
Anna tercengang sesaat. Pria yang sudah 2 kali ditemui tapi belum tahu namanya ini, bicara seperti itu? Dia melawak, kah?
Anggap saja iya. Maka, ia pun terkekeh. "Bapak lucu, ya."
Kenan tak mengatakan apa pun, memperhatikan Anna yang sedang membuka mukenanya. "Kalau saya benar-benar serius bilang begitu, gimana?"
Anna mematung, lalu mengamati pria dengan senyum ramahnya yang mampu memikat wanita manapun, terkecuali Anna.
"Kenalan aja belum, Bapak udah mau melamar saya," kata Anna, setelah menghela napas.
Oh, begitu? Lantas, Kenan mengulurkan tangannya. "Nama saya Kenan."
Sayangnya, Anna hanya melirik tangan pria itu, seperti tidak tertarik. Lalu, ia melipat mukena dan sajadahnya dengan acuh tak acuh.
Kenan kecewa, menarik tangannya kembali. Akan tetapi, ia tetap tersenyum, getir. Ia mengerti, mungkin Anna memang tak mudah berkenalan dengan sembarang orang.
Anna berdiri sambil menenteng tasnya. Ditatapnya Kenan, lalu berkata sambil tersenyum. "Pak Kenan, senang bisa berkenalan dengan Bapak. Anda bisa panggil saya Anna."
Selagi Anna melintas pergi, Kenan terpaku di sana karena terpukau. "Wah, cewek yang manis," gumamnya seraya tersenyum, lalu menyusulnya.
π
Logan mengacungkan kalung berpermata rubi yang berbentuk hati di depan Nina, sesaat mereka makan siang di sebuah restoran Jepang.
"Wah, kok ada sama kamu?" tanya Nina takjub, lalu mengambil kalung itu.
"Seorang karyawan yang menemukannya," jawab Logan sambil tersenyum lebar. "Dia menemukannya di restoran MD."
"Restoran MD?" gumam Nina, kemudian tiba-tiba teringat oleh sesuatu. "Oh, iya! Kita ketemuan di sana seminggu yang lalu."
"Benar," timpal Logan. "Dan kita bertengkar di sana."
Wajah cantik itu tiba-tiba murung, dengan bibir mengulas senyum getir. "Maaf, aku teledor."
Pria yang sangat mencintainya itu sama sekali tak ingin melihat kekasihnya sedih. Genggaman lembut tangan Logan, membuat Nina tersenyum walau hanya seulas tipis.
"Tidak apa-apa," kata Logan. "Kamu tidak sengaja menjatuhkannya."
"Sebenarnya, aku sudah mengikhlaskan kalung ini," kata Nina kemudian. "Karenanya, aku tidak mencarinya."
Ikhlas? Segampang itu? Ekspresi Logan berubah dingin mendengarnya. Apa Nina lupa, kalung ini adalah simbol cinta mereka?
Hati Logan membara, tetapi tidak diluapkannya dan perasaannya sebisa mungkin dikendalikan. Mereka sudah mau tunangan, tak perlu mempermasalahkan soal ini.
Nina menyadari perubahan sikap Logan, ketika pria itu meneguk minumannya. "Logan, kamu kenapa?" tanyanya.
Logan menghela napas panjang, setelah itu tersenyum dipaksakan. "Tidak apa-apa ... Oh, iya. Kamu siap-siap saja, ya. Mama dan papa akan mengajak keluargamu makan malam. Mereka ingin merundingkan soal pertunangan kita."
Meski sudah mendengarnya dari mulut ibunya, Nina tetap tersenyum bahagia. "Iya, Sayang."
π
__ADS_1
Gelap, lembab, pengap. Entah tempat apa ini? Wanita setengah baya itu tak bisa melihat apa pun, kecuali tempat di ujung lorong iniβdi sana ada secercah cahaya.
"MAMA! MAMA!"
Wanita itu langsung menoleh, mencari suara teriakan anak laki-laki itu.
"MAMA! TOLONG AKU, MAAAA."
Napas wanita itu terengah-engah melihat ke segala arah dengan wajah memucat.
"Morgan! Kamu di mana, Nak?" seru wanita itu, suaranya agak bergetar karena isakan.
"MAMAAAA!"
Di sebelah kanannya, ia seperti mendengar suara air yang berkecipak. Hatinya merasa bahwa ia harus melangkah ke sana. Suara itu tak lagi samar, semakin lama semakin keras terdengar.
Ia menyipitkan mata sambil mengarahkan senter ke suatu tempat, melihat seseorang sedang menenggelamkan wajah seorang anak laki-laki ke dalam tong berisi air yang sangat penuh.
"Aaaaaaahh!" jerit wanita itu, syok, hingga menjatuhkan senternya. "MORGAN! MORGAN! JANGAAAAAAAN!"
Sontak ia mendelik dan terduduk dengan napas terengah-engah. Perlahan, ia memulihkan diri, menyadari bahwa saat ini ia tak lagi berada di tempat mengerikan itu. Ya, dia ada di dalam kamar.
"Elina sayang!" seru seorang pria paruh baya, begitu muncul dari balik pintu kamar ini.
Wanita itu spontan menoleh, melihat ke arah suaminya dengan wajah pucat dan bingung.
"Kau pasti bermimpi buruk lagi, 'kan?" tanya suaminya, langsung memeluk istrinya itu.
"Matthew ..." isaknya, tercekat. "Morgan...."
"Tapi, aku tidak bisa melupakannya, Matthew. Nggak bisa. Morgan selalu datang ke mimpiku," kata Elina frustrasi, lalu tangisannya semakin keras.
.
.
.
Logan baru sampai malam itu. Pekerjaannya sangat banyak, sehingga memaksanya untuk lembur.
Seorang pelayan membukakan pintu untuknya, dan Logan melangkah masuk ke dalam rumah sembari berkata, "Mama dan Papa mana, Bi?"
"Sedang di dalam kamar, Tuan," jawab si pelayan. "Apa Tuan Muda ingin menginap di sini? Akan saya siapkan kamar Tuan."
Logan mengangguk setelah berpikir sejenak. Tas kerja yang dibawanya, lantas diberikan pada pelayan tadi. Ia berpikir untuk menemui orangtuanya, tetapi langkahnya terhenti.
"Apa besok saja. Takutnya, mereka sudah tidur," gumamnya.
Pada saat akan berbalik, suara pintu kamar terbuka membuatnya jeda untuk menoleh siapa yang keluar dari sana.
"Papa," sapa Logan, melihat pria paruh baya yang tak kalah gagahnya dengan Logan.
__ADS_1
Matthew tersenyum tipis, lalu menghampiri sang anak. "Kau mau menginap?" tebaknya.
"Sekalian membicarakan sesuatu dengan Papa dan mama," sahut Logan. "Tapi besok saja. Lagian, mama sudah tidur."
Matthew mengangguk, mengatupkan bibirnya, tak berkata apalagi. Namun, ekspresinya mengundang tanda tanya dalam benak Logan.
Logan memiringkan kepalanya, menatap papanya lamat-lamat. "Papa kenapa? Apa ada masalah?"
Seakan meragu, Matthew terdiam dalam waktu yang cukup lama sambil menunduk. Ia menghela napas, lalu menoleh pada Logan sambil berpikir.
"Mama mimpi buruk lagi...," ucapnya menggantung di akhir kalimat.
"Lagi?" dengus Logan. "Apa kak Morgan tidak terima kalau aku menggantikan posisinya?"
"Kenapa kamu bilang seperti itu?" tegur Matthew lembut. "Mungkin, mama kamu sedang merindukan Morgan."
Logan menghela napas, bibirnya kelu. Meskipun ia sudah berusaha menjadi anak yang terbaik dengan segudang prestasi, Morgan tidak akan tergantikan dalam benak mamanya.
π
Baru bisa napas sekarang, walaupun pulang telat karena kerjaan belum selesai. Anna akan mencapai lift, dan ia berpapasan dengan Gita.
"Baru pulang?" tanya Gita sambil menekan tombol.
"Lo juga. Kerjaan lagi banyak nih," jawab Anna, tersenyum kecut.
Gita terkekeh. Kedua gadis itu masuk ke dalam lift ketika pintunya terbuka.
"Gimana kesannya kerja di sini?" tanya Gita setelahnya.
"Sama aja kayak di perusahaan dulu. Untung gue dapet bos yang baik. Yaaaa, walaupun Bu Eka rada cerewet," ujar Anna.
"Emang dia orangnya begitu. Nanti juga lo bakal terbiasa," timpal Gita.
Lift berhenti, di lantai bawah. Mereka keluar, masih mengobrol tentang para pegawai yang lain. Namun, topik berganti, kala Gita teringat akan sesuatu.
"Lo diundang sama Yerina ke pesta pernikahannya, nggak?" Gita memperlihatkan sebuah pesan yang ada di media sosial. "Beruntung banget dia, dapet calon suami kaya."
Anna melihat beberapa balon chat, kemudian ponsel Gita dikembalikan padanya. "Belum."
"Gue udah bilang kalo lo kerja sekantor sama gue. Jadi, dia suruh gue buat undang lo," kata Gita. "Aduuuh, gue jadi iri sama dia deh."
Ekspresi wajah Gita membuat Anna tertawa kecil. "Kalo gitu, tanya dong sama Yerin, gimana caranya gaet cowok tajir."
Gita mendecak. "Tampang gue pas-pasan gini mana ada yang mau."
"Usaha nggak menghianati hasil. Siapa tahu, usaha lo buat dapetin cowok tajir tercapai."
Sepertinya, keberuntungan menghampiri Anna. Gita tersenyum berpapasan dengan seorang pria yang tengah menghampiri mereka.
"Selamat malam, Pak Kenan," sapa Gita.
__ADS_1
"Malam, Ladies," balas Kenan tersenyum lebar.
Gita memperhatikan tatapan Kenan yang mengarah pada Anna. Filling-nya, apa pria itu naksir Anna?[]