Matthelina

Matthelina
Chapter 43


__ADS_3

Sebuah rumah kontrakan kecil yang kumuh, seorang pria yang berumur sekitar 50an tinggal di sana. Dia baru bangun dari tidurnya, kala seseorang mengetuk pintu rumahnya.


Ada tamu? Siapa yang mau mengunjungi pria yang bahkan dibenci oleh istri dan anaknya. Mungkin hanya pemilik kontrakan yang ingin menagih biaya sewa.


Sambil mengucek matanya, ia berjalan menuju pintu. Tak sengaja kakinya menendang sebotol bir oplosan yang tergeletak di lantai. Ia juga menginjak bungkus bekas makanan ringan dan puntung rokok yang telah mengecil.


"Siapa?" gumamnya seraya membuka pintu.


Ia tersenyum semringah. Penyelamatnya datang! Berapa banyak lagi uang yang akan ia berikan padanya? Seketika, ia membersihkan rumahnya yang menjijikkan, bau, dan berantakan itu. Membentangkan sebuah koran lama, lalu mempersilakan tamu kehormatannya masuk ke dalam.


Tapi tamunya itu melukai hatinya. Tentu saja, dia enggan masuk ke dalam rumah yang lebih buruk dari kandang sapi.


"Ya, sudah. Tuan William mau minum?" pria itu masih berusaha menyenangkan tamunya.


William mengangkat tangannya. "Tidak usah. Aku langsung saja. Kali ini, aku punya tugas untukmu, yang bayarannya besar."


Akhirnya, uang datang sendiri menghampirinya melalui pria kaya ini. Matanya langsung hijau mendengar kata "bayaran yang lebih besar". Wah, ia akan jadi kaya raya!


"Apa tugasnya, Tuan?" tanyanya tak sabaran.


"Mudah. Datang saja ke alamat ini, dan katakan semua yang aku beritahukan nanti kepada istri dan anakmu," ujar William.


Apa? Kembali ke istri dan anaknya? Tapi anak sulungnya yang keras kepala itu telah mengusirnya. Ah, masa bodo! Demi uang, akan ia lakukan apa pun.


"Jika kau berhasil," William melemparkan cek sebanyak tujuh ratus juta ke hadapan pria tua itu, "aku akan memberikan sisanya nanti."


Pria tua itu memungut lembaran cek itu, lalu ia bersujud di kaki William, seolah pria itu adalah seorang yang patut disembah. Dia berjanji akan melakukan yang diperintahkan, meski harus masuk neraka sekalipun.


William menyunggingkan senyum, lalu mulai memberitahukan semua yang harus dilakukan, termasuk sebuah cerita tentang anak sulungnya.


Karena William, pria itu duduk di sini, tersenyum jahat di depan istri dan anaknya yang tertunduk sedih.


Elina melangkah cepat masuk ke dalam rumah, meletakkan kantong belanjaannya di atas meja, memelototi ayahnya dengan murka.


"Apa yang Ayah lakukan di sini?" tanyanya dengan geram tertahan.


Seolah tak mendengar, ayahnya malah melongok isi kantong yang dibawa oleh Elina. "Apa ini? Wah, makanan! Kau ini tahu saja jika aku sedang lapar...."


Elina merenggut kantong itu. "Jawab! APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?"


Pria itu berdiri dengan jengkel. Beraninya dia membentak ayah yang telah menjadikannya ada di dunia ini. Tiba-tiba, tangannya terangkat dan menampar pipi Elina.


Elina terkejut dan sontak memegang pipinya. Mendengarkan kata kasar yang keluar dari mulut kotor pria yang tak pantas disebut "ayah".


"Dasar anak durhaka! Begitukah caramu memperlakukan aku? Jika bukan karena aku, kau tidak akan lahir ke dunia ini! Dan kau juga tidak akan bertemu dengan pria itu!"


Apa katanya? Dengusnya sinis di dalam hati, dengan wajah tertutup oleh rambut dan masih menunduk. Mana ada seorang ayah yang berbuat kasar pada anaknya, memukulinya tanpa sebab, tidak menafkahi keluarganya.

__ADS_1


Asal dia tahu, dia tidak lagi menganggapnya ada. Baginya, ayahnya sudah mati. Ia memanggil pria itu "ayah" hanya sebagai sebutannya saja.


"Hei, kau!" tunjuk Ayah pada Ibu. "Inikah anak yang telah kau banggakan, yang kau didik dengan agama yang baik, dan penurut itu, hah? Dia tak lebih hanya anak durhaka, yang mencoreng nama baik keluarganya dengan menjual tubuhnya pada lelaki itu! Dan kau tahu demi siapa? Demi kau dan Frasya!"


Elina melihat Ibu memejamkan mata, mengeluarkan air mata yang begitu pedih dan menyiksa perasaanya. Sedangkan Frasya, menunduk kecewa karena tahu kakaknya serendah itu.


Setelah Ayah mengatakan hal itu, spontan Matthew tersulut kemarahannya, lalu mencengkram kerah baju Ayah.


"Tutup mulut Anda!"


Ayah tersenyum sinis menatap seorang pemuda yang begitu berani melawannya. "Hei, kau. Aku beritahukan padamu, jangan mudah terjerat oleh wanita seperti Elina. Dia itu bekerja di bar, menggoda para pria hidung belang dan tidur dengan mereka."


"Aku bilang TUTUP MULUTMU!"


Matthew tidak tahan. Tangannya yang terkepal, langsung mengarahkan pukulannya ke wajah Ayah, hingga Ayah tersungkur. "Aku sudah tahu masa lalu Elina, dan dia tidak seperti itu!" bentaknya sembari menunjuk.


Tak peduli lagi setua apa pria jahat itu, Matthew mengangkat tubuh ayah, lalu menyeretnya ke luar rumah. Dengan murka dan suara yang kencang, Matthew berkata, "Jangan pernah menginjakkan kakimu ke rumah ini lagi. Dan bilang pada Tuan William: aku akan tetap menikahi Elina."


Sebelum menutup pintu, Matthew melemparkan sejumlah uang pada pria itu. Ayah langsung memungutnya, dan tersenyum puas meski misinya tidak berhasil. Persetan dengan William itu, asal tugasnya sudah selesai, yang terpenting ia mendapatkan uang.


Saat Matthew kembali masuk ke dalam kamar, ia melihat Elina dengan pilu. Gadis itu tertunduk dan terisak di samping adik dan Ibu. Tangannya ingin menggapai mereka, tapi Frasya menjauhkan tubuhnya, memeluk erat Ibu.


"Ibu, Sya. Aku minta maaf," gumam Elina, suaranya tercekat oleh tangisan.


Ibu melepaskan pelukan Frasya, dan berkata, "Antar Ibu ke kamar, Sya."


Matthew mendekat, lalu memeluk Elina yang langsung menumpahkan kesedihannya di dada bidang pria itu.


"Biarkan mereka tenang dulu. Setelah itu, kita jelaskan hal yang sebenarnya pada mereka, ya?" ucap Matthew lembut, membuat hati Elina sedikit lebih baik. Sebuah kecupan di atas kening, disematkan pada kening Elina.


Benar-benar! Jadi, William sudah menabuhkan genderang perang padanya? Matthew mendengus, mencemooh siasat murahan papanya untuk memisahkannya lagi dengan Elina.


Ia tidak bisa diam saja! Ditekannya pedal gas dengan kencang, setelah pergi dari rumah Elina. Di manapun dia, Matthew akan mencarinya dan memberi perhitungan padanya.


Melalui Dewi yang ia telepon tadi, William sekarang ada di rumah. Tak tahu malu, sudah diusir, masih juga di rumah ibunya. Tapi itu lebih bagus, supaya ia bisa menghadapi pria itu langsung.


"Papa!"


Begitu Matthew sampai di rumah, ia berseru, menemukan William tengah menikmati secangkir kopi di ruang tamu. Memuakkan! Setelah hampir berhasil mengacaukan hubungannya dengan Elina, lelaki tua itu malah dengan santainya duduk di sana, menyapanya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Langkah Matthew begitu cepat menghampiri William, mencengkram kerah bajunya, dan menariknya berdiri. Dewi dan Monika terkejut dan menegur, tapi Matthew tak mengindahkannya.


"Manusia macam apa kau!" teriaknya membentak.


Dewi sedikit takut mendekat, tapi tetap memberanikan diri untuk bertanya, "Ada apa ini, Matthew?"


Tanpa menoleh, Matthew menceritakan kejadian yang ada di rumah Elina tadi. Jika dipikir, siapa lagi yang Matthew tuduh kalau bukan William?

__ADS_1


Saat itu, William bukannya merasa takut atau bersalah, justru ia tersenyum menang. Rencananya telah berhasil. Tinggal memetik hasilnya saja.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Matthew setelah menyadari ekspresi William. "Oooh... kau puas telah membuat kekacauan itu, hah? Asal kau tahu, hal itu tidak berpengaruh pada hubunganku dengan Elina. Kami akan tetap menikah!"


Senyum William seketika memudar, hubungan anaknya dan wanita rendahan itu tetap tak tergoyahkan. Rencananya gagal! Percuma ia mengeluarkan pria tua bodoh itu dan memberinya uang. Dasar tidak berguna!


"Kau keteraluan William!" kata Dewi, maju selangkah ke arahnya. "Kenapa kau tidak biarkan anakmu bahagia dengan cintanya?"


"Dia manusia egois, Ma," timpal Matthew tersenyum sinis. "Dia saja yang boleh menikah dengan wanita yang dicintainya, hingga meninggalkan mama yang telah setia menemaninya selama bertahun-tahun. Dan demi ambisinya itu, dia juga mengorbankan kebahagian aku dan kak Monika. Sekarang, dia memakai cara licik supaya aku menikah dengan Karenina. Dan Mama tahu itu karena apa? Karena ingin mengembangkan bisnisnya."


Sungguh, Matthew malu mengakui bahwa di dalam darahnya mengalir darah pria kejam ini. Untung saja, ia memiliki sifat Dewi yang lebih berbudi. Jadi, ia berpikir ulang, saat tangan terkepal ini, yang ingin meninjunya, diturunkan, dan melepaskan cengkramannya dari kerah baju William.


"Dengar, Tuan William Jonathan. Jika kau mencoba mengusik hubunganku dengan Elina, aku akan mencarimu dan melenyapkanmu dengan tanganku, tak peduli kau itu adalah ayahku. Pergilah!"


William beranjak dari sofa dengan teramat kesal, melewati Matthew yang enggan menatapnya. Setelah pria itu lenyap dari pandangannya, Matthew mulai goyah. Ia duduk di atas sofa, memijat keningnya.


Ia sangat kesal dan frustasi. Mau bahagia saja harus mengalami banyak rintangan. Kenapa hidupnya tidak seperti orang normal saja, yang tak perlu tertatih mendapatkan cintanya?


Elusan tangan Dewi di punggungnya, membuat emosinya perlahan mereda. Pikirannya melambung ke arah Elina. Kasihan gadis itu. Sekarang, apa yang sedang dilakukannya?


-;-;-;-


"APA YANG KALIAN LAKUKAN! APA SALAH SAYA! KENAPA SAYA DI PENJARA!"


Jerit ayahnya Elina menggema ke seluruh dinding sel. Semua tahanan menoleh dan menertawakannya, saat dirinya digiring oleh pria bersergam cokelat yang gagah.


Polisi itu melempar tubuhnya, memasukkannya ke dalam kurungan besi, sendirian. Ia berteriak-teriak lagi, mengumpat, memohon untuk diberi kebebasan.


Suara langkah sepatu terdengar semakin mendekat ke arahnya, kala ia sedang duduk di sudut sel sambil membenamkan wajahnya dengan kedua tangannya yang terlipat. Pria itu mendongak. Wajah dengan penuh harapan terpancar, ketika seorang penyelamat datang di balik besi ini.


"Tuan William, tolong lepaskan saya," mohonnya. "Saya tidak tahu kesalahan saya, dan...."


William mengangkat tangannya. "Untuk apa? Bukankah memang di sini tempatmu? Sampah sepertimu tidak layak menghirup udara segar di depan sana."


Ayahnya Elina mendelik, memucat. "Apa maksudmu?"


"Kau itu tidak berguna sama sekali," kata William dingin. "Memisahkan Matthew dan Elina saja tidak becus!"


William meludah, tatapan hina menusuk hati pria itu. Sekaligus, kebencian merasuk ke dalam hati ayah Elina. Dengan seenaknya, William mencampakkannya, menjebloskannya ke penjara, dan menghinanya. Sungguh biadab!


"William!" Ia mengulurkan tangan dan mencengkram kerah baju William. "Dasar berengsek! Manusia iblis! Aku tidak akan melepaskanmu. Kubunuh kau!"


Saat itu, kedua polisi bergegas menjauhkan pria itu dari William. Tangan kotor pria itu menyentuh jasnya yang mahal. Maka ia mengibas-kibaskan bekas cengkraman dari bajunya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Sebelum sosok William menghilang, ayah Elina sempat mengucapkan sumpah serapah yang sempat di dengarnya:


"William, ingat! Karma berlaku! Kelak, kau akan sepertiku. Anakmulah yang akan membawamu ke neraka. Camkan itu!"[]

__ADS_1


__ADS_2