. Tiba-tiba berhenti bekerja akan membuat mereka curiga. Jadi, saran aku yang tadi itu yang paling tepat."


Matthew memiringkan kepala. Gadis ini tiba-tiba jadi banyak bicara begini? Walaupun nada bicaranya masih datar dan tenang. Pikirnya, mungkin ada benarnya saran gadis ini. Lalu Matthew melirik Elina yang juga sedang meliriknya sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut.


"Baik," kata Matthew, "tapi kau harus menjaga dirimu, jangan terlalu memforsir tubuhmu dalam bekerja. Dan Justin, kau harus waspada padanya, nanti dia bisa-bisa menendang perutmu."


Elina tersenyum. Pria dingin ini terlalu berlebihan. Justin anak yang dididik dengan baik, mana mungkin berbuat senakal itu. Tapi bayi ini begitu beruntung, ayahnya begitu mempedulikannya. Hatinya kini tersentil.


Menikah tanpa cinta dengan pria ini? Mungkin tidaklah buruk.


-;-;-;-


Sudah hampir 10 tahun, bayangkan! Vila ini masih nampak sama, terawat. Matthew takjub saat melangkah kembali di jalan bebatuan menuju rumah besar yang dikelilingi oleh kebun yang luas.


Di rumah ini ada seorang pembantu dan seorang tukang kebun, yang merupakan pasangan suami-istri. Mereka telah mengabdi lama, sampai anaknya pun turut membantu menjaga vila ini.


Bibi Sari meninggalkan dapur hanya untuk menyambut kedatangan mereka. Dan Pak Tatang meletakkan sembarang gunting rumput, demi membawakan barang-barang yang mereka bawa.


"Apa kabar, Nyonya?" kata Bi Sari.


"Baik," jawab Dewi sambil berjalan masuk.


Matthew meminta Elina untuk menyerahkan Justin ke dalam gendongannya. Ia bilang, "Aku ingin menggendong keponakanku." Padahal, bukan hanya itu alasannya. Ia tak mau Elina kelelahan menggendong tubuh Justin yang semakin berat. Lagipula, alasan itu untuk menangkal kecurigaan Monika.


Bi Sari sudah menyiapkan kamar untuk masing-masing majikannya. "Dan saya juga sudah menyiapkan boks tempat tidur untuk Tuan Muda Justin di kamar Nona Monika."


Monika tersenyum, puas dengan kesigapan Bi Sari. "Ya udah, Matthew, tolong berikan Justin ke Elina. Dan kau Elina, tidurkan Justin di kamar sana." Monika menunjuk pada sebuah kamar di lantai atas, di sebelah kanan ujung rumah.


Elina mengangguk, lalu merentangkan tangan ke arah Matthew agar memberikan Justin ke dalam gendongannya. Tetapi Matthew bergeming, malah berjalan ke lantai atas tanpa mengatakan apa pun. Elina pun mengikuti sekalian mencecar.


Matthew berhenti, dan akhirnya menyerahkan Justin ke tangan Elina. "Ini. Sekarang tidurkan dia di sana."


Elina melongo, ternyata mereka sudah sampai di depan kamar Monika. Matthew membuka pintunya dan mempersilakan Elina untuk masuk ke dalam.


Elina merutuk, pria itu telah mengecohnya. Kenapa dia lakukan ini? Apa dia tidak sadar, Monika memperhatikan mereka sejak Matthew membawa Justin ke kamar dan Elina mengejar di belakang?


Diletakkan Justin di sebuah boks bayi dari kayu jati berwarna cokelat tua itu. Ditepuk-tepuknya ringan dada Justin hingga kegelisahannya menghilang, dan kembali terlelap. Lantas, ia menoleh.


Pria itu sedang memperhatikan sebuah pemandangan di luar jendela yang baru dibukanya. Angin sejuk berembus pelan. Elina bisa merasakan udara segar yang dihirupnya.


"Ternyata boks bayi ini masih ada," ucap Matthew sambil mengusap tepi boks bayi ini dengan ujung jarinya. "Ini milikku dulu, sekarang dipakai oleh Justin. Apakah nanti akan diwariskan ke anak itu?"


Elina menurunkan pandangannya ke perutnya yang masih rata.


Matthew berbalik, kembali melangkah ke balkon dan bersandar di pagar. Di sini, ia bisa melihat kebun samping, pegunungan, dan kebun teh yang luas milik keluarganya.


Di vila ini, keluarganya yang masih utuh menghabiskan setengah liburan panjangnya. Dan di sini juga yang membuatnya harus terpisah dari ibunya selama 10 tahun.


Elina tak bergeming di sana, berdiri memperhatikan punggung kekar pria itu, tanpa berkata apa pun. Mungkin Matthew tengah menikmati pemandangan, atau kenangan yang pernah terekam di tempat ini. Ia membiarkannya larut, memfokuskan diri pada Justin walau pikirannya terbang ke tempat lain.


Kemudian, Matthew berkata tiba-tiba, "Udara di sini sangat baik untukmu. Jadi kalau kau mau, aku akan menemanimu."


"Itu benar," timpal Monika menyahuti, yang muncul tanpa mereka sadari.

__ADS_1


Matthew berbalik, sedangkan Elina menoleh, mata keduanya terbelalak kaget.


"Hei, kenapa?" seru Monika, tertawa kecil. "Wajah kalian pucat sekali, seperti sedang menyembunyikan sesuatu?"


"Kakak ini. Suka banget muncul tiba-tiba—kayak hantu saja," Matthew menggerutu.


Alih-alih tersinggung, Monika malah tertawa sambil berjalan masuk lalu menghampiri boks bayi. "Kalau begitu, aku hantu yang paling cantik dong?"


Matthew mengacuhkan Monika, berjalan keluar kamar tanpa mengatakan apa pun. Tapi Monika tak puas menggoda adiknya itu. Dipanggilnya Matthew lagi, sebelum mencapai pintu keluar.


"Katanya mau ajak Elina jalan-jalan. "Pergilah! Sambil menunggu hari petang. Kau sedang tidak lelah kan, Matthew?"


Sejujurnya sih, tidak. Tapi Elina, mungkin cukup lelah. Perjalanan agak jauh, melintasi jalan yang ramai dan padat, punggungnya pasti sakit.


"Iya, aku lelah." Kini tatapannya berpaling pada Elina. "Jadi, besok saja jalan-jalannya."


Monika memperhatikan raut wajah kedua insan itu bergantian. "Oh, ya udah. Elina, kau pergilah istirahat. Kamarmu sudah disiapkan oleh Bi Sari."


Elina tersenyum hambar lalu mengangguk. Sudah selesai kan? Maka, Matthew keluar dari kamar ini, disusul oleh Elina setelahnya.


-;-;-;-


Sewaktu SMP, Elina pernah berwisata ke puncak bersama dengan guru dan teman-temannya. Ke wisata air panas, menginap di vila, dan mengunjungi kebun stroberi. Sangat menyenangkan.


Di sini lebih indah. Elina sempat mengintip dari teras belakang kemarin sore, ada kebun teh dan terdapat kebun buatan yang luas, di mana terdapat kolam air mancur, lalu danau kecil yang dikelilingi oleh tumbuhan air. Elina tergoda untuk ke sana. Mungkin sehabis Justin tidur, ia akan menjelajahinya sebentar.


Sekitar menjelang sore. Monika mengijinkan Elina untuk berjalan-jalan sebab Justin telah tidur. Dengan riang, Elina bergegas berkeliling di hutan kecil yang terdapat jalan setapak yang dicor, sehingga tidak membuatnya tersesat.


Elina mendongak, pohonnya rindang, dedaunannya melindunginya dari sinar matahari. Ia melangkah ringan sambil melihat-lihat, hingga tanpa terasa danau buatan itu ada di ujung jalan ini.


Dengan langkah perlahan dan tatapan takjub, ia memasuki danau, berjalan di titian yang di samping kanan-kirinya ditumbuhi oleh teratai dan tumbuhan air lainnya. Titian ini tak sampai di ujung danau. Dan sekarang, ia berhenti di ujung titian.


"Bagus banget," gumamnya kagum, melihat-lihat ke sekeliling danau.


Airnya berwarna hijau tapi bersih. Ikan-ikan kadang melompat-lompat, membuat Elina tersentak. Ia bersidekap, memejamkan mata. Bagaimana bisa keluarga ini membuat tempat seindah ini? Tapi sayangnya, mereka ke sini hanya sekali-sekali.


Ia terhenyak, membuka mata saat seseorang menutupi tubuhnya dengan sebuah mantel hitam yang agak panjang. Elina menoleh, tercengang menemukan sosok Matthew berada di belakangnya. Dia juga memakai mantel tebal berbahan sama yang warnanya cokelat muda.


Matthew beringsut ke hadapannya, memakaikan mantel miliknya yang kebesaran dipakai oleh Elina. Ia tersenyum meledek karena Elina terlihat lucu. "Dasar pendek."


Pendek? Dengus Elina dalam hati, tersinggung.


"Di sini dingin, harusnya kau pakai jaket saat keluar," kata Matthew, melipat kerah mantel ke dalam.


Elina hanya diam saja, menatap terpana pada Matthew. Pria ini menyusulnya membawa mantel satu lagi untuknya? Kenapa hatinya terasa hangat lagi oleh setiap perhatian? Kau apakan aku, Matthew?


"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku ke sini?" tanya Elina, setelah sekian lama tercengang.


"Dari kak Monika," jawab Matthew.


"Lalu, kau menyusul ke sini?"


"Iya."


Keduanya lantas terdiam. Suasana menjadi hening, hanya ada cericitan burung yang bersahutan.

__ADS_1


"Ayo, aku tunjukkan tempat yang lain."


Matthew menghela punggung Elina lembut, berjalan berdampingan kembali memasuki hutan. Ia tersenyum, menyentuhnya walau hanya seperti ini, sudah cukup baginya. Andai bisa merangkulnya juga, mengelus anak mereka yang masih berdiam di dalam perut Elina.[]


__ADS_2