Matthelina

Matthelina
Chapter 48


__ADS_3

Deru suara klakson kapal terdengar. Elina turun dan mencari ide. Ia melihat ke sekitar bagasi yang sempit, ada banyak sekali botol-botol bir yang kosong. Tanpa sengaja, matanya teralihkan pada sebuah sudut dekat pintu bagasi. Kepingan kaca!


Lantas, Elina beringsut mundur ke arah itu. Beruntung suara mesin mobil dan kedua penculik itu sedang berbicara, jadi tidak ada yang menyadari bahwa dirinya tengah melakukan sesuatu.


Ia meringis, ujung kepingan kaca yang tajam mengenai jari telunjuknya. Biarlah, inilah caranya untuk bertahan hidup!


Meski tangannya terluka dan mengeluarkan banyak darah, ia harus menahan rasa sakit itu demi membuka tali yang mengikat tangannya. Kaca itu digesekkan ke tali hingga terputus. Berhasil! Lalu, ia membuka lakban yang menutup mulutnya, dan membuka tali yang mengikat kakinya.


-;-;-;-


Mobil berhenti di sebuah lapangan luas dekat banyak mobil peti kemas terparkir. Sambil bersiul gembira mereka keluar dari dalam mobil. Sebentar lagi, uang akan mendatangi mereka.


Mereka berjalan ke arah bagasi mobil. Saat dibuka, mereka agak sedikit terkejut karena wanita yang diculik telah sadar. Elina sedang duduk bersimpuh, kedua tangannya di belakang, dan kepalanya ditundukkan, dengan rambut menutupi seluruh wajahnya. Kedua orang itu bergidik karena Elina terlihat seperti hantu.


"Mana ada hantu siang-siang bolong begini?" seru pria bertubuh pendek, menepuk lengan pria yang berkulit hitam. "Udah cepetan, angkat dia!"


Ketika kedua tangan kotor itu hendak menyentuh tangannya, Elina mengangkat wajahnya, kemudian menggoreskan ujung pecahan kaca yang ditemukannya ke pipi pria itu.


Begitu juga dengan temannya, Elina langsung melukai matanya, setelah itu keluar dari dalam bagasi dan berlari.


"Sialan!" umpat penculik bertubuh pendek sambil memegang matanya yang telah berlumuran darah. "Kejar perempuan itu!"


Elina berlari sambil mengangkat gaunnya ke arah deretan mobil peti kemas yang terparkir, tanpa memedulikan rasa sakit di kakinya yang tak beralaskan apa pun.


"Hei, berhenti!" seru kedua pria itu.


Elina menengok ke belakang, kedua pria itu hampir dekat ke arahnya. Namun ia tidak tahu, sampai kapan ia bertahan. napasnya kini hampir habis dan tubuhnya mulai lelah. Belum lagi, denyutan sakit kepala yang kembali menyerangnya. Spontan, ia memegangi kepalanya sambil berlari.


-;-;-;-


"Sial, ke mana hilangnya dia?" gumam si penculik berkulit hitam.


Mereka berhenti di parkiran mobil peti kemas yang berdekatan dengan dermaga. Elina hilang dari pandangan, kala dia berbelok ke arah lapangan parkir ini.


Kalau memang begitu, mereka berpikir kalau Elina pasti belum jauh, atau mungkin bersembunyi di balik jejeran mobil peti kemas yang ada di sana.


Kedua penculik itu sepakat untuk berpencar mencari Elina. Pria bertubuh pendek mencari ke sebelah kanan, sedangkan pria berkulit hitam ke sebelah kiri.


Mereka mencari di sekitar parkiran, dan di balik mobil peti kemas. Hasilnya? Nihil! Elina menghilang secara ajaib dalam sekejab mata.


Pria yang berbadan kecil itu berdiri di mobil peti kemas berwarna hijau. Ia mendesah panjang sambil berkacak pinggang. "Ke mana sih, perempuan itu?" Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, gemas. "Harus cari ke mana lagi? Kalau bos tahu, melayang deh, duit seratus juta!"


Abang penculik, apakah kau tahu, seseorang telah mendengar gerutuanmu? Seseorang yang sedang bersembunyi di bawah mobil peti kemas. Seseorang yang sedang mereka cari.


"Hei, siapa itu!"

__ADS_1


Seorang pria bertopi merah, di lehernya berkalung handuk kecil lusuh, menegur si penculik itu. Kakinya yang panjang bergegas menghampiri orang yang tampak mencurigakan--apalagi melihat matanya yang berlumuran darah. Pasti itu pencuri yang kabur; dan luka itu, tentu saja habis dihajar oleh massa.


"Lo pencuri ya?"


"Enak aja!" sangkal si penculik. "Saya lagi nyari orang."


"Bohong! Tampang kayak lo, pasti maling! Ngaku aja!" Pria tadi masih menuding. Lalu, dia menunjuk luka di matanya. "Tuh, pasti habis dihajar sama warga, kan?"


"Terserah Abang aja lah!" gerutu si penculik. "Gue itu udah banyak duit. Ngapain juga mencuri. Dasar!"


Pria itu mendengus sambil berjalan meninggalkan tempat itu. Aman? Tentu belum.


Tak berapa lama setelah penculik itu pergi, terdengar suara debuman pintu mobil tertutup, disusul oleh suara mesin mobil yang dinyalakan. Elina mendelik, telapak tangannya mengeluarkan keringat dingin, dan wajahnya memucat. Jika mobil dilajukan, maka Elina akan mati terlindas.


Si penculik menengok ke arah mobil peti kemas yang tadi melaju keluar dari parkiran. Sekali lagi ia mendengus, menyerah untuk mencari ke tempat ini lagi. Mungkin, wanita itu tidak bersembunyi di sini. Maka, ia menemui temannya, berharap ada hasil dari pencariannya itu.


Sayangnya, pria berkulit hitam itu datang dengan tangan kosong. Sama, Elina tidak ditemukan di manapun.


Apes. Pria itu menendang sebuah kerikil sambil mengumpat kata-kata kotor. Apa kata bosnya nanti? Mengurus seorang wanita lemah saja tidak becus! Bukan hanya penghinaan itu, mungkin mereka akan dihabisi oleh kedua pengawalnya yang berbadan kekar dan besar.


Ke mana Elina pergi?


Ternyata pria itu lengah. Sebelum mobil melaju, Elina sudah bergeser ke kolong mobil yang di sebelahnya. Dia berdiam di sana, sampai penculiknya benar-benar pergi. Dan sekarang adalah saatnya.


Elina keluar dari persembunyiannya, lalu berjalan ke arah berlawanan dari tempatnya datang tadi. Ia tertatih, karena tubuhnya terasa lemas dan kepalanya pusing. Kaki-kaki mungilnya juga telah lecet dan terluka. Ia benar-benar tidak kuat untuk berlari lagi. Takutnya, ia pingsan di tempat ini. Ia harus pergi dari tempat ini!


Kedua lengannya tiba-tiba disergap oleh dua orang. Saat menoleh, Elina mendelik pada salah satu orang yang menyergapnya. Penculik itu lagi!


"Mau ke mana, hah?"


Sekuat tenaga Elina memberontak. "Lepaskan!"


Kedua pria itu tertawa kencang. Kemudian, pria bertubuh pendek berkata:


"Mana mungkin gue melepaskan sumber uang kita. Ya, kan, Ko?" Pria yang ditanya olehnya menggangguk.


Sumber uang? Elina kembali bertanya-tanya tentang siapa dalang dari penculikannya. Ia tak mau ikut dengan mereka, meski kedua pria itu menyeret tubuhnya. Namun, tubuhnya tak berdaya, tenaganya seakan habis. Ia sangat lelah. Kesadarannya hampir menghilang.


Saat matanya hampir terpejam, tiba-tiba ia mendengar jeritan kedua pria itu dan suara pukulan. Ia terhuyung dan terjatuh. Pria yang mengekang kedua tangannya telah terkapar sambil memegangi pundak mereka. Lalu, beberapa pria berpakaian hitam menghampiri dan menyergap mereka.


Siapa lagi ini? Apa ada orang lain yang ingin menculiknya?


"Elina!"


Suara dari seorang yang sangat dikenalnya membuat hatinya lega. Matthew menghampirinya. Wajahnya terlihat khawatir sekaligus lega. Mereka tersenyum, dan pria itu memeluknya erat seakan tak ingin Elina pergi lagi dari hidupnya.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?" tanya Matthew, nada ucapannya terdengar cemas kala melihat wajah Elina yang memucat.


Elina tersenyum lemah, tapi kemudian tubuhnya melemas, dan menyandarkan kepalanya di dada Matthew.


Matthew mencoba membangunkannya sambil menepuk-nepuk ringan pipi Elina. Matanya tak terbuka dan tak ada respon dari Elina. Wanita itu tak sadarkan diri.


Lantas, ia membuka jasnya, yang kemudian ia kenakan ke tubuh Elina. Dibopongnya tubuhnya sampai ke dalam mobil dan membaringkannya.


Matthew menatap iba pada kekasihnya itu. Apa yang telah terjadi selama ini padanya? Tiba-tiba pingsan, ada bekas luka pada jari-jarinya, dan gaun putihnya juga telah ternodai oleh darah.


Pandangannya dialihkan langsung pada kedua pria keparat itu. Begitu tajam dan bengis tatapannya itu. Ingin rasanya ia menghabisi mereka dan mematahkan tangan kotor mereka yang telah melukai kekasihnya.


Tanpa ampun, Matthew menghajar si penculik itu. Pukulan, tendangan mereka terima, sampai mereka mengemis ampunan darinya. Tetapi hukuman mereka hanya sampai situ, dia tak ingin dipenjara karena telah membunuh mereka, yang memang pantas untuk mati.


Matthew mendekati pria bertubuh pendek, yang telah terkapar tak berdaya. Dia menyatukan kedua tangannya, meminta pengampunan. Matthew menginjak dada pria itu, menatapnya sangar, kemudian berkata:


"Siapa yang menyuruh kalian menculik Elina?"


-;-;-;-


Penerbangan pesawat ke London sudah dari tadi, tetapi William masih tertahan di bandara. Seorang petugas membawanya sebuah ruangan, setelah menerima sebuah telepon.


"Bagaimana ini? Seharusnya, saya sudah ada di dalam pesawat!" keluh William, gusar. "Alex! Cepat urus ini, dan suruh mereka melepaskanku!"


Alex mengangguk. Seorang petugas yang sudah tidak tahan pada cerocosan William angkat bicara, menukas Alex yang akan berbicara.


"Maaf, tapi Pak William harus tetap di sini."


William beranjak dari kursinya, marah, menghentakkan tongkatnya ke lantai. "Kalau begitu, kalian akan aku laporkan ke polisi!"


"Silakan saja," sahut seseorang, yang William yakini bahwa pemilik suara itu adalah Matthew.


William menoleh, menyaksikan anaknya memasuki ruangan ini dengan ditemani beberapa orang polisi. Ia terkejut dan heran. Apa maksud dari semua ini?


Matthew memberi isyarat pada polisi untuk menangkap William. Salah satu polisi menghampiri dan menunjukkan surat penahan kepada William, lalu polisi yang satunya mulai memborgolnya.


William memucat, ketika mendengarkan tudingan yang disampaikan oleh polisi itu. Dia memberontak, begitu borgol itu mengekang kedua tangannya.


"Apa-apaan ini? Lepaskan!" Kemudian, ia menatap nanar pada Matthew. "Tega sekali, kau melakukan ini pada ayahmu!"


"Siapa yang lebih tega, menculik kekasih anaknya, kemudian membawanya ke pulau lain untuk dijual?" sahut Matthew tajam.


"Kau...." gumam William geram.


"Seharusnya, kau malu. Umurmu sudah tua. Yang seharusnya kau lakukan adalah menikmati hari tua bersama dengan anak, menantu, dan cucumu. Tapi kau tetap tidak sadar atas semua perbuatanmu. Malah, kau membiarkan dirimu berkubang dalam dosa," kata Matthew menambahkan.

__ADS_1


William tak berkata apa lagi, entah sedang merenungkan perkataan Matthew, atau justru merasa tersinggung. Ia membiarkan para polisi menggiringnya keluar dari ruangan ini.


Matthew memalingkan wajah, tak sudi melihat kepergian William dengan cara sehina itu. Kevin, Franz, dan Fritz mendekatinya. Kevin menepuk pundaknya, memberinya ketabahan akan kejadian ini. Pria itu tahu betul, Matthew sebenarnya tidak tega melakukan hal itu pada ayahnya. Mungkin mamanya juga sedih atas tindakannya ini.[]


__ADS_2