
Merindukan seseorang sambil melihat istri orang? Heh! Logan tersenyum sinis.
Suami Aurellie merasakan atmosfir menegangkan dari kedua pria itu. Lalu, ia berbisik pada istrinya, "Ada apa ini? Mereka tidak akur?"
Aurellie yang juga berpikir bahwa kedua pria ini sedang berselisih, berinisiatif untuk mencairkan suasana. "Nah! Ayo, semuanya makan!"
Anna menyenggol lengan Logan, lalu menariknya ke meja makan. Pesta barbeque dimulai dengan suasana ceria, walaupun wajah Logan terlihat tidak senang.
Bagaimana tidak. Kenan mengambil tempat duduk di samping Anna, mengajaknya mengobrol dan tertawa. Sumpah, bikin telinga Logan semakin panas! Ia memendam kekesalannya dengan terus minum sekaleng bir.
Anna melirik pada Logan, menghela napas. "Sudah, nanti kau mabuk," katanya, menahan tangan Logan yang akan menuangkan bir ke mulutnya.
"Apa urusanmu! Ngobrol saja sama Kenan," gumam Logan dingin.
"Ya, ini jadi urusanku!" sergah Anna dengan suara pelan. "Aku nggak bisa membawa badanmu sampai ke mobil, tahu!"
Logan tertawa mencemooh, tak peduli dan terus menenggak birnya sampai habis. Anna mengerucutkan bibirnya karena jengkel.
Salah satu anak kembar yang bernama Jane berdiri dari tempat duduknya. "Jeane, play the music!" Kemudian, ia merentangkan tangan, mengayun-ayunkan tangan untuk mengajak semua orang berdiri dan berdansa.
Jeane telah menyalakan musik, lalu kedua anak kembar itu memerintahkan mereka untuk mencari pasangan.
Aurellie tentu memilih suaminya. Logan tampak tak tertarik untuk berdansa, jadi ia tetap duduk di tempatnya. Ini kesempatan buat Kenan untuk mengulurkan tangannya pada Anna.
"Mau dansa denganku?"
Logan melirik tajam saat mendengar ucapan Kenan. Lantas, ia berdiri sambil meraih dan menggenggam tangan Anna.
"Ayo, dansa denganku!" katanya datar.
Anna menoleh tercengang. "Bukannya kau tidak mau berdansa?"
"Aku berubah pikiran," sahutnya, lalu menarik Anna ke barisan dekat Aurellie dan suaminya berdansa.
Jane dan Jeane ingin berdansa, tetapi tak ada pasangan lagi selain Kenan. Pria itu terkekeh, lalu mengajak kedua gadis itu untuk berdansa bersama-sama.
Logan dan Anna saling berhadapan. Tapi pria itu tampak aneh, matanya agak sayu, dan tidak bisa berdiri tegak dengan benar. Lalu, tangan kiri Logan diletakkan ke pinggang Anna, sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan kirinya dan merentangkan sedikit ke atas.
"Ikuti langkah kaki kananku," perintah Logan, lirih.
Anna menunduk, melihat langkah kaki Logan. Perlahan dan ragu, Anna mulai melangkahkan kaki sesuai gerakan Logan.
"Lakukan terus seperti ini," tambah Logan.
Meski gamang, perlahan Anna melakukannya hingga mengimbangi Logan. Ia tak lagi melihat ke kaki Logan, menatap wajahnya sambil tersenyum senang.
Namun, Anna merasa aneh saat melihat senyuman di wajah Logan. Ia tertegun ketika tangan Logan menyentuh pipinya, lalu Logan mendekatkan wajahnya dan tiba-tiba mengecup bibirnya.
Anna mendelik, sampai napasnya ditahan beberapa saat. Suami Aurellie melihatnya, lalu memberikan isyarat pada istrinya itu.
Aurellie tersenyum melihat pasangan baru itu. Begitu romantisnya mereka. Namun, Kenan justru tampak kecewa melihat mereka, hingga melupakan tariannya dengan si kembar.
Ciuman yang lembut, tapi perlahan berhenti. Tak dinyana kepala Logan terjatuh di pundak Anna. Untung saja, Anna refleks menahannya. Kalau tidak, ia ikut terjatuh.
"Logan! Logan!" panggil Anna, sembari menepuk-tepuk lengan pria itu.
Semua orang kaget, lalu menghampiri mereka.
"Dia kenapa?" tanya Kenan.
"Tidak tahu. Kayaknya dia mabuk," duga Anna.
__ADS_1
Kenan akan memapah Logan, tetapi pria itu malah menghela Kenan, lalu memeluk Anna.
"Aku hanya ingin bersamamu," ceracau Logan.
Ternyata benar, dia mabuk. Anna mendengus jengkel. Aurellie menyuruh Kenan untuk membawanya ke kamar. Namun, Logan meraih dan menggenggam tangan Anna, sehingga Anna terpaksa ikut dengan mereka.
Aurellie menunjukkan sebuah kamar yang dulu pernah dipakai oleh Logan, setiap dia ke London. Kenan membaringkannya ke ranjang.
Kenan dan Anna saling melirik dan menghela napas.
"Terima kasih, Kenan. Biar aku yang urus Logan," kata Anna.
"Anna, kalian menginap di sini saja dulu. Aku akan meminjamkan pakaian untukmu," kata Aurellie sebelum keluar dari ruangan ini.
Setelah Aurellie dan Kenan menutup pintu kamar, Anna duduk di tepi ranjang, memandang pria itu.
"Benar-benar! Kau salah mencium bibir dan menyebut nama orang," gerutunya sambil membuka kancing bagian atas kemeja Logan. "Aku bukan Nina!"
Tanpa bisa dihindari, tangan Logan sudah berada di pinggangnya, lalu menghelanya hingga jatuh di atas dadanya yang bidang.
Anna terhenyak, pria itu lagi-lagi melakukan hal yang membuat darahnya berdesir dan jantungnya berdetak tak keruan. Sebelum jantungnya benar-benar copot, Anna meronta.
"Anna, lepaskan aku...."
Namun, Logan malah semakin mendekapnya dengan kedua tangannya. "Anna, apa kau sengaja membuatku marah?"
Anna memutar bola matanya. "Orang bodoh mana yang mau membuatmu marah?" gumamnya agak ketus.
"Kau harus tahu posisimu. Kau istriku. Jadi, jangan berbicara, bercanda, bahkan tersenyum pada mantanmu itu!"
"Ish, dasar orang mabok! Ngomongin apa sih dia?" gerutu Anna. "Logan! Lepaskan aku! Iiiihh!"
Ciuman tadi, mengingatkannya pada pertemuan Logan dan Nina beberapa waktu lalu. Ia mendengus, menertawakan dirinya yang kecewa setelah melihat hal itu.
"Heh! Bisa-bisanya dia menciumku sambil membayangkan Nina!" gerutunya. "Dasar!"
☘
Nina termenung di depan piano, mengingat saat Logan menghelanya dari pelukannya, bahkan memikirkan wanita lain di depannya.
Ditekannya tuts piano bernada "do", lalu bergumam, "Apa dia sudah melupakanku?"
Hati yang pilu, meneteskan setitik air mata duka. Keputusannya dulu disesalinya. Tapi semua sudah terlambat. Tak ada tempat baginya untuk tetap di sisi Logan.
Rasa putus asa menggelayuti. Langkahnya terhuyung keluar dari rumah menuju mobil. Pandangannya seakan kosong, melajukan mobil tak tentu arahnya ke mana.
Tak hentinya ia terisak. Air mata membanjiri kedua matanya sehingga penglihatannya jadi kabur. Harapannya telah hilang, pikiran semakin kalut. Dilajukannya mobil dengan kecepatan di luar batas.
"Tuhan, seandainya masih ada keajaiban yang bisa mengembalikan Logan ke sisiku...."
Di kegelapan malam, mobil mewah berwarna merah itu melaju semakin tak terkendali. Lalu, tiba-tiba mobil itu berbelok tajam, menabrak sebuah pembatas jalan hingga ringsek.
Mobil berhenti, mengeluarkan asap yang membumbung di udara. Beberapa orang yang melintas di sana berkerumun, melihat si pengemudi yang sedang tak sadarkan diri, dengan luka di kepalanya.
☘
Logan melirik Anna yang sedang mengunyah menu sarapannya dengan tenang. Wanita itu tak sedikitpun bicara padanya sejak tadi malam.
Ia mendecak. Bodoh sekali kelakuannya kemarin! Bisa-bisanya ia mencium perempuan itu. Tentu saja, pasti Anna marah.
Tapi tunggu dulu! Logan mengernyit. Kenapa dia harus marah? Bukannya biasa kalau suami mencium istrinya?
__ADS_1
Ia mendeham, tanda menegur. Namun, Anna tetap bergeming. Sekali lagi ia mendeham, tetap tak ada respons. Yang ada Kenan hadir di tengah-tengah mereka.
Logan mendesis kesal. "Datang lagi dia! Kenan, kenapa kamu menyusul ke sini? Memangnya tidak ada pekerjaan?" tanyanya sinis dan dingin.
"Tidak," sahut Kenan santai. "Papa kamu lebih membutuhkan papaku untuk menghadapi sebuah kasus tuntutan."
"Tuntutan?" Logan mengernyit, membiarkan Kenan meminum kopinya. "Tuntutan apa?"
"Ibu tiri ayah kamu meminta haknya atas perusahaan suaminya. Dia ingin perusahaan itu jatuh ke tangan tante Aurellie." Sambil berbicara, Kenan mencomot pancake milik Logan.
"Maksudnya, nenek Charlotte?"
Kenan mengangguk sembari mengunyah.
Masalah apalagi ini? Logan memijat keningnya. Baru kali ini, Anna merasa prihatin pada Logan.
Sementara yang persoalan yang satu membuat Logan pusing, masalah lain datang bertubi-tubi. Ponselnya berdering, telepon masuk dari Tita, sahabatnya Nina.
"Tita? Ngapain dia nelepon?" gumamnya heran, lalu mengangkat telepon itu. "Halo."
"Halo, Logan," sahut Tita, sempat jeda beberapa saat.
"Ada apa, Tita?"
"Please, datang ke rumah sakit Saint sekarang! Em ... Nina...."
Mendengar nada ucapan gugup Tita, Logan jadi cemas. "Nina kecelakaan."
Logan mengernyit, denyut jantungnya berdegup kencang karena sangking khawatirnya. "Terus, bagaimana keadaannya?"
"Dia sudah sadar sih. Tapi ... Em ...."
"Tapi kenapa?" desak Logan, penasaran.
"Aku nggak bisa jelasin. Mending, kamu datang ke sini!"
Logan mematikan ponselnya, langsung berdiri. Lantas, ia melihat ke arah Kenan, dan berkata dengan gugup, "Kenan, tolong antarkan Anna ke kamarnya setelah sarapan!"
Anna dan Kenan tercengang melihat Logan yang tampak cemas.
"Emang ada apa? Siapa tadi yang menelepon?"
"Tadi itu Tita. Dia bilang kalau Nina kecelakaan," jawab Logan. "Ya, sudah aku pergi dulu."
Kenan dan Anna menatap kepergian Logan yang melangkah dengan cepat. Kenan merasa heran karena Logan masih saja mengkhawatirkan mantannya.
Kenan menghela napas, lalu mengambil potongan pancake untuk dimasukan ke dalam mulut. Dari ujung matanya, ia menyadari ekspresi Anna yang tampak tidak selera menyuapkan makanannya.
☘
Logan berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan cemas dan hampir saja menabrak orang-orang yang sedang melintas. Katanya, Nina dirawat di bangsal Rose.
Ia membuka pintu dan langsung masuk ke dalam, begitu kamarnya ditemukan. Nina menoleh, lalu senyumnya terkembang melihat Logan yang sangat ditunggunya akhirnya datang.
Logan menghampirinya, dan langsung menyambar Nina dengan pertanyaan. "Bagaimana keadaanmu, Nina? Apa ada luka yang se—"
Belum habis ucapan Logan, pelukan Nina yang tiba-tiba membuat Logan terkejut dan kehabisan kata. Nina tersenyum bahagia, memeluk Logan dengan sangat erat.
"Aku kangen banget sama kamu. Maaf, ya, aku nggak sempat telepon kamu karena aku sibuk latihan," kata Nina.
Logan tercengang. Apa maksud semua ini?[]
__ADS_1