Matthelina

Matthelina
Chapter 39


__ADS_3

Sebelumnya Kevin pernah bercerita bahwa dia memiliki seorang sahabat di Indonesia. Hari ini, ia akan menemui sahabatnya itu. Ia berdiri di samping mobilnya di sebuah lapangan parkir kantor sahabatnya itu.


Dengan memakai kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, celana panjang putih, sepatu kets hitam, dan kacamata hitam, terlihat mempesona di mata para karyawan wanita yang menoleh ke arahnya.


Ia beranjak dari sandarannya, melambaikan tangan pada seorang gadis yang baru saja memasuki parkiran.


"Elina!"


Oh, kenalannya Elina. Semua orang langsung menatap ke arah gadis itu. Elina sendiri jadi bingung karenanya. Ia cepat-cepat menghampiri Kevin.


"Sedang apa kau di sini?" tanyanya.


Kevin melepas kacamatanya, tersenyum ramah. "Menemuimu dong."


Elina terkejut. Tumben sekali Kevin datang untuk bertemu dengannya. Pria itu membawanya ke sebuah restoran cepat saji di dekat kantor. Masing-masing memesan kopi hangat sambil bertukar cerita mengenai hari-harinya di Jakarta.


"Maaf kalau aku baru mengunjungimu. Padahal, sudah hampir seminggu di sini," selorohnya diselingi tawa renyah. Pria itu kini mengoceh dengan Bahasa Indonesia yang cukup lancar, tapi aksen bulenya masih kentara.


"Ah, nggak apa-apa," jawab Elina, tersenyum kecut.


"Hei, ada apa hah? Oh, iya. Dua hari yang lalu, aku bertemu dengan Matthew di hotel tempatku menginap."


Sayangnya, cerita itu tak menarik minat Elina. Kevin sudah terlambat mengatakannya. Meski tak menanggapi, Elina tetap mendengarkan cerita pertemuan Kevin dengan pria yang telah membuat hatinya terluka lebih dalam hari ini.


"Aneh, tidak biasanya Matthew mabuk karena minum anggur. Padahal, baru 3 gelas loh? Aku aja yang juga minum bersama dengannya tidak mabuk," ujar Kevin, lalu meminum kopinya.


Elina sendiri terkejut lalu terheran. Bagaimana bisa seperti itu?


Sebenarnya, jika Elina bisa membaca gerak-gerik Kevin, pasti hal itu bukan sesuatu yang kebetulan. Kevin yang tentu saja ia curigai.


Sebelum Kevin menemui Matthew, ia sudah berpesan pada seorang pelayan untuk mengoleskan obat di dalam gelas Matthew. Kedua gelas sengaja diletakkan di meja Kevin agar dapat menuangkan anggurnya tanpa diketahui bahwa ada obat di dalam gelasnya.


Maaf Elina, mungkin hanya itu yang dapat aku lakukan untuk membantumu bertemu dengan Matthew. Pikir Kevin.


Kevin melanjutkan, kalau ia tak begitu yakin kalau Matthew mabuk. "Dulu aku pernah cerita, kalau Matthew sering sakit kepala kan?" lanjut Kevin. "Dia bilang kemarin, kalau sakit kepalanya kambuh lagi. Lalu, ia pergi ke kamar hotel untuk menemui kliennya. Entah apa yang terjadi setelah itu? Mudah-mudahan dia tidak membuat kekacauan."


Tidak, Kevin. Temanmu membuat kekacauan. Dia telah mencium Elina, membawanya ke ranjang, melucuti pakaiannya, dan tidur dengannya. Lalu, pria itu meninggalkannya dalam keadaan menangis, dengan hati yang remuk.


"Aku juga bertemu dengannya," gumam Elina sedih.


"Benarkah? Di mana?"


Di hotel tempatmu menginap, Kevin. "Hari ini."


"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Kevin penasaran, berharap ada cerita bahagia di antara mereka.


Mungkin tidak. Kevin lihat ada air mata yang mengalir di pipi Elina. Menangis tanpa suara.


"Matthew membenciku," ujar Elina getir.


Kevin melirik iba. Gagal sudah rencananya. Bagaimana caranya agar mereka bisa bersama? Ia kira dengan mengingatkan mereka kembali pada saat pertemuan mereka yang pertama akan membangkitkan rasa cinta itu. Justru yang timbul malah kebencian di hati Matthew.

__ADS_1


"Elina, jangan sedih. Matthew pasti akan kembali padamu." Kevin meletakkan tangannya di atas tangan Elina, menggengamnya lembut dan penuh kehangatan dari seorang sahabat.


Jika memang benar Kevin, ia hanya bisa berharap. Apa yang terjadi di hari ini membuatnya mati rasa. Ia hanya bisa pasrah. Ia tersenyum getir pada Kevin, meskipun itu belum cukup menyakinkan Kevin bahwa dirinya merasa terhibur atas ucapannya.


Ketika itu, mereka tak menyadari ada seseorang sedang melihat mereka berdua saling berpegangan tangan. Digenggamnya erat pegangan payung hitam yang meneduhkannya dari hujan yang deras sore ini. Rahangnya mengeras. Pria itu meradang, lalu pergi meninggalkan tempatnya berdiri saat ini.


"Pak, jalan!" perintahnya dengan geram tertahan pada supirnya.


Elina dan Kevin....


Dipukulnya pahanya dengan tinjunya. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya telah mengkhianatinya. Dan Elina, wanita murahan itu, secepat itukah dia melupakan cintanya?


Kemarahan Matthew tak tertahankan lagi. Begitu masuk ke dalam rumah, tanpa menyapa Dewi yang menyambut kedatangannya--mulai lagi temperamen buruknya muncul--semua barang dilemparkan, seprai diberantakkannya. Kamar itu kini mulai seperti gudang yang tak pernah dibersihkan.


Dewi yang khawatir sejak tadi mengikuti anaknya sampai di depan pintu. Suara benda terjatuh dan geraman terdengar. Ia bertanya-tanya, apa yang membuatnya semarah ini?


Tangannya ingin mengetuk pintu kamar Matthew. Tetapi ia tak mau memperumit masalahnya, jadi diurungkan niat itu. Ia akan membiarkan Matthew tenang dulu. Hal ini akhirnya diceritakan pada Monika, dan memintanya untuk membicarakan masalah ini setelah Matthew tenang.


Akan tetapi, Matthew yang tak bisa menahan diri lagi, pergi keluar rumah menuju hotel tempat Kevin menginap. Menyetir dengan kecepatan tinggi, hampir membuat kekacauan di jalan.


Kevin yang saat ini sedang berkumpul dengan Fritz dan Frans di dalam kamar. Mereka membicarakan soal hubungan Matthew dan Elina yang semakin mengkhawatirkan.


"Sudahlah, Kevin. Kita tidak perlu mencampuri urusan mereka," timpal Fritz menyarankan. "Kau lupa dua tahun yang lalu. Aku saja masih ngeri, saat Matthew memukul wajahku karena telah membuatnya meniduri Elina."


"Tapi karena itu, mereka sekarang jadi saling mencintai kan?" sahut Kevin keras kepala.


"Memang. Tapi cinta mereka malah menyakiti mereka," kata Franz.


Pintu pun dibuka olehnya. Kevin terkejut lalu heran begitu melihat orang yang sedang dibicarakannya muncul dengan raut wajah yang terlihat tidak senang.


Kevin mengernyit dan tersenyum. "Matt, ada ap...."


Belum sempat Kevin menyelesaikan ucapannya, Matthew menggenggam kerah baju Kevin dan mendorongnya hingga terjungkal. Fritz dan Frans terkejut. Mereka ingin bertanya, tapi Matthew keburu menghampiri Kevin dan menghajarnya secara membabi buta.


Fritz segera berusaha melerai dengan memegangi Matthew. Namun, pria itu menyikutnya dengan kuat, lalu kembali menghajar Kevin.


Kevin tak mau mengalah. Walau tidak tahu apa kesalahannya, ia membalas pukulan Matthew. Ia menendang tubuh pria itu, meninjunya beberapa kali. Kevin menggenggam kerah baju Matthew.


"Apa salahku? Kenapa kau memukulku?" tanya Kevin, napasnya tersenggal-senggal.


Matthew tersenyum sinis. "Seorang penghianat seharusnya DIHUKUM!"


Matthew menghela tangan Kevin, kembali memukulnya hingga jatuh di dekat Fritz dan Frans, yang langsung menolongnya berdiri.


Frans maju ke depan, menghadang Matthew. "Tunggu dulu, ada apa ini? Apa maksudmu dengan 'penghianat'?"


"Kau tanya dia, apa ada sahabat yang merebut wanita yang dicintai oleh sahabatnya?" desis Matthew.


Kevin tak terima, ia melangkah ke depan. "Apa maksudmu? Siapa yang merebut siapa?"


"Kau!" teriak Matthew murka. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kau menggenggam tangan Elina!"

__ADS_1


Jadi Matthew melihatnya di restoran tadi sore? Pria itu sudah salah paham sepertinya. Kevin menenangkan diri, berjalan maju menghampiri Matthew, mencoba berbicara dengan tenang.


"Matthew, biar aku jelas...."


"Tidak perlu!" Matthew memajukan tubuhnya, akan menghajar Kevin. Tapi Frans menahan tubuhnya.


"Matthew, kau harus dengarkan dia dulu," kata Fritz menimpali.


"Jangan ikut campur!" tukas Matthew membentak sembari menunjuk pada Fritz. "Oh, atau kalian sudah tahu dan merahasiakannya dariku, begitu?"


Fritz mendecak. "Kau salah paham, Matthew!"


"Diam kau! Hei, Kevin. Sudah berapa lama kau dan Elina bersama? Apa kalian juga pernah tidur bersama juga?"


"Hentikan omong kosongmu itu!" sela Kevin, yang kesabarannya telah habis.


Frans merasa tak tahan dengan pertikaian dan kesalahpahaman yang semakin rumit ini. Akhirnya, ia angkat bicara. Disentuhnya kedua pundak Matthew, mencoba menghelanya pelan ke sofa agar dapat membicarakan persoalan ini dengan kepala dingin.


Sayangnya, otak dan hati Matthew telah membara. Bujukan Frans tak berhasil, Matthew menghela tangan Frans dari pundaknya.


"Oke, Matthew, tolong dengarkan aku. Kita sudah bersahabat sejak lama, dan kau tahu bahwa kita selalu saling mendukung. Kevin tidak pernah melakukan itu, dan Elina sangat mencintaimu. Jika kau mencintainya, seharusnya kau tidak pernah meragukannya," ujar Frans, berusaha sebisanya.


"Cinta?" dengus Matthew. "Dulu kalian yang berusaha meyakinkan aku tentang perselingkuhan Lisa, tapi aku tidak percaya karena aku yakin pada cintaku. Tapi yang aku lihat tadi itu begitu jelas terlihat oleh mataku sendiri."


"Tapi kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi," sela Kevin. "Elina adalah gadis yang sangat jujur dan tulus."


Ya, dulu Matthew menyakini itu. Ia bisa melihat kejujuran dan ketulusan yang dirasakannya dari wanita itu. Pernyataan Kevin ini, perlahan membawanya pada kebimbangan.


"Iya, Matthew," timpal Fritz. "Jika kau tidak percaya, tanyakan pada Elina."


Matthew melengos, tersenyum sinis. "Heh, paling hanya alasannya saja."


"Setidaknya dengarkan dia dulu. Soal percaya atau tidaknya, itu keputusanmu," saran Frans.


Matthew terdiam, menimbang-nimbang. Kali ini dia benar-benar bingung. Keraguan menggelayuti pikirannya. Hati kecilnya menjerit lirih bahwa ia harus memberi Elina kesempatan. Tapi keegoisannya terlalu gencar menghasutnya, kalau menanyakan hal itu hanya membuang-buang waktu dan bikin sakit hati.


Matthew mengusap wajahnya, frustasi. Dan tanpa mengatakan apa pun, ia melangkah pergi dari tempat ini. Sambil menyetir mobil, Matthew memerintahkan sekertarisnya untuk mencarikan alamat rumah seseorang.


-;-;-;-


"Cari siapa, ya?"


Frasya terpukau melihat tamu yang datang malam-malam begini. Orang itu kan, pria bule tampan yang ia lihat di supermarket beberapa minggu yang lalu? Kenapa dia ada di sini? Ini bukan mimpi kan?


"Aku ingin bertemu dengan Elina," kata Matthew.


Yang lebih mengejutkan, dia kenal dengan kakaknya. Ada hubungan apa dengan kakaknya?


"Ada ... sebentar, saya panggilkan," kata Frasya grogi, lalu bergegas ke dalam. Ia sampai lupa menyuruh tamu masuk ke dalam rumah.


Baru akan masuk ke lorong menuju kamar, Frasya sudah berpapasan dengan Elina. Wanita itu akan berjalan ke luar sambil memegang ponselnya. Ekspresinya datar, tak terkejut sama sekali pada kedatangan Matthew.

__ADS_1


"Aku ingin bicara denganmu," kata Matthew, setelah melihat kehadiran Elina.[]


__ADS_2