Matthelina

Matthelina
[Season 2] CHAPTER EMPATPULUH


__ADS_3

Anna memberi kesempatan pada Logan untuk melihat keadaan Elina dengan membawakannya sop buah. Namun, Logan malah mendengar sesuatu hal yang cukup meresahkan dari papanya.


 


 


Ia tak sengaja mendengarnya ketika ia mencapai ke ambang pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia tak jadi masuk karena papanya menyebut nama Charlotte.


 


 


"Wanita itu tidak tahu malu! Dia ingin Aurellie mendapatkan perusahaan papa yang sejak awal diwariskan padaku."


 


 


"Apa kau berencana mewariskan semua kekayaanmu pada Logan?" tanya Elina.


 


 


"Sejak awal, aku akan memberikan seluruh asetku padanya, Justine, dan cucuku kelak, dengan catatan hak Aurellie tidak akan berubah."


 


 


Logan mengernyit. Jadi, ini maksud kedatangan neneknya itu?


 


 


"Aku sangat sayang pada adik tiriku, makanya aku meminta pada papa agar mama dan kau yang mendidiknya dengan baik," kata Matthew, mendesah. "Tapi, aku tidak bisa menyerahkan semua hartaku padanya, jika ia hanya dimanfaatkan untuk keuntungan Charlotte. Dia ibu yang tidak becus! Hanya uang saja yang ada di dalam pikirannya."


 


 


Elina menggenggam lembut tangan suaminya. Ia tahu, betapa resahnya hati Matthew. "Sudahlah, hal itu tidak perlu kau pikirkan lagi. Kau sudah mengusir Charlotte. Aku yakin, dia sudah jera meminta hal itu padamu."


 


 


Siapa yang tahu? Seseorang bisa melakukan apa pun demi uang, Matthew tentu menduga hal buruk pasti akan terjadi.


 


 


Logan jadi ragu untuk masuk ke dalam dan bergabung dengan mereka. Namun, pada akhirnya dia menghampiri kedua orangtuanya, di saat suasana di antara mereka mulai santai.


 


 


"Pa, Ma," kata Logan sambil menyodorkan mangkok itu. "Anna yang buat."


 


 


"Anna?" Elina tertegun.


 


 


"Esnya dimasukkan sedikit." Logan menambahkan. "Bagaimana keadaan, Mama?"


 


 


Elina tersenyum, senang sekali mendengar ucapan Logan. "Sudah mendingan. Mama senang ada menantu yang menemani dan merawat Mama."


 


 


"Oh iya, Logan," kata Matthew. "Kapan kamu mau ajak Anna bulan madu?"


 


 


"Iya," timpal Elina, setuju dengan usulan itu. "Anna pasti senang kalau kamu ajak dia bulan madu."


 


 


Logan yakin, Anna juga sepemikiran dengannya. Baginya, bulan madu bukan untuk pasangan terpaksa menikah seperti mereka.


 


 


"Aku akan tanya pada Anna," jawabnya, cari aman.


 


 


"Benar, diskusikan dengan Anna," sambut Elina, girang.


 


 


"Bujuk dia," timpal Matthew kemudian.


 


 



 


 


Sarapan pagi ini berjalan seperti biasa, menikmati pancake dan susu. Matthew dan Elina saling melirik, lalu melihat anak dan menantunya yang tampak tenang mengunyah makanan.


 


 

__ADS_1


Sadar diperhatikan, Anna bertanya, "Ada apa, Ma, Pa?"


 


 


Pasangan itu terhenyak, lalu saling melempar kode.


 


 


Elina mendeham. "Anna, apa kamu sudah memutuskan akan pergi bulan madu ke mana?"


 


 


"Bulan madu?" tanya Anna terkejut, sementara Logan terhenyak.


 


 


"Iya," sahut Matthew, heran. "Waktu itu, Papa dan mama menyarankan Logan untuk membawamu pergi bulan madu. Apa kalian belum mendiskusikannya?"


 


 


Anna menoleh pada Logan, yang menyadari arti tatapan itu tapi tetap acuh tak acuh.


 


 


"Oh, jadi begitu," sahut Matthew mengerti saat melihat Logan dan Anna. "Oke, kalau kalian belum memutuskan, biar Papa yang membantu kalian. Papa punya tiket pesawat ke London, dan memesan sebuah kamar hotel di Manchester. Lusa, kalian sudah harus berangkat.


 


 


Anna dan Logan menatap Matthew, terkejut. Dua tiket pesawat disodorkan di depan mereka.


 


 


"Kenapa Papa tidak tanya dulu sama kita?" protes Logan. "Minggu ini aku sedang banyak pekerjaan."


 


 


"Papa tahu kau pasti akan bilang begitu," sahut Matthew. "Makanya, Papa dan mama langsung bertindak." Elina menoleh padanya dan mengangguk setuju.


 


 


Anna menoleh pada Logan, lalu menyentuh tangannya sebagai teguran agar tak menyahuti mereka lagi. Setelah itu, ia tersenyum memandangi kedua mertuanya.


 


 


"Baiklah, aku dan Logan akan ke sana."


 


 


 


 


"Kenapa kamu tidak bertanya dulu padaku?"


 


 


"Tiket sudah dipesan, tidak bisa lagi menolak," sahut Anna santai.


 


 


"Tapi kita masih bisa membatalkannya," seru Logan, geram.


 


 


"Aku tahu keluargamu kaya, tapi tidak ada salahnya kita berlibur?"


 


 


"Lalu, bagaimana dengan mama? Kamu tega meninggalkan mama dalam keadaan seperti itu?"


 


 


"Keadaan mama sudah membaik," tukas Anna cepat. "Lagipula, mama lebih senang kalau melihat kita bersama-sama pergi bulan madu." Lalu, ia melipat tangannya di dada, bergumam dengan nada sindiran, "Orangtuamu melihat kita seperti pasangan bahagia seperti yang lainnya. Itu akibat kau yang membuat pernikahan kita jadi dramatis."


 


 


"Aku?" Logan mengernyit seraya berseru.


 


 


Lalu, Anna melirik curiga. "Sebenarnya, alasan lain apa yang membuatmu menolak bulan madu ke Manchester?"


 


 


Logan terhenyak, tetapi buru-buru memalingkan wajah agar Anna tidak melihatnya. Iya, memang ada alasan lain. Tapi, kenapa Anna bisa tahu?


 


 


"Aku mau berangkat kerja dulu," kata Logan, buru-buru mengambil tas kerjanya yang dipegang oleh Anna. "Baik, kalau kau mau berbulan madu, akan aku kabulkan."

__ADS_1


 


 


Anna tertegun. Tadi apa katanya? Pria itu setuju akan membawanya bulan madu? Ini bukan hanya sekadar ucapan, 'kan?


 


 


Dan Logan benar-benar melakukan sesuai ucapannya itu. Lusa mereka berangkat ke London. Sekitar 15 jam di pesawat dan tiba di bandara London Heathrow pada malam hari.


 


 


Namun, Logan memutuskan istirahat di hotel terdekat. Wajah lelah Anna membuatnya iba. Anna memasuki kamar hotel mereka dengan berjalan sempoyongan, bergegas menghampiri ranjang yang seolah melambai-lambai padanya.


 


 


Anna menggeliat ketika tubuhnya menyentuh ranjang, rasanya seluruh tulangnya ngilu, dan matanya juga sudah mengantuk. Malas sekali untuk membersihkan badan dan mengganti baju.


 


 


Logan saat itu sedang membuka jaketnya sambil membelakanginya. Saat menoleh, raut wajahnya berubah jengkel, lalu menghela napas. Ia mendekat, menatap wajah Anna lamat-lamat.


 


 


"Dia tidur?" bisiknya.


 


 


Ujung jari telunjuknya akan menyentuh lengan Anna—bermaksud untuk membangunkannya, tapi terhenti karena cemas jika nanti wanita itu akan menampar wajahnya lagi.


 


 


"Biar sajalah." Perlahan, ia beranjak, lalu berjalan ke kamar mandi.


 


 


Ternyata, Anna tidak bisa tidur nyenyak, ia gelisah karena kepalanya yang terasa pening. Ia mendesis, memijat kepalanya, lalu terbangun untuk membalurkan minyak angin ke kepala dan pinggangnya.


 


 


Logan keluar dari kamar mandi, terkejut melihat Anna bangun dan wajahnya memucat. Ia bergegas menghampiri dengan cemas.


 


 


"Kau sakit? Ayo, kita ke dokter."


 


 


Anna menatapnya dari atas sampai ke bawah, lalu mendesis. "Apa kau mau membawaku ke sana dalam keadaan begini? Pakai baju dulu sana!"


 


 


Bukannya tidak sadar, Logan tahu bahwa tubuhnya hanya terbalut oleh handuk. "Oke, aku ganti baju dulu. Tapi, kau mau kan berobat ke rumah sakit?"


 


 


Anna mengangguk lemah. Memang agak aneh jika pria itu tumben-tumbenan berubah perhatian begini padanya. Ah, masa bodo lah!


 


 


"Em ... Logan," panggil Anna, dan Logan pun menoleh. "Nggak usah ke rumah sakit deh."


 


 


"Kenapa?" tanya Logan, mengernyit.


 


 


"Ini sudah malam, kau juga pasti sudah lelah. Aku rasa, istirahat juga sudah cukup."


 


 


Anna kembali berbaring, berusaha memejamkan mata. Logan berdiri sambil berkacak pinggang, merasa begitu jengkel. Apa Anna tidak tahu betapa Logan mencemaskannya? Tapi Anna malah menyepelekan penyakitnya.


 


 


Logan pun tak mau menurut. Dia angkat tubuh Anna meski wanita itu meronta dan menolak.


 


 


"Turunkan aku!" jerit Anna. "Aku mau dibawa ke mana?"


 


 


Namun, Logan tak mengatakan apa pun, menggendong tubuh Anna keluar dari kamar.


 


 


Pokoknya, Anna harus mendapat perawatan![]

__ADS_1


__ADS_2