Matthelina

Matthelina
[Season 2] Chapter satu


__ADS_3

Ringkasan:


Anna adalah wanita karier yang sukses di usia 27 tahun. Setelah 2 tahun dipindahtugaskan ke Singapura, ia kembali demi tuntutan sang ibu yang khawatir tidak bisa melihat anak gadisnya menikah. Bisa dibilang, ia akan dijodohkan.


Namun, Anna sangat keras kepala, berusaha untuk menghindari perjodohan itu. Karena sudah menyerah, ibunya membiarkan Anna untuk hidup sekehendak hatinya, walaupun ia sering kena sindir ibunya yang ingin sekali punya cucu lagi darinya.


Tuhan tidak tidur, ucapan ibu menjadi doa yang dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa. 2 garis merah tertera di tespack. Anna membekap mulutnya.


Tidak mungkin, 'kan ia hamil? Ia dan pria yang bernama Logan itu hanya sekali melakukannya. Lagipula, bagaimana mau meminta tanggung jawab, jika Logan sendiri sudah punya tunangan? ditambah lagi, perbedaan keyakinan.


🍀


Ch Satu - Kencan Buta


Mungkin terlambat 5 menit sudah biasa. Bagaimana kalau terlambat sampai 30 menit?


Anna melirik arlojinya, tersenyum setelah memarkirkan mobil sedan Ayla-nya di tempat parkir. Lalu, ia keluar, memeriksa penampilannya di kaca spion.


"Cantik," gumamnya sembari tersenyum.


Kaki mulus nan putihnya melangkah ke dalam restoran cepat saji yang cukup ramai pada malam Rabu ini. Ia berdiri sejenak di depan pintu, tersenyum sinis pada seorang pria yang sedang duduk di meja dekat jendela.


"Kasihan. Pasti udah nunggu lama," gumamnya, lantas kembali melangkahkan kakinya.


Ya, Anna akan bertemu dengan seseorang. Pria berpakaian cukup rapi dan cukup tampan dengan kemeja biru muda, yang lengannya di gulung hampir mencapai siku, lalu dipadukan dengan celana bahan warna hitam.


"Lumayan," puji Anna dalam hati.


Melihat seorang wanita cantik berdiri di hadapannya, pria itu sontak berdiri. Ia membalas senyum Anna yang mempesona, lalu mengulurkan tangan dengan gugup


"Anna, ya?"


"Iya. Kamu, Adam?" tanya Anna, lalu menarik tangannya, setelah dirasa cukup berjabat tangannya dengan pria itu.


"Silakan duduk," kata pria itu sopan, mempersilakan Anna.


"Terima kasih," kata Anna sambil duduk. "Maaf, ya, aku terlambat."


Ketika mengucapkan hal itu, Anna bukan sekadar meletakkan tasnya, tetapi sambil melihat reaksi pria itu. Sepertinya, Adam tampak kurang senang, walaupun ditutupi dengan senyum paksanya.


"Nggak apa-apa," jawab Adam. "Hari ini, jalanan memang sedang macet, makanya kamu datang terlambat. Aku maklumin."


"Hari ini nggak macet kok," sahut Anna menyela cepat, nada bicaranya terdengar menjengkelkan. "Ya, tahulah. Perempuan itu harus tampil cantik, apalagi buat ketemu sama cowok. Makanya, kalau aku dandan agak lama sedikit."


Anna sudah menebak dari raut wajah pria itu. Ia benar-benar berhas membuatnya jengkel! Ia yakin, pria itu pasti memaki-maki di dalam hati seperti ini:


"Perempuan macam apa yang membuatku menunggu lama hanya karena berdandan?"


Anna terkikik di dalam hati jika membayangkannya.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Adam berganti topik.


"Em ... aku lagi diet. Jadi, aku pesan ayam plus nasi 2, beef burger 3. Spaghetti kayaknya enak? Pesan 2. Minumannya cola dan lemon tea." Setelah mengatakan semua itu, Anna tersenyum simpul.

__ADS_1


Adam melongo, tapi akhirnya beranjak dari tempat untuk memesan semua menu yang disebutkan oleh Anna.


"Itu yang disebut diet? Ini cewek atau raksasa sih?" gerutu pria itu ketika sudah jauh dari meja yang mereka tempati.


Anna menjalin jemarinya, lalu meletakkannya di atas meja. "Oke. Sekarang kita lihat, bagaimana reaksinya nanti?"


Hidangan sudah ada di meja, Anna tersenyum senang. Oke, ia mulai dari ayam plus nasi dulu! Ia langsung menyantapnya, sampai tak mengacuhkan pria yang sedang menatapnya dengan aneh.


"Eh, maaf. Kalau aku lagi makan, suka lupa situasi," kata Anna, menyeringai malu. "Ayo, dimakan dong makanannya."


Adam mengangguk tersenyum segan. "Eh, iya."


Tunggu, ini bukan acara makan-makan. Mereka sedang ingin melakukan PDKT. Tentunya, harus ada obrolan. Makanya, Adam memulai suatu pembicaraan selagi Anna makan.


"Kapan kamu sampai di Jakarta?"


Pertanyaan apa itu? Gerutu Anna di dalam hati. Bukannya dia sudah tahu dari tante Asti? Oh, ia mengerti. Lagi mencoba akrab rupanya.


"Sudah seminggu," jawab Anna, lalu dengan sengaja menjilat tangannya. Dan yang lebih parah lagi bersendawa, sehingga Adam mengernyit jijik. "Ups! Maaf, ya."


Adam tersenyum paksa. "Jadi, apakah kamu akan kerja lagi di sini?"


Ekspresi Anna dingin dalam beberapa detik, lalu tersenyum lagi. "Terpaksa. Sebenarnya, aku malas kerja lagi. Toh, perempuan kerjanya hanya di dapur, mengurus anak dan suami. Uang akan terus mengalir dari suamiku. Tinggal menegadahkan tangan seperti ini," lalu, ia mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Adam, "aku tetap akan punya uang."


Anna menunduk, seolah sedang mengorek serpihan daging yang masih menempel di tulang ayam. Tapi, diam-diam sambil melirik pria itu.


Coba kita lihat, reaksi seperti apa yang ditunjukkan oleh Adam, setelah mengetahui bahwa wanita yang akan dinikahinya adalah seorang pemalas.


"Ya, memang seharusnya seorang istri begitu—fokus mengurusi suami dan anaknya. Ya, kan?" jawab Adam sambil tersenyum lebar.


Tidak apa. Mari kita coba tahap selanjutnya.


"Kan kamu udah tanya soal aku," kata Anna, menatap dengan wajah polosnya. "Sekarang, giliran aku yang tanya."


"Silakan. Apa yang mau kamu ketahui tentang aku?" ujar Adam.


Soal pekerjaan, pertanyaan yang biasa. Anna akan langsung to the point untuk mendapatkan jackpot yang diincarnya sejak tadi.


"Kenapa kamu mau dijodohkan sama aku?" tanyanya sambil meraih tisu, lalu mengelap tangannya. "Tampang kamu lumayan, umur juga nggak terlalu tua. Pasti bisa dong cari cewek yang pas dan kamu suka di luar sana? Ya, 'kan?"


Adam tidak perlu pikir panjang untuk menjawabnya. Seulas senyuman terkembang di bibir. "Karena aku ingin coba dulu."


Anna yang sedang meminum lemon tea sambil mendengarkannya. Tatapan matanya seketika dingin.


"Mencoba?" tanyanya sambil meletakkan gelas ke meja.


"Mamaku dengar dari Tante Asti, katanya kamu rajin, sukses, dan cantik."


"Oh, begitu?" timpal Anna, tersenyum sinis. "Tante Asti kalau cerita berlebihan banget."


Adam tertawa kecil.


"Terus, apalagi yang Tante Asti ceritakan tentang aku?"

__ADS_1


"Em ... Mata Adam melirik ke atas, berpikir. "Katanya kamu penurut, rajin shalat. Menurutku sempurna banget."


Pujian yang berlebihan, Bung! Bahkan Anna muak mendengarnya.


Anna terkekeh. "Tante Asti seharusnya kerja di bagian marketing—bisa aja promosiin aku kayak gitu. Padahal, aku nggak kayak gitu?"


"Maksudnya?" tanya Adam, tertegun.


"Ya, aku ini sebenarnya pemalas," jawab Anna, agak berbisik. "Alim? Oh, tidak, tidak. Aku memang sering bawa mukena, tapi sesampainya di masjid, aku main hp. Habisnya, itu cara aku buat istirahat di jam kerja."


Ding dong! Sepertinya Adam syok sekali. Makin lebarlah senyuman Anna. Ayo, Adam. Seberapa kebal kamu dekat-dekat dengan perempuan tak sesempurna seperti yang kamu bayangkan?


Adam salah tingkah, sehingga bingung mau berkata apalagi. Dalam beberapa saat, entah mungkin sudah berapa banyak air yang diminumnya, ia terdiam. Anna berpikir, perlukah menyerangnya lagi?


"Anna," panggil Adam, membuat Elina memfokuskan pandangannya. "Kalau soal itu tidak masalah. Karena saya sudah suka sama kamu. Kamu pasti bakal berubah nantinya."


Jemari Anna disatukan membentuk kepalan yang sangat kuat. Tatapannya dingin, tapi sulit terbaca. Di dalam hati berkecambuk kemarahan yang diredam.


"Benar, kamu mau menerima aku apa adanya?" tanya Anna kemudian, bicaranya melunak.


"Iyalah," sahut Adam.


"Walaupun aku tua, jelek, keriput, mungkin juga gendut setelah melahirkan?"


Kali ini, Adam agak lama menjawab, lalu mengangguk ragu.


"Dan Walaupun aku sudah tidak perawan lagi?" tanya Anna, senyumnya misterius.


Adam mendelik. "Tidak perawan lagi?" gumamnya terlihat syok.


"Iya. Sebenarnya, aku udah nggak perawan lagi," sahut Anna. "Aku pernah dengar dari seseorang: 'jika kamu cantik, manfaatkan kecantikan itu!' Aku sadar, aku cuma pegawai rendahan yang suka berfoya-foya. Jadi, aku memanfaatkan kecantikanku dengan menjadi simpanan bosku."


Adam melongo. Ucapan Anna membungkamnya.


Anna menghela napas. "70 juta, tidak ada orang yang sanggup mengeluarkan mahar sebanyak itu. Makanya, aku merelakan tubuhku pada bosku, agar mendapatkan uang itu."


"Dasar wanita murahan!" Anna menebak, ucapan itulah yang dikatakan dalam hati Adam. Bom yang dilemparkannya tepat mengenai Adam. Pria itu menunduk, mengernyit seperti sedang berpikir. Dia jadi salah tingkah, berpura-pura melirik arlojinya.


Tak perlu mencoba membuat alasan Mas Adam, dia terselamatkan oleh telepon masuk dari ponsel Anna.


"Halo? Iya, Pak? Bapak kangen sama saya?" kata Anna, diam-diam melirik Adam sambil tersenyum sinis. "Oke, Bapak jemput saya ke sini, ya. Nanti saya share lokasi saya."


"Em ... kamu mau pulang?" tanya Adam ragu.


"Nggak. Bos saya mau datang ke sini," jawab Anna, lalu tersenyum lebar.


"Oh," kata Adam kecewa. "Kalau begitu, saya pulang duluan, ya."


"Hmm ..." jawab Anna acuh tak acuh sambil memainkan ponsel. "Oh, iya. Makasih udah dibayarin makanannya."


"Iya." Adam tersenyum kecut, lalu berbalik.


Yakin pria itu sudah keluar dari restoran, Anna melirik, lalu meletakkan ponselnya. Ia tersenyum menang karena misinya sukses.

__ADS_1


"Mbak!" serunya sambil melambaikan tangan pada seorang pegawai restoran ini.


Ketika perempuan berseragam merah itu menghampiri, ia berkata, "Tolong, semua makanan ini dibungkus, ya."[]


__ADS_2