
Fate meet with you
Hampir setiap wanita bahagia ketika dianugrahi sang buah hati di dalam rahimnya. Mungkin hanya sedikit yang seperti Elina, yang mengunci diri di kamar, menangisi kemalangan yang tidak diduga.
Bayi ini tidak salah, tapi ia tak menginginkannya! Yang terpikirkan adalah masa depan yang hancur, dan ibunya yang mungkin saja kembali sakit setelah mengetahui kehamilan ini.
Elina mengusap air matanya, tertegun ketika sebuah pemikiran melintas. Ide Raima waktu itu … apa sebaiknya kehamilan ini diberitahukan saja pada Matthew?
Tidak! Ia telah berkomitmen akan menanggung akibat ini sendirian, tanpa melibatkan hidup pria itu. Lagi pula, pria itu pasti akan menolak bertanggung jawab, apalagi Elina tidur dengannya karena teman-teman Matthew yang menyewanya.
Jika memikirkan “bagaimana selanjutnya?” air mata Elina langsung mengalir tanpa henti dan sulit berpikir.
Kepastian belum didapat, jadi Elina menjalani kehidupannya seperti biasa tanpa menimbulkan kecurigaan, bekerja di siang hari dan langsung masuk kamar untuk menyendiri. Namun, semua itu bukan berarti selamanya tidak menimbulkan keganjilan.
“Elina, katanya kamu mau balik lagi kuliah?” tanya Ibu suatu pagi, saat sedang sepi pembeli dan Frasya sudah berangkat sekolah.
Elina kikuk, dan menunduk sambil mengaduk-aduk nasi uduknya. “Iya. Kayaknya, Elin mau kerja dulu. Lagian, Frasya mau lulus sekolah. Duitnya mau aku buat masukin Frasya kuliah.”
“Terus kamu gimana?”
“Cuti lagi, mungkin setahun.” Elina tersenyum. “Biarin deh, Bu. Elin ngalah aja dulu.”
Walaupun Elina tak menatapnya, dari sudut matanya, Elina bisa melihat ekspresi cemas yang tergambar di wajah keriput sang ibu. Elina kembali muram, tapi tak terlihat jelas oleh Ibu karena sedang menunduk.
Ah, mual lagi! Tanpa mengatakan apa pun, Elina meletakkan piring di meja lalu bergegas ke kamar mandi. Entahlah, apa di saat itulah kecurigaan ibu muncul, atau pada saat makan malam dua hari sesudahnya?
Frasya melirik piring kakaknya, lalu melirik Ibu dengan pandangan penuh arti. Makanan di piring Elina sangat sedikit, dan sejak tadi hanya diaduk-aduk saja. Pikir Ibu mungkin masakannya kurang enak, walaupun baginya tidak begitu. Frasyalah yang akhirnya angkat bicara.
“Kak, lo sakit?”
Elina terkesiap. “Hm? Enggak, gue baik-baik aja.”
Frasya mengernyit. Aneh, kenapa Elina menjawabnya terbata-bata gitu? Kemudian, ia menanggapi, “Oh.”
Ibu memperhatikan ekspresi Elina yang muncul; entah Elina menyadarinya, Ibu melihat ada perasaan gugup sekilas di balik sikap tenang Elina. Di sanalah Ibu mulai bertanya-tanya.
Ibu dan Frasya menoleh saat terdengar suara “huek” dari Elina. Gadis itu sedang menutup mulutnya.
“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Ibu cemas dan langsung mendekati Elina.
Sambil membekap mulutnya, Elina menggeleng. Namun, rasa mualnya muncul lagi tanpa suara, dan Elina bergegas ke kamar mandi. Elina memuntahkan semua makanan yang telah masuk dan membersihkannya.
Air keran dari westafel dibiarkan keluar. Elina berdiri di sana, mengigit bibir bawahnya, cemas. Yang tadi itu, apa Ibu mencurigainya? Bagaimana kalau iya? Ah, hidupnya telah kacau. Sikap yang diambilnya, dan mengambil keputusan terlalu lama membuat rahasianya hampir terbongkar.
Sampai malam itu, Elina mengunci diri di kamar dan mulai berpikir. Raima yang sudah hampir seminggu tidak melihatnya, menghubunginya ketika ia sedang berjalan mondar-mandir di kamarnya.
“Halo,” jawab Elina.
“Lin, apa kabar? Kok ngilang? Nggak kangen lo sama gue?” seloroh Raima, diselingi tawa kecil.
Raima selalu saja bisa membuat senyum tipis Elina terkembang. “Gue baik. Ada apa?”
“Ya, elah, pake basa-basi dulu kek.”
Tapi memang begitu adanya, Elina sangat jarang berbasa-basi. “Lo nggak kerja?” tanyanya setelah melirik jam.
“Kerja,” sahut Raima langsung, “tapi gue mau ngobrol sama lo bentaaaar aja. Kangen nih?”
Raima, udah kayak sama pacar aja ngomongnya gitu. Tapi memang Raima seperti itu hanya ingin menghibur Elina. Siapa yang ia punya lagi untuk berbagi kisah, jika ia tidak ingin kedua orang yang paling disayanginya mendengar penderitaannya.
Karena tidak ada sahutan dari Elina, Raima kembali berbicara, tapi dengan nada yang lebih serius. “Lo lagi apa? Gimana? Udah lo pikirin keputusan lo?”
Entahlah Raima. Desah Elina dalam hati. Bingung, buntu, hanya itu yang ada di dalam otaknya. Seakan semua pintu solusi tertutup baginya. Hanya saja, ada satu yang sempat terlintas, dan masih dipertimbangkan olehnya.
“Ima,” ucapnya setelah terdiam beberapa saat. "Gue nggak sanggup bilang sama ibu dan Frasya soal kehamilan ini. Gue juga nggak bisa minta pertanggungjawaban dari Matthew—”
Raima mengernyit dan menahan napas ketika ucapan itu menggantung. Tetapi ia juga tidak tahan dirundung oleh rasa penasaran, jadi ia mendesak. “Terus?”
“Gue akan menggugurkan kandungan gue.”
__ADS_1
Ini benar-benar Elina? Raima membeku dengan mulut terbuka, tak percaya jika pikiran Elina sebuntu itu. Elina seperti wanita jahat tak berperikemanusian. Padahal, ia yang dulu paling membenci kejahatan keji seperti itu, ketika mereka menyaksikan berita tentang topik itu di TV.
“Lin, bukannya elo membenci aborsi? Mending lo pikirin cara lain. Gue nggak setuju lo lakuin itu!”
“Habis mau gimana lagi?” tukas Elina. “Cuma itu cara yang bisa gue pikirin. Gue nggak sanggup kalau ibu dan Frasya menghadapi cemoohan tetangga dan teman-teman Frasya.” Ia mulai terisak dan berucap pelan, “Gue nggak mau ibu sakit lagi.”
Raima mendesah. Ia sangat tahu, Elina begitu mengkhawatirkan mereka. Tapi tetap saja … “Lin, aborsi itu sangat berisiko. Kata Tina, lo bisa kehilangan nyawa lo, atau juga lo nggak bisa hamil lagi.” Suara Raima memelan.
Elina terdiam. Soal itu, ia sudah tahu dan memikirkannya. “Ya, tapi gue nggak peduli. Kalaupun gue nggak bisa menggendong bayi seumur hidup, gue nggak akan menyesal. Lagian, gue cuma mau menghabiskan sisa umur gue bersama ibu—nggak nikah juga nggak apa-apa.”
Pahit, pedih, itulah yang Raima dengar dari setiap kata yang diucapkan Elina. Raima mengerti, itu juga yang dipilihnya, saat tekadnya bulat untuk memasuki dunia hitam itu. Mereka sama-sama mengalami kehidupan kejam di dunia ini. “Tak ada pilihan lain”, hanya kata itu yang muncul, saat mereka dihadapi oleh masalah yang tak bisa mereka atasi.
Raima pun tak bisa memaksa. Jika Elina menginginkannya, maka tak perlu lagi ia berusaha untuk mengubah pikirannya. “Jadi, apa rencana lo sekarang?”
“Gue akan hidup terpisah dari ibu dan Frasya, cari pekerjaan, dan—kalau udah punya duit—gue akan aborsi.”
-;-;-;-
Monika Kristalia Jonathan, itu nama sebelum ia menikah. Seorang wanita cerdas, berpenampilan anggun, terlihat lembut dengan senyum ramah yang menggantung di bibirnya. Menikah dengan seorang pria, dikaruniai seorang anak laki-laki tampan yang bernama Justin Satria Adisudibyo.
Dia datang ke sebuah yayasan penyalur pembantu dan pengasuh, membawa justin di dalam gendongannya. Lantas, ia menemui pegawai yang mengurus yayasan ini, ingin menyewa seorang baby sitter.
“Kami punya 3 orang. Ibu bisa pilih orangnya,” kata pegawai itu, yang kemudian memerintahkan rekan di sebelahnya untuk memanggil para pengasuh yang sudah terlatih.
Tiga orang wanita berseragam pengasuh berwarna merah muda, masuk bersama dengan rekan pegawai yayasan ini. Wanita berbeda ekspresi, umur dan penampilan; satu berhijab, yang dua lainnya tidak.
Monika tertarik pada seorang wanita berparas ayu, memiliki tatapan lembut, dan sesekali menunduk. Gadis itu sepertinya tampak patuh. Dan ia sering tersenyum melihat tingkah Justin yang menggemaskan.
“Justin, apa kamu suka sama kakak yang itu?” tanyanya sambil menunjuk pada gadis itu.
Pegawai yayasan melihat ke arah tunjukkan Monika sembari tersenyum. “Namanya Elina. Anda bisa lihat data-datanya di sini.”
Data yang tertulis memang tidak begitu jelas—beberapa data ada yang tidak terisi—tapi ia cukup puas mengetahui bahwa gadis ini tidak bermasalah, berstatus jelas, dan berpendidikan cukup tinggi—SMA. Semua itu sebenarnya tidak begitu penting, asal gadis itu mampu mengasuh Justin dengan baik. Ia tersenyum hanya karena ingin menunjukkan pada pegawai yayasan, bahwa ia sudah membaca dan mengerti pada data-data itu.
Monika menyerahkan Justin ke gendongan Elina, setelah semua proses penyewaan pengasuh selesai. Ia membatin senang, gadis pilihannya ternyata tepat untuk Justin. Elina sudah mengakrabkan diri dengan anaknya. Justin begitu senang bermain dengan Elina, selama perjalanan menuju rumah ibunya.
Selama 3 hari menjadi pengasuh, Elina merasa senang karena tidak banyak kendala di sana, kecuali rasa mual, yang kadang-kadang muncul. Ia sangat diterima di keluarga itu. Sama seperti pembantu lainnya, Elina merasa beruntung bekerja di sana.
“Satu suap lagi, Justin. Aaaa,” Elina membuka mulutnya, saat menyuapi sesendok bubur ke dalam mulut Justin. Lalu, ia tersenyum dan memberi penghargaan karena anak itu menghabiskan makanannya. “Justin anak pintar.”
Justin tertawa jenaka sembari bertepuk tangan seperti Elina.
Lalu, ia melihat Monika turun ke bawah sambil tersenyum girang, menghampiri Dewi yang sedang bercanda dengan Justin. “Bu, katanya dia lagi OTW ke rumah.”
Walaupun tidak tahu pasti siapa, pasti tamu itu sangat istimewa bagi Dewi. Lihatlah senyumnya, membuat Elina turut bahagia.
“Bi, udah siapin kamar buat Tuan?” kata Monika pada wanita tua gemuk yang sedang membereskan meja.
“Sudah, Nona.” Wanita itu mengangguk.
Lalu, Monika mengarah pada anaknya. “Justin, sebentar lagi om kamu datang.”
Om?
Saat Elina pertama kali datang ke rumah ini, ia melihat potret keluarga utuh berbingkai besar di ruang tengah. Ada Dewi dan suaminya yang berparas bule, lalu sepasang remaja laki-laki dan perempuan. Pasti orang yang dimaksud adalah adik Monika.
Elina tak begitu tahu banyak tentang keluarga ini, karena ia sendiri tak menanyakannya. Tapi, ia tahu dari pembantu di sini, kalau Dewi dan suaminya telah bercerai.
Justin menangis bersamaan dengan bunyi bel pintu. Monika ingin membuka pintu karena tak sabar bertemu dengan adiknya. Tetapi Justin hanya ingin digendong olehnya, bukan Elina.
“Saya aja yang buka pintunya, Nyonya,” kata Elina menawarkan diri.
Monika mengangguk lalu membawa Justin ke kamarnya, sementara Elina membukakan pintu. “Nggak sabar banget,” gumamnya ketika suara bel kembali berbunyi.
Tidak ada firasat apa pun, tapi malah ditakdirkan bertemu. Elina melihat kembali sosok pria itu ketika pintu terbuka. Matthew dan Elina sama-sama terpana lama, menatap, larut dalam pikiran dan perasaan masing-masing.
Padahal, dulu ia yang bilang bahwa tidak ada lagi pertemuan di antara dirinya dengan pria itu. Apa rencanamu, Tuhan? Kenapa mereka dipertemukan? Apa karena anak ini?
Tanpa sadar, Elina mengelus perutnya, dan Matthew melihatnya walaupun tak mengerti maksudnya. Melihat wanita itu lagi, ada perasaan senang sekaligus lega, atau apalah—yang ia sendiri tidak bisa menjelaskannya.
__ADS_1
“Elina.” Bibirnya berucap, seakan ini seperti mimpi. Lantas, Matthew memeluk tubuh mungilnya tanpa bisa dihindari. Elina kaget, tapi tak menolak. Membiarkannya, dan turut larut dalam hangatnya dekapan, tanpa menyadari bahwa Monika melihat adegan itu.
“Matthew!” seru Monika.
Matthew tersentak. Apa ini? Hanya khayalan? Posisinya dengan Elina dekat, tapi mereka hanya saling berdiri dan menatap, bukan berpelukan seperti tadi. Kini Elina sedang menoleh pada Monika yang berseru senang menyambut kedatangan adiknya.
“Kalian ngapain di sana? Elina, itu adik saya. Suruh dia masuk!” kata Monika.
Elina mengangguk kikuk, lalu memberi jalan pada Matthew agar dapat masuk ke dalam rumah. Monika langsung melingkarkan lengannya ke lengan Matthew, membawanya menemui Dewi yang ada di dapur.
“Elina, tolong kasih susu ke Justin, terus tidurin dia, ya?” Monika memberikan botol susu yang telah terisi penuh, yang kemudian dibawa oleh Elina ke kamar atas.
Saat itulah, pandangan mata Matthew tak pernah lepas dari Elina yang sedang menaiki anak tangga. Monika memergokinya, tersenyum dan menepuk pundaknya hingga terperanjat.
“Itu namanya Elina, pengasuh Justin,” kata Monika, meletakkan segelas jus jeruk di depan Matthew.
Pengasuh? Matthew mengernyit. “Sejak kapan dia mulai kerja?”
“Udah tiga hari.”
Matthew meneguk jusnya, sebelum berkata: “Itu yang Kakak bilang pengasuhnya? Jadi, Kakak mau pekerjakan dia sampai persidangan selesai?”
“Em … nggak kayaknya. Nyari pengasuh yang cocok sama Justin susah—walaupun Justin anaknya gampang dekat sama siapa aja—tapi aku suka sama kerjaannya Elina,” jawab Monika. “Elina sayang banget sama Justin. Jadi, aku pertahanin dia.”
Diam-diam Matthew tersenyum sekilas. Jadi, dia menyukai anak-anak? Tambah kagum dengan sifat Elina yang baru diketahuinya.
Monika melongok, melihat Matthew dan tersenyum jahil. “Orangnya cantik, ya?”
Matthew melirik. Sebenarnya, ia hampir termakan kejahilan Monika dan sempat grogi. Tetapi ia sembunyikan dengan berdalih mengambil gelas jus lalu meminumnya. Kemudian, ia menanggapi Monika, diusahakan terlihat tenang:
“Ya, cantiklah. Dia kan cewek. Masa ganteng.”
Monika mencemoohnya dengan menganggukkan kepala. “Iya juga, ya?”
Kemudian, Dewi datang dari arah lantai atas, berseru menyambut anak lelakinya dengan pelukan hangat. Dewi bersemangat sekali menyiapkan makanan kesukaan Matthew, yang ia masak sendiri khusus untuknya.
Mereka bertiga makan dan mengobrol. Dewi begitu gembira membicarakan kepindahan Matthew yang menetap lama di Jakarta. Akhirnya, bisa berkumpul dengan anak-anaknya lagi.
Elina tak sengaja mencuri dengar saat kembali ke dapur untuk meletakkan botol susu yang telah kosong. Hatinya berdetak waswas: jika Matthew menetap di sini, berarti pertemuan mereka akan sering terjadi. Padahal, ia ingin menghindari pria itu.
“Elina, apa Justin udah tidur?” panggil Monika, ketika menyadari kehadiran Elina.
Tetapi Elina tidak kunjung menyahut, terlalu sibuk dengan pikirannya, alih-alih mencuci botol susu Justin.
“Elina!” Monika kembali memanggil dengan suara agak keras.
Elina tersentak dan menoleh pada Monika, Matthew pun spontan melirik pada gadis itu. “Iya, Nyonya?” sahut Elina setelah tersadar.
Monika menghela napas, heran. “Tadi saya nanya sama kamu.”
“Oh, soal Justin? Iya, sudah tidur.”
Ini pertama kalinya Monika melihat gadis itu tidak fokus. Apa yang sedang ada di dalam pikirannya? Dan kini, pandangannya teralihkan pada Matthew yang melirik Elina diam-diam. Di benaknya muncul lagi pertanyaan lain.
Botol sudah dicuci, dan sekarang Elina kembali ke kamar atas untuk membereskan mainan. Matthew juga telah menghabiskan makanannya, lalu beranjak dari kursi.
“Ma, Kak Monik, aku capek, mau istirahat dulu,” kata Matthew.
Dewi mengangguk, dan Monika langsung membantu Dewi membereskan bekas makan Matthew, setelah pria itu berlalu.
-;-;-;-
Elina menghela napas. Justin bagaikan raja, semua mainan di toko pasti dibeli oleh orangtuanya. Mainan dengan berbagai jenis berceceran di teras lantai atas yang luas. Ia cukup kewalahan membereskannya. Boks untuk menyimpan semua ini sepertinya perlu ditambah karena sangking banyaknya.
Keringat yang terasa mengucur di dahi diusap dengan punggung tangannya. Mengandung satu janin membuatnya cepat lelah. Untung saja, anak yang diasuhnya tidak membuatnya kesulitan.
Satu boks kecil telah penuh, dan Elina akan mengangkatnya lalu membawanya ke kamar Justin. Tapi tiba-tiba tangannya tak kuat mengangkatnya dan hampir saja jatuh jika seseorang tidak menahan boks itu.
Elina mendongak. Matanya langsung bertemu dengan mata biru yang tajam tapi tersimpan sebuah kelembutan di sana, milik seorang pria.
__ADS_1
“Tubuhmu kecil, jangan memaksakan diri untuk mengangkat yang berat,” kata Matthew, yang kemudian merenggut kotak itu dan membawanya ke kamar Justin.
Setitik perhatian lagi, yang membuat hatinya terasa hangat. Elina menatap Matthew lama, masih tercengang. Perasaan yang dulu muncul lagi. Kenapa begini? Sejak malam itu, malam sesudahnya, dan sekarang, kenapa pria itu menguasai perasaan dan pikirannya?[]