
Orang bilang, semua mempelai wanita adalah ratu sehari. Wanita itu akan jadi wanita tercantik di hari bahagianya, dengan gaun putih yang indah.
Elina tersenyum. Hasil make up dari seorang penata rias, mengubahnya menjadi seperti seorang ratu tercantik dengan tangan ajaib dan peralatannya. Penata rias itu begitu puas dengan hasil riasannya.
"Kau sangat cantik," katanya. "Apa kau senang dengan hasilnya? Atau ada yang kurang?"
Elina menggeleng, melirik lawan bicaranya dari pantulan kaca. "Tidak, aku sangat suka dengan make up-nya.
Penata rias itu berbalik, membereskan peralatannya sebelum pergi. Namun, ia sempat melirik Elina yang tengah memijat keningnya, disertai suara desis.
"Kau sakit?"
"Tidak," jawab Elina. "Aku hanya merasa pusing saja."
Sambil memasukkan sebuah kuas ke dalam kotak make up-nya, ia menggoda Elina. "Mungkin karena kau sedang gugup. Sebentar lagi, kau akan menjadi seorang istri."
Elina hanya tersenyum hambar. Rasa sakitnya takkan bisa membuatnya tertawa karena candaan tukang rias itu.
"Mau kuambilkan sesuatu? Obat dan air?" Wanita itu menawarkan.
"Tidak. Aku duduk di sini saja. Siapa tahu, rasa sakitnya hilang."
Tapi meski penata rias itu telah pergi 5 menit yang lalu, rasa pusingnya tidak tertahankan. Elina beranjak dari kursi dan keluar dari kamar menuju ke dapur. Gelas yang ia ambil dari rak piring diisi oleh air sampai penuh, lalu diteguknya bersama dengan obat pereda sakit kepala.
Ia mendesah. Semoga obat ini bereaksi dengan cepat, supaya upacara pernikahan nanti tidak menjadi kacau. Sedetik kemudian, ia termenung. Membayangkan dirinya dan Matthew mengucapkan janji sehidup-semati, disaksikan oleh Tuhan, semesta alam, dan para tamu undangan. Senyumnya merekah jika membayangkan hal itu.
Gelasnya diletakkan di westafel, lalu ia akan berjalan meninggalkan dapur.
Tanpa ia sadari, seseorang masuk ke area dapur lewat pintu belakang yang kuncinya telah disabotase, tanpa suara sedikitpun. Orang yang wajahnya ditutupi oleh topeng itu, mendekati Elina.
Sebelum Elina mencapai ambang pintu dapur, orang itu bergegas membekap mulut Elina dengan sapu tangan putih yang telah diberi obat bius. Elina mencoba memberontak dan menjerit, tetapi usahanya itu gagal. Tangan orang itu terlalu kuat memegangi tubuhnya, dan suaranya tak terdengar karena dibekap.
Dalam hitungan detik, obat itu menunjukkan reaksinya, Elina tak sadarkan diri. Sebelum ada yang melihat mereka, orang itu menggendong Elina di pundaknya, meninggalkan tempat itu lewat pintu belakang.
-;-;-;-
Frasya tersedu-sedu menceritakan kejadian tadi pada Matthew, sedangkan Ibu pingsan, setelah mendengar hilangnya Elina, dan telah dibawa ke kamar.
Matthew berdiri membelakangi, meremas ujung kursi hingga tangannya memutih. Dia geram. Siapa dalang penculikan Elina? Dan apa motifnya? Ia tak bisa biarkan seperti ini! Ia keluar rumah, memacukan mobilnya sekencang mungkin. Akan ia cari di mana Elina-nya berada.
Kevin, Fritz, dan Franz mengejar Matthew. Tapi sayangnya, pria itu telah melajukan mobilnya. Mereka bertiga saling memandang.
-;-;-;-
Matthew tergopoh-gopoh memasuki kantor polisi. Dia langsung membuat laporan, sebelum polisi itu menyelesaikan pertanyaannya. Seluruh kejadian diceritakannya dengan rinci, bahkan sampai ia mendesak untuk mencari Elina sekarang.
Namun, jawaban dari sang polisi membuatnya geram. Ia menggebrak meja, mengumpat sambil menunjuk pada pria berseragam cokelat itu.
"Kenapa harus menunggu 24 jam! Pacar saya tidak mungkin kabur. Dia diculik!" Pada kata terakhir, Matthew mengucapkannya dengan penuh penekanan.
"Tolong sabar, Pak," kata polisi. "Sebaiknya dicari du...."
__ADS_1
Bagaimana ia bisa sabar! Ucapan polisi itu membuatnya muak, dan memutuskan untuk keluar dari kantor polisi. Percuma meminta bantuan pada mereka. Ia bisa kok, mencarinya sendiri.
Suara ponselnya yang terletak di dasboard berbunyi, tak beberapa lama mobil meninggalkan kantor polisi.
"Halo, Kevin?"
"Kau di mana? Kami akan ikut mencari," kata Kevin.
"Aku mau menemui papaku."
"Bukannya dia sudah kembali ke Inggris?"
Matthew mendengus. itu pasti hanya alasan sekertaris William saja. Ia yakin betul bahwa papanya yang menjadi dalang penculikan Elina. Pokoknya, ia akan cari pria tua itu, meski harus menerobos para petugas keamanan yang ada di bandara.
"Tapi, Matt...." tukas Kevin yang terkejut mendengar ucapan Matthew.
Kevin kecewa, teleponnya ditutup oleh Matthew. Sementara Frans dan Fritz menunggunya bicara.
Kevin menggelengkan kepala. "Dia mau menyusul om William ke bandara.
Monika mendekati Kevin menanyakan kebenaran yang didengarnya tadi. "Apa? Memangnya, dia sudah yakin kalau papaku yang menculik?"
"Walaupun buktinya belum ada, tapi dia percaya kalau om William yang telah menculik Elina."
Monika menghela napas. Semoga saja tidak ada yang hal buruk yang terjadi. Ia harap, Elina segera kembali, untuk menenangkan hati semua orang yang mencemaskannya.
-;-;-;-
Pria itu tengah memasuki bandara bersama dengan sekertarisnya. Senyumnya merekah, seperti seseorang yang tengah berbahagia. Sudah sebulan ia di Jakarta--mungkin ia merindukan istri mudanya, sehingga ia merasa senang bisa menemuinya lagi.
"William!"
Seruan keras itu melenyapkan senyum manisnya, dan merusak kebahagiaannya. Anak pembangkang itu tidak sopannya memanggil pria yang telah memberinya sedikit darahnya agar dapat hidup di dunia ini. Dia menoleh jengkel, hanya sekejab, setelahnya senyumnya terkembang.
Tetapi senyumannya adalah sebuah ejekan bagi Matthew. William melihat bara kemarahan besar di mata anak bungsunya itu. Seketika, hatinya menciut, tak sanggup melebarkan ujung bibirnya seperti tadi.
"Di mana Elina?" tanya Matthew, masih menahan diri.
"Elina?" Suara parau William terdengar agak bergetar. "Entahlah, mana aku tahu. Sebagai kekasihnya, seharusnya kau menja--"
Cukup omong kosongnya, Matthew sudah kehilangan kesabaran. Digenggamnya kerah baju William, lalu ia membentak, "DI MANA ELINA!"
Keringat dingin semakin mengucur. Mata William mendelik pucat. Sekertarisnya dengan sigap memisahkan Matthew dari William, tapi Matthew menghelanya dengan kasar hingga dia terjungkal.
William mengalihkan pandangannya kembali pada Matthew. "Aku tidak tahu."
Genggaman pada kerah baju William dipererat, Matthew mengangkat tubuhnya, tangan kanan yang terkepal diacungkan. Tetapi suara ponsel menghentikan gerakannya. Tubuh William dihempaskan hingga hampir terjatuh, lalu Matthew mengangkat teleponnya.
"Matt, tadi ada yang melihat mobil yang membawa Elina," ujar Kevin menginformasikan.
-;-;-;-
__ADS_1
Hantaman nyeri sakit kepala membuatnya tersadar. Tubuhnya terasa terombang-ambing. Sinar matahari menusuk mata, ia memicing ke arahnya lalu memalingkan wajah. Dirinya merasa tak berdaya kini, lemas karena kesadaran yang belum sempurna. Dirasakan tangannya tak dapat digerakan, terkekang oleh sebuah tali, sama seperti kakinya. Ia ingin bersuara, tetapi tak ada kata yang keluar karena mulutnya ditutup oleh lakban hitam.
Ia memandang ke sekitar, panik. Dia menyadari bahwa dirinya ada di dalam bagasi sebuah mobil sedan, yang sedang melaju entah ke mana.
Sekali lagi, ia berteriak. Tetap tak ada suara. Tali-tali pengekang itu berusaha ia lepaskan, tapi ternyata sulit. Matthew, Matthew, hanya nama itu yang tersebut di dalam hatinya. Lirih, putus asa, ketakutan, disertai oleh isakan.
Terdengar suara dua orang pria sedang mengobrol di balik setir mobil. Tidak ada satu pun suara dari mereka terdengar familiar di telinganya. Mereka adalah para penculik. Tapi untuk apa Elina diculik oleh mereka?
"Bos bilang cewek ini mau diumpetin di mana?"
"Nggak tau. Pokoknya, cari di tempat yang nggak bakal diketahui orang."
Seorang pria berkulit gelap, berbicara setelah mengisap rokok dalam-dalam. "Ada-ada aja nih, si bos. Masa menculik pengantin?"
"Biarin aja lah! Yang penting, kita dapet duit." Kemudian mereka tertawa, yang kedengarannya menyeramkan bagi Elina.
Ia semakin bingung. Rencana pernikahannya terancam gagal. Matthew, Ibu, dan yang lain pasti cemas, mencari keberadaan dirinya.
Rasanya ingin menangis, tapi bukan waktu yang tepat untuk putus asa seperti itu. Ia berusaha bangun, mencapai ke bagian kaca jendela mobil bagian belakang. Ia mendengak, mencoba melihat ke luar.
Mobil sedang melaju di sebuah jalur tunggal tanpa pembatas. Di samping kanan dan kirinya terhampar beberapa hektar sawah--hanya ada beberapa rumah--dan rerumputan. Dari kejauhan sebelah Barat, terlihat jejeran bangunan baru yang tampak mirip seperti apartemen. Semakin roda mobil berputar di jalurnya, semakin jelas tempat akhir pemberhentian mobil ini. Dermaga.
-;-;-;-
Matthew berlari ke arah Kevin, Fritz, Franz, dan seorang pria yang menjadi saksi penculikan Elina.
Pria yang berusia sekitar 30an menuturkan, dari kejauhan, ia melihat seorang pria yang wajahnya ditutup oleh topeng, sedang menggendong seorang wanita bergaun pengantin berwarna putih.
Ia hendak mengerjar sembari berseru, tapi mobil itu telah melaju. Lokasinya tepat di dekat sebuah padang rumput, yang tak begitu jauh dari rumah Elina. Karena waktu itu masih pagi dan belum banyak warga yang bangun, maka tak ada satu pun yang menyadari penculikan itu.
"Apa Anda tahu berapa nomor plat mobilnya?" tanya Matthew menahan geramnya.
Pria itu melirik ke atas, berusaha mengingat. "Ya, saya ingat!"
Setelah mencatat nomor plat mobilnya, Matthew yang sudah tidak sabar, bergegas ke kantor polisi. Ia memohon dengan sangat, untuk melacak plat nomor itu.
Pemilik mobil itu ternyata sudah berganti. Malah, mobil itu telah dicuri dari pemilik aslinya, setelah diselidiki. Tetapi para polisi tidak berhenti sampai di situ. Mereka mengembalikan harapan Matthew, dengan mengusahakan pencarian di beberapa tempat yang terpasang CCTV.
Penculik itu cerdik, mereka melewati jalan yang tidak terjangkau CCTV. Akan tetapi, Matthew lebih cerdik.
Sebelum ia mencapai ke kantor polisi, ia memerintahkan sekertarisnya untuk menyiapkan beberapa orang suruhan. Dia mengirimkan sebuah plat nomor untuk diselidiki dan dicari keberadaannya. Segera!
Baru saja polisi menyatakan ketidakmampuannya, ponsel Matthew berdering. Salah satu anak buahnya melaporkan pencarian yang sedang mereka lakukan.
Matthew mendengarkan dengan serius tanpa menyela dan tampak serius. Lama-lama air mukanya berubah, lalu ia mengernyit sambil berseru kaget:
"Apa? Dermaga?"
Kevin, Fritz, dan Frans saling memandang, penasaran. Mereka mengernyit heran. Untuk apa para penculik membawa Elina ke dermaga? Jangan bilang kalau....
Dugaan mereka yang mengerikan belum sempat diungkapkan pada Matthew. Pria itu buru-buru meninggalkan kantor polisi, setelah menutup teleponnya.[]
__ADS_1