
Nina memalingkan wajah ketika kedua orangtuanya masuk ke dalam kamarnya. "Kenapa papa melarangku untuk menghubungi Logan? Kenapa papa hapus nomer hp LOGAN!"
Ponsel yang ada di tangannya, lalu dilemparkan hingga pecah. Orangtuanya terkejut. Anak yang dikenal lembut, tiba-tiba sekasar ini?
"KENAPA PAPA BERUSAHA MEMISAHKAN AKU SAMA LOGAN?!" jerit Nina. "Apa salahku?"
"Kamu tidak salah, Nina," lirih mama, perlahan mendekat.
"Terus?" bentak Nina, sehingga langkah mama terhenyak lalu berhenti. "Kenapa kalian lakukan itu?"
"Karena kalian sudah putus, dan Logan sudah menikah!" Papa membentak, tak tahan ingin memberitahukan semuanya.
Nina terhenyak, mematung dengan mata mendelik. "Tidak," gumamnya pelan. "Tidak mungkin! TIDAK MUNGKIIIIN!"
Papa dan mamanya panik, lantas papa menyuruh istrinya untuk memanggil dokter. Papa mendekat, mencoba mendekap Nina. Akan tetapi, Nina menepis tangannya.
"Papa pembohong! Logan tidak mungkin mengkhianatiku!" teriak Nina. Karena sangking frustrasinya, ia sampai menjambak rambutnya.
☘
Tasya pulang cepat dari tempat kerjanya hari ini. Petang itu, ia sedang membalas pesan WA dari Anna di ruang tamu sambil tiduran.
Suara ketukan pintu mengusiknya. "Siapa?" serunya, tetapi tak ada sahutan.
Tasya akhirnya beranjak dari sofa, berjalan ke arah pintu. Saat pintu terbuka, ia terkejut melihat Anna muncul dengan senyuman.
"Kak Anna? Bukannya lo pulangnya besok?" tanya Tasya heran.
Anna tak langsung menjawab, menoleh pada sopir yang ada di belakangnya. "Tolong letakkan di atas meja sana, ya, Pak."
Pria setengah baya itu masuk ke dalam, setelah Anna yang terlebih dahulu berjalan duluan ke ruang tamu, lalu duduk di sofa bersama dengan Tasya.
"Mama mana?" tanya Anna.
"Di dapur lagi masak buat makan malam," jawab Tasya.
"Ke dapur deh, Dek. Bikinin pak Mus kopi," perintah Anna. "Terus, panggilin mama."
Pria itu tampak sungkan dan menyahut, "Tidak usah, Nyonya. Aduh, jadi ngerpotin."
"Nggak apa-apa kok, Pak," kata Tasya. "Bapak tunggu di teras aja dulu, saya bikinin kopi sama gorengan, ya."
Tak mampu menolak, pak Mus mengangguk, lalu pergi ke teras. Sementara Tasya ke dapur untuk membuat minuman, Anna duduk di ruang tamu sambil menata tas-tas itu.
Mama datang sambil menyapa Anna yang tersenyum lebar ketika menoleh padanya. Tatapan lamat-lamat penuh kerinduan terpancar dari mata sang ibu, yang mengambil tempat duduk di samping anaknya.
"Kamu apa kabar?" tanya mama. "Logan mana?"
"Dia lagi kerja. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sama dia, Ma," jawab, Anna. "Mama.apa kabar? Gula darah Mama nggak naik lagi, 'kan? Kata Tasya, tiga hari yang lalu Mama sakit."
__ADS_1
Cercaan yang selalu keluar dari anak keduanya membuat mama tertawa. Ya, anak itu selalu saja mengkhawatirkan kesehatannya.
"Iya," sahutnya. "Tapi udah sembuhl kok."
Dan gadis itu ujung-ujungnya akan mengomel, "Mama minum yang manis-manis terus sih. Kalau mau makan buah aja, jangan dibikin jus. Terus, sirup jangan diminum. Udah tahu diabetes juga."
"Iya, iya," kata mama sembari mengangguk, mengalah kalau anaknya sudah seperti itu.
"Kopi juga, jangan dibeli!"
Tasya yang sedang melintas sambil membawa sepiring pisang cokelat dan segelas kopi menyeletuk, "Percuma, Kak. Mama tetap aja beli."
Mama terhenyak malu. "Stok buat tamu, Tasya," kilahnya.
Gadis itu berjalan ke luar sambil tersenyum mencemooh. Anna kembali menatap mamanya, setelah tersenyum. Ia meraih salah satu tas belanjaan, lalu meletakkannya di atas meja.
"Ini buat Mama. Aku udah kasih label nama, buat siapa aja hadiah di dalamnya," katanya.
Mama tersenyum senang begitu mengintip isi belanjaan. "Terima kasih, ya, Sayang. Bilangin juga rasa terima kasih Mama sama suami kamu."
Anna mengangguk sembari tersenyum. Sementara itu, Mama memeriksa semua hadiah untuk kedua anak dan suaminya, suara seruan dari luar terdengar.
Mama dan Anna menoleh ke arah pintu, melihat Tasya masuk ke rumah bersama dengan seorang lelaki. Anna terkejut, menunjuk pada pria itu sekalian berseru sambil berdiri.
Tasya awalnya bingung, lalu tersenyum riang sambil berkata, "Iya, Kak dia pacar aku. Kok Kakak kenal?"
Anna berjalan menghampiri mereka, menghela pegangan tangan adiknya dari lengan pria itu.
"Dek, gue pernah cerita, 'kan, kalo gue punya mantan saiko, yang nggak mau putusin gue?" kata Anna.
Tasya melirik pandangan Anna yang mengarah pada Gilang. Ia mengerti maksud dari pertanyaan itu. "Maksud lo, dia?"
Seakan merasa jijik, Tasya beringsut menjauh dari cowok itu. Anna tersenyum puas, tetapi Gilang tak terima. Lantas, cowok itu meraih tangan Tasya, memelas.
"Please, Beb. Kakak lo tuh bohong. Dia iri sama kita, Beb," kata Gilang.
What the ... Anna kesal, lalu menginjak kaki Gilang, buru-buru menghela Tasya ke belakangnya.
"Pergi nggak lo! Kalo lo berani ke sini, apalagi menghubungi adek gue, bakal gue laporin lo ke polisi," gertak Anna.
Gilang tersenyum mencemooh. "Lapor polisi? Heh! Coba aja," gumamnya dengan nada bicara yang terdengar menyeramkan, sambil melangkah ke depan.
Anna merasa terintimidasi, tanpa sadar bergidik dan melangkah mundur. Gilang akhirnya berhenti, kemudian memajukan wajah ke depan Anna sambil bergumam:
"Gue nggak takut." Tiba-tiba, Gilang mendorong bahu Anna hingga hampir jatuh.
__ADS_1
Logan yang baru saja datang melihat apa yang dilakukan pria itu. Matanya nyalang, dengan bara api kemarahan yang menyala-nyala. Langkah panjangnya menghampiri Gilang, membalikkan badannya, lalu menerkamnya dengan sebuah tinju di wajahnya.
"Beraninya lo dorong istri gue!" bentaknya.
Gilang dipukul jatuh sampai ke sofa, Logan menghantamkan tinjunya ke wajah pria itu tanpa bisa dibalas oleh Gilang.
Anna maju untuk melerai, menghentikan keributan ini. "Logan, udah, jangan dipukul lagi."
Logan menjauh, lalu berputar menghadap Anna, memegang bahunya dan bertanya dengan cemas, "Kamu nggak apa-apa? Nggak luka? Bayinya baik-baik aja, 'kan?"
Meski awalnya Anna tercengang, ia menjawab, "Aku nggak apa-apa. Tadi Mama nahan badan aku."
"Syukur deh. Untung aja, aku ke sini," ujar Logan, kemudian melirik Gilang dengan bengis. "Pergi sana! Kalau kamu masih juga ganggu adik ipar saya, kamu akan saya jebloskan lagi ke penjara! Ancaman saya ini nggak main-main, ya!"
Gilang menghapus darah yang mengalir di hidung, lalu pergi menghilang di balik pintu. Anna, mama, dan Tasya menghela napas lega.
☘
Logan dan Anna sampai di rumah agak malam karena diajak makan malam di rumah oleh mama.
Kini, mereka akan bersiap untuk tidur. Anna keluar kamar mandi sudah dengan gaun tidur. Logan menoleh, pria itu sedang berdiri sambil memainkan ponselnya.
Entah siapa yang sedang dihubungi oleh pria itu, Anna tak ingin bertanya meski penasaran. Anna berjalan menuju meja rias, duduk di depannya, lalu meraih sisir.
Dari pantulan bayangan cermin, diam-diam Anna melihat pria itu sedang menghampirinya dengan tatapan yang membuatnya bertanya-tanya.
Namun, ia bergeming, pura-pura tidak tahu, terus menyisir rambutnya.
"Anna," panggil Logan, dan Anna hanya melirik saja sebagai respons. "Besok, kita ke dokter kandungan."
Dokter kandungan? Anna mengernyit, berhenti menyisir sesaat. "Tidak usah khawatir. Bayi ini kuat, tidak akan kesakitan meskipun didorong oleh cowok gila tadi."
Asal saja membuat membuat kesimpulan. Logan mendecak, lalu menyahut, "Bukan itu. Besok kan memang jadwalnya kamu periksa kandungan."
Benarkah? Anna terkesiap dengan mata membulat. Ah, benar! Besok, kandungannya sudah berusia 2 bulan!
"Aku sudah membuat janji dengan dokter. Jam 3 sore, aku akan menjemputmu," sambung Logan. "Kalau misalnya, aku belum menjemputmu juga, pergilah bersama dengan Kenan."
Anna berbalik, mendongak menatap pria itu dengan menyelidik. Kenan? Kenapa tiba-tiba dia malah mempercayakan dirinya bersama dengan pria yang selalu membuatnya kesal jika sedang bersama dengannya?
"Nggak usah. Aku pergi dengan pak Mus saja," timpal Anna sembari beranjak dan akan melangkah menuju ranjang.
Namun, Logan menarik lengannya dengan cepat, lalu menukasnya, "Aku lebih percaya pada Kenan, jika hal seperti tadi bisa saja terjadi."
Berlebihan sekali dia! "Tenang aja, hal kayak gitu mana mungkin terjadi la—"
Pria yang lagi-lagi tak terduga. Apa maksudnya dengan menarik tubuh Anna dalam pelukannya? Anna jelas terkejut, lalu tercengang.[]
Maaf, ya, aku lagi sibuk banget ini soalnya, nggak sempat nulis. Kemarin libur malah diajak pergi sama doi. Maunya, sih upadate lagi hari senin, tapi tanggung, karena hampir rampung bab ini. Ah, nggak terasa udah bab 47, ya? Aku pikir, bakal sampai bab 50, tapi kayaknya lebih deh. Okelah, met reading, maaf kalo ada typo bertebaran yang bikin sakit mata.
__ADS_1