
Geudaen naui Angel, ttaeron something special.
^^^—Angel- Chancellor feat Taeyeon^^^
Kenan melirik Anna. Sejak tadi, gadis itu duduk sambil menunduk—entah termenung, atau memang sedang menunggu gilirannya untuk diperiksa. Ia tak dapat membaca ekspresinya itu.
"Anna," panggilnya, membuat gadis itu menoleh. "Apa kamu merasa kecewa dengan kehadiran Logan dan Nina tadi?"
Wajahnya yang polos, memperlihatkan senyum biasanya, lalu berkata dengan nada santai. "Nggak. Kenapa aku harus kecewa?"
Bibirnya boleh saja berbohong, tetapi Kenan tidak mempercayainya. Jika memang Anna tidak mau jujur, ia tidak akan memaksa.
"Logan masih mencintai Nina," gumam Anna, menatap ke arah lurus dengan sendu dan senyum tipis. "Pernikahan ini hanya sekadar bentuk tanggung jawab Logan."
Kenan memiringkan badannya sedikit, merasa tertarik mendengarnya.
"Meskipun dia dingin, Logan sebenarnya masih memiliki rasa peduli dan hati nurani," lanjut Anna. "Aku tahu, dia tidak mungkin bisa mengabaikan Nina yang sedang sakit."
Tapi meskipun begitu, ia tetap kecewa karena Logan tidak memenuhi janjinya.
Kenan menatap lamat-lamat gadis itu, memperhatikan senyum getirnya yang membuatnya geram pada Logan. Menurutnya, Anna berkata begitu hanya untuk menghibur dirinya sendiri, mencoba membohongi hatinya.
"Logan bre**sek!"
Pintu ruangan dokter terbuka. Anna dan Kenan sama-sama menoleh ke sana, melihat pada seorang suster yang muncul dari dalam.
"Nyonya Anna, silakan masuk," kata suster itu.
Anna beranjak dari kursi, mengajak Kenan untuk ikut ke dalam. Akan tetapi, Kenan tak jadi berdiri karena ada sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Em ... Anna," katanya setelah membaca pesan itu. "Kamu duluan aja, aku harus telepon klienku dulu. Penting soalnya."
Anna mengangguk, setelah itu masuk ke dalam ruangan bersama dengan suster tadi. Sementara itu, Kenan pergi dari sana, menempelkan ponsel ke telinganya.
Dokter yang memeriksa Anna adalah seorang pria muda berkacamata yang cukup gagah dengan jas kedokterannya. Pria itu menoleh ketika ia masuk, menyambutnya dengan sapaan dan senyum ramah.
"Silakan duduk, Nyonya Anna," kata dokter, merentangkan tangannya ke kursi yang ada di depannya. "Sebentar, ya. Ada yang harus catat dulu."
"Baik, Dok," jawab Anna, tersenyum sopan.
Sekitar beberapa menit kemudian, dokter itu mengalihkan pandangan dari buku catatan yang telah disingkirkannya. "Nyonya datang sendirian?"
Tidak. Akan tetapi, ia tidak mungkin mengatakan bahwa dia ke sini dengan pria yang bukan suaminya.
__ADS_1
"Saya datang ke sini bersama dengan—" Ucapan Anna menggantung karena suara ketukan pintu.
"Silakan masuk!" seru dokter itu, dan suster dengan sigap membukakan pintu.
Alangkah terkejutnya Anna, melihat Logan yang muncul dari balik pintu dengan napas terengah-engah. Apa dia berlari ke sini?
"Anda siapa?" tanya dokter itu, tercengang.
Logan mengatur napasnya sejenak, melirik Anna sambil menjawab, "Saya suami Anna Jonathan."
"Oh, Pak Logan Jonathan?" seru si dokter, tersenyum, sambil berdiri. "Silakan duduk di sebelah istri Anda."
Karena terlalu deg-degan, langkah Logan jadi kikuk. Anna menunduk, sama berdebarnya dengan Logan, dan perasaan canggung merayapi hatinya.
"Baiklah, Pak Logan, Nyonya Anna," kata dokter sambil duduk kembali. "Sekarang, kita mulai pemeriksaannya."
Dokter itu memerintahkan suster untuk mempersiapkan alat-alat USG, dan mengarahkan Anna pada ranjang. Logan mengikuti Anna, membantunya saat menaiki ranjang, lalu berdiri di sampingnya dengan perasaan gugup yang berusaha disembunyikan.
"Apa Nyonya merasa tidak nyaman?" tanya dokter, melihat gerak-gerik Anna.
Sangat! Anna malu kalau Logan melihat perutnya yang tersingkap saat suster menaikkan ujung roknya sedikit.
"Tidak, dokter," jawabnya ragu.
Suster mengoleskan gel ke perut Anna, kemudian dokter mengarahkan transducer ke perut Anna, menggerakkannya perlahan sambil melihat ke arah layar.
Logan yang merasa sangat penasaran, memperhatikan layar yang hanya memperlihatkan dinding rahim yang gelap, mencari sosok calon anaknya yang sedang tumbuh dengan seksama.
"Nah, ini dia janinnya," kata dokter setengah berseru.
Logan mencari-cari janin itu sampai menahan napas. Ia menemukannya saat dokter menunjuk sebuah bulatan kecil berwarna hitam-putih.
"Itukah bayinya?" gumam Logan di dalam hati, antara takjub dan terharu. Tangannya seakan ingin meraih dan mengelus bayi itu. "Anakku, kapan kamu lahir?"
"Saat ini, janinnya kira-kira masih sebesar buah stroberi," ujar dokter menjelaskan. "Jadi, Nyonya Anna harus memperhatikan lagi asupannya. Apa Nyonya rutin minum vitamin dan minum susunya?"
"Iya, Dokter," jawab Anna sambil mengangguk pelan.
"Apa ada keluhan selain morning sick?"
"Tidak ada, Dokter."
"Baiklah." Dokter meletakkan transducer, lalu berjalan kembali ke mejanya.
__ADS_1
Dengan dibantu oleh Logan, Anna turun dari ranjang. Mereka menghampiri meja dokter, lalu duduk di hadapannya.
"Nyonya, perbanyak makan sayur dan buah-buahan, ya. Jika bekerja, usahakan jangan sampai kelelahan, jangan mengangkat beban berat, dan hindari stress," kata dokter itu sambil menulis. "Untuk trimester ini, masih fase rawan. Jadi, Tuan juga perlu membantu Nyonya agar bisa menjaga kesehatannya dan janinnya."
"Baik, Dokter," jawab Logan, spontan menegakkan badannya, seperti seorang prajurit menerima perintah dari komandan.
Logan menatap pada Anna. Keajaiban yang dilihatnya tadi, mengubah tujuannya untuk lebih memperhatikan Anna dan bayinya. Ia berikrar.
☘
Sejak ia mendapatkan pesan dari Logan, Kenan duduk di koridor, menunggu di depan sebuah ruangan.
Ia melirik arlojinya. "Apa pemeriksaan kandungan Anna sudah selesai?" gumamnya.
Ia menghela napas, menyadarkan tubuhnya ke dinding. Pikirannya melayang, membayangkan apa yang sedang terjadi dengan Anna dan Logan di ruang dokter kandungan.
Ada rasa getir, tapi juga senang. Setidaknya, kehadiran Logan mengikis sedikit rasa kecewa Anna, dan ia senang kalau Anna merasa bahagia. Namun, ia sedih karena harus merelakan Anna bersama dengan Logan. Bagaimanapun, masih tersisa rasa sayang di hatinya untuk Anna.
Entah sejak kapan, Nina keluar dari ruangan dokter. Gadis itu tercengang karena hanya mendapati Kenan yang duduk di bangku itu, bukan Logan.
"Kenan? Kok kamu di sini?" tanyanya sambil berjalan menghampiri. "Logan mana?"
"Nina," ucapnya sambil berdiri, memasukkan tangannya ke saku celananya. "Lupakan Logan! Hubungan kalian tidak bisa diperbaiki lagi."
Entah mendengarkan atau tidak, Nina mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu menghubungi Logan.
"Tidak aktif!" gerutunya pelan, setelah mendengar jawaban dari operator.
Kenan mendengus sambil memalingkan wajah. Heh! Percuma bicara dengan orang yang otaknya rusak. "Logan sudah pulang duluan," katanya.
"Pulang? Kok nggak bilang-bilang sama aku?" seru Nina, heran. "Kok dia malah ninggalin aku?"
"Justru itu!" sahut Kenan gemas. "Logan memerintahkan aku untuk membawa kamu pulang."
"Ya, tapi kenapa dia main pergi aja, nggak bilang-bilang sama aku?"
"Itu karena dia sudah tidak ada perasaan sama kamu!" Seandainya Kenan bisa, akan ia sahuti Nina seperti itu.
"Udah! Yuk, pulang!" decak Kenan, yang mulai kesulitan menahan rasa gusarnya.
Mau tidak mau, Nina berjalan mengikuti Kenan keluar dari rumah sakit, menuju tempat parkir.
Hal yang diharapkan sejak menginjakkan kaki di Jakarta tidak tercapai hari ini. Nina kesal sekali.[]
__ADS_1