
Sarapan di awal pernikahan. Awalnya Anna gugup, apalagi ibu mertuanya memperlakukannya dengan baik.
"Logan mana Anna?" tanya Elina sambil meraih sendok.
"Masih di kamar, Ma," jawab Anna.
Seolah merasa terpanggil, pria itu datang dengan wajah kuyu. Elina dan Matthew saling menatap, lalu wanita itu tersenyum geli.
"Pagi, Logan. Apa tidurmu nyenyak?" sapa Elina.
Nyenyak apanya. Anna membuatnya tersentak karena kaki wanita itu tiba-tiba menimpa pahanya. Ia terbangun, melihat Anna begitu pulas dengan mulut terbuka dan mendengkur halus.
Tiba-tiba pikiran jailnya menggelitik. Lantas, ia mendekat, mengatupkan mulut Anna dengan tangannya. Anna menggeliat, mulutnya kembali terbuka.
Kemudian, Logan melakukan hal sama lagi, tetapi kali ini malah bernasib sial. Alih-alih Anna berhenti mendengkur, tamparan dari Anna melayang ke pipi Logan.
Logan menjerit tanpa suara, sontak memegang pipinya. "Aduh, kalau kayak gini, mana bisa tidur," gumamnya kemudian.
Akhirnya, Logan angkat kaki dari ranjang, membawa bantal dan selimutnya ke sofa. Dikira tidur di sofa akan membuatnya tidur nyenyak malam ini, nyatanya malah badannya sakit dan sulit memejamkan mata. Alhasil, ia bangun tidur dengan tubuh lemas.
Namun, Logan tak mengatakan kejadian malam tadi karena tak ingin menghancurkan ekspektasi orangtuanya. Maka, ia mengangguk dan berkata, "Berbeda sekali, ya, rasanya kalau tidur berdua."
Elina dan Matthew tersenyum saling memandang. Wah, sepertinya terjadi sesuatu nih?
Sementara Anna menahan senyum karena semalam ia sengaja mengusir Logan ke sofa dengan memukul pipinya sebagai hukuman keisengan pria itu.
"Anna, Logan akan bawa kamu ke rumah orangtuamu sebelum berangkat ke Gereja," kata Elina kemudian.
"Ah, iya, Ma." Anna mengangguk paham.
☘
Seperti biasa, semua keluarga Anna berkumpul. Anna melihat ayah sedang menonton TV dengan disajikan secangkir kopi dan gorengan, ketika ia masuk ke dalam rumah bersama dengan Logan.
Anna dan Logan menghampiri, lalu mencium tangannya.
"Mama mana, Yah?" tanya Anna.
"Di dapur."
Baru saja disebut namanya, mama tergopoh-gopoh keluar dari bilik dapur. Pasangan itu langsung menyalami wanita itu.
"Ayo, duduk. Logan mau minum apa?" kata mama, akan menghela Anna dan Logan ke sofa.
"Em ... Saya cuma mau antar Anna ke sini, habis ini saya mau langsung ke Gereja," jawab Logan. Meskipun sikapnya dingin, tapi ia sangat sopan pada orangtua.
"Oh, begitu," kata mama seraya mengangguk.
Lalu, Logan mengalihkan tatapan pada Anna sambil membelai lengannya. "Aku pergi dulu," katanya tidak begitu lembut, tapi lumayan enak didengar.
__ADS_1
Anna tertegun. Sikap lembut pria itu, apa hanya akting di depan orangtuanya?
Selama menunggu Logan, Anna membantu mama memasak dan membereskan barang-barang yang mau dibawanya meski Tasya sudah mengepak beberapa bajunya.
Ia menghela napas panjang, melihat ke sekeliling kamar dengan wajah muram. "Kamar ini bakal kosong," gumamnya.
Ia melanjutkan kembali memasukkan dua buah buku ke dalam tas, lalu menutupnya. Saat itu, ia tak menyadari bahwa Logan sedang masuk ke dalam kamar.
"Ini kamarmu?" tanya Logan sambil melihat-lihat sekeliling kamar.
Anna menoleh. "Ya—kamar yang kecil, tidak ber-AC, tidak ada kamar mandi," katanya sarkastik.
Namun, Logan mengomentari dengan acuh tak acuh, "Berantakan."
"Apa?"
Logan menghampiri rak buku kecil, lalu meraih sebuah buku. "Kebanyakan novel? Dasar tukang halu."
Dia bilang apa? Mata Anna menyipit dan rahangnya mengeras. "Manusia butuh hiburan," balasnya.
"Dengan bacaan kayak gini?" cemooh Logan, tersenyum sinis. "Seharusnya, kamu mengisi otakmu dengan buku-buku ilmu pengetahuan."
Anna mendengus sambil memalingkan wajah. "Otak saya sudah dibebani sama pekerjaan," sahutnya sambil merenggut novel yang dipegang Logan. "Cuma ini yang bisa menghilangkan stress."
Menggelikan sekali, sampai Logan tertawa mengejek. Kemudian, pandangannya teralihkan pada ranjang kecil berkerangka kayu jati dan kasur busa.
"Nyaman tidur di sini?" cemoohnya, menepuk-tepuk kasur.
"Oh, jadi. Kamu cepat beradaptasi di rumah orangtuaku, ya?"
Anna yang berniat enggan menatap pria itu karena jengkel, kini malah menoleh dengan dahi mengernyit. "Maksudnya?"
Logan sedikit membungkuk, menatap Anna lamat-lamat. "Tidur di kasurku yang empuk, mendengkur, bahkan sampai kamu mengusirku dari ranjang. Nyaman sekali kelihatannya, berasa seperti rumah sendiri, ya?"
Tersinggung? Justru Anna tertawa keras, membuat Logan terheran-heran.
"Apa yang lucu? Oh, apa kamu sengaja melakukannya?"
"Mau jawaban jujur atau tidak?" goda Anna, memangku dagunya.
Tak usah berputar-putar, Logan tidak menyukainya. "Tidak usah dijawab, aku sudah tahu jawabannya," timpalnya jengkel sambil beranjak dari tempat itu.
Tasya datang ke kamar mereka dan berkata, "Kak Logan, Kak Anna, dipanggil ke bawah buat makan siang."
"Em ... Nggak usah, kita nanti—" Tiba-tiba Anna menepuk punggung tangan Logan sebagai teguran.
"Ya, kita bakal turun," kata Anna setelahnya. "Gue beres-beres ini sebentar, ya."
Logan melemparkan tatapan protes pada Anna, yang langsung mengerti. "Kenapa kamu malah nyuruh aku makan di sini?"
__ADS_1
"Tenang, masakan mama enak kok," sahut Anna. "Lagipula, mama udah masakin makanannya buat kita, sampai tadi mama ke pasar lagi buat membeli bahan yang kurang."
Yang artinya, Anna menyuruhnya untuk menghargai usaha ibu mertuanya. Baiklah, Logan akan turun ke ruang makan, makan bersama keluarga ini setelah Anna membereskan barang-barangnya.
Logan dan Anna duduk di bangku yang bersebelahan. Mama menyuruh Anna untuk melayani suaminya; meletakkan nasi di atas piring, lalu mendekatkan beberapa lauk agar bisa dijangkau oleh Logan, dan mengisi gelasnya dengan air.
Seperti yang dikatakan Anna, masakan mamanya memang enak. Memang, tidak ada makanan mewah, tapi ayam kecap, tumis sayur, dan sop buntut ludes di makan Logan.
Setelah makan, Anna dan Tasya membantu mama, sementara Logan duduk di ruang tamu bersama Adnan dan ayah sambil menonton acara berita. Logan si pemikir kritis, jadi lawan bicara yang baik ayah dalam menanggapi isu-isu yang berkembang di dunia.
Anna yang saat itu sedang mengelap meja ruang makan, tersenyum mendengar diskusi antara suami dan ayahnya. "Cocok banget mereka."
Mama dan Tasya menoleh, tersenyum.
"Iya," timpal Tasya. "Soalnya, anak yang suka diajak diskusi sama ayah bakal pindah ke rumah mertuanya."
Iya. Biasanya, Anna selalu menemani ayah menonton berita atau acara olahraga, lalu berbagi pendapat. Ia sedih karena hal itu akan jarang terjadi mulai sekarang.
"Tasya! Di luar hujan?" seru mama cemas. "Cepat angkat baju-bajunya!"
"Iya, Ma."
Tasya dan Anna bergegas berlari ke tempat jemuran. Logan yang terhenyak saat Anna melintas, dan cepat-cepat mengikutinya karena cemas Anna akan terjatuh.
Logan meraih tangannya, menghentikan langkah Anna. "Kamu lupa, ya, lagi hamil? Nanti kamu terpeleset, terus jatuh gimana?"
"Tapi aku harus angkat jemuran—"
"Biar aku yang bantuin Tasya," tukas Logan.
Anna tercengang, rasa hangat di dalam hatinya menjalar, menimbulkan sebuah getaran yang tanpa disadarinya.
Pria itu mengkhawatirkannya?
Logan menerobos hujan, mengangkat semua baju dijemuran bersama dengan Tasya. Alhasil, baju pria itu basah. Mama mengetahui itu dan merasa khawatir. Lalu, ia menyuruh Anna untuk mengambil baju abangnya yang masih tersimpan dalam lemari.
"Tidak usah, Ma," tolak Logan. "Saya ganti baju di rumah aja."
Anna mendecak. "Udah, kamu ke kamar. Aku mau ambil baju abang aku."
Logan tak kuasa membantah meski ingin. Tapi ia merasa tak enak menolak dengan sikapnya yang dingin, ia bisa dianggap buruk di mata ibu mertuanya.
Logan pun mengalah, pergi ke kamar, menunggu Anna membawakan satu setel celana panjang bahan dan kaus. Anna datang membawakan pakaian itu tak lama kemudian.
"Ini, keringkan badan kamu," kata Anna, memberikan sebuah handuk warna putih pada Logan. "Tenang saja, itu handuk baru yang tidak pernah aku pakai."
Tatapan ragu Logan lenyap, diambilnya handuk itu. "Terima kasih," gumamnya canggung.
Hujan tak kunjung berhenti, bahkan semakin deras. Sudah hampir 2 jam Logan dan Anna terjebak di sana. Bosan berada di kamar, mereka duduk bersama dengan mama dan ayah di ruang tamu, ditemani segelas teh hangat dan makanan ringan.
__ADS_1
"Pasti udah banjir," gumam ayah, menduga-duga. Kemudian, pandangannya dialihkan pada anak dan menantunya. "Logan dan Anna menginap di sini aja."
Logan tercengang. Menginap? Apa ia bisa tidur di ranjang Anna yang sempit itu?[]