
Elina berjalan perlahan, lalu berhenti beberapa meter dari meja makan. Memperhatikan Ibu dan Frasya dari jauh dalam keheningan.
Ia sedih harus seperti ini; merasa terasingi, meski Ibu masih sudi meletakkan nasi di piringnya. Namun, Frasya terlalu kecewa padanya, sehingga menatapnya pun tak sudi. Dan berjalan seperti itu selama dua hari.
Elina hidup bagai robot yang bisa diatur. Senyum ceria selalu terlihat di depan rekan kerjanya, tapi hal itu tak bisa disembunyikan dari kekasihnya.
Matthew tahu bahwa senyum itu palsu. Menegarkan diri secara paksa, walau batinnya merasa sakit.
"Hentikanlah," kata Matthew, menghampiri Elina setelah rapat selesai.
"Apa, Sayang?" tanya Elina berusaha tersenyum. Pandangannya teralihkan pada berkas-berkas yang sedang dirapikannya.
Matthew meraih dagu Elina, menghelanya lembut agar wajahnya teralihkan padanya. Ternyata Elina masih memaksakan diri untuk tersenyum.
"Apa Ibu dan Frasya masih marah?"
Elina terdiam sejenak. Pertanyaan itu semakin membuat hatinya iba. Ia menjawab sambil mengalihkan pandangannya kembali ke tumpukan kertas.
Ia terpejam, air mata langsung keluar dari sudut matanya. Ketabahannya goyah oleh dekapan hangat dari Matthew. Tangan kekarnya melingkari pinggangnya, merapatkan tubuhnya pada Elina.
"Kita akan menghadapi ini semua."
Bisikan itu sangat lembut, tapi memberikan kekuatan untuk Elina.
"Kurasa, kita perlu membicarakan yang sebenarnya pada Ibu dan Frasya," kata Matthew lagi. "Masalah tidak akan selesai, jika terus berlarut seperti ini saja. Bukankah, kita ingin menikah, Sayang?"
Elina mengangguk, tersipu.
Kemudian, Matthew memutar badan Elina ke hadapannya. "Jadi, jangan memaksakan senyum palsumu lagi. Aku tidak bisa dibohongi." Matthew menyentuh ujung hidung Elina, dan kembali memeluknya. "Jika kau sedih, menangislah. Dada dan kemejaku ini siap dibasahi oleh air matamu."
Alih-alih terharu, Elina malah tertawa kecil. Dasar Matthew, sejak kapan pandai melucu seperti ini? Hari-hari Elina jadi tidak terasa berat karena ucapannya yang kadang mengundang senyum geli di bibirnya. Itu pemanis dalam hubungan kita, kata pria itu.
Ya, Matthew. Cintanya dan cintamu lebih erat karena ada manisnya gombalan dan pahitnya cobaan. Kegetiran dapat dilalui jika kita saling mengerti dan terbuka. Elina bahagia karena menemukan Matthew dalam hidupnya. Meski cinta itu memiliki tepian jurang yang curam, yang harus dilalui agar mereka mencapai "happy ending" yang diidam-idamkan.
-;-;-;-
Elina *** ujung roknya sambil melirik Matthew. Suasana tegang memenuhi ruang tamu yang luasnya 3x3 meter, bersama dengan Ibu dan Frasya.
Matthew rasa 3 hari adalah waktu yang cukup untuk menenangkan diri bagi Ibu dan Frasya. Sekarang, waktunya Matthew dan Elina menjelaskan keadaan yang sebenarnya, lalu menyelesaikannya.
"Ibu, tolong beri kami kesempatan untuk menjelaskan kesalahan yang kami perbuat di masa lalu," ujarnya tenang dan hati-hati.
Frasya menoleh kesal ke arah lain, seakan tak sudi mendengar lagi semua ucapan mereka. Paling hanya alasan. Paling kebohongan lagi yang diucapkan. Gumamnya dalam hati.
Ibu bisa mengerti ekspresi yang ditunjukkan Frasya, tetapi ia hanya mendiamkannya. Perhatiannya kini berpusat pada dua insan yang ada di hadapannya. Ia lihat, mereka sangat serius pada hubungan ini. Mereka saling menyayangi.
Raima pernah keceplosan bilang, kalau Elina telah dilamar oleh Matthew. Mungkin, dengan menyelesaikan masalah yang sempat memanas beberapa hari yang lalu, mereka bisa melaksanakan pernikahan yang telah direncanakan sejak lama.
"Baiklah. Jelaskan semuanya."
__ADS_1
Matthew dan Elina tersenyum. Karena tahu Elina tak sanggup menceritakannya, maka Matthewlah yang menjabarkan kisah awal pertemuannya dengan Elina, kehamilan Elina, sampai gugurnya kandungan Elina.
Saat ia berujar, air mata Elina mengalir sambil menggenggam erat tangannya. Perjalanan yang begitu berat dan pahit, kehilangan sebuah anugrah yang ia nantikan bersama Matthew membuat air matanya tak bisa dibendung.
Frasya dan Ibu terkejut dan mengerti. Elina memang salah, tapi takdir yang kejam menuntun Elina untuk melakukan kekhilafan itu. Air mata Ibu menitik di pelupuk matanya, begitu juga dengan Frasya yang merasa bersalah karena telah menjauhinya.
"Maafkan aku, Ibu, Sya," sesal Elina, menunduk, setelah Matthew menyelesaikan ceritanya. "Aku telah melanggar prinsipku... habis, tidak ada pilihan lain. Dan aku sangat putus asa kala itu."
Ibu mendekati Elina yang terus meminta maaf sambil menangis. Dipeluknya anak sulungnya itu dengan mata yang telah basah. Ia memahami pilihan Elina itu, walau ia tahu ini salah. Frasya yang juga ikut terenyuh dalam suasana ini, mendekati Elina lalu memeluknya.
Senyum Matthew terkembang. Kebahagiaan mereka akhirnya kembali. Tinggal kebahagiaannya dengan Elina, yang akan ia sampaikan setelah tangis mereka mereda.
"Ibu," panggil Matthew, membuat ketiga wanita itu menoleh padanya. "Saya mau menyampaikan sesuatu."
Frasya tersenyum jahil. "Pasti minta izin mau berduaan sama kak Elina, kan?" Kemudian, ia meringis karena Elina menyikut lengannya.
"Bukan Frasya," jawab Matthew, tertawa kecil. "Aku mau melamar Elina secara resmi."
Secara resmi? Berarti, orangtua Matthew akan datang ke rumah? Yang lebih membuat Frasya dan Ibu sama terkejutnya dengan Elina adalah, hari lamarannya besok sore!
"Apa tidak terlalu terburu-buru?" tanya Elina, sangsi.
"Tidak. Karena aku akan ke London lusa besok, jadi aku tak mau menundanya lagi. Setelah aku kembali ke Jakarta, pernikahan pun segera dilaksanakan," jawab Matthew mantap.
Ibu dan Frasya tersenyum. Tentu saja, itu gagasan yang bagus. Jadi, Ibu menyetujui rencana itu, dan mulai mempersiapkannya bersama dengan Frasya.
Pembicaraan ini sudah selesai. Sekarang, waktunya bagi pasangan bahagia itu berduaan. Ibu menarik lengan Frasya, menyuruhnya untuk ke kamar. Tetapi, Matthew dan Elina memilih duduk di teras, menikmati aroma petrikhor sehabis hujan ringan yang turun sekejab.
Takdir itu aneh. Tak ada yang bisa menebak seperti apa nantinya hidup kita. Elina yang menyangka, bahwa kehamilan adalah hal terburuk dalam hidupnya, justru membuatnya menemukan kebahagiaan sejati, yang ia anggap mustahil.
Kebahagiaan sejatinya ada di belakangnya, sedang memeluknya dari belakang. Pria itu merapatkan tubuhnya, menopang dagunya di pundak Elina. Suara lirihnya nan lembut menggetarkan hatinya.
"Kau bahagia?"
"Hmm...." Tanpa sadar Elina menggangguk sembari tersenyum. "Sangat."
Matthew mempererat pelukannya.
"Oh, iya. Kenapa sekarang-sekarang ini, kau lebih sering ke London?" tanya Elina, setelah menyadari sesuatu.
"Kenapa? Apa kau cemburu kalau aku nantinya akan didekati oleh banyak wanita cantik di sana?" Matthew sengaja menggoda Elina dan membuatnya jengkel. Dan ternyata, itu berhasil!
"Nggak kok."
"Oh, aku tahu." Kemudian, Matthew berbisik. "Pasti kau akan tersiksa karena merindukanku, kan?"
Elina menunduk, kedua pipinya langsung bersemu merah. "Bukan aku, kaulah yang pasti sangat merindukanku."
Matthew terkekeh. Wanita ini masih tidak mau mengaku juga. Meski harga diri Matthew tinggi, tetapi di depan wanita ini ia tidak akan malu mencurahkan apa pun yang ada di dalam hatinya.
__ADS_1
Dilepaskannya pelukannya, kemudian memutar tubuh Elina ke hadapannya. Kedua tangannya yang besar menyentuh pipi Elina, menatapnya lembut dan penuh cinta.
"Aku tidak akan memungkirinya," ucapnya. Lalu, ia mengecup ujung kepala Elina. "Aku akan merindukan harumnya dan halusnya rambut hitammu ini. Lalu," sekarang, kecupannya mengarah ke kening. "Ini juga."
Selanjutnya, Matthew mengecup ujung hidungnya, terus ke kedua pipinya, dan tentu saja yang terakhir, ke bibirnya yang sangat ia dambakan. Ia tersenyum, kala ibu jarinya mengelus bibir wanita itu, lalu mengecupnya lembut. Begitu manis, begitu menyenangkan. Ciuman yang akan terus teringat dan dirindukannya selama 3 hari sosok prianya tak ada di sampingnya.
Tapi tak apalah. Semua kerinduan itu akan terbayar nantinya. Besok adalah harinya mereka mengikat diri sebagai calon pasangan suami-istri. Dewi dan Monika akan datang ke rumah, bersama dengan Matthew.
Hati Elina berdetak tak keruan. Sejak tadi malam, begitu Matthew pulang ke rumah setelah ciuman hangat mereka, ia tak dapat tidur karena terlalu berdebar-debar menunggu hari esok. Hatinya sangat bahagia. Hatinya begitu berbunga-bunga. Khayalannya melambung, membayangkan bagaimana acara lamaran itu berlangsung. Karena itu, matanya sulit terpejam. Padahal, ia telah cukup lama berbaring, menyelimuti tubuhnya dengan selimut bermotif bunga sakura.
Sudah cukup! Tegur Elina di dalam hati, pada diri sendiri sembari menghalau khayalannya yang semakin jauh. Besok harinya, dan ia harus tidur cukup supaya terlihat cantik. Maka, ia menutupi wajahnya dengan selimut, hingga ia terlelap juga pada akhirnya.
-;-;-;-
Hari yang sibuk sekarang. Baik Elina, Ibu, dan Frasya telah bangun lebih pagi untuk mempersiapkan acara lamaran ini. Mereka memasak, membeli kue, dan sebagainya.
Elina memberitahukan Raima soal lamaran itu. Dan dia segera meluncur ke rumahnya, siap membantu jika ada yang harus ia kerjakan, termasuk merias Elina.
"Lo mau pake baju itu? Nggak ada yang lain?" komentar Raima, saat Elina memperlihatkan gaun warna hijau toska.
"Kalau yang ini?"tanya Elina, mengeluarkan gaun berwarna kuning.
Raima beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju lemari pakaian Elina. Setelah melihat koleksi baju Elina, lalu ia meraih sebuah gaun sebatas dengkul berwarna salem.
"Gimana kalau yang ini?"
Elina memiliki kulit putih yang cocok memakai pakaian warna apa pun. Raima sangat suka ketika Elina memakai warna merah muda dengan berbagai model. Dan menurut Elina pilihan Raima bagus juga, jadi ia bergegas memakainya. Setelah itu, Raima menyeret Elina ke depan meja hias.
"Hari ini, gue bakal bikin lo secantik mungkin, sampai Matthew nggak mau berpaling dari lo," kata Raima.
Dewi, Monika, Matthew, dan ketiga sahabatnya, datang pada pukul 3 sore, membawa beberapa kue dan hadiah untuk calon menantu keluarga Jonathan. Frasya dan Ibu bergegas keluar, menyambut keluarga itu dan mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu.
"Elina mana?" tanya Dewi pada Ibunya Elina.
Tanpa disuruh, Frasya bergegas masuk ke dalam kamar Elina. Ia kembali ke ruang tamu bersama dengan Elina dan Raima.
Dewi dan Monika menoleh, begitu juga dengan Matthew. Sepertinya Raima tidak hanya mengatakan omong kosong, riasannya memang membuat pandangan mata Matthew tak lepas dari Elina.
Elina agak tersipu juga terpukau pada penampilan Matthew hari ini. Kemeja biru yang dipakainya begitu pas dan dia terlihat lebih tampan.
Monika memandangi mereka sambil tersenyum geli. "Kayaknya, udah nggak sabar nih? Mulai aja deh acaranya, Ma."
Seharusnya, yang menyampaikan lamaran adalah William, selaku ayahnya Matthew. Tapi karena William tidak hadir, dan mereka juga sudah tahu masalah yang sebenarnya mengenai pria itu, maka Dewi yang mewakili.
"Ibu Sri, kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar Elina," Dewi memulai. "Seperti yang kita tahu, bahwa Matthew dan Elina sudah sama-sama saling mencintai. Jadi, kiranya Ibu merestui hubungan mereka untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi."
Ibu melirik Elina yang tampak menunduk dengan hati yang begitu berdebar-debar. Hubungan mereka telah lama terjalin, melalui berbagai rintangan, dan perpisahan yang menyakitkan. Tentu saja, mana mungkin seorang Ibu memisahkan anaknya dengan orang yang dicintai dan bisa membuatnya bahagia.
"Iya, Bu Dewi. Saya menerima lamaran ini," ucap Ibu sambil tersenyum.
__ADS_1
Frasya dan Raima langsung memeluk Elina sambil mengucapkan selamat. Monika pun juga memberikan selamat padanya dan Matthew. Begitu juga dengan Kevin, Fritz, dan Frans, yang menyalami dan memeluk Matthew.
Matthew dan Elina saling memandang sambil tersenyum bahagia. Akhirnya, sebentar lagi mereka akan menjadi sepasang suami-istri, yang menurut Dewi, akan direncanakan minggu depan.[]